
Setelah diatur jadwal Dev menemui Tommy Cokro Sutejo, akhirnya siang hari Dev keluar dari perusahaan dengan ditemani Icha menuju rumah makan **stlake Resto. Mengenakan celana palazzo dengan atasan lengan diatas siku, Dev terlihat ceria, dengan ditunjang perut tipis seperti anak kuliahan. Icha mendampingi Dev dengan membawa berkas penawaran kerjasama yang dikirimkan oleh perusahaan Tommy.
"Booking tempat atas nama PT. DIamond dimana mbak?" Icha bertanya pada receptionis rumah makan tersebut.
"Di private room, mari kita antarkan kesana kak." seorang karyawan di bagian receptionis mengantarkan mereka berdua ke private room.
"Jika ada tamu kami yang bernama Bapak Tommy, langsung diantarkan masuk saja ya mbak."
"Baik kak, tadi sudah ada beberapa orang dari pak Tommy, yang kesini untuk memastikan keamanan lokasi. Nanti segera kami antarkan ke tempat kakak."
"Mari kak, silakan masuk. Untuk hidangan langsung kita siapkan dari sekarang atau menunggu tamu Ibu hadir terlebih dahulu?"
"Langsung dimasak saja dan disajikan, saya sudah keburu lapar." sahut Dev.
"Baik, permisi kak."
"Orangnya bagaimana Cha, kamu pernah ketemu sama siapa itu Tommy?"
"Orangnya sih lumayan tampan, tapi masih tampan Tuan Yudha sih. He..he.., kalau yang komunikasi Bu Bianca, aku tidak ada kesempatan bicara sih."
"Ah kamu Cha. Yang pasti lebih tampan kan dari Bertho." goda Dev.
"Ya pastilah Dev, kamu kan juga tahu. Aku dan Bertho karena takdir saja tersatukan, karena kebodohanku waktu itu."
"Hush.., kamu bicara apa Cha. Itu berarti kalian berdua memang sudah digariskan menjadi satu. Tuhan punya banyak cara untuk mengatur kehidupan di dunia. Sudah dinikmati saja Cha, toh Bertho aku lihat anaknya juga memiliki tanggung jawab besar."
"Iya Dev. Cuma, terkadang muncul juga penyesalan, kenapa dulu itu aku sangat bodoh sekali. Tapi ya mau gimana lagi, mungkin kami memang ditakdirkan Tuhan menjadi satu."
"Permisi, disini Tuan tempatnya, dari PT. Diamond juga sudah datang. Silakan masuk!" tiba-tiba pelayan resto mengantarkan empat orang laki-laki. Dev dan Icha melirik ke arah tamu, kemudian mereka berdiri dan ikut mempersilakan tamunya duduk.
"Silakan duduk Bapak-bapak. Selamat datang."
Tommy melihat ke arah Dev dengan mata berbinar, kemudian dia duduk berhadapan dengannya. Dev memberi kode pada pelayan untuk membawa buku menu, dan menawarkannya pada tamu yang baru saja hadir.
"Untuk makan, kami ikut Tuan rumah saja. Untuk minum aku lemon squash." kata Tommy dengan tidak merubah pandangannya pada Dev.
"Baiklah, sambil menunggu hidangan tersaji, bagaimana apakah bisa kita mulai saat ini. Karena kebetulan, mohon maaf saya jam 14 ada schedull lain yang harus saya hadiri."
"Silakan kita ikut saja, ternyata Bu Dev seperti yang sudah kami bayangkan selama ini."
"Baiklah, terima kasih atas kedatangannya siang ini. Kenalkan nama saya Devina Renata, dan ini adalah asisten saya Icha."
Dev kemudian mengucapkan selamat datang, dan mengenalkan dirinya pada rombongan yang dibawa Tommy. Kemudian dia juga meminta konfirmasi pada Tommy, alasan apa yang menyebabkan ingin bertemu dengannya.
"Terima kasih Ibu Dev yang sudah berkenan menerima dan menjumpai saya secara langsung. Okay, saya langsung ke pokok masalah. Saya mengetahui tentang identitas Ibu Dev itu dari teman kami sepasang suami istri Rebecca dan Smith yang pernah berpergian bareng dengan Bu Dev ke Lombok."
"Rebecca, Smith. Ya, saya tahu mereka. Bagaimana mereka saat ini, apakah sehat?"
"Yupz, mereka baik dan sehat. Mungkin akhir tahun mereka akan liburan ke kota ini. Akhirnya saya searching tentang Ibu, dan kita ketahui jika ibu ternyata menjadi Direksi di PT. Diamond."
Akhirnya mereka berbicara panjang lebar, dan tanpa diduga, Tommy langsung menyetujui project yang ditawarkan Dev padanya.
********************************************
Setelah ketemu dengan Tommy, Dev menyusul Bianca ke kafe di Jl. Monjali. Bianca malas datang ke kantor, karena habis ketemu dengan temannya yang sedang liburan ke Indonesia.
"Ternyata kamu luar biasa Dev, tanpa pakai senjata rayuan, akhirnya Tommy langsung menerima project yang kamu usulkan. Apa strategimu untuk menundukkannya?" Bianca langsung memberondong Dev dengan sejumlah pertanyaan.
"Tak ada, dia langsung setuju saja. Ternyata dia teman baik pasangan suami istri yang pernah bareng aku liburan di Lombok. Yah, dia hanya bilang ingin mengenalku saja."
"Kamu tidak takut dan tidak khawatir sama dia, kok sebegitu misteriusnya dia."
"Halah Bia, Bia..., emang aku ini siapa. Dia bisa mencariku dan tahu kalau aku kerja disini, Aku yakin dia juga paham statusku, aku ini seorang ibu beranak dua. Sudah tidak usah berburuk sangka, dia akan tahu dengan siapa dia bermitra."
"Enak banget hidupmu sepertinya Dev. Jika ada apa-apa, aku juga tahu pasti si Yudha tidak akan tinggal diam. Semoga project kita untuk perusahaan Tommy bisa berjalan dengan lancar dan sukses ya Dev."
"Kamu gimana, sudah periksa ke dokter Bia?"
"Baru dua hari lalu aku test sendiri secara mandiri, yah masih negatif Dev. Apa karena Reno sering ke luar negeri ya Dev, jadi kita kurang intens kumpulnya?"
"Konsultasi sama dokter saja ya, kapan aku temui. Saat ini dimana Reno?"
"Barusan kemarin mengantar mamanya ke Sydney, mungkin minggu depan dia baru pulang. Aku tidak bisa berbuat apa-apa Dev, apalagi kalau sudah ada urusan antar mama."
"Sudah, kamu yang sabar ya Bia. Dari dulu memang Reno itu sangat berbakti sama kedua orang tuanya. Jangan diambil hati, besok saja kita ke dokter kandungan ya. Sambil kamu nyiapin pas Reno pulang nanti."
"Iya Dev, tapi rumahku rasanya sepi banget. Cuman aku di rumah sama ART saja. Aku terkadang iri banget lihat kamu. Ada si kembar yang pinter-pinter, suami yang siaga 24 jam, bahkan sekarang kakek Baskara pas disini juga ya Dev."
"Bia..., tidak boleh begitu Bia. Biar rame, kenapa kalau pas Reno ke Sydney, kamu tidak pulang ke tempat Reno? Kan ada adiknya Reno yang di sini kan?"
"Ada sih Dev, tapi gimana ya. Aku tidak terbiasa tidur di rumah orang."
Dev tersenyum dengan perasaan Bianca. Mungkin karena dari kecil terbiasa tinggal di luar negeri, jadi adat istiadat daerah belum terbiasa.
"Sudah, pokoknya ini aku daftarin online Bia. Besok siang, aku temani kamu periksa ke dokter di RS *IH ya. Nanti setelah semua dicek, aku saranin kamu ikut program hamil (promil)."
"Terserah kamu saja Dev, aku ikut kamu saja."
"Aku juga sekalian mau konsultasi Bia. Aku ingin punya anak perempuan satu lagi, biar komplit. He..,he.., jadi nanti kita sama-sama konsultasinya. Sekalian."
"Beneran Dev, kalau gitu mau aku. Kita sama-sama periksanya, dan semoga nanti juga dikasih Tuhan, kita barengan juga ya."
Dev tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
******************************************************