Married By Incident

Married By Incident
Resign



Dengan diantar pak Sholeh, jam 9 pagi Dev berangkat menuju PT. Kalingga. Di belakang mobilnya, tampak 2 motor dimana masing-masing motor dinaiki dua orang mengikuti dari belakang. Pagi itu Dev akhirnya bisa merayu suaminya untuk diijinkan membereskan urusan kantor, dengan persyaratan yang bejibun banyaknya.Harus membawa surat pengunduran diri, harus dikawal oleh pengawal, tidak boleh ini, tidak boleh itu dan lain sebagainya.


Begitu mobil berhenti di depan lobby, pintu mobil tiba-tiba dibuka dari luar. Di depannya berdiri dengan gagah asisten pribadi Yudha.


"Kamu...? hai kenapa kamu ada disini... mau mata-matai aku ya." tanya Dev dengan keras.


Pratama tidak menjawab, dan begitu Dev keluar dari mobil dia menutup kembali pintu. Setelah itu dia berjalan menjejeri langkah Dev memasuki bangunan PT. Kalingga.


"Hai Sita selamat pagi." seperti biasanya Dev selalu menyapa dengan ramah para karyawan yang berpakaian dengannya.


Tidak peduli karyawan yang berada pada posisi manapun, Dev akan memperlakukan sama.


"Selamat pagi juga Bu Dev..., adik baby sudah mau lahir ya Bu." tanya Sita sambil mendekat ke arah Dev ingin memegang perutnya. Belum sampai Sita mendekat ke Dev, Pratama sudah memblokade jalannya.


"Jangan sembarangan memegang Nyonya Muda, jaga tangan anda." kata Pratama tegas melarang Sita mendekat.


Melihat wajah Pratama yang serius dan keras, Sita langsung mundur dan kembali duduk di meja front office.


"Hai... apa-apaan kamu, jangan menakut-nakuti temanku." seru Dev sambil menggebuk punggung Pratama dengan menggunakan tas tangannya.


"Tolong dikendalikan tangannya Nyonya Muda, kalau Tuan tahu saya bisa celaka." kata Pratama.


"Ha..ha..ha.., kalau ada Yudha aku malah akan bilang kalau kamu suka merayuku Pratama. Ha.ha..ha.., singa ketemu Leopard jadinya." kata Dev sambil menahan tawa ngakaknya.


Pratama hanya melotot tak bersuara pada Dev


"Maaf ya Sita..., ada singa yang sedang mengaum dan menunjukkan taringnya disini." bisik Dev pada Sita. Sita hanya tertawa sambil menutup mulutnya, tidak berani memandang wajah Pratama.


"Mohon maaf Nyonya Muda, langsung ke tujuan utama. Jangan kebanyakan basa-basi, atau saya akan memaksa Nyonya Muda segera kembali ke rumah." sahut Pratama mengancam Dev.


Mendengar ancaman Pratama yang tidak pernah main-main, Dev bergegas menuju ruangan Gunawan. Sebelum ke ruangan Gunawan, Dev bermaksud untuk menyambangi rekan-rekan kerjanya di divisi Web Designer & Creative Team. Tapi belum sempat berbelok, Pratama seperti tahu isi pikiran Dev, dia sudah memblokir jalan menuju divisinya. Dengan muka cemberut dan melotot, Dev mengurungkan niatnya dan langsung lurus menuju ruangan Gunawan.


"Tok...tok...tok..," Dev mengetuk tiga kali pintu ruangan Gunawan.


"Masuk." jawab Gunawan dari dalam ruangan.


Baru saja Dev akan mendorong pintu, tiba-tiba Pratama menyampaikan fatwa..


"Saya beri waktu maksimal 30 menit untuk Nyonya Muda menyerahkan surat pengunduran diri dan berpamitan dengan Gunawan." kata Pratama tegas.


"Kalau aku menolak," kata Dev menantang balik Pratama.


"Aku akan ajak pengawal untuk menyeret keluar Nyonya Muda dari sana," sahut Pratama dingin.


"Huh... dasar tidak punya hati. Makanya cari istri atau pacar, biar hatimu lunak." seru Dev sambil mendorong pintu dan masuk ke ruangan Gunawan.


"Ada apa Dev, kamu mengomeli siapa." tanya Gunawan kebapakan.


"Bukan siapa-siapa pak, ngomeli nyamuk yang tidak mau pergi-pergi. Dari tadi mengganggu terus." kata Dev kesal.


Gunawan tersenyum kemudian menatap anak buahnya yang berprestasi.


"Duduk dulu Dev, minum dulu." kata Gunawan, kemudian dia mendekati sofa tempat duduk Dev, dan duduk di depannya.


"Maafkan bapak dan rekan kerja lain ya Dev. Kami tidak pernah mengunjungimu. Beberapa kali kami mencoba kesana, tapi akses selalu diblokir oleh orang-orang suamimu."


"Pak Yudha tidak salah Dev, ada akibat mesti ada sebab. Kami yang neglect, lalai memperhatikan keamanan pekerja disini. Suamimu tidak menggulung kami saja, kami sangat berterima kasih." ucap Gunawan tersenyum kecut.


"Mohon maaf pak Gun, waktu saya tidak banyak. Saya hanya mau menyerahkan surat ini pak." Dev menyerahkan surat pengunduran dirinya pada Gunawan.


Gunawan menerima surat itu, kemudian dia membuka dan membacanya di depan Dev. Setelah itu dia menghela nafas.


"Sudah kuduga Dev, kamu akan meninggalkan kami. Akhirnya saat ini datang juga," kata Gunawan sedih kehilangan timnya yang memiliki segudang prestasi dan potensi.


"Maafkan saya pak, jujur sangat berat saya harus meninggalkan perusahaan ini. Perusahaan ini telah membentuk saya menjadi seperti sekarang, sejak saya masih berstatus sebagai mahasiswa, saya sudah diterima sebagai karyawan disini." kata Dev sedih dengan berlinang air mata.


"Tapi saya tidak memiliki pilihan lain pak, saya harus menuruti suami saya. Mohon dimaafkan jika selama menjadi bagian dari perusahaan ini, saya banyak salah sikap, tutur, perbuatan, dan semuanya pak."


"Kamu karyawanku yang paling bisa diandalkan Dev. Kami yang minta maaf, kami belum bisa memenuhi kebutuhan dasar dan keamanan, selama kamu memberikan kontribusi untuk perusahaan ini." kata Gunawan terharu.


Tiba-tiba, pintu diketuk dari luar


"Tok..tok..tok."


"Maaf pak Gun, saya harus segera undur diri, terima kasih untuk semua pembelajaran yang saya peroleh dari perusahaan ini. Mohon dimintakan pamit dengan rekan kerja yang lain." Dev segera berdiri dan mencium tangan pak Gunawan, kemudian tanpa menengok ke belakang Dev langsung keluar dari ruangan Gunawan.


Pratama mengikuti langkah Dev dari belakang, dan saat Dev bermaksud mampir ke ruangan timnya, Pratama tidak menghalanginya. Dengan setia dia menunggu di luar ruangan.


"Ingat waktu Nyonya Muda, 15 menit saja. Untuk barang-barang pribadi Nyonya Muda ada di ruangan mana, biar dibawakan sama para pengawal." kata Pratama.


"Aku tidak memiliki barang pribadi disini, jadi tidak perlu membereskan barangku." jawab Dev. Kemudian dia langsung masuk ke ruangan lamanya.


"Selamat pagi menjelang siang tim..," teriak Dev memanggil teman-temannya.


"Hai Dev... miss you..," teriak Corry langsung menghampiri Dev diikuti teman-teman yang lainnya.


"Hai Dev... bagaimana kabarmu." tanya Icha yang juga sedang hamil seperti Dev.


"Alhamdulillah aku baik dan sehat, tim." kata Dev ceria, kemudian dia melanjutkan perkataannya.


"Teman-teman, aku tidak lama disini," kata Dev langsung terus terang.


"Saat ini aku sudah ditunggu sama bodyguard ku diluar. Terima kasih teman-teman, maaf lahir batin, and I love you all." kata Dev dengan mata berkaca-kaca.


"Benar ini Dev.., " tanya Corry tak percaya.


Dev menganggukkan kepalanya. Kemudian dia memeluk semua rekan setimnya satu persatu.


"Icha..., ajukan resign secepatnya. Setelah melahirkan temui aku," kata Dev sambil mengusap perut Icha.


Icha menganggukkan kepala dengan mantap, dan ada kehangatan di hatinya. Dia selalu merasa khawatir dengan kelangsungan ekonominya, tetapi saat ini rejeki untuk bayinya sudah disiapkan di depan.


"Terima kasih Dev, kamu memang the best." sahut Bertho terharu.


"Maafkan ya teman-teman, aku harus segera kembali. Bye ..," ucap Dev langsung melangkah keluar dengan berlinang air mata.


Pratama memahami apa yang dirasakan istri Tuannya, kemudian mengawalnya sampai Dev memasuki mobil. Setelah mobil Dev berjalan pergi, Pratama segera mengambil mobilnya dan kembali ke perusahaan.


*******