
Malam ini Yudha dan Baskara ikut menginap di rumah sakit. Dengan telaten Yudha melayani Dev, dan selalu berada di sisinya. Yudha duduk di kursi samping ranjang, sedangkan Baskara duduk di sofa depan ranjang.
"Dev..., ini kakekku sayang.. kakek Baskara. Seharusnya aku marah sama kakek, tapi karena pressure dari kakek waktu itu, akhirnya kita dipertemukan dan dipersatukan dalam ikatan pernikahan."
"Meskipun waktu aku memintamu untuk menikah, aku tidak berpikir kalau kita bisa seperti ini."
Yudha terdiam sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya.
"Aku juga tidak menyangka, dengan tindakan impulsifku waktu itu. Kita bisa bertahan, kita bisa melewati, dan bahkan sekarang kamu menambahkan lagi rasa kebahagiaan ini."tanpa disadari Yudha menitikkan air mata.
"Kakek..., kenalkan ini Devina Renata. Dev istri Yudha kek. Tolong restui kami." Yudha secara resmi mengenalkan Dev kepada kakek Baskara.
"Kakek.., Dev memberi salam. Maafkan Dev ya kek, tidak bisa mengenali kakek selama ini." kata Dev sambil berusaha bangun dari posisi rebahan.
Baskara tersenyum bahagia menatap cucu laki-laki dan cucu menantunya. Kemudian dia mendekati Yudha dan memeluknya di depan Dev.
"Selamat cucuku, akhirnya kamu memenuhi harapan kakek." kata Baskara.
Setelah beberapa saat, Baskara melepas pelukannya, meraih tangan Yudha dan Dev, kemudian menyatukannya.
"Dev, kakek titip cucu laki-laki kakek satu-satunya. Dalam keadaan apapun, kakek mohon jangan tinggalkan dia."
"Yudha akan hancur jika kamu meninggalkannya. Berjanjilah Dev untuk tetap bersamanya." Baskara memohon pada Dev untuk cucunya.
Dev tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mereka bertiga akhirnya saling memeluk dalam keadaan haru.
****
Pagi-pagi Pratama sudah muncul di rumah sakit untuk membawakan menu sarapan pagi, dan baju ganti untuk Yudha. Sebenarnya sudah ada jatah makan pagi dari rumah sakit baik untuk pasien maupun yang jaga, namun mereka merasa hambar tidak ada rasanya.
"Selamat pagi boss," sapa Pratama sambil meletakkan paper bag dan box makanan.
Selain itu, Pratama juga membawa tumpukan dokumen yang harus segera dilegalisasi.
"Tama, dokumen apa yang kamu bawa, dan apa ada agenda penting hari ini."
"Beberapa persetujuan tentang persyaratan administrasi untuk pelaporan keuangan dari dinas-dinas boss. Tapi itu project nya sudah jalan dan ada beberapa yang masih tahap perencanaan." sahut Pratama menjelaskan.
"Kalau terkait agenda, boss ada janji makan siang dengan owner klinik kecantikan "Crazy Rich" di kota ini."
"Dia ingin meminta konsep tentang rencana membuat one stop shopping dalam satu komplek semacam arcade. Beberapa usaha bisnis yang menurut saya tidak saling beririsan, ingin ditempatkan dalam satu lokasi."
"Oh DR. Wisnu ya, dia memang terlahir dari keluarga yang sudah lama berkecimpung di bidang itu. Orang tua, bahkan om dan tantenya semua memiliki brand sendiri-sendiri." kata Yudha.
"Iya boss, karena kita sudah melakukan reschedull sampai tiga kali. Jadi sepertinya kali ini kita sudah tidak bisa membatalkannya."
"Ya, nanti aku akan datang. Untuk tempatnya, tolong diatur di meeting room kita saja, aku lagi tidak berminat untuk pergi kemana-mana."
"Baik boss, noted,"
Pikiran Yudha kemudian tenggelam dalam dokumen-dokumen di tangannya. Dia memang selalu serius dan penuh detail dalam menangani apapun, bahkan tidak peduli nominal kecil maupun besar akan dia perlakuan sama.
Pratama meninggalkan Yudha dengan dokumen-dokumennya, kemudian dia masuk ke tempat Dev.
"Sakit itu istirahat Nyonya Muda, yang istirahat itu badan dan juga pikiran. Jangan badannya tidur, tapi fokus pikiran ada di ponsel." ledek Pratama sambil cengar cengir.
Dev menengok ke arah suara, melihat Pratama cengar cengir dia memelototinya.
"Kamu itu persis Jailangkung tahu tidak, datang tak diundang dan pergi tak disuruh..," gerutu Dev, kemudian kembali fokus ada ponselnya.
Dev mengabaikan perkataan Pratama, karena sedang fokus pada chat nya dengan Bianca. Tapi kemudian, dia teringat sesuatu.
"Tama..., tolong aku donk please." kata Dev sambil mencoba tersenyum manis.
"Menolong apa Nyonya Muda, katanya tadi saya Jailangkung." sahut Pratama.
"Iya deh maaf, Jailangkung nya untuk saat ini tak cancel. He..he...,"
"Bantu urus surat ijinku ke PT. Kalingga ya hari ini. Aku kan tidak bisa berangkat kerja, bisa-bisa kredibilitas ku turun, kalau aku tidak masuk tanpa keterangan." pinta Dev pada Pratama.
Pratama diam sengaja tidak menjawab permintaan bantuan Dev.
"Nyonya Muda itu terlalu mempersulit diri. Perusahaan boss jauh lebih besar dari perusahaan tempat Nyonya Muda bekerja, atau Nyonya Muda bisa menikmati uang Boss tanpa takut kehabisan. Tapi yah .., jalan pikiran orang memang berbeda-beda."
"Lha itu kamu sendiri sudah tahu jawabannya, kenapa masih protes dengan jalan pikiranku." sahut Dev.
Di balik dokumen, Yudha tersenyum simpul mendengar perdebatan kecil asistennya Pratama dengan Dev istrinya.
Tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar, dan kakek Baskara masuk bersama dengan satu orang Dokter dan didampingi satu orang perawat.
"Selamat pagi semuanya, wah ini kantornya pindah sementara di kamar ini ya." sapa Dokter dengan ramah.
Yudha tersenyum dan mengangkat wajahnya tanpa bicara, dan kembali fokus pada dokumen-dokumennya.
"Ya Dokter, yang penting semua bisa jalan." sahut Baskara.
"Bagaimana Bu Devina, sudah lebih baik."
"Sudah dok, hari ini aku boleh pulang ya dokter. Tidak enak, tiduran terus dari kemarin." kata Dev.
"Iya, nanti sekalian nunggu hasil laboratorium keluar ya. Mungkin sore hari sudah bisa pulang." kata Dokter sambil menempelkan stetoskop di leher Dev.
"Masih morning sick. Itu hal yang normal terutama di trimester pertama masa kehamilan. Minum teh panas, cracker bIsa membantu mengurangi rasa mual."
"Selain itu, kurangi makanan bersantan, karena bisa menimbulkan rasa eneg dan memicu muntah." dokter memberikan penjelasan.
"Ya dokter."
"Sudah ya, banyak-banyak istirahat." kata dokter, dan kemudian berjalan keluar untuk melanjutkan visit pasien yang lain. Baskara ikut mengantarkan keluar sampai di depan pintu.
Sepeninggalan dokter.
"Enak ya jadi dokter, kalau hanya bicara seperti itu aku juga bisa," ucap Dev.
"Ya, percaya. Apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh Nyonya Muda. Jalan sendirian ke Lombok saja bisa kok sampai berhari-hari, apalagi hanya bicara hal sepele seperti dokter tadi." kata Pratama sarkasme.
"Hah..., berarti selama ini kamu memata-matai aku ya. Jahat kamu Tama, tidak menghargai privasi orang." seru Dev dengan nada tinggi.
"Siapa yang berani jahatin cucu kakek sampai marah pagi-pagi," celetuk Baskara yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Pratama.
"Sudah kek, biarkan saja. Dev kalau ketemu Pratama selalu seperti itu. Kayak ketemu samsak untuk penyaluran emosi." sahut Yudha.
Baskara tertawa mendengar perkataan Yudha, dan mencoba memahami keluarga cucunya. "Mereka memang unik." batin Baskara.
******