Married By Incident

Married By Incident
Project Awal



Tergesa-gesa Bianca mendatangi ruangan Dev, dan keberuntungan baginya, karena yang dicari sedang duduk di belakang meja, sambil menikmati  camilan sehat yang disiapkan Bi Siti dari rumah. Bekal yang disiapkan pagi ini adalah sandwich dengan isian ikan tuna mix letuce, mayonaise, sauce yang sudah dipotong-potong. Melihat kenikmatan orang lain yang sedang makan tersaji di depannya, menjadikannya air liur seolah-olah menetes.


Syukurlah,,,,,, dewi penyelamatku ada disini." dengan mata berbinar senang, Bianca mendaratkan


pantatnya di kursi depan Dev. Melihat ekspresi Dev menikmati camilan dengan


lahap, tangan Bianca terulur mencomot potongan sandwich dari box dan memasukkan ke mulutnya.


"Enakkk.., mau lagi boleh," melihat Bianca menginginkan potongan sandwich, tanpa bicara Dev


menyodorkan box berisi potongan sandwich lebih dekat ke Bianca. Tanpa rasa


malu, Bianca mengambil beberapa potong, kemudian mendekatkan lagi box ke depan


Dev. Dev dengan sabar menunggu Bianca menghabiskan makanan di mulutnya, dan memiliki niat awal untuk mengajaknya bicara.


"Bianca....., harusnya kedatanganmu ke ruanganku ini tidak hanya sekedar untuk meminta bekal snack


pagiku bukan. Aku pikir ada agenda penting yang akan kamu sampaikan padaku," tanya Dev tanpa bermaksud sarkasme pada Bianca yang sudah selesai menelan semua makanan. yang seperti menyangkut di tenggorokannya.


Melihat ekspresi Bianca yang seperti seret lehernya, Dev hendak beranjak dari tempat duduknya untuk


mengambil minuman di lemari pendingin yang ada di ruangan tersebut. Tetapi belum sampai Dev melangkah, Bianca sudah menyerobot minuman tehnya yang sudah dia minum beberapa teguk. Melihat itu, Dev hanya tersenyum geleng-geleng kepala.


"Iya Dev..., sorry ... sorry, lihat dirimu dengan lahap menikmati sandwich yang sudah dipotong-potong,


tiba-tiba aku seperti ngiler. Akhirnya jadinya jatah camilanmu aku embat deh


sebagian, " kata Bianca sambil menutup mulut dengan menggunakan tangannya.


"Begini Dev, aku kan harus segera ke bandara maksimal jam 11.00, karena nanti sore aku harus ke embassy. Aku akan mengurus visa untuk tinggal dalam jangka waktu relatif lama dalam mengurus pernikahan aku dengan Reno di Australia. Padahal aku sudah terlanjur janji pada salah satu perwakilan dari kampus Universitas Marha. Mereka tertarik untuk program investasi dengan target mahasiswa, karena selain untuk peluang mendapatkan return, juga sebagai salah satu cara untuk internalisasi bagaimana mereka melakukan Trading." Bianca menjeaskan alasannya oagi-pagi sudah menceri Dev di ruangannya.


"Terus kamu ingin aku membantu apa Bia," tanya Dev dengan singkat.


"Tolong aku untuk menemui pihak perwakilan kampus yang akan menjumpaiku, meskipun project gagal, paling tidak nanti ke depannya, kita akan banyak memberikan edukasi kepada masyarakat." Bianca mengharapkan pertolongan dari Dev.


"Bia...Bia..., kamu itu tidak perlu sungkan padaku. Daripada kamu puter-puter, capai mau meminta


bantuan pada siapa, dan harus datang ke ruangan ini, kamu kan bisa melakukan panggilan," sahut Dev.


"Soalnya aku sekalian mau pamit langsung jalan ke bandara sekarang juga. Driver kampus sudah siap untuk


mengantarkan aku ke YIA sebentar lagi." kata Bianca agak malu.


"Sudah, sudah... tolong kamu follow up dulu Bia, jika aku yang akan menemuinya. Setelah okay, aku akan


segera meluncur untuk menemuinya. Dan kamu, dari ruangan ini silakan langsung ke bandara, sebelum aku berubah pikiran." Dev langsung menangkap makna dari alasan Bianca mencarinya.


Mendengar perkataan Dev, Bianca langsung berdiri kemudian mendatangi dan memeluk Dev.


"Sudah, ..............berangkatkah sekarang, kamu tidak perlu merasa sungkan, atau


merasa tidak enak jika kamu memang membutuhkan bantuanku. Aku akan kondisikan


semua urusanmu hari ini," ucap Dev dan langsung membuat hati Bianca merasa


sangat tenang.


Tanpa banyak bicara lagi, Bianca segera bergegas meninggalkan ruangan kerja dari Dec.


 


**************************


 


 


 Dev segera bersiap-siap untuk datang mewakili Bianca menemui wakil dari Universitas Marha, yang akan mendiskusikan tentang program learning education terkait denga literasi mahasiswa dalam membaca Investasi Keuangan. Pukul 12.30, dengan diantar driver perusahaan, Dev berangkat menuju My kopi * yang berada di daerah Terban, Yogyakarta. Setelah sampai di lokasi, Dev langsung mendatangi receptionis untuk melakukan booking tempat yang privat.


Setelah mendapatkan tempat duduk di area private room, Dev segera masuk dan duduk untuk menunggu tamunya. Pada waktu Dev melakukan reservasi, dia sudah menginformasikan pada bagian front line jika ada yang menanyakan dia, maka minta diantarkan langsung ke ruangyang telah dia pesan.


Dev mengisi waktunya untuk menunggu tamu, dia menyiapkan powerpoint yang terdiri dari 5 slide kemudian membuat koneksi wifi untuk projector dan saluran koneksi internet.


"Permisi Ibu Devina, tamu yang sudah ibu tunggu dari tadi sudah rawuh (datang), diminta menunggu di luar


atau sudah diperbolehkan masuk Ibu," tiba-tiba pelayan kafe masuk dan menyampaikan informasi jika tamunya sudah datang.


"Dipersilakan langsung masuk saja ya mbak, saya sudah ready kok," jawab Dev langsung direspon cepat


oleh pelayan cafe, dengan membawakan tamu yang akan menemuinya.


:"Selamat siang, sapa wakil dari Universitas Marha." sapa salah satu dari anggota. Mereka diwakili


oleh tiga orang.


"Selamat siang Bapak dan Ibu, perkenalkan nama saya Devina Renata, biasa dipanggil dengan nama Dev. Saya hadir disini karena diminta oleh rekan kami untuk menemui Bapak dan Ibu. monggo langsung masuk dan segera duduk terlebih dahulu." Dev mempersilakan tamu itu dengan sangat sopan.


Ketiga orang perwakilan dari pihak kampus segera menempatkan diri pada kursi yang ditunjuk oleh Dev, dan kemudian salah satu dari mereka mewakili untuk melakukan komunikasi pembicaraan dengan pihak PT. Diamond.


"terima kasih ibu Devina atas penyambutan yang sangat memuaskan dari pihak kami. Beberapa waktyu lalu, ibu Bianca sudah mengabarkan pada kami, jika beliau tidak dapat mendampingi kita hari ini. Alhamdulillah, hari ini kita bertemu dengan orang yang tidak akan kalah dalam kecakapannya. Kenalkan saya Reyzal, ini Zuhad, dan yang cewek ini adalah Hasna."


"Baiklah pak Zuhad, terima kasih atas perkenalannya. Ada pepatah mengatakan Jika tidak kenal, maka tidak akan tahu, dan tidak tahu maka tidak akan dapat sayang." sahut Devina sambil tersenyum manis kepada mereka.


Dev melanjutkan diskusi kecil mereka dengan mempresentasikan permasalahan, fenomena yang dihadapi oleh lingkungan baik global, regional, local.Oleh sebab itu, generasi muda atau Z perlu sedini mungkin dikenalkan dengan bagaimana memiliki kepekaan sodial dan rasa empati yang tinggi.


Perwakilan dari pihak kampus pada dasarnya menerima tawaran promosi dari perusahaan Dev dan Bianca, tetapi mereka meminta waktu untuk lebih bersidkusi dengan pihak-pihak stakeholder kampus seperti mahasiswa, yayasan maupun pihak pejabat struktural.