
Dalam keheningan malam yang dingin, Tiara berjalan terseok-seok menyusuri pematang sawah. Baju yang dikenakannya sudah berbalur tanah dan lumpur, karena berkali-kali dia jatuh terjerembab di tanah sawah yang basah. Tanpa sinar cahaya, Tiara tetap berjalan maju ke arah cahaya lampu jalan yang terlihat dari arah sawah. Pada saat ini dia hanya merasakan lapar, dingin, dengan penampilan tidak berdaya.
Setelah berbagai usaha yang dia lakukan, akhirnya dia sampai di penghujung sawah. Dengan merangkak akhirnya Tiara bisa naik ke jalanan, dan dengan ketakutan bercampur kebingungan mau bersembunyi dimana. Tapi, baru saja Tiara berhasil berdiri tegak menyeimbangkan tubuhnya, tiba-tiba....
Terlihat dua orang tinggi besar datang menghampiri Tiara. Sebelum Tiara sempat menyadari dan akan melarikan diri, dua orang tersebut dengan cepat telah menangkapnya kemudian menariknya ke sebuah mobil Van yang terparkir dari situ. Dia ingin berteriak, tapi salah satu orang tersebut membekap mulut Tiara kemudian menutup mulutnya dengan menggunakan lakban. Tiara hanya bisa menangis bercucuran air mata, tapi kedua orang tersebut tidak mempedulikannya. Akhirnya mobil yang membawa Tiara berjalan meninggalkan lokasi.
*******
Saat ini Tiara sudah berada di gudang tua tempat orang-orang Yudha menyekap Mijan dan sopir Bukman. Tiara memandang satu persatu orang yang berada di ruangan itu, tapi dia tidak mengenalnya satupun.
"Aduh," seru Tiara saat orang yang menangkapnya menarik lakban yang menutupi mulutnya.
"Siapa kalian semua, kenapa kalian menangkap aku," tanya Tiara pura-pura tidak tahu.
"Jelaskan apa motivasimu, apa tujuanmu, kenapa kamu berusaha untuk meracuni Bu Devina." tanya seorang laki-laki dengan penampilan sangar.
"Kalian salah menangkap orang, aku tidak tahu apa-apa. Devina itu nama kakakku, tidak mungkin kan seorang adik tega untuk meracuni kakaknya sendiri," jawab Tiara berusaha menggunakan alibi untuk menutupi semua kesalahannya.
Tiba-tiba laki-laki itu mendatanginya, kemudian meletakkan tangannya di leher Tiara. Tiara berusaha mundur ketakutan, tetapi laki-laki itu seolah akan mencekiknya.
"Jangan sakiti aku, aku mohon jangan." kata Tiara terus menghiba agar orang tersebut melepaskannya.
"Aku akan membuatmu tidak bernafas secara perlahan, agar kamu merasakan bagaimana rasa sakitnya jika malaikat maut menghampirimu." ancam laki-laki itu.
"Tolong jangan siksa aku, aku akan berbicara semuanya. Tapi lepaskan tanganmu sekarang dari leherku." kata Tiara memohon terhadap laki-laki itu.
"Bicaralah jujur. Ceritakan, bagaimana kronologi sampai kamu mencoba meracuni Bu Devina." seru laki-laki itu.
Akhirnya di bawah tekanan, Tiara menceritakan semua runtutan kejadian sampai Dev meminum teh bercampur zat asing tersebut. Gagasan menggunakan zat nifedipine diambil, karena zat tersebut mudah untuk larut dalam air, sehingga tidak akan banyak menimbulkan kecurigaan.
"Bug," suara tendangan dilakukan laki-laki itu ke lengan atas Tiara.
"Aaaa...., sakit.., tolong jangan sakiti aku. Aku sudah menceritakan semuanya." teriak Tiara menangis kesakitan memohon ampun.
Laki-laki itu tidak perduli, kemudian meninggalkan Tiara dan lainnya didalam gudang. Mijan dan sopir Bukman hanya terdiam memandangi Tiara yang tanpa sangat mengenaskan. Badannya kotor penuh tanah dan lumpur, dan beberapa luka ditubuhnya masih ada yang meneteskan darah.
*********
Di rumah sakit, saat Dev tertidur, Yudha keluar meninggalkan kamar untuk berdiskusi dengan Pratama dan pihak kepolisian terkait kelanjutan penyelidikan kasus yang menimpa istrinya.
"Aku akan serahkan eksekusi terakhir pada istriku. Dia yang menjadi korban, maka dialah yang akan menyelesaikannya." kata Yudha pada Pratama.
"Apalagi pelaku masih memiliki hubungan kakak dan adik tiri dengan istriku. Aku akan bebaskan dan menurut pada Dev, hukuman apa yang akan dia inginkan." lanjut Yudha lagi.
"Baik Boss, mereka masih kami tahan di gudang. Bahkan Mijan yang sebenarnya tidak bersalah, juga masih kami amankan disana. Kami menunggu perintah lanjutan ." kata Pratama.
"Bagaimana dengan Bukman, ada dimana dia sekarang." tanya Yudha.
"Bukman kami amankan di kepolisian, dan dia mau kita ajak bekerja sama. Bahkan pada waktu kita tangkap di rumahnya, dia tidak melakukan perlawanan sama sekali." sahut tim dari pihak kepolisian.
"Terus bagaimana rencana selanjutnya Boss, kita masih menunggu instruksi lanjutan." tanya Pratama.
"Besok pagi aku akan membicarakannya dengan istriku. Kondisinya sudah mulai pulih, dan syukurnya kejadian kemarin tidak menimbulkan trauma psikologis."kata Yudha pelan.
Mereka berbincang-bincang sampai tengah malam, kemudian menjelang jam satu dini hari mereka berpamitan.
*******
"Drtt...drtt...," ponsel Dev bergetar. Yudha berdiri kemudian melihat panggilan masuk di ponsel istrinya.
Dahinya terlihat sedikit berpikir melihat nama mertuanya Burhanuddin melakukan panggilan masuk ke ponsel Dev.
Yudha diam tidak menjawab, dia diliputi kebimbangan antara memberikan panggilan atau reject.
"Apakah aku boleh mengangkatnya, siapa tahu ada informasi penting," tanya Dev meminta ijin.
Akhirnya Yudha mengambil ponsel dan memberikannya pada Dev. Mata Dev langsung berbinar melihat nama papanya muncul di screen ponselnya.
"Assalamualaikum pa, ini Dev," Dev mengucap salam pada Burhanuddin.
"Wa Alaikum salam, iya nak. Bagaimana kabarmu," tanya Burhanuddin.
"Alhamdulillah Dev baik pa, bagaimana keadaan papa dan keluarga di Palembang,"
"Dev.., papa ada di bandara YIA sekarang. Apakah papa bisa dikirim alamatmu nak, papa mau ke rumah." kata Burhanuddin di seberang telepon.
"Benar pa? Papa tidak usah kemana-mana, tunggu di executive lounge bandara. Dev akan mengirimkan orang untuk menjemput papa sekarang." kata Dev tanpa berpikir panjang.
Yudha hanya menatap Dev dengan pikiran tak menentu.
"Sudah ya pa, papa tunggu sebentar, Wassalamu'alaikum." Dev menutup panggilan,. kemudian melihat ke arah suaminya.
"Sayang papa saat ini ada di bandara. Bisa kirim orang untuk menjemputnya sekarang. Aku kangen papa," kata Dev.
"Iya, aku akan meminta Pratama untuk mengkondisikannya." kaya Yudha tidak tega mengecewakan istrinya.
Yudha kemudian meminta Pratama untuk mengatur penjemputan Burhanuddin di bandara. Selain itu Yudha juga menginstruksikan pada Pratama, untuk membuka kamar di hotel sebagai tempat tinggal selama Burhanuddin berada di kota ini. Dia perlu menjaga privacy keluarganya, apalagi kejadian yang baru saja dialami Dev memiliki sangkut paut dengan keluarganya.
"Kenapa papa tidak tinggal bersama kita selama beliau di kota ini." tanya Dev
"Sayang, kita perlu memiliki privacy dan berjaga-jaga. Apalagi kejadian yang menimpamu kali ini, aku tidak akan bermain-main lagi dengan nasib. Jadi aku mohon, pahami keputusanku." kata Yudha menegaskan.
"Baiklah, aku ngikut. Tapi papa boleh bertemu denganku kan sayang." kata Dev.
Yudha menganggukkan kepala menyetujui. Kemudian setelah terdiam untuk beberapa saat, Yudha mulai berbicara.
"Dev.., ada yang ingin aku sampaikan kepadamu. Karena aku yakin, hal ini berkaitan dengan kedatangan papa ke kota ini."
Dev mendongakkan wajah melihat ke wajah suaminya yang tampak kelelahan berhari-hari menjaga dan merawatnya sendiri di rumah sakit.
"Iya, Pratama dan polisi sudah selesai melakukan penyelidikan. Para tersangka sudah mengakui perbuatannya, tetapi sampai sekarang kami belum memutuskan hukuman apa yang tepat bagi mereka." kata Yudha perlahan.
"Terus apa hubungannya dengan papa." tanya Dev penasaran.
Kemudian Yudha menceritakan semua kronologi kejadian yang menimpa istrinya. Siapa dalang dan pelaku utamanya.
"Dev..., karena ini menyangkut keluargamu. Aku serahkan putusan kepadamu. Hukuman apa yang pas untuk ditimpakan pada mereka."
Air mata mulai mengalir di pipi Dev, kemudian Yudha mendekati istrinya dan meletakkan kepalanya di dada.
"Aku ingin menghabisi dan membunuh mereka satu persatu sayang, tapi semuanya aku kembalikan kepadamu." kata Yudha sambil mengusap lembut kepala istrinya.
Setelah beberapa saat, dan bisa menguasai emosinya akhirnya Dev mulai berbicara.
"Yudh..., aku belum tahu hukuman apa yang pas untuk mereka. Tunggu aku ketemu papa ya sayang, aku ingin tahu alasan sebenarnya di balik ini. Kenapa mama Sonya dan adik tiriku Tiara begitu membenciku."
Iya sayang, sekarang istirahatlah dulu. Tenangkan hatimu, nanti kita temui papa bersama-sama."
Dev semakin membenamkan diri di pelukan Yudha. Hanya tempat ini yang bisa memberikan ketenangan dan kehangatan bagi Dev saat ini.
*******