
Seperti yang sudah dijanjikan Dev pada Bertho dan Icha, Dev menemui pak Gunawan untuk menyampaikan perihal permasalahan mereka.
"Bagaimana pak Gun, apakah aturan perusahaan bisa agak lebih diringankan." tanya Dev pada pak Gunawan setelah menceritakan kejadian yang menimpa Icha dan Bertho.
"Jika hanya demi alasan kasihan dan tidak enak, aku harus melanggar aturan yang sudah ada sejak dahulu, mohon maaf aku tidak bisa Dev." kata Gunawan perlahan.
Tapi kalau memberikan sedikit kelonggaran seperti yang kamu sampaikan barusan, hanya sampai Icha melahirkan itu masih bisa saya pertimbangkan." lanjutnya lagi.
"Iya pak Gun, terima kasih atas kelonggarannya. Nanti sambil jalan, akan saya pikirkan langkah selanjutnya untuk mereka." sahut Dev bisa memahami yang disampaikan pak Gunawan.
"Dev..., peraturan itu diterapkan tidak tebang pilih, tapi harus berlaku sama untuk semua karyawan. Baik dari level lower maupun top level."
"Iya pak, saya mengerti. Saya hanya terdorong oleh rasa ingin membantu mereka, menolong anak yang dikandung Icha tanpa berusaha menghakimi perbuatan orang tuanya. Saya paham mereka sudah melakukan suatu kesalahan yang fatal, tapi waktu tidak mungkin untuk diputar balik." kata Dev pelan.
"Baiklah Bapak memahami tujuanmu, kamu memang orang yang baik Dev."
"Terima kasih pak, mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan. Dev ijin kembali ke ruangan," kata Dev berpamitan.
"Ya, lanjutkan aktivitasmu."
Sesampai di ruangan, Dev mencoba menghubungi suaminya via panggilan telepon.
"Iya, ada apa sayang, kangen?" tanya Yudha sambil menggoda istrinya.
"Ehm..ehmm, iya kangen. Yudh..., bisa tolongin aku lagi." kata Dev pada Yudha.
"Asalkan jelas perjanjiannya. Nanti malam kamu yang memimpin barisan." kata Yudha tegas dan lugas.
Dev tersipu malu.
"Iya aku janji deh." sahut Dev.
Dev kemudian menceritakan kejadian yang dialami Bertho dan Icha, kemudian minta tolong suaminya untuk membantu mempersiapkan pernikahan kilat di KUA.
Yudha mengambil nafas panjang.
"Dev..., aku sebagai suamimu akan merasa tersanjung jika kamu meminta bantuanku. Tetapi bantuan yang kamu minta, selalu bukan untuk dirimu sendiri."
"Apakah kamu keberatan sayang," rayu Dev dengan memanggil kata sayang.
"Ha...ha..., karena istriku hari ini sudah memanggilku sayang aku akan berbaik hati. Tapi ke depan, panggilan sayang harus selalu kamu hadiahkan untukku."
"Iya sayang, terus persiapan apa yang harus mereka lakukan sayang. Aku ingin secepatnya pernikahan mereka dilaksanakan. Aku khawatir kandungan Icha akan semakin besar."
"Pratama akan segera mengurusnya. Jika mereka mau, besok pagi akad nikah bisa dilaksanakan di KUA."
"Terimakasih sayang, mmuach...," kata Dev sangat bahagia hari ini bisa membantu temannya.
"Terima kasih tidak perlu, ingat nanti malam kamu yang memimpin barisan." kata Yudha langsung mengakhiri panggilannya.
Dengan muka merah tersipu, Dev segera menyampaikan kabar baik ini pada Bertho dan Icha.
******
Pagi hari berikutnya di KUA kecamatan G, pukul 10 dilangsungkan pernikahan Bertho dan Icha. Dari pihak Icha hanya dihadiri oleh kakak laki-lakinya yang tinggal di kota Semarang sebagai wali nikah. Sedangkan pihak Bertho diwakili oleh adiknya sebagai wali nikah. Keluarga Bertho tinggal di Tanjung pinang, jadi tidak memungkinkan dalam sehari bisa datang ke kota ini.
Pak Gunawan dan Dev menyempatkan hadir untuk mendo.akan mereka, dan sekaligus menjadi saksi nikah dari pihak Icha. Yudha menugaskan Pratama langsung untuk mengawal istrinya dan sekaligus prosesi acara.
"Selamat pagi Tuan Pratama, sangat senang bisa bertemu dengan anda disini." sapa pak Gunawan ramah sambil menyalami Pratama.
Pratama menyalami pak Gunawan kemudian meninggalkannya sendiri.
"Tama, kesini." seru Dev jengkel melihat kesombongan Pratama menghadapi orang tua.
"Iya Nyonya Muda, apa yang bisa saya bantu." tanya Pratama mendekat.
Dev jengkel kemudian memukul Pratama dengan gulungan kertas yang sedang dipegangnya.
"Aduh, kok Nyonya Muda memukul saya. Ingat banyak pengawal Tuan boss disini, nanti dilaporkan mereka kepada boss. Dipikirnya saya menggoda Nyonya Muda." kata Pratama sambil melindungi kepalanya.
"Maksud Nyonya Muda bagaimana." tanya Pratama bingung.
"Minta maaf sama pak Gunawan. Kamu sudah tidak sopan sudah mengabaikannya." kata Dev sambil menunjuk pak Gunawan.
"Sudahlah Dev, tidak perlu dipermasalahkan. Ayo segera masuk, acara akan segera dimulai." kata pak Gunawan sambil tersenyum melihat interaksi Pratama dan Dev.
Pratama tersenyum mengejek Dev, kemudian menjauh dari mereka.
*****
Jam sebelas akhirnya prosesi akad nikah Icha dan Bertho sudah terlaksana.
"Selamat ya Icha," Dev memberikan pelukan erat kepada teman sekaligus anak buahnya di perusahaan.
Kemudian dia gantian menyalami dan mengucapkan selamat pada Bertho.
"Selamat menjadi bapak ya Bro, dan selamat juga untuk komitmen barunya,"
"Dev, aku dan Icha banyak mengucapkan terima kasih atas bantuan kamu. Seperti mimpi', baru kemarin kami menyampaikan masalah kami. Hari ini kami sudah bisa disahkan secara negara'." kata Bertho penuh rasa keharuan.
"Tapi ingat Icha, Bertho. Pernikahan kalian baru sah secara hukum negara, untuk melindungi kalian dari pandangan miring masyarakat. Tapi secara agama, kalian tidak sah. Ingat saranku, setelah anak kalian lahir, segera cari penghulu secara agama untuk mensahkan pernikahan kalian." kata Dev menasehati Icha dan Bertho.
"Iya Dev, akan kami lakukan sesuai saranmu." ucap Bertho lirih.
"Btw..., sekarang apa yang kalian rencanakan. Aku dan pak Gunawan sudah berembug untuk memberikan kalian cuti tiga hari. Manfaatkan dengan baik untuk merencanakan kebaikan, dan ingat jangan tinggal bersama sebelum pernikahan kalian sah secara agama." kata Dev mewanti-wanti kedua temannya.
"Aku balik kantor dulu ya, hati-hati kalian berdua." pamit Dev.
"Mari Nyonya Muda, saya antar ke kantor." Pratama menawarkan untuk mengantar Dev.
"Tidak perlu Tama, aku bisa bareng pak Gunawan."
"Ada beberapa hal yang perlu saya konfirmasi pada Nyonya Muda."
Dev akhirnya kembali ke kantor dengan diantar Pratama. Pratama membukakan pintu mobil, kemudian menutupnya kembali setelah Dev masuk.
"Nyonya Muda...., saya diperintahkan boss untuk mengurus penanaman modal ke PT. Gemati. Tapi setahu saya, perusahaan itu milik keluarga teman Nyonya Muda yang bernama Reno."
"Tidak perlu bertele-tele Tama. Yudha juga tahu, kalau Reno pernah menaruh hati padaku. Itukah yang akan kamu tanyakan padaku Tama." kata Dev memotong perkataan Pratama.
Pratama terdiam.
"Saya mendampingi boss sejak masih kecil Nyonya Muda. Kami tumbuh bersama, dan kakek Baskara mempersiapkan saya untuk menjadi asisten dan Wakil CEO di PT. Globe Tbk untuk memastikan bahwa boss dalam keadaan aman."
"Aku yang akan menjadi jaminan bagi Reno, kalau kamu tidak yakin," kata Dev.
"Bukan itu Nyonya Muda. Semua keinginan Nyonya Muda akan selalu diwujudkan oleh boss, karena boss saat ini sangat bergantung pada Nyonya Muda."
"Apakah kamu memiliki keraguan terhadapku Tama. Apakah kamu memiliki kekhawatiran aku akan mengkhianati Yudha, dan lebih memilih Reno untukku."
Pratama terdiam, karena sesuai janjinya pada keluarga Baskara untuk selalu memastikan Yudha aman, apapun akan dia tempuh.
"Bukan itu maksudku Nyonya Muda, aku hanya ingin memastikan perasaan Nyonya Muda terhadap boss dan juga kepada Reno."
"Tama..., jika memang kamu memiliki keraguan terhadapku, hentikan dan tolak perintah Yudha. Aku akan memikirkan cara lain untuk membantu Reno." jawab Dev cepat.
"Sampaikan pada Yudha, jika PT. Gemati tidak layak untuk dibantu, aku akan menjaga semua pembicaraan ini dari Yudha."
"Dan aku pikir konfirmasi rasa penasaranmu padaku sudah terjawab. Hentikan mobil, aku akan turun di gerbang depan." ucap Dev.
Pratama tetap melajukan mobilnya, dan mengantarkan Dev sampai ke depan lobby PT. Kalingga.
"Aku bisa buka pintu sendiri, tidak perlu dibukakan. Apa kamu tidak khawatir jika ada pengawal Yudha yang melihat, dan mengira kamu memberi perhatian padaku." kata Dev sambil melangkah keluar dan menutup pintu dengan kencang.
"Perempuan oh perempuan... apa memang sudah kodratmu, marah dulu, bicara kemudian." gumam Pratama sambil menjalankan mobil.
******