
Sore hari sepulang kerja, seperti usulan Dev, Reno pergi ke PT. Diamond menjemput istrinya pulang kerja. Satu bunga tangan berukuran besar lengkap menemani kedatangannya. Dengan sabar Reno menunggu selesainya Bianca di lobby, tanpa memberi tahukan kedatangannya. Bahkan tawaran dari bagian receptionis untuk memberi tahu istrinya dia tolak dengan sopan.
"Kenapa aku malah jadi deg-degan seperti ini ya? Ingat Reno.., kamu itu bukan mau menjemput pacar, tapi menjemput istrimu sendiri, sadar!" Reno berpikir sendiri, karena dia merasa deg-degan ingin ketemu dengan istrinya. berbulan-bulan Reno meninggalkan Bianca sendiri di kota ini, setelah mereka bertengkar gara-gara masalah sepele.
Untungnya tadi setelah Reno ketemu dengan Dev dan Sasa serta Ivan, Dev langsung pulang ke rumah tidak kembali ke kantor. Sehingga Reno merasa tenang, karena tidak ada yang meledek penampilannya kali ini. setelha beberapa menit menunggu, Reno mendengar ada percakapan di balik pembatas receptionis.
"Bu Bia..., untuk penawaran dari PT. Rejeki kita ACC atau kita jawab belum membutuhkan Ibu? Karena tim marketing nya hampir setiap hari menghubungi kesini?" terdengar seorang karyawan bertanya pada Bianca.
"Dijawab saja, saat ini kita belum membutuhkan. Mungkin lain waktu, jika kita butuh barang tersebut, mereka akan kita hubungi." jawab Bianca.
"Baik Ibu, nanti kita jawab sesuai yang disampaikan Ibu. Sudah mau pulang Ibu, dengan siapa?"
"Iya, aku kok tiba-tiba merasa capai. Minta driver saja untuk mengantar aku pulang ya! Aku tunggu di lobby!"
"Siap Ibu, segera saya panggilkan pak Muji untuk membawa mobil ke lobby."
Baru saja Bianca melangkah menuju ke lobby, dia melihat seorang laki-laki yang sangat dia rindukan, Bianca terkejut dan hatinya mendadak berdegup dengan kencang. Seulas senyum manis menyambutnya memasuki lobby. Reno berdiri dan mendatanginya, sedangkan Bianca masih berdiri terpaku di dekat meja receptionis. Tutik petugas jaga di receptionis, ikut terkejut melihat respon Bianca ketemu dengan suaminya.
"Sayang..., aku pulang, dan sekarang aku datang untuk menjemput kamu." Reno memberi tahu kedatangannya pada Bianca. Melihat istrinya yang tetap diam, Reno menaik turunkan telapak tangannya di depan wajah Bianca.
"Hai Bia.., it.s me.. your hubby.."
"Kak Reno..., kapan datangnya?" Bianca tersadar dan dengan tergagap menanggapi perkataan Reno.
Reno memeluk erat Bianca, dan meletakkan kepala Bianca di dadanya. Tidak berapa lama, dengan berlinang air mata, Bianca membalas pelukan suaminya.
"Oh... so sweet.., mau.." batin Tutik melihat adegan romantis di depannya.
"Kita pulang ya, sudah selesai kan pekerjaannya?" tanya Reno lembut sambil mengusap genangan air mata di kelopak mata Bianca.
Bianca menganggukkan kepala, kemudian Reno menyerahkan bunga tangan pada Bianca. Bianca tampak bahagia, kemudian mencium bunga pemberian Reno. Setelah beberapa saat, Bianca mencium dan memandangi bunganya, kemudian menyerahkannya pad Tutik.
"Tutik.., minta tolong bunga ini ditaruh dalam vas bunga, dan letakkan dalam ruanganku ya!"
"Baik Bu." dengan cepat Tutik menerima bunga dari tangan Bianca, kemudian membawanya ke dalam ruangan Bianca.
Reno dengan posisi merangkul Bianca, segera berjalan keluar kantor, dan langsung membukakan pintu mobil untuk Bianca. Setelah menutupnya, Reno kemudian memutar lewat depan mobil dan segera menjalankan mobilnya. Pak Muji yang sudah ingin mengantar Bianca pulang, akhirnya kembali memarkirkan mobil ke basement.
******************************
Reno mengemudikan mobil dalam diam, dan Bianca hanya mencuri pandang ke arah laki-laki itu. Tidak ada yang bicara, dan Bianca juga bingung mau memulai pembicaraan dari mana. Setelah berpikir lama, akhirnya Bianca memutuskan untuk memulai pembicaraan..
"Bia...."
Ternyata Bianca dan Reno memulai pembicaraan bersama-sama, akhirnya mereka saling memandang dan tertawa.
"He..he..he.. lady first!" kata Reno.
"Kapan datang ke kota ini?"
"Haruskah aku menjawabnya Bianca sayang, setahuku kamu sudah tahu ya kapan aku datang ke kota ini? Maafkan aku Bia.., maafkan aku yang dalam akta nikah adalah suamimu, tetapi membiarkan kamu sendiri berada di kota ini!"
Bianca menoleh dan menatap Reno suaminya. Tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca lagi, dan dia tidak tahu harus berbicara dan membicarakan apa dengan Reno. Berbulan-bulan Reno telah meninggalkannya, dan bahkan bertanya apa kabarnya juga tidak pernah dia lakukan.
" Sekali lagi aku minta maafkan aku Bia...!" ucap Reno pelan.
Reno membiarkan Bianca menangis, dan setelah mobil yang dia kendarai melewati Jalan Palagan Tentara Pelajar, Reno membelokkan mobil memasuki sebuah hotel. Setelah memarkirkan mobil, Reno merangkul Bianca dan segera membawanya masuk ke dalam kamar hotel. Ternyata Reno sudah mempersiapkan kejutan untuk istrinya.
Setelah mendudukkan Bianca di atas ranjang, Reno mencuci tangan di wastafel dan mencuci mukanya, Kemudian dia duduk di samping Bianca.
"Berhentilah menangis Bia.., maafkan aku ya! Aku mau bertanya padamu, masih maukah kamu memberiku kesempatan untuk kembali kepadamu?"
Mendengar pertanyaan Reno, Bianca semakin menangis terisak-isak. Perlahan Reno meraih kepala Bianca dan meletakkannya di dadanya. Air mata Bianca membasahi kemeja Reno, tetapi laki-laki itu membiarkannya. Kemudian setelah Bianca berhenti menangis, Reno menengadahkan wajah Bianca, dan perlahan bibirnya dia dekatkan ke bibir Bianca. Ciuman lembut antara suami istri yang sudah lama terpisah terjalin dengan sendirinya. Ciuman itu berlangsung sangat lama, seperti orang minum di padang yang tandus. Mereka hanya melepaskannnya untuk mengambil nafas, dan kemudian kembali menyatukan bibirnya.
"Bagaimana sayang, masih maukah kamu menerimaku kembali?" bisik Reno di telinga Bianca.
Bianca tidak menjawab dengan perkataan, tetapi menganggukkan kepalanya.
"Maafkan aku juga Reno, aku juga salah! Mari kita sama-sama berusaha merubah sikap kita!"
"Terima kasih sayang, masih memberi kesempatan untuk suamimu ini. Kita akan memulainya lagi sayang."
Bianca mengalungkan kedua tangannya di leher Reno, dan laki-laki itu kemudian merebahkan tubuh istrinya di atas king size bed. Kembali Reno menyatukan bibirnya ke bibir Bianca, dan tangannya sudah bergerak melepaskan kancing baju yang dikenakan Bianca.
"A..ah.. sayang, aku merindukan ini." tanpa sadar Bianca mengeluarkan desa..han dan tanpa dia sadari dia juga melakukan hal yang sama. Tangannya dengan cepat melepaskan baju yang dikenakan suaminya.
"Kamu semakin mont*k sayang, berapa bulan aku tidak menyentuhmu, ternyata ada beberapa bagian tubuhmu yang menebal." goda Reno yang membuat pipi Bianca memerah.
"Jadi sekarang Bianca gemuk, tidak langsing lagi?" tanya Bianca sambil memonyongkan bibirnya.
"Siapa yang bilang kamu gemuk, kan aku bilangnya semakin mont*k berarti semakin menggai..rahkan. Aku jadi pingin sayang.." bisik Reno sambil menggerakkan bibirnya ke seluruh tubuh Bianca. Gadis itu menggelinjang hebat.., dan akhirnya pasangan suami istri itu akhirnya kembali bersatu.
******************************