
Pernikahan antara Pratama dan Kinanthi yang rencana akan digelar di KUA, akhirnya dirubah oleh Dev dan Yudha. Acara diadakan di ballromm sebuah hotel dengan menggunakan undangan terbatas. Tanpa memberi tahu Pratama, Baskara memberikan kejutan dengan mendatangkan kedua orang tuanya di acara tersebut. Bagi Baskara, keluarga Pratama sudah dianggap keluarga sendiri, bukan hanya hubungan antara seorang kartawan dan pimpinan.
Pada pukul tujuh pagi, keluarga Baskara sudah berada di hotel untuk memastikan acara berjalan sesuai yang mereka inginkan. Mereka mempersembahkan acara pernikahan ini sebagai salah satu bentuk penghargaan mereka terhadap loyalitas keluarga Pratama terhadap keluarga Baskara. Bahkan Yudha menghadiahkan sebuah rumah untuk dihuni Kinanthi dan Pratama.
"Vian, Zidan..., nanti Om Tama jangan diganggu dulu ya sayang. Nanti kalian pas acara bersama Mommy saja duduk disini." Dev memberi tahu si kembar untuk sementara tidak mengganggu prosesi jalannya pernikahan.
"No Mommy..., tapi Vian akan duduk dekat Daddy." sahut Vian yang langsung berjalan menghampiri Yudha. Sedangkan Zidan mengikuti anjuran Mommy-nya, dia duduk di kursi yang berada di samping Mommy.
Melihat kedatangan putranya, dan Yudha juga tahu kedekatan emosional antara Vian dan Pratama, akhirnya dia membiarkan putranya melihat langsung acara pernikahan Pratama. Dari round table, Dev dengan Zidan hanya tersenyum, melihat bagaimana Vian seperti orang yang sudah besar ikut menyaksikan prosesi pernikahan secara dekat.
Pada pukul 08.30, semua tamu undangan sudah dipastikan hadir, dan ballroom ditutup oleh security dan banquet hotel. Karena Yudha berpesan, untuk tidak mengganggu jalannya prosesi, maka acara akad nikah harus dialksanakan secara hening dan sakral.
Tepat pukul 09.00 acara nikad dimulai. Kinanthi menggunakan kebaya warna putih terlihat sangat cantik dengan menggunakan Seno adik laki-lakinya sebagai wali nikah. Sedangkan Pratama mengenakan jas lengkap berdasi berwarna hitam terlihat sangat gagah.
"Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti Kinanthi alal mahri 100 jiram dhahab hallan."
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq." terdengar pembacaan ijab qabul pernikahan Pratama dan Kinanthi dengan menggunakan bahasa Arab.
"Sah." seru para tamu yang menghadiri pernikahan Kinanthi dan Pratama.
Terlihat Kinanthi mengalirkan air matanya saat Pratama memberikan kecupan di keningnya. Acara dilanjutkan dengan pemasangan cincin kawin. Dev melihat acara tersebut dengan penuh keharuan, dan sangat jauh keadaanya dengan saat dia menikah dengan Yudha di KUA Kasihan. Tetapi Dev selalu menolak, saat kakek Baskara maupun suaminya ingin mengadakan pesta perayaan atas pernikahan mereka. Karena bagi Dev, pernikahan dia dan Yudha merupakan mile stone yang orang lain di dunia ini tidak mungkin menirunya.
"Nyonya Muda..., keluarga kami sangat berterima kasih sekali atas terlaksananya acara hari ini." seorang wanita setengah tua datang menghampiri Dev.
"Sama-sama Ibu, ini tidak sebanding dengan apa yang telah dilakukan Pratama terhadap keluarga kami. Bagi keluarga kami, Pratama sudah kita anggap sebagai saudara suami saya Mas Yudha,"
"Saya Desi, mamanya Pratama." wanita itu mengenalkan dirinya.
"Iya Tante, kenalkan saya Dev." sahut Dev sambil tersenyum, kemudian menyalami mamanya Pratama dan memeluknya.
"Nyonya Muda..., saya papanya Pratama." tiba-tiba papanya Pratama datang dengan kakek Baskara, mengenalkan diri padanya.
Pratama dengan membawa Kinanthi dan adiknya Seno juga mendatangi round table tempat duduk keluarga Yudha. Pratama mengenalkan secara resmi istrinya pada keluarga Yudha. Acara di hotel tersebut berlangsung sangat meriah, dan berakhir pada pukul 12.00.
*********************************************************
Dev dan Yudha langsung pulang berdua setelah acara pernikahan Pratama. Kedua putranya memilih tinggal di hotel bersama dengan opa buyutnya, karena masih ada yang akan dibicarakan dengan kedua orang tua Pratama. Dengan mengemudikan sendiri Porche Cayman mobil favoritnya, Dev merasa seperti bernostalgia. Karena setelah ada si kembar, kemanapun mereka pergi berdua akan selalu diikuti oleh baby sitter dan kedua putranya.
"Dadd..., pelan saja ya mengemudikan mobilnya." ucap Dev sambil menyandarkan kepala di pundak kiri Yudha.
"Seperti instruksi Mommy, akan Daddy lakukan sayang." jawab Yudha sambil menoleh wajah , kemudian menurunkannya dan sebuah kecupan mendarat di kening istrinya.
"Kita langsung pulang, atau Mommy mau jalan dulu. Yah, lama kan kita jarang melakukan saat seperti ini."
"Terserah daddy akan membawa Mommy saat ini. Pokoknya ngikut, pulang ok, jalanpun juga ok."
Yudha tersenyum, kemudian dia menjalankan mobilnya ke arah utara, dan mulai masuk pedesaan. Dev diam saja, karena dia yakin dengan apa yang dituju oleh suaminya. Tidak berapa lama, akhirnya mobil memasuki kawasan rumah hadiah kakek Baskara untuk Dev.
Seorang laki-laki setengah tua menghampiri mereka berdua. Laki-laki itu adalah pak Mamat yang ditugaskan Pratama untuk menjaga rumah ini.
"Selamat siang Tuan Muda dan Nyonya Muda. Kenapa tidak memberi kabar kalau hari ini mau kemari."
"Tidak apa-apa. Bagaimana apakah semua ruangan disini sudah dibersihkan?"
"Sudah Tuan Muda, karena Bibi Surti setiap pagi selalu membersihkan tempat ini."
Yudha langsung menggandeng Dev, dan membawanya ke dalam kamar. Dev sangat takjub, karena meskipun berbulan-bulan mereka tidka kesini, tetapi ruangan sangat bersih tidak ada debu yang menempel. Apalagi kamar utama yang saat ini mereka masuki. Dev langsung menuju ke bed untuk mengecek sprei, dan ternyata semua dalam keadaan bersih.
"Kenapa langsung menuju bed sayang, sudah lama ya kita tidak melakukannya di kamar ini?" Yudha menghampiri istrinya, dan menggodanya.
Muka Dev langsung memerah, tapi kemudian muncul pikiran gila. Dia tidak menjawab pertanyaan suaminya, tetapi langsung menaruh kedua tangannya di leher Yudha, kemudian menariknya ke bawah. Dia kemudian membaringkan tubuhnya di atas bed.
Melihat respon Dev, Yudha tersenyum lembut, dan tanpa berpikir lagi, langsung membuang jas yang melekat di tubuhnya. Dev tersenyum geli, saat melihat Yudha kerepotan melepas jas dan dasinya, dia malah bangun kemudian melarikan diri ke kamar mandi.
Tidak berapa lama, Dev keluar dari kamar mandi, dan dia sedikit shock saat Yudha yang sudah tidak mengenakan sehelai benangpun dalam tubuhnya langsung memeluknya erat. Tanpa memberi kesempatan istrinya untuk bergerak, Yudha langsung memangku Dev di atas kursi yang sudah dia siapkan. Bibir Yudha sudah sukses menempel di leher bagian belakang Dev, dan tangannya sudah mengeksplorasi kemana-mana.
Dengan tak berdaya, karena seperti tulang-tulangnya lolos dari tubuhnya, Dev hanya menggeliat sambil mulutnya mengeluarakan *******-******* manja.
"Kita akan disini sampai besok sayang, siapkan dirimu." bisik Yudha di telinga Dev. Seketika Dev merasakan bulu kuduknya meremang.
"Sementara hilangkan pikiran tentang Vian dan Zidan. Mereka aman bersama opa buyutnya."
"Aah.., Dadd." jerit kecil Dev karena ulah Yudha yang semakin membabi buta.
Akhirnya kedua pasangan itu mendahului Pratama melakukan bulan madu. Mereka menghabiskan waktu berdua di tempat itu sampai dengan hari berikutnya. Baskara memaklumi keinginan cucunya itu, dan ikut menginap di hotel dengan si kembar.
******************************************************