Married By Incident

Married By Incident
Posesif



Selepas Maghrib Dev bersiap untuk melakukan presentasi Studi Kelayakan tentang Ekspansi Perusahaan di wilayah Indonesia Timur. Sampai saat ini, Yudha belom pulang kerja dan juga belum memberi kabar. Sebenarnya Dev bermaksud untuk memberi tahu dan minta ijin pada suaminya tentang acara di ****lake Resort. Tetapi dia tidak memiliki nomor ponsel Yudha maupun Pratama.


Dev memilih-milih baju di kamar bawah, tetapi dia lupa bahwa tidak satupun koleksi baju untuk jamuan malam yang pernah dia miliki.


"Hadeh... kenapa aku tidak pernah berpikir ya, kalau suatu saat akan berada pada acara seperti ini." Dev berpikir sendiri dan menyesal telah berperilaku easy going selama ini. Sekilas dia mengingat sesuatu, kemudian beranjak meninggalkan kamar bawah dan naik ke lantai atas


"Banyak sekali baju dan perlengkapannya disediakan Yudha di walk in Closed kamar atas. Aku hampir saja melupakannya." batin Dev dengan penuh keceriaan.


Setelah mengamati koleksi bajunya, Dev memutuskan untuk mengenakan sack dress batik dengan potongan leher Sabrina. Dress yang dipilihnya memiliki panjang dua cm diatas lutut, berlengan pendek dan berwarna Sogan Kuning. Untuk riasan wajah, Dev memilih riasan wajah flawless dengan lipstik, eye shadow tipis warna coral. Dev sangat bersyukur, karena semua keperluannya dari baju, sepatu, tas maupun kosmetik sudah disediakan oleh Yudha.


Seusai merias wajahnya, Dev melengkapi penampilannya dengan handbag kecil, dan sepatu berhak. Setelah memeriksa perlengkapan, laptop, charger pointer, flashdisk, Dev bersiap untuk berangkat menuju Resort. Dev sendiri tidak menyadari, bahwa dengan penampilannya sekarang ini akan membuat para laki-laki tidak berkedip menatapnya.


Dev yang tidak terbiasa mengenakan make-up tebal, dan selalu memilih celana jeans, kemeja, backpack sebagai outfit kebesaran, malam ini tampak jauh berbeda ketika mengenakan sackdress selutut berlengan pendek. Kakinya nampak jenjang, dengan warna baju yang menyatu dengan kulitnya. Dengan perasaan confidence, Dev berangkat menuju lokasi dengan diantar pak Sholeh.


*****


Sesampainya di lokasi, Dev meminta pak Sholeh untuk menunggunya di parkiran. Kemudian dia mendatangi receptions untuk menanyakan meeting room Sadewa.


"Mbak bisa lurus kemudian belok kiri. Venue Sadewa ada di sebelah kiri sebelum musholla." receptions dengan ramah menjelaskan arah ke ruang pertemuan.


"Terimakasih mbak atas informasinya."


Dev tidak menyadari kalau 10 meter di depannya ada asisten pribadi Yudha yang sedang bertemu dengan rekan bisnis perusahaan. Dengan mata melotot, Pratama mengamati gerak-gerik Dev. Dia mengeluarkan ponsel, dan mengambil beberapa gambar Dev kemudian dikirimkan kepada Yudha.


"Nyonya Muda tidak pernah berdandan, tetapi malam ini dia seperti menjelma menjadi orang lain. Cantik dengan kaki jenjang, kulit bersih, dan penampilannya terkesan sangat elegan."


"Boss pasti tidak menyangka kalau istrinya menjelma menjadi manusia cantik yang menakjubkan." Pratama bergumam sendiri kemudian pamit pada rekan bisnisnya, dan beranjak menuju lobby.


"Selamat malam mbak, di Venue Sadewa baru ada meeting ya malam ini." tanya Pratama pada receptions.


"Iya pak, venue Sadewa malam ini di booking untuk meeting terbatas 10 orang."


"Di book atas nama siapa kalau boleh tahu.'


"Atas nama Bapak Gunawan pemilik perusahaan percetakan Kalingga"


Setelah mengucapkan terimakasih, Pratama duduk di sofa lobby menunggu kedatangan Yudha.


"Sepertinya Boss mulai ada ketertarikan terhadap Nyonya Muda. Buktinya begitu kukirim foto, Boss langsung kabur meninggalkan acaranya. Akan kita lihat ada permainan apa setelah ini."


"Tadi malam kira-kira Boss sudah belah duren belum ya. Tapi melihat jalannya Nyonya Muda, sepertinya semalam tidak terjadi apa-apa." Pratama senyum-senyum sendiri memikirkan Dev dan Yudha.


*****


Fahmi sekretaris Pak Gunawan sudah berada di depan pintu meeting room menunggu kedatangan Dev. Melihat penampilan Dev, matanya terbelalak, tidak bergerak karena terpana dengan make over Dev malam ini.


"Kondisikan matamu, atau ku tusuk pakai pulpen." tegur Dev kesal.


"Kamu sungguh memukau malam ini Dev, bisa-bisa aku jatuh cinta padamu," ucap Fahmi tertawa dan langsung membawa Dev ke ruang pertemuan.


Dev menyerahkan flashdisk kepada Fahmi untuk dipersiapkan terlebih dahulu. Di dalam ruangan, sudah berkumpul 4 orang dari calon investor. Dev tersenyum dan menganggukkan kepala untuk memberikan penghormatan pada tamunya. Mereka membalas senyum dan balik menganggukkan kepala.


Setelah menunggu sepuluh menit, pak Gunawan dan calon investor Tuan Hendarto memasuki ruangan. Di belakang mereka, satu orang laki-laki dengan pakaian branded tapi terkesan sombong ikut masuk dalam ruang pertemuan. Semua orang reflek berdiri untuk memberikan salam, dan mempersilakan kedua pimpinan untuk duduk. Pak Gunawan memberi kode Fahmi untuk segera memulai acara.


Kemudian Fahmi bertindak sebagai moderator yang memandu jalannya acara, yang diawali dengan pemberian sambutan selamat datang oleh pak Gunawan selaku pimpinan PT. Kalingga. Tuan Hendarto selaku calon investor juga memberikan sambutan untuk menyampaikan maksud kedatangan, dan memperkenalkan timnya satu persatu. Laki-laki yang datang bersama mereka juga ikut diperkenalkan, dan ternyata dia adalah anak Tuan Hendarto yang bernama Wijaya dengan nama panggilan Jay.


Setelah selesai acara sambutan, untuk mempersingkat waktu, Fahmi mempersilakan Dev untuk melakukan presentasi.


Dev berdiri, dan membungkukkan badan untuk mohon ijin berbicara'.


Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatu.


Dengan jelas Dev memaparkan hasil analisisnya melalui Grafik dan Bagan yang dilengkapi dengan SWOT Analysis untuk menjelaskan posisi perusahaan, yang dijadikan dasar untuk menetapkan strategi pengembangan. Base line dan Key Performance Indicator serta target capaian 1 - 5 tahun ke depan dengan gamblang ikut dipaparkan.


Sepuluh menit presentasi, Dev mengakhiri paparannya dan membuka Question and Answer sessions. Wijaya anak Tuan Hendarto mengangkat tangannya untuk mengajukan pertanyaan.


"Singkat pertanyaan saya, hal apa yang mendasari perumusan strategi sebagai market leader, apakah dengan keuangan yang ada perusahaan tidak akan mati konyol?"


Terimakasih pertanyaan dari Tuan Wijaya. Seperti tadi sudah kami paparkan pada SWOT Analysis tentang positioning perusahaan saat ini. Kemudian kita juga mendasarkan pada Five Force dari akses bahan baku, ancaman pendatang baru, ketersediaan barang substitusi, situasi persaingan, bahkan juga barrier exit and entry... hampir di semua kekuatan kita Dominan.


Oleh sebab itu kita bisa memperluas market share dengan mencari new users untuk produk yang sudah establish, dan mempromosikan penggunaan baru dari produk yang sudah ada. Saat ini, kita memiliki database calon pembeli potensial. Dev dengan jelas dan semangat menjawab semua pertanyaan dari audience. Setelah tidak ada lagi yang mengajukan pertanyaan, Dev mengakhiri presentasinya.


Semua audience bertepuk tangan atas penjelasan Dev. Kemudian acara ditutup dengan makan malam bersama.


"Anda sangat luar biasa malam ini." puji Wijaya pada Dev mencoba untuk mendekatinya.


"Terimakasih, anda terlalu berlebihan memuji saya. Sewajarnya saya selaku wakil dari perusahaan, berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan." kata Dev sambil menghindar dari Wijaya.


Dev melirik jam tangan di pergelangan tangannya, dan waktu sudah menunjukkan pukul 21.30. Karena khawatir jika Yudha sudah sampai di rumah lebih dulu, Dev segera menghampiri pak Gunawan untuk berpamitan.


"Permisi Pak Gun, waktu sudah diatas jam 21.30 mohon maaf saya ijin pulang dulu ya."


"Ya silakan. Hati-hati di jalan Dev."


"Baik pak terima kasih."


Dev membereskan semua bawaannya, dan dengan tergesa segera keluar venue. Wijaya yang melihat kepergian Dev, spontan mengikuti Dev dan mensejajarkan langkahnya di samping Dev.


"Sudah ada yang menjemput? Kalau belum aku antar ya, sekalian aku tahu dimana tempat tinggalmu?" Wijaya menawarkan diri untuk mengantar Dev pulang


"Terimakasih Tuan Wijaya. Kebetulan saya sudah ada yang jemput, dan sekarang saya sudah ditunggu di parkiran." tolak Dev sopan.


"Panggil aku Jay, tidak usah terlalu resmi."


" Kalau tadi waktu presentasi hubungan kita adalah calon mitra, tapi saat di luar venue hubungan kita sebagai teman. Kamu setuju.?" kata Wijaya sambil mengulurkan tangannya mengajak Dev salaman.


Dengan terpaksa Dev menerima ajakan Jay untuk bersalaman.


"Baiklah kalau kamu tidak mau aku antarkan pulang, sekarang aku akan menemanimu sampai parkiran."


"Tidak perlu Jay, aku bisa sendiri. Kamu sekarang bisa kembali ke venue," kata Dev melarang Jay mengikutinya.


"Tidak masalah Khan Dev, toh aku tidak mengganggumu."


Dev tidak sadar, bahwa di sudut lobby Pratama dan Yudha geram melihat interaksinya dengan Jay. Mata Yudha memerah menahan emosi. Pratama melirik Yudha dan menyaksikan reaksinya, dia tersenyum penuh arti.


"Permisi, jadi laki-laki jangan suka memaksa wanita." seru Yudha diikuti Pratama yang tiba-tiba muncul menghadang mereka. Sontak Dev terkejut, dan merasa ngeri melihat mata Yudha memerah. Dia langsung maju ke depan menenangkan Yudha.


"Yudh..., kenalkan dia Jay putra Tuan Hendarto calon investor baru PT. Kalingga." katanya lembut.


"Jay, kenalkan ini Yudha. Sampai disini ya antarnya, kebetulan aku sudah dijemput Yudha dan Pratama."


"Baiklah, aku akan kembali ke venue, besok siang sebelum kembali ke Jakarta aku akan mampir ke kantor. Bye... Dev." akhirnya Jay memilih mengalah, kembali ke venue.


Tanpa menyapa Yudha dan Pratama, Jay langsung membalikkan badan.


Yudha dengan kasar menarik Dev keluar dari lobby, kemudian membawanya ke mobil. Sedangkan Pratama tidak berani untuk menolong Dev, meskipun dari tadi Dev memberi kode lewat isyarat mata untuk membantunya. Di parkiran mereka berpisah menuju mobilnya masing-masing.


******