Married By Incident

Married By Incident
Sore itu



Di sebuah hotel di kawasan Gunung Megang **Ara Enim, seorang perempuan muda sedang menggayut manja di leher Bukman.


"Sayang...., bagaimana hasil rapat di PT. Kalingga kemarin. Apakah perempuan itu bisa diintimidasi"


"Layani dan puaskan aku dulu, baru kita bicara," kata Bukman terengah-engah dan tampak agresif menginvasi tubuh perempuan itu.


"Kalau bukan dia alat untuk mencapai tujuanku, tidak bakalan aku mau tidur dengan laki-laki tua ini." batin perempuan itu.


Tidak lama, karena tubuhnya terus diinvasi, perempuan itu ikut larut dalam permainan Bukman. Berbagai posisi mereka coba untuk mendapatkan buah terlarang secara bersamaan.


Satu jam kemudian, mereka mulai berbicara serius.


"Agak sulit untuk menjatuhkan secara instans gadis itu. Perannya di PT. Kalingga sangat strategis dan dia betul-betul menguasai cara mengelola perusahaan dengan baik."


"Berarti tidak bisa," potong wanita itu.


"Bukannya tidak bisa, tapi akan sedikit sulit dan membutuhkan waktu. Ini juga tergantung pada usaha dan upayamu untuk selalu berada di sisiku, dan bagaimana kamu dapat memuaskanku." kata Bukman dengan tatapan mesum.


"Apakah dia punya perlindungan,"


"Untuk di perusahaan itu sepertinya tidak ada. Tapi aku harus hati-hati, karena sepertinya ada yang mencoba untuk masuk ke akunku. Beberapa kali ada notifikasi peringatan masuk ke email."


"Itu urusanmu bukan urusanku. Yang penting tujuanku untuk menghancurkan gadis itu bisa cepat tercapai."


"Ya, aku mengerti. Sekarang puaskan juga urusanku saat ini." kata Bukman lagi-lagi mengangkat tubuh wanita itu kemudian menginvasinya lagi.


******


Sedangkan di Hyatt Regency, sore ini Dev, Bianca dan Baskara menikmati Nasgithel bersama-sama di taman belakang rumah. Tampak sepiring pisang goreng dan mendoan lengkap cabe rawit melengkapi citarasa teh kental.


"Gara-gara kamu Dev, aku jadi jatuh cinta dengan teh pahit ini. Kira-kira nempel di ginjalku tidak ya warna tehnya." kata Bianca sambil menyeruput teh dari cangkirnya.


"Ya nanti kalau menempel, disikat pakai isi buah kedondong Bia...biar bersih." sahut Dev bercanda.


"He..He..he..., iya. Jika perlu di isi kedondong sekalian diberi sabun pencuci piring ya Dev " komentar Bianca.


"Iya biar kinclong, ha...ha..,ha..," mereka tertawa bersama


Baskara ikut tertawa melihat dua gadis di depannya bercanda.


"Kek..., desain DIY karya Dev terbaru sudah jadi lho. Nanti kakek cek email ya, Dev tunggu komentar kakek, biar langsung Dev masukkan comment dari kakek." kata Dev memberi tahu Baskara tentang konsep yang baru diselesaikannya.


"Aku boleh ikut lihat tidak." tanya Bianca kepo.


"Lha kalo Bianca yang minta kirim, bayar donk copy right nya, Karena ini bagian dari Hak atas Kekayaan Intelektual Made in Devina Renata. Kek...kwkk..," sahut Dev.


"Iya.. iya...," ucap Bianca.


"Nanti kakek lihatnya. Dev .., ingat kehamilanmu adalah yang utama, dan merupakan harapan besar dari keluarga Baskara. Jangan sampai kamu terlalu fokus pada hal-hal kecil, tapi kamu melupakan buyutku yang ada dalam perutmu." kata Baskara panjang lebar.


Dev merasa tersentak hatinya. Dia memang sering lupa, kalau di perutnya saat ini sedang tumbuh keturunan dari Baskara. Meskipun hamil, porsi pikiran, energi yang dikeluarkan untuk pekerjaan masih pada ritme seperti biasanya.


"Iya kek, terima kasih selalu diingatkan. Nanti Dev, coba kurangi aktivitas dan pekerjaan lain yang kurang penting." kata Dev berjanji pada kakeknya.


Perlahan tangannya mengusap perutnya yang sudah agak membuncit. Tiba-tiba Bianca ikut mengusap perut Dev


"Hai...jagoan kecil di dalam sana. Ini aunty Bianca... bobok manis ya di dalam." kata Bianca menyapa bayi dalam perut Dev


Dev tersenyum hangat melihat tingkah Bianca.


"Melihatmu hamil, jujur aku pingin segera menikah. Tapi.apalah daya, pangerannya belum ada yang datang meminangku. Hiks..." jawab Bianca sambil pura-pura menangis.


"Iya Bia..., papamu juga ingin segera menimang cucu." kata Baskara menambahi.


"Bagaimana kalau dengan Reno. Apakah dia masuk kriteria." tanya Dev tiba-tiba.


Bianca tidak menjawab, tetapi pipinya langsung merona dengan wajah cerah.


"Reno laki-laki yang baik Bia. Kamu hanya butuh waktu untuk menjinakkannya." kata Dev lagi.


"Atau kalau kamu mau yang lebih dingin dari Yudha, kenapa kamu tidak menikah sama Pratama saja. Kalau kamu mau, om bisa mengaturnya untukmu." kata Baskara tiba-tiba menyarankan.


"Deg," batin Dev.


"Iya ya...kenapa tidak terpikirkan Pratama dijodohkan sama kamu ya Bia." sahut Dev.. menguatkan ide dari Baskara.


"Ya..ya .., ayo siapa lagi yang mau dicalonkan untuk jadi pangeranku. Tapi usulan kakek ok, usulan Dev juga ok. He..he..., dua-duanya Bianca juga mau. he..he..," ucap Bianca tiba-tiba.


"Eh... tidak boleh serakah. Harus pilih salah satu donk." seru Dev.


"Ya perlu dijalani dua-duanya donk. Jadi kalau satunya gagal, langsung bisa move on ke yang satunya. Benar tidak om pemikiran Bianca."


Baskara hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Bianca. Akhirnya mereka bertiga menghabiskan waktu sore dengan bercanda di kebun belakang. Menjelang Maghrib, Bianca berpamitan untuk pulang ke rumah.


"Salam untuk papamu Bia," kata Baskara.


"Ya om, nanti Bianca sampaikan." jawab Bianca sambil menyalami tangan Baskara.


"Aku pulang dulu ya Dev," pamit Bianca pada Dev.


Kemudian mereka berpelukan dan cipika cipiki. Setelah itu Dev mengantarkan Bianca sampai ke depan mobil, sedangkan Baskara langsung bergegas masuk ke dalam rumah.


*****


"Tin...tin..tin...," baru saja Dev mau masuk ke dalam rumah, terdengar suara klakson mobil memasuki halaman.


Dev menengok ke belakang, dan melihat suaminya sudah sampai di rumah. Dengan senyum mengembang, Dev menunggu kedatangan suaminya di depan pintu. Yudha segera turun dari mobil dan melangkah menghampiri istrinya.


"Sudah pulang sayang jam segini." tanya Dev dan bermaksud untuk memeluk suaminya.


Tapi Yudha menolak pelukan Dev, karena merasa badannya lengket dan bau.


"Badanku kotor, kena debu. Aku mandi dulu baru kita berpelukan." kata Yudha sambil memainkan alisnya dengan senyum Smirk.


"Ih.. dasar pikirannya mesti lari kemana-mana." kata Dev manja.


Yudha menggandeng tangan istrinya dan berdua menaiki tangga menuju kamar.


Sesampainya di kamar, Dev langsung menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat di bath up. Setelah air memenuhi bathtub, Dev memasukkan jarinya untuk mengukur suhu air, dan setelah dirasa pas suhunya, Dev keluar memanggil Yudha.


"Sayang..., mandilah dulu airnya sudah siap. Mau minum apa, aku siapkan dulu ya." kata Dev.


"Kamu disini saja, nanti kecapaian. Tunggu sebentar, aku mandi dulu. Nanti kita turun bersama-sama." kata Yudha.


Setelah menanggalkan bajunya, Yudha segera masuk ke kamar mandi. Sedangkan Dev yang melihat tubuh polos suaminya, hanya menelan ludah. Karena memang pada trimester pertama ini mereka belum pernah melakukannya.


******