Married By Incident

Married By Incident
Aku Sudah Menikah



"Cint..., siang ketemuan ya? Aku tunggu di Klinik Co**e, jam 12.30! Reno juga dah oke." Dev kaget tiba-tiba Sasa sahabatnya mengirim pesan via whattsapps mengajak ketemu makan siang.


"Sudah muncul lagi rupanya dia, okay lihat nanti siang Sa. Kamu harus bertanggungjawab sudah pergi dari kota ini, tanpa pamit denganku!" gumam Dev sendiri.


"Jangan di sana, aku lagi menghindari kopi untuk sementara. Kita ketemu di Kebon *lem saja!  On time*!" balas Dev.


"I really like your style, I miss you." jawab Sasa.


Dev tidak menjawab pesan Sasa, karena dia merasa jengkel dengan sahabatnya itu. Terakhir kali mereka ketemu di Jakarta pada saat pernikahan sepupunya Reno yang juga sahabat Dev, dengan Bianca. Tanpa ada sepatah katapun memberi tahu Dev akan kepergiannya, selama berbulan-bulan Sasa tidak pernah terdengar kabarnya. Dan sekarang, tiba-tiba muncul lagi dan mengajak Dev ketemuan.


Dev kembali fokus melihat ke arah screen laptop di depannya. Meskipun melakukan review hasil kerja anak buah, bukan lagi menjadi tugas seorang Direksi, tetapi Dev tidak bisa hanya duduk, diam, kemudian memberi perintah. Dia merasa mendapatkan sebuah kepuasan, jika dia ikut kontribusi dari setiap project kerjaan yang membutuhkan pengesahan darinya.


"Ehm..., sibuk sekali ternyata istriku jika di tempat kerja." reflek Dev kaget dan menengadahkan wajahnya, terlihat di depan meja kerjanya sang raja sudah berdiri gagah.


"Ini hadiah untuk ratuku." Yudha menyerahkan satu buket bunga segar pada istrinya itu dengan tersenyum lembut.


"Dadd??? Apa ini, Mommy merasa tidak ulang tahun hari ini." tanya Dev bingung sambil menerima bunga, kemudian menciumnya dan meletakkan di atas filling cabinet.


Tanpa permisi Yudha menutup laptop di depan istrinya.


"Kok ditutup sih, sebentar Mommy save dulu soft filenya!" Dev segera membuka kembali laptopnya, dan setelah save filenya dia berdiri menghampiri suaminya.


"Selamat ya sayang,for your second pregnancy!" Yudha langsung memeluk Dev dan mencium keningnya. Meskipun dia kurang setuju dengan hamil kedua istrinya, tetapi melihat Dev perasaannya menjadi hangat dan mencair. Dia tidak akan pernah bisa marah di depan istrinya itu, kemudian mengajak istrinya duduk di sofa.


"Terima kasih sayang, sorry Mommy lupa memberi tahu Daddy kemarin. Keingat tadi pagi pingin isengin saja. yah mending Mommy masukkan di laptop saja deh. Sorry ya, please!" Dev menyandarkan kepala di dada suaminya, dan seperti perkiraannya, Yudha langsung luruh.


"Momm..., sebenarnya Daddy belum yakin untuk memiliki anak lagi. Mengingat kesakitan yang pernah kamu alami saat hamil si twins, itu sangat menyakitiku. Kejadian itu akankah terulang lagi?" dengan pelan Yudha memandang wajah istrinya.


"Daddy jangan terlalu paranoid. Si twins dulu kan kehamilan pertama, Mommy belum memiliki pengalaman untuk merespon gejala yang muncul. Untuk hamil yang sekarang, percayalah Dadd, Mommy akan bisa mengatasinya dengan baik!" Dev mencoba meyakinkan suaminya.


"Lagian, beberapa waktu yang lalu kan, Mommy pernah minta ijin ingin punya anak lagi kan? Dan setahu Mommy, dulu Daddy memberi ijin?"


Yudha diam sejenak, kemudian mengambil nafas dan kembali mengeluarkannya.


"Aku pikir tidak secepat itu kamu akan hamil lagi, apakah nanti malam penderitaanku sudah akan dimulai?"


'Ha..ha...ha." Dev tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan suaminya itu. Selalu hal pertama dalam keadaan apapun, nafkah di atas tempat tidur selalu yang akan selalu diutamakan.


"Memang lucu? Kenapa tertawa?" tanya Yudha.


"Pingin saja tertawa melihat kelucuan Daddy. Tampak imut sih."


"Terus jawabannya apa?"


"Nanti sore kita konsultasi dokter lagi ya? Tapi Mommy rasa sih, tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk urusan yang satu itu. Ha..ha.." Dev langsung mencium bibir suaminya yang tampak imut di depannya, dan saat merasa tangan suaminya sudah lari kemana-mana.


"Daddy sabar dulu ya, tunggu konsultasi Dokter dulu."


"Iya..iya." dengan tampang sewot, Yudha menghentikan pelukan pada istrinya.


 


****************************************


 


"Ayo, kita langsung naik Dev! Suamiku dan Reno sudah menunggu di atas." kata Sasa sambil membawa Dev untuk menaiki tangga.


"Apa kamu bilang Sa? Suami?"


Melihat Dev yang berhenti karena kaget dengan perkataannya, Sasa langsung merangkul sahabatnya dan segera membawanya ke lantai atas.


"Nanti kita jelaskan!"


Akhirnya Dev terpaksa menunda rasa penasarannya, dan mengikuti langkah Sasa untuk menaiki tangga. Di pojok ruangan, Dev berbinar matanya melihat Ivan dan Reno yang berdiri menyambutnya datang. Dia langsung menyalami kedua laki-laki itu, dan Reno menarikkan kursi untuk diduduki Dev.


"Kalian semua memiliki hutang penjelasan padaku! Reno.., baru kemarin Bianca bilang jika kamu ada di Australia, kenapa saat ini kamu sudah ada di depanku?" dengan tatapan penuh selidik, Dev langsung bertanya pada Reno.


"Sudah, nanti kita cerita semua, duduklah dulu Tuan Putri Devina Renata, calon istriku tetapi gagal." goda Reno, yang berakhir dengan pukulan Dev.


"Aduh, sudah dong galaknya! Masak sudah menjadi calon mama dari 3 anak, kok malah tambah galak." seru Reno.


"Diam bisa tidak kamu?" Dev memelototi Reno, yang langsung disambut dengan tertawa mereka bersama.


Dev kemudian duduk di kursi yang sudah disiapkan Reno untuknya.


"Aku datang tadi malam Dev, jam 23 malam baru sampai di rumah. Aku memang sengaja memberi surprise pada Bianca, tidak memberi tahunya kalau semalam aku pulang." Reno menjelaskan.


"Makan dulu yuk, baru kita ngobrol. Aku sudah kangen banget nih sama nasi pecel." seru Sasa.


Akhirnya mereka bertiga segera makan, karena menu sudah dipesan Sasa sebelum Dev sampai ke resto. Sesekali Reno mengusili Dev, hal yang sudah sekian lama tidak mereka lakukan. Sasa dan Ivan hanya tersenyum melihat mereka berdua.


"Bagaimana kabar kalian, lenyap tidak ada kabar berita sedikitpun?" tanya Dev setelah mereka selesai makan.


"Tanya Reno itu Dev. Setelah Reno menikah, aku dan Ivan ditanya sama anggota keluarga dan dipaksa untuk menikah. Sebenarnya Ivan belum siap sih, tetapi papaku bilang menikah sekarang, atau aku akan dicarikan pasangan oleh papa." Sasa menjelaskan terkait hilangnya kabar mereka.


"Iya Dev, benar yang disampaikan Sasa. Tetapi untungnya kami dipaksa menikah waktu itu, jika tidak. Mungkin sampai sekarang aku akan terus menjawab belum siap." kata Ivan sambil tersenyum kecut.


"Kapan kalian menikahnya?"


"Satu minggu setelah pernikahan Reno, kami berdua juga menikah di Australia. Dan sama papa, kami tidak diperbolehkan kembali ke Indonesia. Kami dipaksa membantu papa mengelola perusahaan disana."


"Karena kamu baru sampai disini, tidak mungkin kan kami memberi tahu kamu. Melihatmu datang di pernikahan Reno dan Bianca dengan membawa si twins, aku tidak tega. Karena aku yakin, Yudha akan membuatmu selalu senang, dan pasti akan kembali ke Australia."


Dev berdiri dan memeluk Sasa, dia merasa sangat bahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan para sahabatnya.


 


 


 


*************************************************