
Sepuluh tahun Kemudian
Zidan dan Vian sudah memasuki usia remaja, wajah imut dan polos mereka pada saat kecil saat ini sudah berubah. Kedua anak muda itu terlihat sangat tampan, dan banyak gadis-gadis muda mengejar keduanya, atau bahkan hanya sekedar mencari perhatian kedua laki-laki itu. Demikian juga Aileen, putri bungsu pasangan Dev dan Yudha terlihat sangat cantik dengan gaya khas anak muda. Untuk menjaga putri mereka dari pergaulan yang tidak benar, Aileen harus menuruti cara berpakaian dan berpenampilan. Gadis itu tidak pernah mengenakan baju terbuka, karena akan dilarang oleh Yudha, juga kedua kakakanya Zidan dan Vian.
"Momm... anak-anak kita ketiganya sudah semakin beranjak dewasa, dan tahun ini pula keduanya sudah akan masuk di bangku kuliah. Bagaimana menurut Momm... perguruan tinggi mana yang cocok untuk mereka berdua." saat pasangan suami istri itu sedang menikmati teh dan snack di pinggir kolam renang, Yudha dengan tatapan penuh rasa sayang mengajak istrinya berbincang.
"Heh.. iya Dadd.. tidak lama lagi anak-anak akan pergi meninggalkan kita satu persatu. Jika Daddy setuju, Mommy tidak mau kehilangan masa-masa kebersamaan dengan anak-anak kita, kecuali mereka sudah memiliki keluarga sendiri-sendiri. Kemanapun mereka akan pergi kuliah, Mommy ingin menemani anak-anak Dadd.." Dev memberanikan diri menatap wajah suaminya.
Mendengar jawaban dari istrinya, Yudha merasa kaget. Tetapi dengan cepat laki-laki itu sadar, jika masanya memang perlahan sudah akan bergeser. Dia sepertinya tidak akan dapat memiliki lagi Dev seutuhnya, karena tanggung jawab seorang mama untuk anak-anaknya. Namun.. diapun juga tidak mau ditinggal sendiri, karena istrinya hanya satu, dan sangat berat perjuangannya untuk mendapatkan istrinya pada masa gadis.
"Jika Mommy pergi mengikuti anak-anak, apakah Mommy punya pikiran untuk meninggalkan Daddy sendiri.." tiba-tiba dengan nada sarkasme, Yudha menanggapi perkataan yang diucapkan oleh istrinya.
Dev kaget dengan respon yang ditunjukkan suaminya itu, segera Dev menatap mata laki-laki yang sudah menjadi suaminya tanpa sengaja itu. Tampak kemarahan yang tersirat dalam pandangan mata itu, meskipun Yudha tidak akan pernah mengeluarkan rasa amarah kepadanya. Dev tahu, bagaimana Yudha sangat mencintainya. Apapun akan dilakukan oleh laki-laki itu, asalkan dapat membuat istri dan anak-anak mereka bahagia.
"Daddy.. kenapa Daddy bertanya seperti itu pada Mommy.. Apakah malah Daddy yang akan meninggalkan Mommy dan anak-anak..?" dengan suara lembut, Dev mencoba mencari tahu maksud perkataan suaminya.
"Apa yang Mommy bicarakan, dalam hidup Daddy kapanpun, hanya akan ada nama Mommy Devina Renata.. tidak ada yang lain. Jadi jangan pernah berpikiran konyol untuk meninggalkan Daddy, demikian juga denganku, mommy akan selalu ada dimanapun, disamping daddy. Lupakan rencana Mommy.. yang akan mengikuti anak-anak, dan kemudian meninggalkan Daddy sendiri," dengan nada sarkasme, akhirnya Yudha mengutarakan apa yang dipikirkan tentang istrinya.
"Ha.. ha.. ha... Daddy jealous sama anak-anak..?" dahi Dev berkerut.
"Tidak ada yang akan meninggalkan Daddy, Dev belum selesai bicara Dadd.. Perusahaan Daddy ada dimana-mana, kenapa Daddy tidak berpikir untuk menjalankan posisi sebagai CEO dari luar negeri. Jadi.. kita bisa bekerja dan sekaligus mengamati anak-anak kita.. Atau biarkan uang yang bekerja untuk kita Dadd.. bukan kita yang membanting tulang untuk mendapatkan uang.." dengan senyum menawan, Dev meraih kedua telapak tangan suaminya. Perempuan itu meremas kedua tangan itu, kemudian mengangkatnya ke atas. Sebuah kecupan diberikan perempuan itu pada suaminya.
Yudha tersentak dan merasa salah tingkah, rasa jealous dan tidak mau kehilangan istrinya lebih mendominasi dari akal sehatnya. Laki-laki itu tidak bicara, tetapi tatapan mata dan gerakan tubuhnya mengisyaratkan rasa penghormatan, dan meratukan Dev. Perlahan Yudha yang mengangkat tangan mereka yang saling bertautan itu ke atas, kemudian beberapa kali memberinya ciuman.
"Kita akan selalu bersama sayang.. sampai kapanpun.." bisik Yudha di belakang telinga Dev istrinya.
Tidak lama kemudian kedua bibir itu saling menyatu dan berpa**gut, dan kedua tubuh itu juga saling membelit. Pasangan itu selalu mengakhiri perbincangan mereka dengan saling menyatukan diri mereka.
********
Sebuah mobil sport Porsche memasuki halaman rumah Yudha dan Dev dengan kecepatan tinggi. Suara yang ditimbulkan sampai terdengar bising, dan tidak lama kemudian satu wajah tampan yang mengenakan kacamata hitam tampak keluar dari dalam mobil, dan berjalan santai masuk ke rumah melalui pintu utama.
"Wa alaikum salam.. apakah putra mommy Zidan sudah lupa tentang aturan keluarga ini." dengan suara pelan tanpa senyum, Dev bertanya pada putranya.
"Ampun Momm... Zidan khilaf. Soalnya tadi mobilnya terasa ringan, dan ternyata mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi itu mengasyikkan Momm... adrenalin Zidan terasa ikut berpacu.." sambil menundukkan kepala tidak berani menatap wajah Mommy nya secara langsung Zidan menjawab pertanyaan itu.
Tangan Dev meraih dagu Zidan, kemudian perlahan mengangkatnya ke atas.
"Jika bicara sama orang tua, jangan suka menundukkan wajah, itu sama saja Zidan tidak menghormati orang yang diajak bicara. Akuilah setiap kesalahan, sekecil apapun dengan jantan, itu baru putra Daddy Yudha dan mommy Dev.. Zidan dengar itu.." tanya Dev sambil menatap putranya.
Dari belakang Dev, terlihaf Vian dan Aileen tampak mengintip pembicaraannya dengan mommy Dev. Tetapi sudah ada kesepakatan dan kode etik, bahwa mereka tidak akan saling mengganggu, mereka hanya melihat Zidan dari belakang Mommy Dev.
"Baik Mommy... Zidan berjanji tidak akan mengulang lagi perilaku kekanak-kanakan ini, Zidan menyesal Momm.." akhirnya dengan lantang, Zidan mengakui kesalahannya.
Dengan senyum mengembang, Dev menarik tubuh anak muda itu kemudian memeluknya erat. Zidan membalas pelukan Mommy nya dengan bahagia.
"Jika Zidan ingin main balap mobil... kapan-kapan jika Daddy longgar, mommy dan Daddy bisa membawamu ke perkebunan. Kalian semua dengan Vian dan Aileen bisa sepuasnya bermain mobil disana, tanpa ada yang akan terganggu. Ingat selalu Zidan.. putra Mommy. Tanpa kita sadari, dengan perilakumu barusan, akan banyak orang yang tanpa kita tahu sudah terampas kebebasannya. kebisingan, ketakutan, polusi bisa terjadi ketika Zidan menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi." Dev mengusap punggung Zidan, sambil menasehati anak muda itu.
"Vian... Aileen.. kalian harus ikut dengar juga. Jangan bisanya hanya bisa mengintip dari belakang.." tiba-tiba Dev menyinggung nama Vian dan Aileen. Kakak beradik itu saling berpandangan, kemudian mereka belari menghambur ke pelukan Mommy Dev.
*******
PENGUMUMAN:
BANTU AUTHOR YUKKK. AUTHOR SAAT INI IKUT LOMBA DENGAN JUDUL KARYA
CEO TAKLUK
BANTU LIKE, BACA DAN COMMENT YA!!! TERIMA KASIH
*********