Married By Incident

Married By Incident
Kabar Baik Bianca



Dev memasuki lobby PT. Diamond dan memberikan senyuman ramah kepada para karyawan yang berpapasan dengannya. Hari ini dia dan Bianca, akan mengumumkan secara resmi pada semua karyawan yang diwakili pimpinan divisi masing-masing, tentang masuknya dia dalam jajaran Direksi baru perusahaan.


"Selamat pagi Bu Devina," sapa Agustin petugas Humas yang ditempatkan di bagian lobby.


Beberapa kali dia sudah berkesempatan bertemu dan berbincang dengan Dev, selagi Dev masih mewakili PT. Kalingga untuk bernegosiasi dengan Direksi lama.


"Selamat pagi juga mbak Agustin, bagaimana siap untuk hari ini." Dev membalas sapaan dari Agustin.


"Siap Bu Devina." jawab Agustin sambil membungkukkan badannya.


Devina meninggalkan Agustin dan langsung menuju meeting room untuk persiapan pertemuan pukul 09.00. Meskipun saat ini, jam masih menunjukkan pukul 08.00, tetapi Dev belum langsung menduduki kursi di ruangannya. Dia memilih untuk mengenalkan dirinya terlebih dahulu.


15 menit Dev duduk di dalam meeting room, seorang petugas pantry menghampirinya.


"Selamat pagi ibu, kenalkan saya Wahyu dari bagian pantry. Pagi ini ibu menghendaki minuman apa ya, sebentar lagi saya persiapkan." tanya petugas pantry pada Dev.


Dev memandang Wahyu, kemudian memberikan senyum padanya.


"Tolong dibuatkan teh manis panas ya mas. Sudah lama bekerja disini." Dev balik bertanya pada Wahyu.


"Belom lama ibu, baru dua bulan." jawab Wahyu sambil tertunduk.


"Sebelumnya kerja dimana." Dev tidak tahu kenapa melihat Wahyu jadi mengingatkan pada adik laki-lakinya yang ada di Palembang.


"Belum pernah Bu, saya baru pera kali kerja ya disini." katanya sambil tertunduk.


"Ya sudah, kembali ke tempat kerjamu ya."


"Baik Bu, terima kasih." Wahyu meninggalkan Dev. Dia merasa bahagia pagi ini, karena menjadi kebahagiaanmu tersendiri bagi seorang karyawan rendahan sepertinya, bisa disapa langsung oleh salah satu Direksi di perusahaan ini.


Sepeninggalan Wahyu, Dev membuka laptop dan menelusuri email masuk di google mail. Banyak penawaran project yang masuk ke inbox nya dengan tujuan PT. Kalingga. Tidak mau membajak client perusahaan yang telah membesarkannya selama ini, Dev mengirimkan semua email yang masuk untuk PT. Kalingga kepada Donna dan dia CC kepada Gunawan.


Beberapa saat kemudian, Gunawan dan Donna mengirimkan balasan untuk mengucapkan terima kasih pada Dev atas ketulusannya tidak mengambil alih client mereka.


"Ehm..., fokus sekali pagi ini Dev. Jadi tidak enak body nih aku hari ini." tiba-tiba terdengar suara Bianca yang memasuki telinga Dev.


Melihat Bianca di Depan pintu masuk meeting room, Dev berdiri dan menyambutnya dengan pelukan ringan dan cipika cipiki.


"Hai Bia..., dah berapa Minggu nih kita tidak ketemu. Waktu acara syukuran si kembar di Cangkringan, sepertinya aku juga tidak melihatmu." kata Dev basa basi.


Keduanya Duduk berhadapan di meja yang diatur dalam bentuk round.


"Iya maaf Dev, sebenarnya kemaren aku pingin banget datang. Tapi mendadak aku harus menemui keluarga Reno di Singapore." sahut Bianca dengan penuh penyesalan.


"Tapi..., by the way..., kok tadi kamu bilang menemui keluarga Reno di Singapore. Atau aku yang salah dengar." tanya Dev.


"Iya Dev, kebetulan kakaknya ada Conference di Singapore dan papanya Reno juga ada disana. Akhirnya karena papa juga terus mendesak Reno untuk segera menikahiku, kami diminta keluarganya untuk ketemu disana." Bianca menjelaskan dengan muka tersipu.


"Lah.. kenapa kamu malah malu to Bia. Harusnya bahagia donk, dan...gimana kelanjutannya." tanya Dev penasaran.


"Alhamdulillah kakak-kakak dan orang tua Reno setuju kami untuk menikah secepatnya. Dan sepertinya untuk urusan perusahaan mulai depan, aku nitip dulu ya Dev." kata Bianca sambil menatap mata Dev.


"Maksudmu bagaimana Bia, aku kurang bisa nangkap hubungannya antara kamu mau nikah dengan nitip perusahaan." kata Dev penuh tanda tanya.


Bianca mengambil nafas panjang kemudian menghembusnya perlahan.


"Iya Dev, pernikahan aku dan Reno akan digelar di Australia. Biaya akan ditanggung Fifty-Fifty oleh kakak Reno dan papa, dan aku juga menginginkan itu. Satu kebanggaan donk bisa nikah sekalian bulan madu di negara itu. Apalagi papa juga ada beberapa asset disana, kita sekaligus bisa menikmati asset-asset itu lagi setelah sekian waktu kita tinggalkan." panjang lebar Bianca menjelaskan pada Dev. Dev hanya mengangguk-angguk memperhatikan Bianca bicara.


"Bianca..., kamu tahu sendiri kan bagaimana situasiku saat ini. Aku memiliki si kembar yang bulan depan belum genap empat bulan. So... tidak mungkin kan aku meninggalkannya. Jadi, dari sekarang aku ngomong sangat tidak mungkin aku hadir ke acara pernikahan kalian." dengan berat hati Dev menyampaikan ijin tidak dapat hadir di acara mereka.


"Tidak apa-apa Dev, aku dan Reno sangat maklum sekali. Apalagi dengan suamimu Yudha si Raja posesif, tidak bakalan mungkin dia mengijinkan kamu datang ke acaraku." kata Bianca memaklumi Dev.


"Terima kasih Bia atas pengertianmu. Tapi ngomong-ngomong ini sudah hampir jam sembilan, tapi pada kemana para peserta rapat. Kamu tidak lupa untuk mengundang mereka kan." tiba-tiba Dev menanyakan para peserta rapat yang lain.


"Jangan khawatir Ratu Perfeksionis. Kalian memang pasangan yang klop, Posesif dan Perfeksionis. Ha .ha..ha.., mana ada yang berani masuk, jika dua boss mereka sedang asyik mengobrol disini." kata Bianca sambil tertawa lebar.


Menyadari itu, Dev juga ikut terkekeh.


"Ups....., iya Bia. Aku lupa, ingatanku aku masih pemimpin divisi di perusahaan lamaku. Dimana 15 menit sebelum jam rapat dimulai, Anggita timku sudah standby di dalam ruangan." katanya.


"Sebentar aku panggil mereka." kata Bianca.


Bianca keluar dari meeting room, dan tepat seperti perkiraannya para peserta rapat sudah nunggu di kursi tunggu depan Agustin.


"Ayuk rapat segera kita mulai, ngobrolnya disambung nanti ya." Bianca memanggil para peserta rapat untuk segera masuk ke ruang rapat.


Mendengar perkataan Bianca, delapan orang langsung berdiri dan bergegas mengikutinya Bianca memasuki meeting room. Melihat kedatangan mereka semua, Dev berdiri dan mempersilakan mereka untuk segera menduduki kursi mereka masing-masing.


"Mohon maaf Bu Devina dan Bu Bianca, tadi beberapa dari kami sudah mau masuk kesini. Tapi melihat ibu baru serius berbicara, akhirnya kami menarik diri dan duduk di ruang tunggu depan lobby." kata salah satu karyawan yang memiliki nama Satrio.


"Tidak masalah pak Satrio, kami yanh tidak melihat kalian. Baiklah mari Bu Bianca, silakan segera dimulai rapatnya agar kita segera dapat segera beraktivitas yang lain." kata Dev dan memberikan waktu pada Bianca.


********