Married By Incident

Married By Incident
Masuk Kerja



Dev memasuki lobby PT. Diamond kembali setelah dia tinggalkan selama satu bulan ke New Zealand dengan ceria. Setelah berbulan madu kembali di rumah tempat galeri karyanya, dia menjadi kembali bersemangat. Security memberikan hormat padanya, dan di meja receptionis Tutik seakan tidak percaya jika bosnya sudah datang.


"Selamat pagi bu Dev, kenapa tidak ada kabar jika Ibu hari ini sudah berangkat kembali?" sapa Tutik dengan hormat.


"Iya Tut, ada kabar apa selama perusahaan ini aku tinggalkan?"


"Pasti nanti Bu Bianca akan menyampaikannya pada Ibu Devina."


Tutik tidak tega akan menceritakan tentang kedatangan calon rekanan baru, yang menolak penanda tanganan kontrak jika bukan Dev yang menanda tanganinya. Dia mengharapkan Bianca yang akan menceritakan pada Dev.


"Baiklah, aku langsung ke ruangan ya. Nanti sampaikan pada Bu Bianca kalau beliau sudah datang. Sampaikan jika aku sudah datang kembali ke kantor."


''Baik Bu Dev, nanti Tutik sampaikan."


Dev langsung masuk ke dalam, dan sebelum ke ruangannya terlebih dahulu menengok ruangan tempat Icha bekerja. Di dalam ruangan, Dev melihat Icha sedang berdiskusi dengan timnya, dan Dev tidak akan mengganggunya. Dia langsung keluar dari ruangan Icha, dan kembali melangkah untuk menuju ruangan kerjanya.


"Oh kursiku. Kangennya aku disini." seru Dev sambil menghampiri kursi kerjanya, kemudian duduk di atasnya.


"Kenapa jadi ada banyak berkas di mejaku. Kan waktu berangkat ke New Zealand, aku dah pesan pada karyawan untuk mengalihkan berkas untuknya ke meja Bianca." Dev berpikir sendiri, karena heran banyak tumpukan berkas berada di atas mejanya.


Dia kemudian mengambil berkas tersebut, dan saat membaca dapat 3 berkas, dia menjadi heran sendiri.


"Apa ini, kenapa berkas ini berisi berita yang sama. Ingin menggunakan PT. Diamond sebagai mitra kerjanya. Kenapa tidak segera di *follow up, *malah ditumpuk disini. Sampai calon tersebut mengirimkan berkali-kali."


Dev mengambil airphone dan menghubungi bagian surat menyurat, dan meminta salah satu staf karyawan untuk datang ke ruangannya. Tidak menunggu lama, terdengar ketukan pintu ruang kerja Dev.


"Masuk."


Terlihat seorang gadis memasuki ruang kerja Dev, kemudian Dev mempersilakannya duduk di depannya.


"Mbak..., kenapa banyak berkas yang berisi berita sama menumpuk di meja saya? Pada waktu saya berangkat cuti, sepertinya saya sudah berpesan pada kalian semua, jangan menunda pekerjaan. Lakukan follow up secepat mungkin. Tapi ini, satu perusahaan yang sama setiap 3 hari sekali mengirimkan penawaran yang sama, dengan isi berita yang persis sama. Coba jelaskan pada saya!"


Mendengar bosnya bicara agak keras dan panjang, staf karyawan yang bernama Ana itu agak keder juga. Karena selama ini, Dev selalu ramah pada siapapun.


"Maafkan kami Ibu. Kami terpaksa menaruh berkas ini di meja ibu. Karena Bu Bianca juga sudha tidak mau lagi menerimanya?"


"Bu Bianca tidak mau menerimanya, apakah kamu tahu alasannya?"


"Untuk ceritanya saya tidak tahu persis Bu Dev, karena itu bukan di bagian kami yang menangani. Tetapi mendengar dari teman-teman, katanya pemilik perusahaan yang mengirimkan berkas ini, hanya mau dilayani oleh Bu Dev. Bahkan Bu Bianca saja ditolaknya."


Dev mengerutkan keningnya, selama dia bekerja dari saat dia bergabung dengan perusahaan sebelumnya, baru kali ini dia mendapatkan masalah ini.


"Benarkah apa yang kamu bilang Ana? Jangan berbohong padaku."


"Tidak Ibu. Saya tadi di awal sudah menyampaikan jika cerita persisnya saya dan teman-teman di bagian kami, tidak ada yang mengetahui cerita persisnya. Apa yang saya sampaikan itu, hanya berasal dari omongan teman-teman dari bagian lain."


"Ya sudah, kembalilah bekerja di ruanganmu. Aku akan mencari sendiri ada apa ini semua."


***************************************************


"Dev..., akhirnya kamu datang juga. Aku sudah mati gaya mengurus perusahaan seorang diri. Terima kasih Ya  Allah, telah Engkau datangkan kembali partner kerjaku." Bianca berlari memeluk erat Dev.


Begitu memasuki lobby, Bianca diinformasikan oleh Tutik jika Dev sudah berada di ruang kerjanya. Mendengarnya, Bianca langsung menuju ruang kerja Dev, dan malahan belum masuk ke ruang kerjanya sendiri.


"Kapan datang ke Indonesia? Aku pikir kamu akan berada di New Zealand berbulan-bulan. ternyata satu bulan kamu sudah tidak kuat meninggalkan aku."


"Aku sudah satu minggu berada di kota ini. Dua hari yang lalu asisten suamiku Pratama melangsungkan pernikahan. Akhirnya kami kembali, bahkan kakek Baskara juga ikut bergabung dengan kami di sini."


"Pratama menikah? Itu asisten Yudha yang tampangnya cool, tidka memiliki senyum itu. Nikah dengan siapa Dev?"


"Dengan Kinanthi, cantik anaknya. Tetapi jangan tanya aku siapa Kinanthi, karena aku juga baru mengenalnya saat akad nikah."


"Okay, okay. Sekarang ayo kamu cerita. Apa saja yang kalian lakukan di New Zealand, main kemana saja?"


"Bianca sayang, ini kantor sayang. Jam kerja, aku tidak akan ceritakan masalah New Zealand. Sekarang aku yang akan minta padamu untuk cerita padaku. Kenapa ada berkas penawaran kerjasama begitu banyaknya berasal dari satu perusahaan, yang menumpuk di mejaku." Dev langsung menodong Bianca untuk bercerita.


Bianca tersenyum malu, kemudian mengambil aur mineral dan meminumnya sebentar.


"Itu karena aku sudah jengah sama pemilik perusahaan itu. Masa mereka sudah kita undang untuk datang kesini, akhirnya mereka datang."


"So??"


"Disini mereka tidak menghargaiku, bahkan papa Andrew ikut menemuinya, tetapi malah menyepelekannya."


"Kok bisa ada orang seperti itu. Kamu udah nanya belum ke orangnya, apa penyebabnya?"


"Sudah dong. Dia hanya mau ditemui oleh Ibu Devina Renata katanya. Tidak mau melakukan kerjasama dengan kita, jika bukan kamu yang menemuinya."


"Kamu jangan bercanda Bia. Tadi aku sudah lihat nama Manajernya, aku tidak merasa pernah mengenal atau mengingatnya."


"Yah, mana aku tahu. Kalau kamu ingin tahu yang sebenarnya, gampang Dev. Datangkan saja dia kemari, terus kamu yang menemuinya, aku sudah jengah ketemu sama dia."


"Tadi sudah aku kirim balik sih ke bagian surat menyurat, dan sudah aku berikan disposisi untuk mengundangnya hari Senin besok kemari."


"Senin, dan sekarang hari Kamis. Oh my God..., aku tidak perlu masuk kerja ya, pas di hari Senin?"


"Maksud loe??? Enak saja, siapa juga yang tahu cerita dari awalnya seperti apa. Giliran ketemu aku malah dia ngamuk, terus bagaimana?"


"Aku jamin deh, orang itu sangat mengharapkan sekali ketemu denganmu Dev. Aku yakin dia akan tunduk padamu. He..he..he.."


'Sudah, sudah. Tidak usah mengkhayal, ayo sekarang kita kerja, kerja. Sana kembali ke ruang kerjamu sendiri."


"Tuhanku..., ternyata temanku sudah ketularan gaya dingin dan gila kerja persis seperti suaminya." gerutu Bianca sambil melangkah keluar dari ruangan Dev.