
Tommy putra Cokro Sutedjo ternyata penasaran mendengarkan cerita tentang Devina. Begitu papanya meminta untuk mendirikan perusahaan baru di kota Yogyakarta, dia langsung ingin mendekati Devina. Setelah mendapatkan berita tentang kantor dari PT. Diamond, dia langsung berniat untuk mengikutkan semua karyawannya dalam program investasi yang ditawarkan perusahaan tersebut. Tetapi apes, dia tidak dapat menemui Devina, dan bahkan semua karyawan PT. Diamond tidak ada yang mau memberikan nomor contact Devina.
"Kamu itu juga aneh Tomm. Devina Renata itu seorang ibu, dia sudah memiliki dua putra kembar, dan suaminya juga bukan orang sembarangan. Untuk apa kamu mencarinya. Kalau kamu mau, aku bisa carikan gadis yang masih perawan untuk kamu dekati atau bahkan hanya untuk kamu permainkan." kata Roni saudara yang juga bertindak sebagai Asistennya.
"Non sense Ron. Shut up. Kamu tidak merasakan tantangan apapun Ron, tetapi mendengar cerita orang tentang siapa dan bagaimana Devina Renata, akan membuatmu tertantang untuk mendekatinya." sahut Tommy sambil meneguk minumannya.
"Lah, terserah kamu saja Tomm. Tetapi, terus apa yang bisa kita lakukan saat ini. Bahkan nomor ponsel saja, kita tidak bisa mendapatkannya."
Tommy mendengar cerita tentang Devina Renata dari temannya yang pernah bertemu dengan Dev di Lombok. Tetapi temannya tidak bercerita jika Devina sudah menikah, sehingga saat di kembali ke Indonesia dia collecting informasi tentang gadis itu. Setelah mengetahui status pernikahan Devina, dan mendengar suaminya yang sangat posesif, tidak menjadikan Tommy mundur. Tetapi malah menantangnya untuk dapat mengenal lebih dekat dengan Devina.
"Atau kita menyusulnya ke New Zealand, papamu ada property kan disana. Yah, sambil sekalian kita staycation. Ha...ha..ha..," Roni meledek sahabatnya.
"Good idea Ron. Kita tunggu kabar dulu, jika sampai satu bulan, tidak ada kabar dari Devina, kita akan susul dia ke New Zealand. Nanti aku akan gunakan koneksi dari papa untuk mendapatkan datanya di embassy."
"Are you crazy Tommy? Aku hanya meledekmu teman." teriak Roni sambil melotot.
"No problem. Tapi aku suka idemu. Bagus sekali teman." sahut Tommy sambil tersenyum.
Roni tidak dapat memahami keinginan sahabatnya dari kecil itu. Sebagai anggota dari keluarga terdekat yang sejak kecil selalu bersama, Roni memahami karakter dan sifat yang melatar belakangi Tommy. Dari kecil, dia sudah ditinggalkan mama dan papanya untuk studi di Amerika Serikat. Banyak gadis yang mengejar sahabat sekaligus saudaranya itu, tetapi Tommy hanya bermain-main dengan mereka, dan tidak pernah mau menjalani sebuah hubungan serius dengan mereka. Tetapi hanya mendapat cerita tentang Devina dari temannya yang sedang berlibur di Lombok, menjadikan rasa penasarannya diwujudkan dengan gila.
******************************************
Icha merasa risi, karena sering mendapatkan panggilan telepon yang menanyakan keberadaan Dev. Kemudian tanpa ijin Bianca, dia mengirimkan chat via aplikasi whatsapp pada Dev di New Zealand. Dia sudah memberi tahu Bertho suaminya, agar tidak menimbulkan masalah pada kehidupan pernikahan mereka.
"Dev..., bagaimana liburanmu di New Zealand? kayaknya asyik sekali ya, bisa kumpul terus sama keluarga."
"Hai Icha..., iya senang banget Cha, kita disini tinggalnya di kawasan pedesaan. rasanya tenang banget. Bagaimana kabarmu dan teman-teman?"
Icha tambah semangat mengirim message via chat, karena ternyata respon Dev cepat.
"Alhamdulillah kami baik-baik saja Dev. Aku mau nanya sesuatu yang serius nih, kira-kira Tuan Yudha ada di dekatmu tidak Dev?"
"Ha.., ha..., ha.., kamu takut ya dengan suamiku. Ada nih, sedang tiduran di sampingku. Tapi tenanglah, dia tidak akan mengganggu kita kok."
"Dev, apakah kamu mengenal Tommy Cokro Sutedjo?"
"Tidak, What happend?"
"Dia datang mencarimu di kantor, dan tidak mau bicara apapun dengan Bu Bianca dan petinggi perusahaan lainnya."
"So?"
"Dia hanya mau ketemu sama kamu. Bahkan menerorku, dengan menanyakan kapan kamu datang dari New Zealand."
"Ha...ha.., jangan bergurau kamu Icha. Bilang saja kalian kangen sama oleh-olehku kan."
"Ya Allah Dev. Aku bicara serius. Sudah ah, kamu tidak asyik. Aku cuma mau ngasih informasi itu."
"Waduh begitu saja Ichaku marah. Untuk kapan pulangnya, aku belum bisa jawab Icha. Biarlah, kalau memang dia ada perlu denganku, aku yakin suatu saat aku akan ketemu dengan siapa tadi, si Tommy?"
"Okay, bye Dev. Salamku ya buat Zidan dan Vian. Muach.."
"Okay disampaikan. Terima kasih Aunty. kwkkk... kwkkk."
Dev tersenyum sendiri membaca chat dari Icha.
"Hmm.." terdengar suara Yudha di sampingnya.
"Ada apa Dadd, ini Mommy lagi chat dengan Icha, Katanya Mommy dapat fans baru di kantor. He..he.."
"Makanya dari tadi suami di sampingnya di cuekin. Ternyata malah cari kesibukan di tempat lain." Yudha langsung memeluk Devina dan menempatkan kepala Dev di atas dadanya.
Dev membalikan tubuhnya menghadap ke atas tubuh Yudha, dan dia tidak menyadari bahwa pergerakan tubuhnya di atas tubuh suaminya, menjadikan anggota tubuh Yudha di bagian bawah menjadi bergerak.
Sontak Dev mau mengangkat tubuhnya untuk bangun dari dada suaminya, tetapi Yudha bergerak lebih cepat. Tangannya langsung menekan ke bawah leher Dev dari belakang, dan tidak lama bibir keduanya sudah saling bertautan. Yudha yang sudah lama kurang mendapatkan perhatian dari Dev, tanpa memberikan kesempatan istrinya untuk melarikan diri darinya.
Devina mengikuti alur yang diberikan suaminya, Yudha melepaskan bibirnya saat mereka hampirkehabisan nafas. Tapi kemudian kembali menautkan bibirnya kembali, dan tangan Yudha sudah mulai bergerilya kemana-mana.
"Aah." tiba-tiba tanpa sadar, Dev mengeluarkan *******, dan disambut dengan senyuman dari Yudha.
"Apakah sayang tidak ingat, desahanmu bagaikan zat aphrosidiak bagi suamimu sayang." bisik Yudha yang langsung membalik tubuhnya di atas tubuh Dev.
"Hmm." sahut Dev yang langsung ditangkap Yudha dalam pelukan dan gulatannya.
Akhirnya pasangan suami istri betul-betul menikmati harinya saat itu. Pelukan, gulatan dan penyatuan kedua pasangan itu berakhir dengan memuaskan keduanya. Kedua putranya sudah diawasi oleh kakeknya Baskara, jadi mereka tidak merasa terganggu jika keduanya akan mencari mereka.
**********************************************************************
"Mommy...." Zidan mengigau dalam tidurnya.
Baskara segera bangun dari tidurnya, kemudian mendatangi cucu buyutnya. Tangannya menepuk-nepuk Zidan, berusaha menenangkannya kembali. Baskara tersenyum, dan sangat menikmati eprannya membersamai kedua cucu buyutnya.
"Mommy, minum susu." kembali Zidan memanggil Mommy nya.
"Sabar sayang, opa ambilkan ya susunya." Baskara segera melangkah meninggalkan Zidan untuk menyiapkan susu botol untuk Zidan.
Baskara sangat menikmati setiap peran yang dia jalankan dengan keikhlasan. Bahkan dia mengharapkan, di waktu yang akan datang, jika usianya masih ada, dia menginginkan cucu buyutnya menemaninya di tempat ini.
*****************************************************************
Hello All....
Pengumuman
Author punya Novel baru Nih.
Pada mampir ya, dan jangan lupa, beri like atau comment
Judul:
PERTEMUAN TAK DISANGKA: Keberuntungan Naura.
Aku tunggu kunjungannya