Married By Incident

Married By Incident
Kerinduan



Suasana siang di PT. Diamond tampak menegangkan. Ada seorang mitra yang tidak mau projectnya ditangani orang lain selain Dev. Bianca sampai harus menghubungi Andrew untuk membantu menyelesaikan, tetapi mitra tersebut tetap tidak mau menerima.


"Iya Bapak, kebetulan Direksi Dev saat ini baru ada urusan di luar negeri, sehingga sementara urusan perusahaan kami yang menangani." dengan sabar Bianca mencoba melunakkan mitra tersebut.


"Aku tidak mau tahu, aku hanya butuh dipertemukan dengan Bu Dev saja.Tanpa ada beliau, perjanjian dianggap tidak ada." mitra tersebut tetap ngotot tidak mau diselesaikan oleh Bianca.


"Atau sekarang saya minta nomor ponsel Ibu Devina, saya akan hubungi beliau sendiri. Tidak mungkin, sebagai pemilik perusahaan menolak panggilan telepon." lanjutnya lagi.


"Itu sudah kesepakatan internal di Perusahaan kami bapak, jadi mohon dimaafkan jika kami tidak bisa memberikan nomor contact beliau."


"Atau kalau Bapak berkenan, mungkin Bapak bisa komunikasi dengan pimpinan utama kami. Kebetulan beliau juga pas ada acara di kota ini." lanjut Bianca lagi.


"Sudah, tidak perlu mencari banyak orang untuk bertemu denganku. Aku hanya ingin bicara dengan Ibu Devina. Jika anda tidak dapat memenuhinya, project yang saya tawarkan batal. Permisi." laki-laki itu langsung meninggalkan meeting room.


Bianca langsung terduduk dan tidak bisa menahan laki-laki tersebut. Setelah beberapa saat, Bianca memanggil Icha untuk datang ke ruangannya.


"Cha..., coba kamu cari informasi laki-laki yang baru datang tadi. Apa alasannya kenapa harus Dev yang menemuinya." kata Bianca sambil memijat keningnya.


"Ya, sebentar Bu Bia. Tadi ada yang memberikan kartu namanya, coba saya cek dulu. Atau kenapa tadi tidak menelepon Dev saja Bu Bia. Saya yakin, Dev akan senang sekali mendapatkan panggilan."


"Dev-nya senang, setelah itu aku bisa dihajar sama Yudha. Bisa-bisa Dev malah ditarik tidak boleh bekerja lagi, malahan kita yang kacau. Mending kehilangan satu mitra, daripada kehilangan Dev." sahut Bianca.


"Iya juga ya." kata Icha sambil mengetik nama laki-laki tadi.


Setelah Icha melakukan pengecekan, matanya langsung terbelalak melihat siapa tamunya tadi.


"Bu Bia..., coba lihat ini. Ternyata laki-laki tadi adalah Tommy putranya Cokro Sutedjo, pengusaha ternama dari ibukota. Beliau memang terlahir dari kota ini." seru Icha memberi tahu Bianca.


Bianca langsung melihat ke arah gadget yang ditunjukkan oleh Icha. Setelah membaca biografinya, Bianca langsung terduduk.


"Darimana Dev bisa kenal laki-laki itu, dan kenapa harus Dev yang akan ditemuinya ya?" gumam Bianca.


"Terus langkah kita apa Bu Bia, kita follow up lagi beliau atau kita abaikan ya."


"Entahlah Icha, aku juga bingung. Ya sudahlah, coba nanti malam aku tak iseng chat via WhatsApp, semoga dia mau membalasnya. Padahal mereka akan di New Zealand selama satu bulan, dan ini juga baru satu minggu."


"Iya Bu, saya ijin kembali ke ruangan. Masih ada pengecekan data dari kampus Akademi Manajemen. Kebijakan kampus, mewajibkan semua mahasiswa dari program studi Akuntansi dan Manajemen untuk ikut investasi kita."


"Ya, terima kasih Icha. Kamu tidak meninggalkan aku, meskipun Dev yang membawamu kesini sedang tidak ada."


"Bu Bianca ini lho. Saya ini niat bekerja Ibu, dan totalitas saya untuk perusahaan. Jadi saya bukan Bekerja untuk perorangan. Permisi."


Bianca tersenyum melihat kedisiplinan dan kinerja Icha, yang meskipun sudah memiliki putra kecil, tapi tidak menjadikan dia indisipliner. Apalagi perusahaan menyediakan baby care untuk karyawan yang memiliki anak kecil.


**********************


Dev meninggalkan kamar Zidan dan Vian setelah memastikan mereka tertidur. Melihat pintu depan belum ditutup, Dev keluar dan melihat kakek Baskara masih berada di teras. Dev mendatangi kakeknya dan duduk di sampingnya.


"Iya, makanya kakek lebih suka disini Dev. Mengingatkan kakek waktu masih ditemani nenekmu. Tapi ternyata dia lebih disayangi Tuhan, sehingga dia dan orang tua Yudha diminta lebih dulu." kata Baskara sambil menatap ke depan.


"Bagaimana si kembar, mereka sudah tidur, atau lagi ditemani suamimu?"


"Sudah pada tidur kek. Daddy nya tadi waktu Dev tinggalkan, sedang komunikasi via panggilan telepon dengan Pratama. Daripada Dev mengganggu, akhirnya Dev tinggal keluar."


"Dev .., kakek pesan ya. Jangan pernah kamu tinggalkan Yudha cucuku. Dia akan rapuh jika tidak ada kamu. Kakek masih teringat saat dia masih kecil, tiba-tiba mendapat kabar kalau nenek beserta anakku dan istrinya kecelakaan."


"Dia tidak dapat berbicara untuk waktu yang lama, sampai kakek harus membawanya pergi dari negara ini. Untungnya setelah lima tahun kakek bawa ke Amerika, dia bisa bersosialisasi lagi." tanpa sadar Baskara mengusap air mata yang mengalir di sudut matanya.


"Kakek..., kenapa kakek menangis. Dev janji kek, dalam keadaan apapun akan selalu ada di sisi Daddy-nya anak-anak kek. Hanya dia kek, laki-laki yang bisa mempertahankan dan menjaga Dev sejauh ini."


"Terima kasih Dev. Kakek akan bahagia jika memang sudah saatnya diambil, memastikan bahwa cucu kakek sudah ada yang akan merawat dan mendampinginya."


"Sekarang ayo temani suamimu di kamar. Kakek yakin dia menunggumu saat ini. Beri kakek satu cucu lagi Dev."


"Ah kakek.., jangan buat Dev malu dong." seru Dan sambil menutup wajahnya.


"Ha.., ha.., ha.., akhirnya aku bisa tertawa lagi setelah sekian lama."


"Heh.., ada apa ini. Suaminya ditinggal sendiri di dalam kamar, malah di teras tertawa sama kakek." tiba-tiba Yudha muncul dan duduk menengahi tempat duduk Dev dan kakek Baskara.


"Eh..., ini anak tidak ada sopan-sopannya sama orang tua." kata Baskara sambil menjewer telinga Yudha dan menggeser tubuhnya ke samping.


"Yudha pikir, Dev itu masih menemani si kembar. Yudha datang ke kamar, kok anak-anak sedang tidur. Ternyata pada disini tertawa-tertawa."


"Iya maaf ya sayang, ternyata melihat kegelapan dan menikmati sepi itu ternyata mengasyikkan." kata Dev sambil menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


Yudha memegang kepala istrinya, dan menempatkan agar lebih merasa nyaman. Kemudian dia memberikan kecupan di kening Dev.


"Kalian itu sadar tidak, main cium di samping orang tua. Sana ke kamar, bebas mau apa saja." protes kakek Baskara.


"Halah ..., ya tidak apa-apa kek. Sudah lama sekali, kita tidak duduk seperti ini. Meskipun laki-laki, Yudha juga butuh seperti ini kek." Yudha meletakkan kepalanya di pundak Baskara.


Baskara merasa bahagia sekali malam itu, bisa menikmati kesunyian dengan ditemani cucu dan cucu menantunya. Setelah beberapa saat.


"Sudah ayo kita masuk istirahat. Anginnya semakin kencang. Dev, malam ini kakek akan tidur di kamar si kembar. Jadi tidak perlu nanti malam kamu terbangun mengurus keperluan mereka. Urus suamimu saja."


"Bagus, terima kasih kakek. Ternyata kakek juga mengerti apa yang Yudha inginkan malam ini."


Akhirnya mereka segera masuk ke kamar masing-masing.


Baskara