
Malam ini Yudha mendadak harus terbang ke Samarinda. Buntut dari penyelewengan dana oleh pimpinan cabang berimbas dengan adanya demo dari masyarakat sekitar. Ganti untung yang sudah digelontorkan oleh kantor pusat ternyata belum diberikan oleh perusahaan cabang. Proses perijinan kepada Pemda setempat juga belum turun sampai sekarang.
"Tuan Yudha..., saat ini sudah hampir pukul sepuluh malam. Ada baiknya kita langsung ke hotel istirahat dulu," saran penanggung jawab project coal PT. Globe, Tbk divisi Kalimantan Timur yang bertugas menjemput Yudha di bandara Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan.
"Pratama kemana, kenapa bukan dia yang menjemputku."
"Tuan Pratama kemungkinan masih berada di pulau Derawan, mungkin besok pagi baru bisa kesini. Tadi siang tuan Pratama sudah melakukan negosiasi dengan pak Arwansyah untuk membantu meng-cover tuntutan masyarakat disana.Karena letak project berada di lintas dua wilayah yaitu Kabupaten Berau di Kaltim dan sebagian masuk wilayah Kaltara. Jadi kita harus melakukan maintain pada dua pejabat di dua propinsi."
"Tidak masalah, uang yang kita keluarkan saat ini akan kita petik hasilnya di beberapa tahun ke depan. Kita anggap saja itu sebagai biaya investasi." sahut Yudha tegas.
"Rencana besok pagi bagaimana tuan, biar kita schedule malam ini juga."
"Aku ingin pagi hari besok apa yang perlu kita lakukan, bereskan semua. Aku tidak bisa terlalu lama di kota ini, ada yang menungguku di rumah." Yudha sangat merindukan sosok kehadiran Dev saat ini.
"Baik Tuan Yudha, saya pastikan besok pagi-pagi, pihak terkait akan kita hadirkan secepatnya."
Setelah beberapa saat mobil sudah memasuki hotel ***otel Balikpapan. Semua administrasi sudah disiapkan dengan baik, sehingga Yudha langsung menikmatinya empuknya king size bed di hotel tersebut.
Beberapa saat di atas ranjang, Yudha tidak bisa tidur. Tiba-tiba dia merasakan kerinduan pada Dev, merindukan tubuh lembut yang setiap malam selalu meringkuk di pelukannya. Yudha mengambil ponsel, dan menekan tombol video call pada Dev istrinya. Selama mereka menikah, baru kali ini dia memanfaatkan fitur video call di ponselnya.
"Hai Yudh...lagi dimana, kok jam segini.belum pulang." tampak wajah Dev yang membuatnya untuk segera pulang.
"Lho kamu belum tidur sayang," sapa Yudha lembur.
"Mendadak tadi jam delapan malam aku harus ke Samarinda. Saat ini aku masih di Balikpapan, besok pagi-pagi berangkat ke Samarinda untuk melakukan nego dengan perwakilan masyarakat dan aparatur propinsi."
"Aku ga bisa tidur, aku masih menunggumu pulang," sahut Dev. Hati Yudha merasa bersalah untuk istrinya.
"Dev, harusnya aku tidak meninggalkanmu sendiri."batin Yudha.
"Sekarang tidurlah, aku temani dari sini. Besok jika urusanku sudah selesai, aku langsung pulang."
"Bagaimana caranya, sepi banget. Tahu kalau kamu ga pulang, tadi sore aku bawa teman-temanku untuk tidur disini nemani aku." gerutu Dev.
"Iya maaf sayang, karena perjalanan tadi mendadak. Aku tidak sempat memberi kabar terlebih dahulu."
"Yudh..., padahal malam ini aku pingin ngobrol banyak."
"Ngobrol apa Dev, kalau malam tidak perlu ngobrol banyak. Action nya saja yang banyak sayang," kata Yudha menggoda Dev. Pipi Dev langsung memerah, dan melihatnya tersipu, Yudha
pingin segera pulang menerkam istrinya.
"Nunggu kamu pulang saja, pokoknya kali ini aku ingin kamu mengabulkan permintaanku." rajuk Dev.
"Iya, sudah hampir jam 12.00 malam. Ayuk tidurlah, aku temani dari sini. Ponselnya tidak perlu dimatikan sayang " kata Yudha yang tetap berada di video call. Setelah jam 12.30 menit Yudha melihat Dev tertidur, baru dia mematikan panggilan video call. Tiba-tiba mata Yudha menjadi segar kembali.
*****
Pagi hari Dev mengeratkan pelukannya mencari kehangatan. Sudah pukul tujuh pagi, tetapi sedikitpun Dev belum memiliki keinginan untuk meninggalkan tempat tidur. Hidungnya mengendus-endus aroma unik yang bisa membuatnya lupa daratan. Pagi ini dia merasa sangat nyaman. Tiba-tiba Dev membuka matanya cepat.
Dev memukul-mukul pipinya, dan mengucek-ucek matanya serasa tidak percaya. Yudha suaminya sudah berbaring di sisinya. Dev mencoba membalikkan badan Yudha.
Baru saja tangan Dev memegang pundaknya, tiba-tiba dia sudah disergap dan dibawa ke pelukan Yudha.
"Sayang ini aku..., " bisik Yudha di telinga Dev. Tanpa memberikan kesempatan Dev untuk berpikir dan berbicara, Yudha sudah meraup rasa manis di bibirnya, dan tangannya bergerilya ke seluruh wilayah kekuasaan Dev. Tanpa mampu berbicara, Dev hanya diam mengikuti dan menikmati setiap alur yang dimainkan suaminya. Dia sangat menyukai rasa itu, sangat menyukai dominasi suaminya, saat dia diperlakukan seperti seorang ratu, dipuja bahkan disembah setiap jengkal tanah kekuasaan dan kepemilikannya. Pagi itu suasana di dalam kamar penuh dengan pergulatan seru, dan akhirnya berakhir dengan nafas menyatu dan memburu.
Dengan penuh pengabdian dan pemujaan, sang raja akan mengakhiri dengan memanjakan sang ratu. Dengan penuh kelembutan dan penjagaan sang raja akan menggosok , menyabuni, membersihkan setiap inci dari kepemilikannya.
Setelah semuanya...
"Yudh... kenapa pagi ini kamu sudah ada di sampingku." tanya Dev.
Yudha tersenyum tanpa menjawab. Dia ingat semalam hampir gila merindukan kelembutan kulit Dev di pelukannya. Pukul satu dia menghubungi Pratama, direksi kantor cabang dan pejabat pemerintah untuk ketemu di hotel pada pukul tiga pagi. Dia tidak peduli berapa ratus juta uang yang hilang untuk mendatangkan mereka tanpa berkeluh kesah hingga tercapai kesepakatan pada pukul empat pagi.
"Dev, bangunlah kalau kamu tidak lelah. Buatkan aku secangkir kopi untuk sarapan pagi. Bangunkan aku kalau sudah siap" dengan penuh kelembutan Yudha meminta Dev menyiapkan sarapan pagi.
Tanpa menunggu diulang, Dev langsung pergi ke dapur. Sambil menunggu mesin Blending biji kopi, Dev menjerang air. Dengan cekatan Dev meracik masakan sederhana untuk sarapan pagi.
Empat puluh menit di meja sudah tersaji omelette telur daging asap, orak Arik buncis wortel, segelas Nasgithel dan secangkir kopi hitam. Dua potong sandwich ikut tersaji di atas meja.
Dengan senyum puas, Dev bermaksud untuk membangunkan Yudha. Tetapi,
"A...a.., kamu siapa pagi-pagi di rumahku." teriak Dev sambil melempar serbet makan ke muka laki-laki di depannya. Tangannya dengan sigap mengambil centong nasi dan memukuli lelaki tersebut.
"Hentikan Nyonya Muda, ini aku Pratama," seru Pratama sambil melindungi mukanya.
"Ada apa sayang." seru Yudha sambil berlari menuruni tangga mendengar teriakan istrinya.
Sesampai di bawah Yudha terbahak-bahak melihat ekspresi Pratama menahan kesal dengan kelakuan istrinya. Sedangkan Dev tetap bersikap masa bodo, tanpa merasa bersalah.
"Kenapa kamu menyiksa Pratama Dev," tanya Yudha tanpa berhenti tertawa.
"Habisnya nongol di dapur tanpa permisi." sahut. Dev.
"Saya ngantuk boss, bau kopi segar banget tercium hidung. Baru mau minta Nyonya Muda, sudah ditimpuk duluan." ucap Yudha.
"Lagian, kenapa kamu bisa di rumah ini." cecar Dev sambil menyiapkan kopi untuk Pratama.
"Kenapa Nyonya Muda tidak nanya pak boss kenapa saya bisa sampai sini." jawab Pratama penuh kekesalan dengan bossnya.
"Sudah, sudah ...kopinya keburu dingin." potong Yudha menengahi perselisihan mereka.
Akhirnya mereka bertiga menikmati menu sederhana sarapan pagi dengan tenang.
*****"