Married By Incident

Married By Incident
Bianca



"Drtt...drtt...drttt...," ponsel Dev berdering di atas meja. Tanpa melihat siapa yang melakukan panggilan, Dev langsung menerima panggilan masuk.


"Hallo selamat siang, ini dengan siapa ya," Dev mengangkat telepon dari Unknown number.


"Siang, hai Dev..ini aku Bianca PT. Diamond."


"Oh Bu Bianca, gimana Bu, ada yang bisa dibantu."


"Call me Bia ok!"


"Ok Bia, ada yang bisa dibantu."


"Dev... jadi kan kamu mau berteman denganku?"


"Iya, kan kemarin dah bilang."


"Kita ketemuan ya, aku ingin lebih mengenal kota ini.


"Oh gitu. Boleh Bia, no problem. Kapan kita ketemuannya?"


"Hari ini bisa?"


"Bisa sih, tapi kalau bisa selepas jam kantor saja ya."


"Ok. By the way... Bia hari ini pingin jalan kemana?"


"Ga ada tujuan sih, pingin nongkrong aja. kita Ngocan, ngopi-ngopi cantik gitu. Tapi kamu yang cari tempat, kan aku belum hafal tempat-tempat disini soalnya." pinta Bianca.


"Noted. Kita ke K****ng Mataraman aja ya, tempatnya luas, seger banyak pohon-pohon. Ditambah aku juga lagi pingin makan pisang goreng nih, he...he..."


"Pisang goreng, Boleh boleh, tapi aku dikirim share loc ya. Aku belum tahu alamatnya,"


"Ok tuan putri. Jam berapa kita akan kesana."


"Jam 15.00 saja ya. Kita langsung ketemu disana. Kamu udah habis jam kerja belum jam segitu?"


"Sudah. Semua bisa diatur."


" Bia,..... kita sudahi ya ngobrolnya, nanti kita lanjut lagi di sana."


"Yup, bye Dev... thanks before....Makasih banget pokoknya. Kamu sudah mau berteman denganku."


"Sama-sama Bia, see you next time."


*****


Pukul 15.00 Dev sudah memasuki halaman parkir ***pung Mataraman diantar pak Sholeh. Karena bukan hari libur, suasana warung yang biasanya rame, hari ini tampak lumayan sepi. Setelah tengok-tengok sebentar, Dev melihat Bia melambaikan tangan dari kursi di tengah Pendhopo. Bergegas Dev menghampiri Bia.


"Hai.,.sudah lama nunggunya." tanya Dev basa-basi.


"Belum kok, aku juga barusan nyampe." jawab Bianca sambil berdiri memeluk Dev dan cipika cipiki.


"Duduk yuk, kamu dah pesan menu belum?"


"Belum, nungguin kamu tadi."


Dev memberi kode kepada pelayan warung untuk membawakan daftar menunya.


"Mbak-mbak mau langsung ambil sendiri prasmanan menu makannya, atau kami yang sajikan di meja mbak," tanya pelayan warung dengan sopan.


"Baru mager mas,. diambilkan saja." jawab Dev cepat.


"Baik mbak saya catat ya."


"Aku minumannya Jakencruk satu, pisang goreng, mendoan masing-masing satu porsi ya mas. Untuk makannya tolong diambilkan pecel tanpa nasi pakai telur ceplok."


"Baik mbak saya catat."


"Dev...., apa itu tadi yang kamu bilang Jakencruk.' tanya Bia kepo.


"Itu minuman segar, tapi ga semua orang suka sih sama rasanya. Jahe, kencur, jeruk nipis dicampur jadi satu kemudian diberi gula batu. Untuk pengaduknya pakai batang serai. Sehat segar .." Dev menjelaskan sambil tersenyum.


"Aku mau donk mas satu. Untuk makannya aku mau coba brongkos koyor."


"Ya mbak, mohon ditunggu ya."


"GPL ya mas, ga pakai lama." sahut Dev.


"Sudah hampir petang Bia, aku harus segera pulang nih. Kamu gimana." tanya Dev pada Bianca.


"Aku masih betah disini Dev, enak banget suasananya. Lagian juga di rumah Bia ga ada temannya. Tadi pagi papa sudah balik ke Jakarta ada urusan mendadak." ucap Bianca.


"Kalau aku tinggal sendiri gimana Bia, aku harus nyampe rumah nih sebelum Maghrib,"


"Ga pa pa Dev, santai saja." kata Bianca dengan senyum khasnya.


Tiba-tiba mata Dev menatap seseorang yang sangat dikenalnya.


"Reno...," teriak Dev memanggil Reno sambil melambaikan tangan.


Reno yang sedang antri mengambil menu prasmanan, segera meletakkan piring yang sudah di tangannya. Dia berbalik dan berjalan memasuki Pendhopo.


"Hai Dev...., lama ga sua malahan ketemu disini." kata Reno sambil duduk disamping kanan Dev


"Kenalin Ren, temanku Bianca. Bia... kenalin nih my soulmate ngopi Reno namanya." Dev mengenalkan Reno dan Bianca.


"Gimana Ren, kabarmu dan Sasa, kangen aku sama kalian."


"Semua baik Dev. Lagian kita ini kayak tinggal di beda planet. Mbok ya sekali-sekali kita ketemu kayak dulu. Memang suamimu nglarang Dev, untuk ketemu kita-kita."


"What, Dev, Are you married?" tanya Bianca terkejut.


Dev menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Bianca.


"Aku sudah menikah Bia."


"Ren...., my husband is the best (suamiku yang paling baik). Dia tidak pernah melarang aku ketemu siapapun, buktinya sekarang aku bisa ketemu Bianca disini."


"Iya juga ya," kata Reno.


"Besok deh kita atur waktu ketemuan sambil ngopi di Kopi **ri di perbukitan Menoreh."


"Aku boleh ngikut tidak." tanya Bianca polos.


Reno dan Dev saling berpandangan, akhirnya mereka tertawa lebar.


"Ha..ha... ekspresimu lucu Bia, kayak anak TK mau ikut kakaknya main. Swear...," kata Dev.


"Iya, ha..ha .,"


Akhirnya mereka bertiga ngobrol sebentar, kemudian Dev berpamitan.


"Ren..., nitip temani Bianca ya. Ajak tuh gabung sama temen-temanmu yang lain. Kasian Bia belum banyak teman disini." kata Dev pada Reno.


"Boleh, tapi kamu mau tidak Bia..join sama teman-temanku?" tanya Reno sambil nunjuk teman-temannya yang lagi pada ngobrol di gazebo bawah pohon munggur.


"Yah mau, daripada bengong sendirian, ga asyik." jawab Bianca.


"Sip," ucap Dev sambil mengacungkan jempolnya.


Setelah cipika cipiki dengan Bianca, Dev mendahului pulang.


******


Dev tertegun sejenak sesampainya di rumah.


"Tumben tanpa kasih kabar, Yudha dah ada di rumah." batin Dev merasa tidak enak hati karena suaminya sudah di rumah lebih dulu daripada dia.


Perlahan Dev menaiki tangga ke lantai atas, kemudian langsung masuk ke kamar. Di dalam kamar, Dev tidak menjumpai keberadaan Yudha, dan setelah menaruh tasnya Dev berniat untuk mandi.


Beberapa waktu Dev menghabiskan waktu dengan berendam air hangat dengan essentials oil aroma theraphy Lavender. Tanpa sadar Dev tertidur di dalam bath up, dan tiba-tiba merasa sesak seperti tertindih sesuatu. Dev membuka matanya perlahan, dan di hadapannya Yudha dengan senyum smirk berada di atas tubuhnya


"Pindah yuk tidurnya sayang, nanti kamu bisa masuk angin," bisik Yudha di telinga Dev yang langsung melemahkan syaraf-syarafnya.


Tanpa menunggu jawaban Dev, Yudha langsung mengambil handuk kemudian membungkus tubuh Dev dan memindahkan ke ranjang kamar. Dev tetap terpejam, malah membalikkan badan memeluk guling.


Dengan hembusan nafas kasar Yudha hanya bisa memandang tubuh istrinya dari belakang. Tapi dengan penuh kesabaran, Yudha melepaskan handuk di tubuh Dev, menyeka air yang masih tersisa kemudian menyelimuti istrinya kembali. Kecupan lembut dia berikan di kening istrinya.


Setelah memastikan istrinya hangat, Yudha memasuki kamar mandi, dan akhirnya gantian dia yang berendam di bath up dengan air dingin.


******