
Pagi hari Dev terbangun, dan kulitnya merasakan panas suhu tubuh di sampingnya. Perlahan dia membuka matanya, dan tampak suaminya sedang memandangnya dengan mata sedikit merah.
"Sudah bangun, kalau kamu masih mengantuk, tidurlah lagi. Ini masih pagi baru jam empat Subuh." kata Yudha dengan khas serak suaranya di pagi hari.
Yudha sudah terbangun dari tadi, bahkan mengalami susah tidur dari malam karena mengendalikan panas magma di dalam tubuhnya yang ingin menyembur keluar. Semalaman Yudha harus bolak balik ke kamar mandi untuk mendinginkannya.
"Badanku dah segar, sepertinya aku tidur dari sore ya, tapi kok aku ga ingat ya kalo aku berangkat tidur. Aku ingatnya cuman mandi air hangat sambil berendam di bath tub," Dev bingung karena merasakan kehilangan ingatan.
"Sudah segar," tanya Yudha sambil senyum-senyum. Tanpa menunggu Dev menjawab, Yudha langsung menindih tubuh istrinya. Tanpa permisi bibirnya sudah menempel di bibir Dev dan langsung membelitnya.
"Semalaman kamu telah menyiksaku, sekarang kamu harus bertanggung jawab untuk menyenangkanku." bisik Yudha mesum.
Tangan kanan Yudha membuang selimut ke lantai, dan Dev baru sadar ternyata dia tidak mengenakan apa-apa di tubuhnya. Bibir Yudha tak terkendali merangsek kemana-mana, Dev hanya mengikuti irama berlari mengimbangi kelaparan Yudha. Setelah beberapa saat, singa kelaparan itu merasakan kepuasan sudah mendapatkan jatah daging untuk makan paginya. Kecupan lembut di kening istrinya sebagai makanan penutup kembali disuguhkan untuk istrinya yang selalu nampak imut di matanya.
"Mau mandi sekarang atau nanti," tanya Yudha.
"Nanti dulu ya, sebentar saja. aku masih males," jawab Dev sambil memainkan jari telunjuknya menyusuri roti kotak di perut suaminya.
Yudha tersenyum melihat tingkah istrinya, kemudian memeluk dan meletakkan kepala Dev di atas dadanya. Pasangan suami istri ini jarang memperlihatkan kasih sayang dan kemesraan di depan orang lain, tapi begitu sampai di istananya, keduanya seperti Dewi Ratih dan Kamajaya yang tidak terpisahkan.
"Yudh..., aku dapat posisi baru di perusahaan." Dev mulai bercerita dengan suaminya.
"Bukannya kamu sudah menolaknya." jawab Yudha sambil memainkan rambut istrinya.
"Iya aku sudah menolak. Tapi kemaren siang pas acara rapat koordinasi pleno tiga bulanan, pak Gunawan langsung menyampaikan pengumuman."
"Bahkan tanpa memberi kesempatan padaku untuk memberikan konfirmasi apalagi sanggahan."
"Terus teman-teman yang lain bagaimana respon mereka, Tapi juga baru pemberitahuan kan."
"Sudah resmi. Surat Keputusan pengangkatan kemaren langsung diserahkan oleh Donna dan Andre di depan semua karyawan perusahaan. Yah, aku sudah tidak bisa menghindar lagi Yudh."
"Sekarang kembali ke diri kamu sendiri bagaimana, sanggup tidak untuk menjalankannya."
"Kalau yang ini aku akan mencobanya Yudh, apalagi aku tidak diambil keluar dari divisiku. Aku tetap berada di divisi lamaku, dan bahkan tim yang kukelola juga teman-teman kerjaku saat ini. Aku bisa bekerja seperti biasanya memimpin dan mengkoordinir mereka."
"Ya, tapi ingat Dev. Kalau mereka berani memeras tenagamu, mereka akan berurusan denganku. Aku tidak mau setiap malam aku tersiksa ditinggal tidur sama istriku."
"Ha...ha .ha.....dasar ini pikiran tidak mau inovatif sedikit. Pikirannya tidak pernah jauh dari yang satu itu." kata Dev sambil menaikkan tubuhnya di atas tubuh Yudha.
"Dev...Dev...jangan memancingku lagi." ucap Yudha karena begitu kulitnya tergesek kulit halus istrinya, sinyal langsung terkirim ke otak dan reaksi akan diterima seluruh anggota tubuhnya.
"He ..he.., " goda Dev sambil mengecup sekilas bibir Yudha kemudian turun dan berlari ke kamar mandi.
Yudha yang ditinggal kembali Dev tanpa bertanggung jawab tiba-tiba merasa pusing kepalanya, kemudian tanpa berpikir panjang langsung menerobos masuk ke kamar mandi. Yah...quality time suami istri memang Priceless...
*****
"Tama..., apa benar yang kamu katakan." tanya Yudha kepada Pratama sesampainya di kantor.
"Benar boss, ada pemberi tahuan dari orang kita yang di bandara. Beberapa hari yang lalu melihat Tuan Baskara mendarat di kota ini dengan menaiki pesawat terbang komersial."
"Apa lagi yang akan dimainkan laki-laki tua itu. Sudah berumur bukannya duduk manis menikmati masa tua, malah sukanya main petak umpet denganku" gerutu Yudha.
"Kemudian untuk tempat tinggal kakek, apakah ada informasi lebih lanjut."
"Kalau untuk yang ini, sampai sekarang belum ada informasi boss. Tapi kami tetap berusaha, bahkan tim IT sedang berusaha untuk melacak CCTV di kota ini untuk mendapatkan informasi tersebut."
"Terus apakah Boss tidak akan memberi tahu Nyonya Muda kalau Tuan ada di kota ini."
"Tidak perlu. Aku tidak mau membuat Dev khawatir. Apapun yang terjadi Dev adalah istriku, aku akan tetap mempertahankan Dev di sisiku. Tidak peduli apapun."
Pratama tersenyum mendengar pernyataan Yudha.
"Akhirnya luluh juga dengan gadis tomboy itu," batin Pratama tersenyum sendiri.
"Nyonya Muda wanita yang baik Boss, tidak ada pergaulan yang aneh-aneh dengan teman-temannya. Saya pikir Tuan Baskara akan langsung menyukai Nyonya Muda." kata Pratama.
"Kenapa kamu memuji wanita di depan suaminya Tama, apa kamu pikir aku tidak bisa mengenali siapa wanitaku." ucap Yudha.
"Maaf boss, salah bicara." kata Pratama sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Bagaimana dengan laki-laki bejat itu, apakah masih berusaha mendekati istriku."
"Andre yang boss maksud? Andre sudah kembali ke Jakarta via bandara "Y" kemaren siang."
"Baguslah kalau begitu."
"Tapi boss, dua hari yang lalu security PT. Kalingga melaporkan kalau Nyonya Muda keluar berempat dengan Donna, Wijaya dan Bertho teman kantornya."
"Kenapa kejadian dua hari lalu baru kamu laporkan hari ini. Apa kamu memberi kesempatan mereka melakukan double date." seru Yudha dengan nada tinggi.
"Bukan boss, dengan mengajak temannya Bertho untuk menemani, saya berpikir Nyonya Muda sudah membuat rencana sendiri."
"Saya juga mengirimkan orang untuk mengawal Nyonya Muda, dan sepertinya Nyonya Muda bisa mengatasi mereka untuk tidak mengganggu lagi."
Yudha terdiam, setiap mendengar ada ancaman bahaya yang mengintai Dev, emosinya akan muncul seketika.
"Boss, apa tidak lebih baik untuk membuat pengumuman jika Boss sebenarnya sudah menikah dengan Nyonya Muda. Saya pikir, orang-orang akan berpikir dua kali untuk mengganggu Nyonya Muda jika tahu kalau Boss adalah suaminya."
"Apakah kamu tidak berpikir sebaliknya?"
"Apa kamu tidak berpikir bagaimana orang-orang lebih akan menyoroti kehidupannya jika tahu aku suaminya."
"Biarkan Dev dengan caranya untuk memberitahu orang-orang di sekitarnya. Aku menghargai privasi istriku."
"Ya boss, saya ngikut. Saya permisi untuk kembali ke ruangan,. Banyak berkas laporan belum saya lakukan pengecekan ulang."
"Ya."
******
Maaf ya author baru banyak kesibukan menyiapkan Kolokium besok pagi. Jadi slow response untuk lanjutkan chapter.....