Married By Incident

Married By Incident
Solusi



Dalam perjalanan pagi menuju kantor, Yudha mengantarkan Dev.


"Dev, semalam kamu bilang ada yang ingin kamu sampaikan. Apakah kamu menginginkan sesuatu."


"Iya, tapi bukan untukku sendiri. Aku ingin membantu Reno." kata Dev hati-hati khawatir kalau Yudha salah paham.


Dev kemudian menceritakan kesulitan keuangan yang dihadapi perusahaan Reno, dan penipuan yang dilakukan oleh teman papanya sehingga mengancam sustainbility PT. Gemati.


"Kenapa kamu tiba-tiba tertarik membantunya? Adakah yang kamu sembunyikan dari suamimu." tanya Yudha.


Dev menghela nafas sebentar.


"Reno dan Sasa sudah banyak membantuku sejak aku masih duduk di bangku kuliah. Kami bersahabat sejak SMA, dan semenjak aku memutuskan untuk memisahkan diri dari keluargaku, merekalah yang selalu ada di sisiku." kata Dev sambil menerawang.


"Tapi dari informasi yang aku dapat, anak itu punya perasaan khusus kepadamu,"


"Berarti suamiku selama ini memata-matai aku ya," tanya Dev sambil tersenyum. Kemudian dia melanjutkan lagi perkataannya.


"Yudh, apakah kita bisa menolak, kita bisa menghindar kalau perasaan kita pada seseorang itu muncul? Dan apakah kemudian, aku harus menjauhi dan membenci semua orang yang menaruh hati padaku?"


"Reno dan Sasa adalah sahabatku, dan khususnya Reno yang selalu akan berada di garis depan untuk menjagaku sejak dari dulu. Hadirnya Andre, dan sekarang kamu dalam hidupku, tidak membuatnya menjauhi dan membenciku. Dia selalu menghormati setiap keputusanku."


Yudha terdiam untuk berpikir sejenak.


"Lalu bantuan apa yang kamu inginkan dariku."


"Aku tidak menguasai pengetahuan tentang pengelolaan perusahaan. Yang aku tahu hanya ada pekerjaan, tugas, aku lakukan, dan berhasil."


"Tapi pikiranku sebagai orang awam, daripada perusahaan yang sudah dirintis keluarga Reno dari nol dikuasai orang jahat, aku ingin suamiku membantu untuk menyelamatkannya. Kamu bisa melakukan akuisisi dan menguasai saham perusahaan itu."


"Atau mungkin dengan memberikan suntikan dana segar dalam bentuk pinjaman jangka panjang. Bisa juga dengan melakukan penanaman dana dan menjadikan PT.Gemati sebagai Perusahaan Pasangan Usaha, yang bisa diamati progress report keuangannya. Setelah beberapa waktu, PT. Globe, Tbk bisa melakukan divestasi."


Yudha tersenyum lembut, dan merasa terkejut dengan pengetahuan pengelolaan perusahaan yang dikuasai Dev di atas rata-rata. Semula dia mengira, Dev hanya menguasai bidang DKV, tetapi ternyata pengetahuannya lebih dari itu. Tiba-tiba Yudha seperti mendapatkan ide.


"Dev..., kenapa kamu tidak keluar dari PT. Kalingga, kemudian bergabung meringankan bebanku untuk mengelola perusahaanku bersama-sama."


"Atau jika kamu ingin aku membantu PT. Gemari, agar uang yang aku keluarkan tidak sia-sia, kenapa bukan kamu saja yang aku masukkan dalam jajaran direksi disana."


Dev tersenyum dan menatap mata suaminya.


"Yudh... mungkin kamu atau semua orang akan mengatakan jika aku egois. Aku punya keinginan dimana orang-orang melihatku bukan karena latar belakang di belakangku, tetapi karena memang mereka melihatku sebagai seorang Dev."


Yudha terdiam mencoba mencerna apa yang disampaikan istrinya.


"Atau kamu malu Yudh, kamu memiliki istri yang hanya seorang karyawan dari sebuah perusahaan kecil? Aku tidak pantas masuk pada lingkaran kehidupanmu."


Yudha menatap Dev lekat-lekat, kemudian menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Setelah berhenti, Yudha meraih dua sisi bahu Dev dan menanamkan ciuman dalam pada bibir mungilnya. Setelah hampir kehabisan nafas, Yudha baru menghentikan tindakannya. Kemudian Yudha menginjak gas dan kembali melajukan mobilnya.


"Kamu terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak. nanti aku tugaskan Pratama untuk melakukan penyelidikan pada PT. Gemari."


Secara impulsif Dev memberi kecupan lembut pada suaminya.


"Tidak usah aneh-aneh, atau mobil ini aku hentikan dan parkir sebelum traffic light depan." kata Yudha memberikan peringatan.


Dev mengarahkan pandangannya ke depan dan melihat Hotel Crysta* **Tus dengan megahnya berdiri di sana. Dengan mengulum senyum Dev akhirnya bersikap manis.


******


"Tok...tok..tok...," terdengar ketukan di pintu ruangan Dev di PT. Kalingga.


"Masuk," sahut Dev tanpa mengalihkan perhatiannya pada layar komputer di depannya.


"Ada apa Cha, Berth.., ada yang mau didiskusikan." tanya Dev pada mereka berdua.


Bertho dan Icha saling berpandangan kemudian Icha menyenggol Bertho.


"Kamu yang bicara duluan," bisik Icha pada Bertho.


Dev tersenyum melihat mereka berdua. Kemudian Dev mengawali pembicaraan.


"Kalian kenapa, ada masalah kantor atau masalah pribadi? Kalau kalian tidak segera bicara, ya sudah keluar saja dari ruanganku. Kebetulan hari ini banyak file yang harus aku koreksi, dan membuat report divisi kita yang harus segera kita kirimkan ke Direksi," ucap Dev dengan sedikit menekan mereka.


"Sebentar saja Dev, bantu kami, kami bingung," kata Icha. Dia yang biasanya banyak bicara hari ini terlihat agak diam.


"Begini Dev...., Icha hamil, dan aku akan bertanggung jawab atas bayi dalam perutnya." ucap Bertho tiba-tiba seperti menghantam Dev.


Icha melotot dan memukul Bertho dengan keras, tapi akhirnya tertunduk malu dan mulai menangis.


"Maksud kalian bagaimana, kenapa kamu yang akan bertanggung jawab Berth. Apakah kalian berdua sedang berada dalam satu relationship?" tanya Dev pelan setelah berhasil menguasai keadaan.


Icha menggelengkan kepala, dan kembali menangis terisak.


"Tenanglah dulu Cha, aku akan bisa memberikan kalian solusi, tetapi kalau aku tahu apa yang menjadi duduk persoalannya."


"Kami khilaf Dev. Setelah acara malam gala dinner, kami tidak langsung pulang. Kami menghabiskan waktu di Club' sampai pukul satu dini hari, dan kami dalam keadaan mabuk. Kami juga lupa bagaimana ceritanya, tiba-tiba kami berdua sudah.....," kata Bertho pelan dan tidak mampu melanjutkan kalimatnya.


"Kalian sudah menikah." tanya Dev pelan.


Mereka menggelengkan kepala.


"Bertho, Icha..., kalian menghadapkan aku dalam suatu kotak tertutup yang tidak ada jalan keluarnya." ucap Dev sambil mengatur pernafasannya.


"Yang pertama, aturan dalam perusahaan ini tidak membolehkan pasangan suami istri bekerja dalam satu kantor. Sedangkan kalian berdua bukan hanya satu kantor, tetapi kalian satu tim di bawah divisiku. Aku belum siap kehilangan salah satu dari kalian."


"Yang kedua, terkait dengan aturan dalam agama. Karena kebetulan kalian berdua satu agama denganku, bahwa dalam.agama kita, kita tidak dibolehkan menikah dalam keadaan hamil. Tapi dalam satu sisi, di mata masyarakat kalian juga harus diselamatkan."


Icha semakin kencang menangis.


"Kami butuh pekerjaan Dev, kamu belum mampu menghidupi keluarga kecil kami hanya dari satu sumber penghasilan. Kami tahu Dev bagaimana keadaan ekonomi keluargaku." ucap Bertho.


Mereka bertiga terdiam untuk beberapa saat, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


"Aku punya solusi, tapi aku tidak yakin kalian mau untuk menjalaninya." kata Dev tiba-tiba.


Bertho dan Icha memandang Dev secara bersamaan.


"Solusi pertama, aku akan memberi tahu pak Gunawan masalah ini. Aku berharap beliau bisa sedikit fleksibel untuk masalah aturan perusahaan. Tetapi, kalau tidak bisa, aku hanya bisa minta waktu untuk tetap mempekerjakan kamu disini sampai menjelang kelahiran bayimu, sekaligus aku menyiapkan penggantimu Cha."


"Solusi kedua, solusi pertama akan kutempuh dengan satu syarat. Kalian harus menikah dulu secara sah di KUA sebelum aku memberi tahu pak Gunawan. Setelah kalian menikah, kalian tidak boleh bercampur dalam hubungan suami istri, dan setelah bayi kalian lahir, kalian harus menikah lagi secara agama."


"Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membantu kalian, dan semua aku kembalikan kepada kalian. Mau atau tidak dengan persyaratan itu. Aku hanya berusaha membantu kalian tanpa harus melanggar norma-norma hukum, perusahaan dan agama."


Mereka kembali terdiam, dan setelah Bertho dan Icha saling berpandangan akhirnya.


""Terimakasih Dev, kamu memang selalu yang terbaik. Kami berdua mau melakukan itu," kata Bertho. Karena tidak ada jalan lain mereka akhirnya mengikuti saran yang diberikan Dev.


"Ok, segera urus persyaratan kalian untuk didaftarkan di KUA setempat. Dan Icha, pastikan ada wali dari pihak laki-laki keluargamu."


******