
Pukul 16.00 semua persiapan acara gala dinner dalam rangkaian penandatanganan Perjanjian Kerjasama antara Tuan Hendarto dengan PT. Kalingga sudah terkoordinasi dengan baik. Pihak banquet hotel Phoenix siap mejalankan konsep dan arahan acara yang sudah disepakati antara tim dari PT. Kalingga yang digawangi Dev. Sebagai pengarah dan pengawas teknis penyelenggaraan acara dihandle langsung oleh Bertho dan Koko.
Saat ini Dev masih terlihat sibuk memastikan persiapan acara sudah semuanya tertangani, sehingga acara inti nanti malam berjalan dengan lancar.
"Drttt...,drttt...," ponselnya bergetar.
"Selamat sore, iya ini dengan Dev. Anda siapa." Dev menerima panggilan telepon dari pihak jasa makeup.
"Jasa make up? Saya rasa anda salah orang, saya tidak merasa order jasa make up, mohon maaf."
"Tuan Pratama yang telah mengirimkan saya kesini nona, mohon kerjasamanya. Saya dan tim sudah menunggu di depan pintu kamar 301."
"Baik, tunggu sebentar. Saya akan segera naik ke kamar."
"Shit..., itu asisten pribadi Yudha tambah menyebalkan. Bisa-bisanya mengundang jasa make up tanpa terlebih dahulu memberi tahu."
Dev menghampiri Bertho dan Koko.
"Brooo..., kalian bisa kutinggal belum sekarang."
"Sudah, kamu siap-siap saja Dev. Pasrahkan aku dan Koko untuk teknis Acara malam nanti. Pihak hotel sangat profesional, kita hanya bantu arahin sedikit." sahut Bertho.
"Kalau begitu saya prepare penampilan dulu ya. Karena Dev juga wanita, dimana malam ini aku pingin terlihat cantik." ucap Dev bergurau yang disambut dengan suara ketawa dua rekannya.
"Ha,ha...ha..., sesukamu Dev."
Setelah memastikan Koko dan Bertho siap ditinggal, Dev bergegas menuju lift untuk ke lantai enam. Dia tidak memberi tahu teman-temannya kalau dia dibukakan kamar di hotel ini oleh suaminya. Rekan-rekan wanitanya sudah melarikan diri dari hotel pada pukul 15.00 untuk pulang menyiapkan penampilan mereka nanti malam.
Di depan kamar 601, terlihat dua wanita cantik yang sudah menunggu Dev dengan membawa box case peralatan makeup.
"Selamat sore, apakah dengan Nona Devina Renata." tanya mereka sopan.
"Iya, saya Devina."
"Kami diperintahkan oleh Tuan Pratama untuk membantu menyiapkan penampilan nona malam ini. Karena sekarang sudah hampir pukul 17.00, mungkin segera kita mulai make up-nya."
"Iya, kita masuk kamar terlebih dahulu."
Dev mengeluarkan kartu akses kamar 691, menempelkan pada pintu kemudian membuka pintu kamar.
"Mari, silakan masuk."
Mereka memasuki kamar hotel, dan tampilan visual pertama yang mereka lihat adalah sebuah gaun mewah berwarna grey dan perlengkapan yang sudah siap pakai
"Wow..., ini merk dari desainer ternama," kedua orang dari jasa make up saling berbisik.
"Apakah saya diperbolehkan mandi sebentar. Badan saya lengket, berlarian dari tadi pagi" tanya Dev.
"Tentu saja boleh nona, kami akan menunggu."
Dev segera masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Akhirnya dia memahami maksud suaminya membukakan kamar untuknya. Setelah sepuluh menit, dengan tubuh segar Dev keluar dari kamar mandi.
"Bisa kita mulai nona,"
"Iya, saya dah siap"
Dengan cekatan kedua orang dari salon membubuhkan makeup di wajah Dev. Setelah 30 menit akhirnya riasan Dev selesai.
"Wow excited, nona sangat cantik sekali."
"Iya, bisa minta ijin ambil gambar mbak, untuk promosi jasa makeup kami."
Mereka bertiga memandangi wajah Dev yang terlihat melalui cermin di depannya.
Ya boleh, tapi jangan banyak-banyak ya gambarnya." sahut Dev.
Setelah mengambil beberapa gambar, mereka menyiapkan gaun yang akan dipakai.
"Mari nona, berdiri dulu. Kami akan membantu nona untuk mengenakan gaun terlebih dahulu. Mohon nona berdiri sebentar"
Begitu gaun dipasangkan di tubuh Dev, ketiganya nampak terkejut. Bahkan Dev sendiri merasa melihat orang asing di dalam cermin, tidak mengenali dirinya sama sekali.
"Nona, gaun ini seperti melekat dan menyatu dengan nona. Luar biasa, sangat elegan." puji mereka.
Setelah memasangkan gaun dan accesories sederhana, tepat pukul 18.00 riasan dan penampilan Dev sudah selesai.
Drtt .ndrt...ponsel Dev bergetar. Yudha is calling.
"Sudah selesai dandannya."
"Sudah, baru saja selesai. Kamu jadi datang,"
"Bukalah pintu kamarnya." sahut Yudha.
"Tunggu sebentar ya, masih ada dua orang dari jasa makeup di dalam kamar."
"Ya, suruh mereka segera pulang kalau sudah selesai."
"Ya , saya tanya dulu."
Dev menutup ponselnya, kemudian mengajak dua periasnya bicara.
"Sudah selesai belum mbak meriasnya."
"Sudah nona, saya langsung pulang ya. Terimakasih sudah menggunakan jasa make up dari kami nona."
"Ya sama-sama."
Dev mengantar kedua orang itu keluar dari kamarnya, dan di depan pintu suaminya sudah menunggu sambil duduk menyilang kan kaki di single sofa.
"Sayang...kamu sangat cantik sekali." seru Yudha terpukau melihat penampilan istrinya.
"Ayuk masuk kamar dulu," kata Dev sambil menarik tangan suaminya untuk mengajak masuk kamar.
"Sayang, aku sepertinya tidak ikhlas malam ini, karena istriku akan menjadi santapan mata laki-laki lain."
"Aduh Yudh..., sudah donk lebaynya. Aku ga mau, sifat posesif mu kambuh lagi." ucap Dev cemberut sambil memanyunkan bibirnya.
Dev tidak sadar, kalau laki-laki di depannya menelan ludah menahan bibirnya untuk tidak menyergapnya.
"Malam ini kamu akan mengenakan baju yang mana sayang," tanya Dev manja.
"Pratama akan mengantarkan sebentar lagi."
"Yudh...aku berangkat dulu ya, aku kan koordinator acara. Gak lucu kan kalau aku datangnya terlambat."
"Kita tidak ke ballroom sama-sama sayang," ucap Yudha penuh harap dia datang ke ballroom sambil menggandeng tangan istrinya.
"Bisa geger dunia persilatan nanti, sudah aku duluan."
Setelah mengambil hand bag warna senada, Dev menuju ballroom sendirian. Sampai di depan lift, ada dua orang laki-laki yang terlihat sedang mengantri. Melihat Dev, mata keduanya berbinar terang.
"Mau ke lantai berapa mbak." satu laki-laki mencoba mengakrabkan diri dengan Dev.
"Ballroom," jawab Dev singkat.
"Ada acara ya disana, makanya nona terlihat cantik dan memukau, tapi sayang masih sendiri."
"Perlu saya temani nona, daripada nanti di dalam sendirian."
Tiba-tiba pintu lift terbuka, dan terlihat Pratama keluar lift sambil membawa jas. Matanya menatap tajam melihat dua laki-laki yang sedang berdiri mengapit Nyonya Muda dari Yudha.
"Nyonya Muda kenapa jalan sendiri."
"Memangnya kamu mau menggendongku." jawab Dev ketus.
Kedua laki-laki itu melihat Pratama dan Dev bergantian, kemudian berpandangan mata dan tersenyum.
"Mau aku congkel matamu, kenapa lihat-lihat." hardik Pratama.
"Maksud saya sangat berbahaya dengan penampilan Nyonya Muda saat ini untuk berkeliaran sendiri di hotel."
"Sudah, sana temui bossmu. Sama aja kamu posesifnya, malah melebihi Yudha." Dev mendengus kesal.
"Baik, hati-hati Nyonya Muda, apa perlu saya antar."
"Tidak perlu Tuan Pratama, aku bisa jalan sendiri." ucap Dev sambil memasuki pintu lift.
Kedua laki-laki mengikuti Dev masuk, dan dengan tatapan sinis meledek Pratama. Tapi melihat tatapan balik Pratama yang bisa membunuhnya, kedua laki-laki itu terdiam dan tidak berani mencuri pandang pada wanita yang ada di depannya.
*******