Married By Incident

Married By Incident
Do It Yourself



"Pak Sholeh, kita mampir ke J*M sebentar ya pak." Dev minta kepada pak Sholeh untuk mengantarnya ke mall yang berjarak sekitar 500 meter dari Ringrod Utara.


"Iya Nyonya Muda,"


Pak Sholeh menurunkan Dev di depan pintu lobby J*M, salah satu mall besar di Daerah Istimewa *****karta. Mall dengan bangunan kokoh seperti arsitektur Yunani itu saat ini tampak agak lengang. Dev bermaksud mencari barang-barang unik untuk dipadu padankan menjadi desain Do It Yourself (DIY). Konsep DIY inilah yang menjadikan keunikan dari desain-desain yang dihasilkan Dev, yang dengan kecanggihan aplikasi software IT, diilustrasikan menjadi sebuah konsep desain yang susah untuk diimitasi.


Dev asyik memilih balok-balok kayu kecil, perca kain goni, potongan pipa pendek-pendek, lem dan barang-barang residu lainnya. Gerak-gerik Dev yang cuek tanpa memperhatikan sekitar, diamati oleh seseorang dari pojok Corner Shop accesories DIY. Orang itu bisa berada di toko ini, karena tertarik dengan iklan visual kreativitas DIY, dan banyak contoh padu padan barang-barang residu yang dipajang di sudut ruangan.


"Hai...., mbak Devina ya, sedang cari apa ini," tiba-tiba seorang ibu-ibu yang mengenakan seragam PNS menyapa Dev.


Dev menoleh karena merasa namanya disapa seseorang.


"Hai Bu Yanti, senangnya bisa ketemu ibu disini," ucap Dev sambil menyalami perempuan yang dipanggil Bu Yanti.


Bu Yanti adalah PLT Kepala Dispora, yang ditunjuk sementara menggantikan Kepala Dispora yang saat ini mendapatkan promosi jabatan sebagai Sekda tingkat propinsi.


"Sekarang mbak Dev jarang ya main ke Dispora sejak saya yang koordinir Dinas,"


"Maaf Bu, cuman belom ada kesempatan saja. Tapi anak-anak komunitas masih sering komunikasi dengan saya via online."


Devina memang sudah lama aktif bergabung menjadi volunteer di Dispora untuk bidang kreativitas dan seni.


"O gitu, baguslah. Event depan mbak Devina bantu kami ya, gabung jadi juri."


"Siap Bu Yanti, event tahunan "Selamat Pagi Jogja" ya Bu."


"Iya, untuk menggali potensi anak-anak muda setara SMA yang harus disibukkan pada aktivitas-aktivitas kreatif."


"Iya Bu, apalagi literasi baca anak-anak sekarang rendah. Mereka lebih fokus pada permainan game daripAda membaca. Kreativitas apa Bu yang jadi sasaran tahun ini."


"Komik, karena untuk penyaluran energi grafitti daripada mereka membuat mural di tembok-tembok jalanan."


Dev dan Bu Yanti tanpa sadar menjadi perhatian pengunjung lainnya di Corner Shop, mereka terlibat dalam pembicaraan yang berbobot sambil berdiri. Tak berapa lama Bu Yanti pamit pulang lebih dulu.


"Mari mbak Devina, ibu duluan ya, masih harus belanja bulanan." pamit Bu Yanti.


"Ya, Monggo (silakan) Bu "


Dev segera bergegas menuju kasir untuk membayar semua barang belanjaannya. Setelah membayar barang belanjaan, Dev melangkah santai menuju outlet donut,s & coffee di depan meja receptionis untuk mengisi perut. Tiba-tiba ada seseorang yang menjejeri langkah Dev, seseorang yang dari tadi memperhatikan Dev di Corner Shop.


"Selamat sore mbak Devina," sapa seorang bapak-bapak ramah.


"Selamat sore ., lho Bapak? Bukankah bapak yang saat itu ada di kantornya Ibu Bianca," jawab Dev.


"Iya mbak, perkenalkan nama bapak ... Baskara." kata Baskara sambil mengulurkan tangannya mengajak Dev untuk salaman.


Dev menerima uluran tangan pak Baskara sambil menyalaminya.


"Temani bapak ngobrol, bisa,"


"Oh bisa, kebetulan saya juga baru mau pesan kopi."


Baskara dan Dev berjalan menuju Donuts & Coffee dan mengambil tempat duduk di sofa yang ada di sudut ruangan.


"Bapak mau minum apa, biar sekalian Dev pesankan." tanya Dev menawari Baskara.


"Bapak black Coffee saja."


Dev berjalan ke kasir untuk melakukan order.


"Hot Black Coffee 1, coffe latte 1 dine in, Donuts glossy take away 1/2 dozen,"


"Americano saja."


"Baik mbak, semuanya Rp. 135,000 ribu mbak, cash atau tunai."


Tiba-tiba dari belakang Baskara sudah memberikan uang seratus lima puluh ribu kepada cashier. Dev menoleh, dan terlihat Baskara tersenyum.


"Bapak saja yang bayar, uang Bapak banyak." gurau Baskara.


Akhirnya Dev mengalah, kemudian kembali duduk sambil membawa minuman pesanannya.


"Kok jalan sendirian mbak tidak ajak teman-teman."


"Iya pak, tadi kebetulan pulang kerja agak siang. Dari kemarin iseng-iseng pingin buat konsep desain baru yang unik pak, siapa tahu ada yang suka." jawab Dev.


"Desain apa yang sedang dibuat, untuk project ya."


"Desain classic tapi elegant pak, dengan warna-warna pastel. Untuk koleksi desain saja pak, belum kepikiran ditawarkan di project."


"Khan bisa jadi duit kalau dijual di project."


"Untuk desain project perusahaan, kami selalu menggabungkan ide-ide dari semua tim kami. Jarang saya menggunakan konsep desain saya sendiri."


"Bagi saya pak, "DIY", coret-coret di laptop kemudian saya kompilasi dalam satu file, menjadi kepuasan saya. Terkadang pas saya baru sendiri, gabut, melihat-lihat koleksi, saya jadi mendapatkan hiburan tersendiri." Dev tersenyum menjelaskan pad Baskara.


"Kapan-kapan boleh ya, Bapak diperlihatkan koleksinya."


"Dengan senang hati pak, kebetulan saat ini saya sedang tidak membawa laptop. Kapan-kapan kalau ada waktu, saya perlihatkan karya koleksi saya." Dev sangat senang ketemu orang-orang yang respect dengan kreativitas seni.


"Bapak senang nak, melihat anak muda yang kreatif, tidak menghabiskan waktunya hanya untuk hedonisme."


"Rencana ke depan untuk karya-karyamu apa nak, masak karya potensial hanya untuk mengisi laptop."


"Saya punya mimpi pak, saya ingin memiliki sebuah gallery dengan halaman luas penuh pepohonan. Di gallery tersebut saya ingin memajang semua karya-karya saya." Dev tersenyum sendiri membayangkan impian manisnya.


"Yah, semoga keinginan dan mimpi mbak Devina terwujud."


"Aamiin, makasih do.anya pak. Lha ngomong-ngomong dari tadi kita hanya membicarakan saya. Lha bapak sendiri, baru cari apa pak, kok ke mall sendirian."


"Huh..,kalau bapak tadi berencana mau cari sesuatu. Kebetulan bapak menginap di hotel ini juga sudah dari tiga hari yang lalu."


"Oh, bapak sedang liburan kah."


"Tidak,. bapak sebenarnya tinggal di luar negeri. Kemarin teman bapak, papanya Bianca meminta bapak bergabung menjadi Advisory board di PT. Diamond. Akhirnya bapak pulang kesini lagi."


"Pulang kesini lagi? Berarti bapak pernah tinggal disini."


Baskara menganggukkan kepalanya.


"Bapak punya perusahaan di kota ini juga yang saat ini sedang dijalankan oleh cucu laki-laki bapak."


"Kalau mbak Devina mau, perusahaan saya bisa lebih maju kalau mbak Devina bersedia bergabung dengan perusahaan saya."


"Waduh.., kalau untuk keinginan bapak yang itu, mohon dimaafkan Bapak. Dengan sangat menyesal saya menyatakan langsung saat ini jika saya tidak bersedia pak." jawab Dev.


"Tidak apa-apa, bapak juga sudah mendengar penolakan ini Khan, waktu mbak Devina ditawari gabung dengan PT Diamond."


Akhirnya Baskara dan Devina terlibat dalam pembicaraan sampai pukul lima.


*****