Married By Incident

Married By Incident
Gangguan



Melihat ada round table yang kosong di samping Dev, Bukman bermaksud untuk mengisinya. Dan untuk menunjukkan gigi di depan Dev, Bukman mulai membuka percakapan.


"Hello Bu Devina.., ketemu juga kita disini. Lagi sendirian saja," tanya Bukman.


"Iya pak." Jawa Dev singkat. Dia merasa tidak perlu harus tebar pesona pada orang yang jelas-jelas tidak menyukainya.


"Selamat ya Bu, Bu Devina hari ini sukses cari perhatiannya, seharusnya para tamu fokus pada kedua pengantin. Tapi Bu Devina bisa mengalihkan perhatian mereka. Ibu betul-betul bisa menjadi seorang artis yang hebat." kata Bukman sarkasme.


"Hmm...," respon Dev menanggapi ocehan Bukman.


"Tadi yang angkat Bu Devina waktu kakinya masuk lobang stage itu suaminya ya, kemana sekarang." tanya Bukman tanpa bosan bertanya, yang membuat telinga Dev merasakan gatal.


"Baru ada urusan."


"Oh saya kira ibu ditinggal sendirian di sini."


"....." pikir Dev.


"Bisa-bisa malah ibu dilupakan sekarang, suaminya langsung pulang atau pergi sama orang lain. Tapi tenang saja Bu, kalau tidak ada yang antar, saya mau kok mengantarkan Bu Devina," kata Bukman yang semakin ngelantur bicaranya.


Dev tidak menjawab, dia hanya mengangkat sedikit kedua bahunya. Merasa tidak ada tanggapan bersahabat dari Dev, Bukman kemudian duduk pada round table samping kanan Dev.


Sedangkan Dev tetap diam tanpa bicara, sambil mengaduk-aduk wedang ronde di mangkoknya. Sesekali dia mencicipi dengan menggunakan sendok bebek.


Tiba-tiba, saat Dev lagi asyik mencicipi wedang ronde, gangguan keamanan muncul lagi di hadapannya.


"Hai kakak.., akhirnya kita bisa ketemu di sini." terdengar suara gadis menyapanya. Dev menengadahkan wajah, dan melihat Tiara adik tirinya berada di depannya.


"Tiara...., kamu diundang juga? Terus sama siapa datang," kata Dev agak kaget, kemudian dia menengok ke kanan kiri adik tirinya, tapi dia tidak mengenali siapapun.


"Memang penting ya, aku kesini sama siapa. Bukan hanya kamu saja kak, yang bisa mendapatkan undangan di acara semegah ini."


"Meskipun Andre dulu pacarmu, dia juga tidak akan lupa untuk mengundangku ke acara pernikahannya. Kali ini Andre sangat beruntung bisa mendapatkan istri yang cantik, berkelas, dan pastinya kaya." kata Tiara sinis.


Dev malas berdebat tanpa dasar, seperti pepesan kosong, jadi dia hanya diam menelan semua omongan Tiara. Dia tetap asyik menikmati wedang ronde, dan mengabaikan suara kaleng rombeng yang mencoba untuk mengganggunya.


"Suamimu kemana, aku tadi melihat semuanya. Taktik yang kamu gunakan itu basi. Pura-pura kejeblos kaki biar dapat perhatian dari suami, ha..ha.. yang ada kamu malah bikin malu suami." kata Tiara tertawa ngakak. Tamu-tamu di sekitarnya sampai menengok ke arahnya.


"Kampungan itu namanya." lanjutnya lagi.


"Lihat kan, belum apa-apa akhirnya kamu sudah ditinggal sendirian. Mana sepatu sudah dibuang lagi, yah... selamat nyeker ya sampai rumah."


"Saat ini ditinggal di acara, di waktu lainnya lagi, tunggu saja, bisa-bisa kamu ditinggal untuk selamanya." kata Tiara dengan mulut menyerocos tanpa henti.


"Hey... silakan anda bersikap sopan dengan tamu-tamu saya. Jika tidak, silakan tinggalkan tempat ini." tiba-tiba suara Wijaya terdengar membentak Tiara yang terlihat sedang berusaha mengganggu Dev.


"Jay..., untuk apa kamu disini. Tenanglah, aku tidak apa-apa," kata Dev mencoba menenangkan Wijaya.


Melihat ada laki-laki yang mencoba membela Dev dengan suara tinggi, Tiara ikut terpancing emosi.


"Anda tidak tahu ya, bagaimana cara untuk menghormati tamu. Apalagi tamu VVIP." semprot Tiara.


"Jay.., sudah sudah. Ingat kamu ini tuan rumah. Ini acara Donna, jangan sampai karena terpancing dengan wanita ini, acara menjadi tidak nyaman." kata Dev menahan Wijaya.


Sedangkan Bukman yang melihat Tiara menjadi tidak tahu malu, dia malah pura-pura mengabaikan dan tidak mengenal gadis itu.


"Hai Dev..., sejak kapan kamu berani menasehati aku. Apakah hari ini kamu ingin menunjukkan pada semua orang, kamu bersikap layaknya seorang kakak yang baik terhadap adiknya." Tiara malah semakin ngelantur kemana-mana.


Wijaya kaget mendengar ucapan Tiara.


"Dev.., benarkah dia adikmu." tanya Wijaya.


"Kalau dia mau mengakui sebagai adikku, berarti dia adalah adikku. Tapi, jika dia tidak mau mengakui kalau aku kakaknya, ya berarti dia bukan adikku." Dev menjawab pertanyaan Wijaya seperti teka-teki.


"Memangnya siapa yang mau menjadi adikmu." seru Tiara. Dia sudah tidak mempedulikan tatapan tamu-tamu yang lain, bahkan kasak kusuk di sekitarnya. Untungnya beberapa tamu sudah pada meninggalkan tempat, sehingga tidak begitu banyak yang melihat kegilaannya.


"Jay..., kembalilah ke tempatmu. Ini acara keluargamu. Kamu harus menghargai Donna dan Andre. Pergilah, tinggalkan aku disini." kata Dev meminta Wijaya kembali ke tempatnya semula.


'Aku akan temani kamu sampai Yudha kembali." ucap Wijaya.


"Memang suaminya akan kembali, aku yakin kalau suaminya sudah pergi dengan wanita lain yang lebih berkelas." sahut Tiara.


Wijaya dan Dev diam tidak menanggapi ocehan Tiara. Tidak berapa lama, Yudha terlihat kembali masuk ke ruang VVIP.


"Sayang, maaf ya agak lama." kata Yudha yang langsung jongkok di bawah, kemudian memasangkan sepatu di kaki Dev.


Tiara terbelalak matanya melihat seorang laki-laki yang mau merendahkan dirinya di tempat umum.


"Makasih sayang, tadi balik hotel dulu ya." tanya Dev lembut.


Yudha hanya mengangguk, kemudian menepuk bahu Wijaya.


"Terima kasih Jay, sudah menemani istriku. Ternyata kamu bukan pagar yang suka makan tanaman."


"Ha .ha..ha.., hari ini Yudha CEO PT. Globe bukan seperti yang dikenal oleh banyak orang. Arogan, angkuh dan sombong. Tapi aku melihatnya hari ini, sebagai laki-laki yang Bucin pada pasangannya." kata Wijaya sambil tertawa.


"Aku tidak butuh penilaianmu dan orang lain ...,Jay. Aku hanya peduli pada istriku.'


Yudha kemudian memegang tangan Dev.


"Masih mau disini, atau kita kembali ke Hotel sekarang." tanya Yudha dengan suara yang lembut.


"Kembali saja ya, perutku agak kencang. Mungkin karena tegang dan kebanyakan duduk." kata Dev.


"Baiklah, ayo," kata Yudha sambil membantu Dev berdiri.


Dengan protektif, Yudha merangkul istrinya, dan membawanya keluar melewati tamu-tamu. Dev juga tidak mempedulikan keberadaan Tiara, yang sejak kedatangan Yudha seperti mendadak bisu tidak bisa berbicara.


"Aku duluan Jay.., sukses dan lancar ya acaranya sampai selesai." Dev berpamitan pada Wijaya.


"Ya, terima kasih. Kalian berdua, hati-hati di jalan."


Dengan aura arogannya Yudha berhasil melewati tamu-tamu tanpa ada gangguan, dan langsung menuju depan lobby. Maman yang sudah standby di mobil, segera membukakan pintu mobil begitu melihat Tuan dan nonanya keluar dari ballroom.


******