Married By Incident

Married By Incident
Memaafkan



Setelah inspeksi dan rapat yang dihadiri para pemegang saham mayoritas, Gunawan, Donna dan Wijaya berkumpul bersama di ruangan Dev. Mereka merasa tidak enak hati dengan Dev, karena kejadian di rapat tadi seolah-olah Dev yang menjadi fokus perdebatan.


"Bagaimana Dev perasaanmu, maafkan bapak ya, tadi tidak bisa membantu banyak." kata Gunawan dengan wajah menyesal.


"Bukman itu orang baru, siapa dia sebenarnya. Aku merasa dia agak over dengan mengajak kamu berdebat Dev," sahut Wijaya.


Dev tersenyum, kemudian mengambil nafas dalam.Tanpa sadar dia mengusap perutnya.


"Kita lihat saja ke belakangnya nanti apa yang akan dia lakukan. Pak Gun, Jay, Donna, kalian tidak perlu terlalu mengkhawatirkan saya."


"Jika memang Bukman tidak menyukai saya, dan ingin mengeluarkan saya dari sini, aku juga tidak akan mempermasalahkan."


"Hidup dan waktuku terlalu berharga hanya untuk mengurusi orang macam dia." kata Dev tetap tersenyum, sedikitpun tidak ada yang mengganjal di hatinya.


Dengan mengusap perutnya, meskipun perutnya masih rata, Dev merasakan ketentraman dalam hatinya. Dia merasa tidak ada yang lebih penting dan membahagiakan, selain mengetahui dirinya mengandung saat ini.


"Kamu mudah bicara seperti itu Dev dengan latar belakang suamimu. Kamu kerja hanya untuk hobby dan kesenangan, tapi tidakkah kamu lihat berapa orang yang akan bergantung di perusahaan ini." kata Donna.


"Mengenal kota ini, orang-orang di perusahaan ini, aku menjadi jatuh cinta dengan semuanya. Tapi aku butuh orang sepertimu berada di sekitarku Dev." lanjut Donna lirih.


"Sudah .. sudah, kita tidak perlu memikirkan orang yang tidak penting seperti Bukman. Benar yang dikatakan Dev diawal, kita tunggu action selanjutnya yang akan dilakukan Bukman." sahut Wijaya.


"Iya, apalagi Bukman orang baru. Tidak mudah baginya untuk mengambil hati para pemegang saham lainnya.' lanjut Gunawan menambahkan.


"Ngomong-ngomong, kita keluar makan siang bersama yuk sekali-kali. Aku jadi lapar gara-gara tadi." kata Donna mengajak makan siang.


"Monggo silakan, saya tetap di ruangan saja. Karena saat ini saya tidak boleh mengkonsumsi makanan sembarangan. Menu saya sudah diatur oleh pakar nutrisi dan gizi dari RS **loam." kata Dev sambil mengeluarkan kotak makan siangnya.


"Oh iya, maaf ya Dev bapak sampai lupa. Harusnya hari ini kamu belum boleh berpikir keras, tapi malah menghadapi hari yang berat ini." kata Gunawan dengan muka menyesal.


"Tidak apa-apa pak, saya sudah banyak beristirahat selama tiga hari ini."


"Sebenarnya kemaren kata dokter, saya bisa rawat jalan tidak perlu opname di RS. Tapi keluarga suami, yang tetap bersikeras memaksa saya untuk rawat inap." ucap Dev.


"So sweet banget Dev, keluarga suamimu. Aku bisa tidak ya, disayangi dengan tulus dan perhatian oleh suami dan keluarganya." kata Donna sambil tersenyum kecut.


"Bapak kembali ke ruangan dulu ya bapak ibu." Gunawan berpamitan untuk kembali ke ruang kerjanya.


"Aku masih pingin disini boleh Dev," tanya Donna.


"Boleh, malah nemani aku bekerja dan makan. Tapi aku ga enak, masak makan sendirian." kata Dev.


"Sudah, aku juga mau balik ruangan, nanti aku minta bagian pantry mencarikan makan siang." sahut Wijaya sambil beranjak keluar mengikuti Gunawan.


Tinggallah Dev dan Donna berdua di ruangan.


"Donn, aku koreksi sebentar dokumen-dokumen ini ya, setelah selesai aku temani kamu ngobrol." kata Dev.


"Ya ga pa pa Dev, aku baca majalah ini dulu." sahut Donna sambil meraih majalah Marketing.


"Tok..tok..tok..,"


""Masuk." jawab Dev


Petugas pantry yang bernama Wahyu mendorong pintu ke dalam, dan membawa nampan berisi dua gelas Juice, dan satu piring makanan.


"Permisi Bu, ini saya hanya membawakan satu nasi Padang sesuai instruksi dari pak Wijaya, dan dua Juice jambu." kata Wahyu sambil meletakkan Juice dan makanan di meja.


"Ya makasih, kamu bisa kembali bekerja lagi " sahut Donna.


"Istirahat dulu Dev, ayo makan bareng." kata Donna mengingatkan Dev.


"Yup, kebetulan aku juga sudah selesai." sahut Dev sambil meletakkan pena, dan segera berdiri dan melangkah ke sofa.


Keduanya menikmati makan siang bersama dalam diam, dan baru kali ini mereka memiliki kesempatan berdua tanpa orang lain.


*****


Setelah selesai makan siang, dan membersihkan tempat makan, Dev dan Donna kembali duduk berhadapan di sofa.


"Gimana Donn, ada yang mau kamu bicarakan." tanya Dev dengan tersenyum.


"Maafkan aku sebelumnya ya Dev, karena aku yakin kamu sudah tidak mau mendengarkan lagi aku menyebut nama ini. Tapi aku butuh masukan." kata Donna sambil tertunduk.


Dev tersenyum.


"Nama siapa Donn, Andre kah?" tanyanya sambil tetap menunjukkan senyum ketulusan.


Donna sontak menengadahkan wajahnya dan memandang Dev. Yang dipandang, tersenyum dan menganggukkan kepala.


"Donna...,kamu tidak perlu khawatir, dengan adanya bayi di dalam perutku saat ini, tidak akan ada yang membuatku lemah." ucap Dev, yang sontak membuat Donna kaget.


"Kamu hamil Dev," kata Donna dengan mulut terbuka.


"Iya Donn, sudah jalan tiga minggu. Mohon doanya ya."


"Iya Dev,"


"Aku sudah memantapkan hati untuk menjadikan Yudha suamiku selamanya. Kehadiran bayi ini, menambah keyakinan bahwa aku tidak salah untuk memilih orang."


Donna mendengarkan setiap perkataan Dev dengan penuh perhatian.


"Andre adalah masa laluku, dan tidak akan ada Andre di masa depanku. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Dev.


"Inilah yang akan kuminta pendapatmu. Dev, mengingat kelakuanku di masa lalu, jujur aku sangat malu pada dirimu." ucap Donna lirih sambil meraih tangan Dev.


"Dev, aku ingin melupakan Andre, karena aku tahu dan sadar bahwa hanya kamu yang selalu ada di hati Andre. Tapi semakin aku berusaha melupakannya, di ulu hatiku terasa sakit seperti ditusuk-tusuk."


Dev tersenyum lembut, kemudian mengusap tangan Donna perlahan.


"Donn.., berarti kamu cinta sama Andre. Jika aku boleh tahu, dengan siapa kamu melakukan ML pertama kali. Apakah dengan Andre."


Donna menganggukkan kepala dan mukanya memerah menahan malu.


"Tidak perlu malu, semua sudah terjadi. Kalau begitu kembalilah ke Andre."


"Aku yakin dengan perhatianmu, dengan cintamu, Andre akan bisa menjadi milikmu selamanya. Apalagi kamu telah menyerahkan milikmu yang paling berharga hanya kepadanya. Denganku, Andre hanya merasa terobsesi."


"Benarkah." tanya Donna.


"Iya, dan suamiku Yudha tidak akan membiarkan bahkan bisa membunuhnya jika Andre tetap bersikeras untuk mengejarku." kata Dev yang sangat melegakan hati Donna.


"Terima kasih Dev, bolehkah aku memelukmu." tanya Donna dengan tatapan memohon.


Mendengar permintaan Donna, Dev segera merentangkan kedua tangannya. Donna berpindah tempat duduk di samping Dev, akhirnya mereka berpelukkan dengan bahagia. Wijaya yang akan masuk ke ruangan Dev, akhirnya menarik dirinya kembali. Dia ikut bahagianya merasakan adiknya bisa melepaskan beban dan tekanan batin terhadap Dev.


******