
"Daddy mendapatkan laporan dari siapa, kalau hari ini Mommy sedang menerima tamu laki-laki?" Dev bertanya pada Yudha. Karena dia yakin, jika suaminya datang kesini di saat jam kantor, apalagi saat dia sedang menerima tamu Tommy, mesti laki-laki itu diberitahu oleh anak buahnya.
"Ha.., ha..,ha.., sejak kapan istriku yang cantik ini curiga pada suaminya. Masak Daddy tidak boleh main kesini, saat jam kantor? Daddy merindukan Mommy, kan semalam belum puas baru satu ronde, sudah ditinggal tidur duluan." Yudha menggoda istrinya, tetapi Dev malah melotot padanya.
"Ayo bilang, suamiku tercinta bukan laki-laki yang pandai membohongi istrinya kan. Mommy akan pecat semua karyawan yang bekerja sama untuk berkhianat padaku."
"Ayo kita keluar, temani Daddy makan siang. Tidak perlu dibahas siapa yang melaporkan. Yang pasti, dimanapun dan kapanpun harus selalu kamu ingat. Jika Yudha sudah menugaskan orang-orang untuk mengamati semua anggota keluargaku. Semua Daddy lakukan untuk memastikan agar istri dan anak-anakku dalam keadaan aman sayang." sahut Yudha sambil menarik tangan Dev dan membawanya keluar dari ruangan kantor.
Dev selalu tidak bisa menolak pesona yang ditawarkan suaminya itu, akhirnya meskipun dengan hati dongkol, dia mengikuti langkah Yudha berjalan keluar.
"Selamat siang Bu Dev, pak Yudha." sapa beberapa karyawan Dev yang berpapasan dengannya. Karena masih jengkel dengan tingkah suaminya, Dev hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab sapaan karyawannya. Bahkan keluar dari lobbypun, dia tidak menyapa Tutik. Langsung mengikuti Yudha ke mobil.
"Kita mau makan apa sayang?" tanya Yudha.
"Mommy tidak lapar, barusan makan dua kali." jawab Dev sewot.
"Really??? Kapan, apakah makan bersama dengan timnya Tommy tadi, kamu bilang sudah makan sayang?"
"Huh, yang barusan di sofa dalam ruang kerjaku tadi. Mommy sudah kenyang." seru Dev dengan melotot.
"Ha.., ha.., ha.., itu bukan makan sayang, Itu kewajiban Daddy selaku seorang suami, harus memberi nafkah batin pada istrinya." Yudha semakin tidak tahu malu, dari tadi dia menggoda Dev yang masih terlihat ngambek.
*******************************
Sesampainya di rumah makan, Pratama dan Kinanthi terlihat menyambut kedatangan Yudha dan Dev. Memang untuk menetralisir perasaan istrinya, Yudha langsung menghubungi Pratama untuk membawa istrinya makan siang bersama dengannya.
"Selamat datang Tuan Muda dan Nyonya Muda." Pratama menyapa mereka.
"Hai Kinan, sudah lama menunggu." dengan ramah, Dev menyapa Kinanthi dan tidak menjawab sapaan Pratama.
"Belum Nyonya Muda, barusan juga kita sampai."
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Panggilan itu khusus untuk suamimu yang sok cool ini memanggilku. Panggil aku dengan namaku saja, atau kakak, okay!"
"Waduh, maaf saya tidak berani Nyonya Muda."
Yudha memberi kode pada Pratama jika istrinya sedang ngambek, sambil menutup mulutnya Pratama tersenyum.
"Kenapa tutup mulut, kamu ngeledek aku ya?" semprot Dev pada Pratama.
"Mana berani saya meledek Nyonya Muda, mari kita langsung masuk ke dalam saja. Tadi sudah disiapkan private room untuk kita menikmati makan siang."
Pratama langsung memimpin mereka berjalan memasuki private room. Dev berjalan di samping Kinanthi. Sesampainya di dalam ruangan, berbagai menu makanan yang dijual di resto ini sudah tersaji di atas meja. Tiba-tiba Dev merasa mual melihat kepiting rebus masak saos tiram.
"Singkirkan kepiting itu dari atas meja, hoeks...!" Dev menunjuk pada kepiting.
Yudha heran, karena menu ini ada karena dia sangat tahu apa yang menjadi kesukaan istrinya.
"Mom.., itu kan kepiting kesukaanmu? Bahkan jika Daddy ke resto ini, selalu take away untuk dibawa pulang?"
Mendengar perkataan Yudha, tidak tahu kenapa Dev menjadi marah.
"Singkirkan tidak, jika tidak. Mommy tidak jadi menemani kalian makan disini. Pilih kepiting itu atau pilih Mommy tetap ada disini!" seru Dev dengan suara tinggi. Kinanthi langsung menggeser duduknya karena melihat Dev marah, dia sedikit ketakutan.
Melihat tahu cabe telur asin, segera Dev mengambil piring itu, dan yang lainnya masih terbengong-bengong dengan sikapnya barusan, dia sudah menikmati makanan tersebut. Pratama memandang Yudha, dan laki-laki itu hanya menganggukkan kepala untuk membiarkan istrinya.
"Daddy ambil nasi sendiri ya, Mommy lagi nanggung nih." kata Dev sambil terus mengunyah.
Saat pelayan datang untuk mengambil kepiting rebus.
"Mbak, tolong dibungkus 5 porsi tahu cabe telur asin ya. Sama minta satu lagi untuk meja ini." kata Dev pada pelayan itu.
"Baik Nyonya, segera kami siapkan."
"Mom..., untuk siapa 5 porsi?" tanya Yudha yang penasaran dengan tingkah istrinya. Masak hanya karena ngambek, harus makan menu itu sampai berporsi-porsi.
"Ya untuk Mommy lah, memang Daddy bisa masak menu itu di rumah? Mending pesan saja, di rumah tinggal menikmati."
Tidak mau menambah ngambek istrinya, akhirnya Yudha diam sambil sesekali melirik nikmatnya Dev makan tahu tersebut.
"Gimana Tam, apakah PT. Sahabat jadi menerima penawaran yang kita kirimkan?"
"Mereka meminta kita untuk presentasi Tuan Muda. Ada yang ingin mereka konfirmasi ke kita. Tadi baru saja saya akan bertanya pada Tuan muda, kapan waktunya."
"Besok siang sepertinya kita tidak ada schedull penting kan. Kalau hanya meeting internal, nanti kita bisa disposisi pada kepala divisi masing-masing."
"Baik, selesai makan siang akan langsung saya kondisikan Tuan."
Setelah puas makan tahu cabe telur asin, Dev hanya melihat sekelilingnya.
"Kinan.., kamu ijin kerja ya siang ini?" tanya Dev pada Kinanthi.
"Tidak Nyonya Muda, mas Tama meminta saya untuk resign dari tempat saya bekerja. Sekarang Kinan freelance memberi les di bimbingan belajar."
"Apa alasan suamimu saat memintamu untuk keluar kerja? Agar kamu tidak capai, atau apa?" tanya Dev sambil melirik dengan sengit ke arah Pratama. Sedangkan Pratama yang tahu jika istri Tuan mudanya akan mencari gara-gara dengannya, hanya diam sambil mengulum senyum.
Kinanthi tersenyum melihat ternyata suami dan istri Tuan Mudanya seperti kucing dan tikus.
"Soalnya jam kerja Kinan tidak tetap, jadi kerjanya pakai shift. Kadang Mas Tama sudah sampai di rumah, Kinan masih di kantor, dan saat Kinan sampai rumah, mas Tama sudah tidur."
"Oh gitu ya. Kamu dulu lulusan dari program studi apa Kinan?"
"Kinan lulusan dari program studi Akuntansi Nyonya Muda."
"Sudah, besok kamu berangkat kerja ke perusahaanku saja. Kebetulan karyawanku yang di bidang keuangan, kemarin resign satu karena mengikuti suaminya ke luar negeri."
"Kalau Kinan, semua terserah mas Tama. Jika mas Tama mengijinkan, Kinan mau Nyonya Muda."
"Sudah, besok jam 08.00, aku tunggu kamu di PT. Diamond. Pratama pasti akan mengijinkanmu, percayalah padaku."
"Di perusahaanku sangat ramah untuk wanita yang sudah menikah. Kita sediakan laktasi room, bahkan ada baby care yang memang kita sediakan bagi para karyawan yang tidak punya ART tetap di rumah. Pada jam istirahat, dia tetap bisa menengok putranya."
Kinanthi menengok ke arah suaminya, dan dengan tersenyum Pratama menganggukkan kepalanya. Yudha hanya mendengarkan pembicaraan tersebut tanpa komentar sama sekali.
**************************************************************