Married By Incident

Married By Incident
Gelisah



Sore hari akhirnya Dev sudah diijinkan pulang oleh dokter. Karena banyak agenda penting Yudha yang tidak dapat diwakilkan, Dev kembali ke rumah dengan ditemani Baskara dan Bianca. Bianca sudah diberi tahu mengenai hubungan Dev dengan Baskara, juga pernikahannya dengan Yudha. Setelah mendapat berita tentang sakitnya Dev, dia langsung ke rumah sakit untuk menengok mitra kerja sekaligus temannya di kota ini.


"Dev...., aku tidak menyangka bahwa hubunganmu sangat rumit dengan om Baskara." kata Bianca sambil senyum-senyum.


Dev menengok sekilas ke arah Bianca, kemudian kembali meluruskan pandangannya ke depan. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan dari rumah sakit menuju Hyatt Regency, dengan disopiri oleh Bianca. Semula Dev sudah meminta pak Sholeh untuk menjemput. Tetapi Bianca bersikeras untuk mengantar mereka pulang, dengan alasan sekaligus ingin tahu tempat tinggal Dev.


"Semua sudah ada yang mengatur Bia, kita hanya tinggal menjalani. Untungnya kakek Baskara sangat berbesar hati, sehingga bisa menerimaku dan menyetujui pernikahan kami. Iya kan kakek" komentar Dev sambil tersenyum.


Baskara tersenyum tidak menjawab, sambil mengarahkan pandangannya ke luar mobil.


"Kebetulan juga Dev, aku tidak pernah menyetujui rencana papa dengan pak Baskara yang ingin menjodohkan aku dengan cucunya. He ..He..." kata Bianca sambil tertawa kecil, yang cukup mengejutkan Dev.


Baskara juga sedikit terkejut dengan keterus terangan Bianca, tetapi dia hanya diam kemudian memejamkan matanya.


"Oh ya, jadi kalian...," kata Dev tapi tidak melanjutkan perkataannya.


"E...e..e..., jangan berprasangka padaku Dev. Kamu saat ini lagi hamil, woles.., woles.. jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku sampai sekarang, juga belum pernah tahu yang mana Yudha, yang saat ini menjadi suamimu." kata Bianca buru-buru menjelaskan.


"Iya Bi, lagian aku kan sekarang sudah menjadi istrinya Yudha. Aku tidak akan berprasangka padamu, itu kan masa lalu."


"Makanya aku sampai terdampar di kota ini. Papa ngotot ingin aku yang memimpin cabang baru PT. Diamond di kota ini, katanya agar aku lebih dekat dengan CEO PT. Globe Tbk."


"Jangan-jangan kesediaan kakek menjadi Advisory board di perusahaanmu, salah satunya karena faktor ini ya. Benar kek." tanya Dev dengan santai tanpa bermaksud menyudutkan siapapun.


Mendengar dari tadi, dirinya dijadikan topik pembicaraan, akhirnya Baskara berbicara.


"Dev, jangan salah paham dulu dengan kakek. Memang benar salah satu alasan kakek mau membantu Bianca karena hal itu."


"Tapi itu terjadi karena kakek belum tahu yang sebenarnya. Orang tua manapun pasti akan khawatir, usia anaknya sudah 30 tahun tapi belum ada tanda-tanda janur kuning di sekitarnya."


"Demikian juga dengan kakek, Dev... Yudha memang memberi tahu kalau sudah menikah denganmu, tapi kakek tidak percaya. Karena yah, dari dulu dia selalu membohongiku. Maafkan kakek ya Dev," kata Baskara menyesali tindakannya.


"Kek... Dev tidak apa-apa. Kakek, Bianca atau siapapun tidak ada yang salah. Toh, akhirnya Yudha menjadi suami Dev kan." jawab Dev menenangkan Baskara.


"Lagian, Bianca juga tidak pernah terobsesi sama suami Dev kan. Dia tidak akan merebut suami Dev, iya kan Bia." tanya Dev pada Bianca.


"Memangnya laki-laki di dunia ini hanya suamimu Dev. Jangan khawatir Dev sayang, aku gak akan mengejar suamimu. Aku mau cari stock yang lain aja."


"Ha...ha..ha.., iya Bia.. aku yakin sepenuhnya." kata Dev dan disambut tertawa bersama.


Tanpa sadar mobil sudah memasuki area Hyatt Regency. Security tampak menghentikan mobil untuk menanyakan identitas. Devina menurunkan kaca mobil


"Oh Bu Yudha ya, maaf Bu. Silakan." kata security mengijinkan mereka masuk komplek.


"Dev rumahmu yang mana." tanya Bianca.


"Lurus dikit terus ambil kanan. Rumah pas di ujung jalan."


"Noted..."


Setelah tiga menit, Bianca menghentikan mobilnya di halaman. Pak Sholeh yang sedang ngobrol dengan tukang kebun, berlari untuk membukakan pintu mobil.


"Makasih pak Sholeh."


"Sama-sama Nyonya Muda."


"Besar sekali rumahmu Dev, teduh lagi banyak pepohonan." kata Bianca kagum.


Dev hanya tersenyum menanggapi perkataan Bianca.


"Sudah sehat Nyonya Muda," sapa Bi Siti menyambut kedatangan Dev dari dalam rumah.


"Iya Bi, sudah. Kamar tamu sudah dibersihkan bi."


"Sudah Nyonya Muda."


"Bi Siti .., kenalkan ini kakek Baskara, kakeknya suami Dev." kata Dev mengenalkan Baskara.


"Selamat sore Tuan Baskara, saya Siti yang bantu-bantu disini."


Baskara diam tidak menjawab, hanya tersenyum sedikit.


"Kakek.., kalau mau istirahat dulu, kamar untuk kakek sudah disiapkan oleh Bi Siti." kata Dev pada Baskara.


"Iya gampang, nanti kakek langsung ke kamar. Sekarang kakek mau lihat-lihat dulu di belakang." jawab Baskara sambil meninggalkan mereka.


Dev mengajak Bianca duduk di ruang tengah. Tidak lama, Bi Siti datang membawa teh manis panas dan camilan ringan. Bi Siti sangat hafal dengan minuman andalan Dev di setiap saat, yaitu teh Nasgithel.


"Ayuk Bia.. diminum. Kamu doyan teh panas tidak, kalau tidak mau biar dibuatkan minuman lain sama Bi Siti." kata Dev.


"Sudah ini saja cukup." sahut Bianca sambil mengangkat cangkir dan mencicipi minumannya.


Mereka ngobrol sampai jam 18.00, karena mempertimbangkan kesehatan Dev, Bianca akhirnya pamitan pulang. Dev mengantarkan Bianca sampai di halaman rumah.


*****


Malam hari di kamar lantai atas, Yudha tampak mengamati istrinya yang tengah berusaha tidur. Lama-lama dia merasa tidak tega melihat tidur Dev yang tampak gelisah, membolak balikkan badan, sambil memeluk guling. Yudha saat ini, masih membuka laptop di atas ranjang, untuk mempelajari Business plan yang dikonsep divisi R & D.


Melihat kegelisahan istrinya, Yudha segera menutup laptop dan meletakkannya di atas meja. Dia berdiri untuk mengganti cahaya lampu dengan sinar yang lebih redup, kemudian membaringkan tubuhnya perlahan di samping Dev.


"Kenapa sayang, tidak bisa tidur," tanya Yudha lembut pada Dev.


Dev perlahan membuka matanya, kemudian menatap suaminya dengan tatapan sendu.


"Kemarilah, aku tahu kamu tidak akan bisa tidur nyenyak kalau jauh dariku." kata Yudha sambil memeluk Dev, dan menaruh kepala Dev di dada Yudha. Perlahan dia memberikan kecupan lembut di kening istrinya.


"Tapi, sayang..., kamu." tanya Dev.


"Sssttt.., aku tidak apa-apa, aku juga ingat pesan dokter. Sangat rawan di trimester pertama untuk aku mengunjungimu. Aku bisa menahannya."


Mendengar jawaban Yudha, Dev langsung memposisikan dirinya. Kepalanya dengan cepat meringkuk di dada Yudha, menghirup aroma khas suaminya yang sangat memabukkan. Yudha dengan penuh kelembutan, membelai rambut Dev, dan sesekali mencium aroma harum rambut istrinya. Mata Yudha sudah mulai redup, menyipit dengan nafas kasar memburu. Tapi demi anak yang ada di dalam perut istrinya, Yudha kuat menahan sesuatu yang meronta di dalam perutnya.


"Kamu sangat menyiksaku saat ini sayang." gumam Yudha perlahan.


Tatapannya lembut menyaksikan istrinya dengan cepat tertidur. Setelah merasa istrinya tertidur pulas, perlahan Yudha bangun dan beranjak meninggalkan tempat tidur. Dengan nafas yang tidak teratur, akhirnya Yudha memilih berendam air dingin di malam hari.


*******