Married By Incident

Married By Incident
Kerinduan



Pagi hari di kota kelahirannya Dev bersandar di lengan Yudha, dia nampak bersemangat hari ini. Yudha membiarkan istrinya bermanja untuk membangkitkan moodnya. Sebentar lagi dia akan mempertemukannya dengan papanya yang sedang tergolek di rumah sakit.


"Jam berapa kita akan pergi Yudh. Katanya kamu akan mengantarkan aku ke suatu tempat." tanya Dev.


"Jam tujuh kita akan berangkat dari sini sayang, setelah kita sarapan pagi."


"Masih terlalu pagi kalau kita berangkat sekarang."


Yudha melihat ke bawah, menurunkan wajahnya kemudian mencium kening istrinya dengan perlahan. Dev merespon suaminya dengan menengadahkan wajahnya ke atas, sehingga kedua bibir itu akhirnya bertemu dan membelit dengan hangat.


Dinginnya AC di ruangan menjadi pendukung utama kedua bibir itu untuk saling mencari kehangatan. Ciuman itu berlangsung lama, sampai akhirnya Dev melepaskan diri karena merasa kehabisan nafas. Dengan hembusan nafas memburu, suara serak, Yudha berbisik di telinga istrinya.


"Aku menginginkanmu pagi ini sayang," bisik Yudha dengan tatapan mata yang mulai meredup.


Dev malu-malu menganggukkan kepala, kemudian menurunkan badannya ke bawah bersandar pada tumpukan bantal. Dengan agresif Dev membalikkan badan Yudha dengan mencengkeram erat kedua pundaknya. Bibir dan tangan Yudha semakin bergerak turun ke bawah mencari kenyamanan, mencoba mengeksplorasi penemuan sampai tujuan akhir perjalanan. Seperti yang terjadi biasanya, penyatuan mereka di pagi ini berakhir dengan pelepasan dan kepuasan bersama.


*****


Dev merasakan kehangatan menerpa hatinya, dengan keharuan bercampur rindu, matanya tampak berbinar melihat perahu motor berseliweran melintasi Sungai Musi. Yudha menyandarkan kepala Dev di pundaknya, sesekali tangannya memainkan rambut istrinya.


Setelah satu jam perjalanan, sopir menghentikan mobil di halaman Rumah Sakit Pertamina Plaju Palembang. Spontan Dev menatap suaminya untuk mencari jawaban, tapi Yudha tidak menghiraukan rasa ingin tahu istri yang ditemukannya secara tidak sengaja itu.


Setelah mobil berhenti dengan benar, Yudha membuka pintu mobil dan memegangi tangan Dev untuk mengajaknya turun.


"Dev, aku tidak bisa mengantarmu ke dalam sayang. Aku sudah menjanjikan kepada Direksi Divisi Palembang, akan memimpin rapat perusahaan pada pukul 08.00,"


"Nanti setelah selesai meeting, aku akan langsung menyusulmu kesini." kata Yudha.


"Tapi untuk apa aku disini Yudh? Tolong jangan buat aku penasaran. Siapa yang akan aku temui disini Yudh." tanya Dev dengan penuh rasa curiga


"Masuklah dulu, tanya bagian Informasi Ruang VVIP 1 ada dimana. Nanti kamu akan menemukan jawabannya sendiri."


"Aku berangkat ya." pamit Yudha dan tidak lupa memberi kecupan selamat tinggal di kening Dev dengan lembut.


Yudha kembali memasuki mobil, dan saat sopir sudah menjalankan mobil, Dev segera melangkahkan kaki memasuki lobby rumah sakit, kemudian mendatangi security untuk menanyakan lokasi ruang VVIP 1.


"Ruang VVIP 1 ada di lantai 3 mbak, setelah keluar dari lift belok ke kanan. Ruangannya ada di sebelah kanan." security menjelaskan petunjuk ruangan yang ditanyakan Dev


"Terima kasih pak informasinya."


"Sama-sama mbak."


Dev segera menuju lift, dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh security. Di depan pintu kamar VVIP 1, Dev memperhatikan name tag penghuni kamar di dalam. Melihat nama yang tertulis di name tag, Dev langsung tertegun dan menyandarkan kepalanya di dinding. "Burhanuddin", gumamnya pelan. Setelah berusaha berpikiran positif, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Dev langsung membuka pintu.


Terlihat di depan mata, seorang tenaga kesehatan sedang mengatur selang infus pada pasien yang sedang terbaring lemah. Tabung oksigen, ventilator, pengukur detak jantung tampak mengelilingi tubuh pasien. Mendengar ada suara pintu dibuka, tenaga kesehatan itu menengok sebentar ke arah Dev, kemudian setelah memastikan pasien nyaman dia berbalik untuk meninggalkan kamar.


Dev memberi isyarat untuk berbicara pada tenaga kesehatan tersebut, kemudian mengikuti tenaga kesehatan itu keluar kamar inap.


"Mohon maaf mengganggu sebentar mas,"


"Perkenalkan, Saya putri pertama dari pak Burhanuddin pasien di ruangan ini, dan baru tadi malam saya sampai di kota ini. Papa saya sakit apa ya mas."


"Pak Burhanuddin menderita pembengkakan jantung, dan kemaren sudah dilakukan operasi by pass."


"Meskipun saat ini kondisi pasien sudah relatif stabil, tetapi kemungkinan untuk melemahnya kembali kondisi akan sangat besar. Karena selain pembengkakan jantung, Bapak Burhanuddin juga mengalami gagal ginjal."


"Jadi kami mohon, keluarga dapat menjaga kestabilan emosi pak Burhanudin, karena itu akan dapat membantu mempercepat proses penyembuhan."


"Apakah masih ada yang akan ditanyakan."


"Sementara cukup mas, terima kasih."


"Baiklah, kalau begitu, saya harus melakukan pengecekan kondisi pasien yang lain. Permisi."


Dev kembali masuk ke dalam kamar, kemudian mengangkat kursi dan meletakkannya di samping bed bagian atas. Perlahan Dev duduk di samping bed.


Beberapa waktu Dev memandang wajah yang sudah banyak dipenuhi guratan usia, dengan penuh kasih dia mengusap lembut wajah papanya. Wajah yang mulai renta itu saat ini berbaring tak berdaya di depannya. Tangan Dev menggenggam satu tangan papanya yang terpasang selang infus, dengan berlinang air mata Dev menempelkan tangan papa di pipi.


Merasakan ada air hangat menetes di tangannya, pak Burhanuddin terbangun dan membuka matanya secara perlahan. Dev reflek mengangkat wajahnya, dan dengan penuh kerinduan matanya bertemu dengan mata yang sudah lama dirindukannya.


"Papa.., ini aku." Dev menangis terharu di samping papanya.


"Dev.., benarkah ini kamu putriku." tanya pak Burhanuddin meyakinkan penglihatannya.


"Iya pa, ini Dev. Maafkan Dev pa, yang sudah lama mengabaikan papa."


Tangan pak Burhanuddin perlahan dengan penuh kasih dan kerinduan mengusap puncak kepala Dev dengan penuh kelembutan. Rasa hangat mengalir di sudut mata lelaki yang darahnya satu nasab dengan gadis muda yang sedang menempelkan pipi di tangannya yang sudah mulai keriput. Dev memejamkan mata menikmati usapan tangan pak Burhanuddin di kepalanya, sudah sangat lama dia kehilangan rasa dari usapan itu.


"Maafkan papa ya nak, bapak terlambat menyadari kalau papa sudah kehilangan putri papa selama ini." ucap pak Burhanuddin yang tidak dapat lagi menahan air mata yang mulai meleleh.


"Papa harap, putri papa tidak menaruh dendam pada mamamu. Dia juga mama dari adik-adikmu."


"Tidak pa, Dev tidak akan melakukan itu. Almarhumah mama selalu berpesan pada Dev, untuk selalu berusaha memaafkan dan berdamai dengan keadaan apapun."


"Sekarang Dev kembali pa." ucap Dev sambil menghapus aliran air mata di wajah papanya yang sudah tampak renta.


Papa dan putrinya yang sudah lama tidak bertemu, berdua menangis dalam kerinduan. Mereka terhanyut dalam perasaan dan terdiam untuk waktu yang lama, seakan menikmati dan meresapi kebersamaan yang sudah lama tidak mereka rasakan.


******