
Yuki berjongkok lagi, maniknya melihat darah kembali keluar dari sudut bibir pelindung. Ia melirik tubuh pelindung yang telah menyerang, dan kembali melihat ke tubuh pelindung yang habis diserang.
"Maaf, saya akan menyentuhmu." Ucap Yuki dua jarinya langsung mendarat di perpotongan dada pelindung, tangannya yang lain menuliskan sesuatu di note, bertumpu pada pahanya.
Jari Yuki di tarik turun ke ulu hati berhenti sebentar di sana, kembali ia tarik ke titik pukulan tadi. Maniknya tak lepas dari tubuh pelindung. Selesai. Yuki menjauhkan tangannya melirik sebentar hasil tulisannya.
"Ehem!. Ojou chan apa anda sudah mendapatkan yang anda cari?." Yamazaki mencairkan ketegangan di barak penuh pelindung yang berkumpul itu.
"Masih kurang. Lawan aku seperti kamu melawannya." Ucap Yuki tiba-tiba kepada pelindung yang masih berdiri.
"Eehh?!!!."
"Terima kasih atas kerja kerasmu. Silahkan istirahat." Yuki menatap pelindung yang berusaha berdiri, mengelap sudut bibirnya.
Pelindung itu membungkuk kecil lalu berjalan ke pinggir, Yuki memasukan note beserta bolpoin ke saku belakang jeans. Menarik lengan hoody sampai ke siku menghadap pria tinggi besar itu.
"Ojou sama, saya." Yuki tidak punya waktu untuk beragu-ragu ria.
"Takkecchan, kamu mau melakukannya?." Yuki melirik Yamazaki. Gadis itu memutar bola matanya malas melihat raut wajah tidak setuju pria itu.
"Baiklah." Yuki mengedarkan pandangan, mencari mangsa.
"Siapa orang itu?." Yamazaki menoleh ke arah yang di tunjuk Yuki.
"Dia, putra salah satu keluarga terhormat. Morioka san." Jawab Yamazaki.
"Sepertinya aku butuh penjelasan tentang keluarga terhormat. Untuk sekarang panggil dia ke sini."
Selagi menunggu Yuki melakukan peregangan. Ia kembali melirik jam tangannya lalu melepasnya. Pelayan Yuki sangatlah cekatan, melihat nona mudanya melepas jam tangan kakinya segera berlari kecil menawarkan diri menyimpan barang-barang milik Yuki.
"Kalau begitu bisakah kamu memegang ini juga untukku?." Pelayan menerima note dan bolpoin Yuki.
"Baik ojou sama." Pelayan itu menunduk seraya mengulas senyum. Nona mudanya sangat sopan sekali kepada pelayan rendahan sepertinya.
"Apa kamu juga sudah menjelaskan kepadanya?." Yuki melirik Yamazaki.
"Ya, tapi waka menolak keras dan melarang Morioka san mendaratkan serangan kepada anda." Yuki melirik tajam ke arah lantai dua.
"Kalau begitu suruh dia yang melawanku." Ucap Yuki datar.
"Waka menolaknya ojou chan." Yuki menoleh ke arah pemuda pelindung yang sempat bertemu dengannya.
"Apakah anda mau mengabulkan permintaan lancang ini Morioka san?." Mendengar dia adalah putra dari keluarga terhormat Yuki berbicara sopan kepadanya.
"Tentu saja ojou sama. Anda sangat berubah dari terakhir kali kita bertemu." Yuki mengulas senyum yang tidak ia tunjukan kepada semua orang selama di kediaman utama.
"Saya minta maaf untuk pertemuan yang buruk musim panas lalu." Ucap Yuki, pemuda itu mengedikkan bahu acuh.
"Yah, saya juga tidak mengira anda menyamar menjadi spider woman yang sangat lincah." Balas Morioka tersenyum mengingat bagaimana dia gagal dalam misi karena Yuki, dan lagi-lagi dia juga di lumpuhkan pada penyerangan di kyoto.
Yamazaki merasa tidak enak berada di antara percakapan keduanya, ia sudah risi di tatap tajam oleh Hotaru di atas sana dan Fumio dari pinggi arena.
"Ehe. Ehem!." Yamazaki mengepalkan tangannya menutup mulut dengan canggung.
"Kamu boleh pergi Takkecchan." Titah Yuki.
"Eh?!."
"Kamu mendengarku." Yuki memberi jarak dengan Morioka, pemuda itu pun melakukan hal yang sama.
"Ojou chan. Morioka san, anda tidak boleh melukai ojou chan." Ulang Yamazaki memperingati.
Keduanya sengaja tidak mendengarkan pria itu. Mereka membungkuk hormat. Detik berikutnya Yuki dan Morioka saling menerjang. Anehnya, kedua orang itu memikirkan hal yang sama. Mereka bukannya menerjang ke depan melainkan ke samping dimana Yamazaki masih berdiri hendak menghalangi mereka. Dua tendangan kuat mendarat di perut Yamazaki membuat pria itu terlempar.
Bugh!.
Booom.
Kaki keduanya mendarat ke tanah, tatapan mereka bertemu.
Lucu, batin Yuki.
Mereka saling tersenyum, Yuki membiarkan bibirnya tertarik sedikit ke atas. Dua detik berikutnya Yuki memulai serangan.
Morioka dengan senang hati meladeni Yuki, hitung-hitung untuk memperbaiki harga dirinya dari gadis itu.
Hotaru mencengkeram tangan kursi kuat-kuat. Jelas sekali kembarannya tidak serius melawan Morioka seakan saudarinya sengaja mendapatkan serangan-serangan laki-laki itu. Hotaru tahu, karena ia pernah melihat Yuki melawan Rin dengan serius.
Sudah berkali-kali Yuki terjatuh tapi ia dengan cepat berdiri kembali berpura-pura tidak ada masalah padahal, sakit!. Lima belas menit cukup untuk Yuki. Mereka berhenti, Yuki bercakap-cakap sebentar dengan Morioka dan kabur dengan cepat setelah melihat Hotaru yang terburu-buru berjalan ke arahnya.
Di dalam ruang ganti Yuki melepas hoodynya, pemandangan warna pink acak menghiasi tubuh putihnya. Ia segera mencatat yang masih ia ingat lalu menyentuh lukanya. Ia sudah menyuruh Je berjaga di dalam pintu kamar jika ada yang berani menerobos masuk segera di lumpuhkan, Hotaru misalnya.
Yuki menyentuh nadi di tangan kiri lalu telunjuk kirinya mendarat di bawah hidung, ia berkonsentrasi. Ia kembali menulis hasil analisisnya. Suara debuman keras terdengar dari dalam kamar, teriakan terkesiap para pelayan memanggil Hotaru. Dugaan Yuki jarang meleset.
Gadis itu mengakhiri pengamatannya, ia puas dengan hasil yang ia dapat meski tubuh babak belur. Yuki berjalan tertatih-tatih masuk ke dalam kamar mandi. Tubuhnya sakit sekali. Ia berendam, meringis karena rangsangan menyakitkan di dalam tubuhnya saat bertemu air hangat. Baiklah ia sudah mandi tiga kali hari ini.
Makan malam, Yuki memilih makan di dalam kamar, badannya terasa sakit semua. Ia tidak sanggup jika harus berjalan ke ruang makan. Apa lagi teknik bela diri klan lebih menggunakan tenaga dalam yang mematikan, Yuki tidak ingin banyak bergerak.
Lusi sempat mengunjungi Yuki untuk menanyakan keadaannya dan memberi tahukan keadaan Hotaru yang tiba-tiba pingsan setelah masuk ke dalam kamar gadis itu, padahal Hotaru sebelumnya sehat-sehat saja. Yuki pun menjelaskan sedikit dan banyak mensensor apa yang terjadi. Setelah makan malam Yuki meminta salah satu pelayannya untuk menusukkan jarum di mana saja asal di tubuh Hotaru.
Yuki duduk di depan komputer, fokusnya terbelah dua. Dari komputer satu ke satunya lagi, kaca mata tersemat di atas hidungnya. Gadis itu terjaga sampai pukul enam dini hari. Tubuhnya berpindah ke meja di samping, membuka buku sketsa. Ia menggambar tubuh manusia beserta aliran chi hasil pengamatannya, sangat rinci hingga titik-titik lemah yang rawan terkena serangan hasil dari tubuhnya yang babak belur.
Pukul setengah tujuh Yuki masuk ke dalam kamar mandi, menatap tubuhnya. Memar pink itu berubah menjadi ungu gelap. Yuki akan mampir ke rumah kaca setelah pulang sekolah berniat mencari tumbuhan yang mungkin bisa menyembuhkannya. Cairan kimia hasil penelitiannya tidak ada yang cocok dengan luka-luka itu. Untunglah Morioka menahan diri kalau tidak mungkin lebih parah dari ini.
Hotaru menatap Yuki lekat-lekat, ia kesal karena kejadian kemarin sore. Apa saudari kembarnya itu tidak tahu kalau dia khawatir setengah mati. Orang yang di tatap bertingkah biasa saja malah cenderung mengabaikannya. Meja makan hanya di isi oleh candaan Lusi dan tanggapan kecil dari gadis itu.
***
Seperti kemarin, Yuki dengan santai berjalan menuju kelasnya, ia lega tatapan anak-anak lain tidak seperti hari pertama. Yuki tidak sadar di belakangnya berdiri dua body guard incaran para siswi di sekolah barunya. Hotaru dan Fumio akan memberikan tatapan tidak bersahabat kepada siswa-siswa yang berani menggosip atau memberikan tatapan memuja kepada Yuki.
Istirahat. Yuki langsung menghindari Hotaru yang hendak mengajaknya untuk istirahat bersama, kejadian itu tidak luput dari penglihatan anak-anak di kelas.
Yuki berjalan menuju atap, tempat yang jarang di datangi siswa lain. Dan pilihannya benar, dan salah.
Pintu terbuka dan pemandangan tragis yang ia dapatkan.
Seorang siswa hendak melompat dari atap.
Yuki berjalan santai dan duduk di lantai atap seraya membuka kotak bekalnya. Siswa itu mengira Yuki akan menghalanginya. Melihat Yuki yang dengan santai memakan bekal milik gadis itu membuatnya mengerutkan kening.
"Silahkan terjun saja. Abaikan aku." Kalimat Yuki menohok siswa itu.
"Kau akan jadi tersangka karena berada di tempat kejadian." Siswa itu menatap punggung Yuki. Tidak jarang sekolah ini memiliki siswa yang mewarnai rambut mereka, seperti gadis ini.
"Hm. Cepatlah terjun." Ucap Yuki datar. Siswa itu melongo di buatnya.
"Tidak berani?. Perlu aku bantu?." Tawar Yuki memasukan sosis sapi ke dalam mulutnya.
"Kau, psikopat?!." Serunya.
"Kalau tidak berani, menyingkir dari sana." Siswa itu menelan salivanya kasar.
"Aku akan melompat!." Geramnya.
"Ung, hati-hati."
"Eh!!!?."
"Ada yang salah?." Tanya Yuki menoleh menatap siswa itu.
Mata birunya, hidungnya, bibirnya, kulitnya, semua itu membuat pikiran Gaho kosong seketika. Lalu suara datar yang membuatnya terkejut menyadarkan dirinya, cengkeraman tangannya pada pagar pembatas mengendur.
"Selamat tinggal." Ucap Yuki datar.
Gaho dengan refleks cepat yang ia miliki meraih pagar pembatas mencengkeramnya lebih erat.
Hampir saja!, seru Gaho dalam hati.
Gaho melompati pagar pembatas berjalan menghampiri Yuki duduk di samping gadis itu. Matanya melirik isi bekal, dengan santainya ia mencomot dua sandwich sekaligus, melahapnya tanpa permisi.
"Kenapa tidak jadi?." Gaho meraih botol minuman Yuki.
Dug!.
Yuki menahannya hingga botol kembali ke tempat semula. Gaho menarik tangannya menjauh dari botol.
"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Anak baru?. Kelas satu?, kelihatannya bukan." Yuki kembali memakan bekalnya.
"Menarik. Aku ingin mencicipimu." Gaho mencondongkan tubuhnya ke samping.
Krep.
"Untuk pengecut yang tidak berani bunuh diri, berhenti bersikap sombong." Gaho meringis mendengar kalimat tajam dari gadis bermanik biru itu.
Gaho melirik bibirnya yang dijapit dengan sumpit. Yuki mendorong bekalnya ke arah Gaho.
"Untukmu, agar lebih berani untuk bunuh diri." Ucap Yuki melepas sumpitnya dari bibir Gaho meletakan sumpit itu di atas kotak bekal.
"Buang saja kotak bekalnya kalau sudah habis." Ujar Yuki berlalu pergi.
"Kau tidak memberiku minum?." Srobot Gaho sebelum Yuki hilang di telan pintu.
"Kenapa harus bertemu orang gila di setiap awal masuk sekolah." Lirih Yuki, pergi meninggalkan atap.
Sekolah ini ternyata lebih ekstrim dari sekolahnya di tokyo. Lihat, baru beberapa jam berada di sekolah segerombolan anak-anak klub sudah mengepung dirinya. Penolakan berjamaah dari Yuki mengantarkan gadis itu kembali ke dalam kelas.
Di sepanjang pelajaran Yuki sibuk memandang ke luar jendela, ia tidak tertarik mendengarkan pelajaran. Bel pulang menggema sepanjang kelas. Hotaru memutar tubuhnya ke belakang dengan sangat cepat, ia mendaratkan cubitan sekilasnya di pipi Yuki lalu kabur.
Hotaru tersenyum sangat lebar, merangkul sahabatnya menuju gym.
"Ini bukan perlombaan."
"Tidak, kamu salah. Ini adalah game kabur. Siapa paling cepat kabur dia yang menang." Sanggah Hotaru tertawa bangga.
Mengganti seragam dengan baju olah raga. Yuki berjalan santai menuju gym. Sekolah barunya tidak seluas sekolahnya di tokyo, ia bisa menemukan gym voli dengan mudah.
Di depan pintu gym Yuki bertemu dengan putri Ame, satu-satunya wanita di bayangan. Ame Sayuri.
"Ojou sama," Yuki mengangkat lima jarinya.
"Panggil namaku jika di dalam lingkungan sekolah." Sayuri membungkuk dalam, meminta maaf.
"Jangan terlalu sering membungkuk, anggap aku seperti siswi yang lain." Sayuri tersenyum canggung.
"Baik Hachibara sama." Yuki menatap datar gadis berkucir kuda itu.
"Tidak membutuhkan akhiran 'sama'." Sayuri menelan salivanya berpikir.
"Senpai?." Yuki menganggukkan kepalanya pelan.
"Maaf jika saya terlalu lancang." Sayuri hendak membungkuk lagi namun ditinggal pergi oleh gadis bermanik biru itu.
Tidak ada waktu untuk bermain, batin Yuki.
Yuki mengganti sepatunya dengan sepatu olah raga, menaruh uwabakinya di rak yang tersedia. Yamazaki sudah menunggu di dalam gym. Suara decitan sepatu yang saling bersahutan dan pantulan-pantulan bola tidak sanggup menarik perhatian gadis itu. Yamazaki menghampiri Yuki berbicara sebentar, Sayuri terlihat sangat antusias berdiri di belakang Yuki.
Akhirnya aku bisa terus bertemu ojou sama, batin Sayuri senang.
"Aoki!, mereka manajer baru tim voli." Gadis bernama Aoki itu menatap Yuki cukup lama lalu beralih menatap Sayuri sekilas.
Prok!. Prok!. Prok!.
"Berkumpul!." Seru Hotaru.
Para pemain berkumpul di depan Yamazaki.
"Kita mulai perkenalan member baru, di mulai dari barisan sebelah kanan." Titah Yamazaki.
Anak-anak kelas satu yang baru bergabung itu mulai memperkenalkan diri masing-masing, sampai kepada Sayuri dan terakhir Yuki.
"Hachibara Yuki, angkatan ke tiga kelas empat, mohon kerjasamanya." Ucap Yuki datar.
"Apa benar senpai saudara kembarnya kapten?." Yuki berdeham sebagai jawaban.
"Jadi gosip itu benar." Lirihnya.
"Gosip apa?." Srobot Hotaru.
"Kapten. Aku minta restumu." Celetuk libero kelas dua alih-alih menjawab Hotaru, pemuda itu malah melawak.
"Minta di hajar nih bocah." Srobot yang lain.
"Sudah-sudah, kita mulai latihannya. Pertandingan inter high tinggal sebentar lagi." Yamazaki membubarkan para pemain.
Yuki dan Sayuri sebagai anak baru segera menyesuaikan pekerjaan mereka sebagai manajer, untunglah ini bukan hal baru bagi Yuki, ia bisa melakukannya tanpa banyak bertanya. Sayuri terus tersenyum, gadis itu selalu bergerak di sekitar Yuki, terkadang mengambil alih pekerjaan gadis itu.
Aoki menghela nafas panjang memergoki Fumio seperti pemain yang lain, menatap manajer baru, mencuri-curi pandang ke arah gadis itu.
Istirahat sepuluh menit. Hotaru segera berlari ke arah Yuki meminta botol minum untuknya seraya membungkuk memberikan kode Yuki untuk mengelap keringat di sekujur wajah.
"Sayuri, urusi dia." Ucap Yuki kepada gadis kecil imut itu dan berlalu pergi.
"Ano .., ini waka." Lirih Sayuri mengulurkan dua benda di tangannya kepada Hotaru.
"Bisa kamu intip tubuh Yuki?, pertarungan kemarin pasti meninggalkan banyak bekas. Kalau bisa tolong cek apakah masih sakit?. Aku minta tolong padamu Sayuri chan." Ucap Hotaru mengacak-acak pucuk kepala gadis loli (Loli adalah karakter anak kecil yang berumur masih di bawah 14 tahun. Berasal dari bahasa jepang. Padahal Sayuri gadis berumur enam belas tahun.) itu.
"Saya akan berusaha." Jawab Sayuri lalu memberikan minuman kepada pemain lain.
Yuki tidak sedikit pun melirik ke arah lapangan, ia terus menyibukan diri sendiri. Aoki yang hendak meminta bantuan kepadanya segera di cegah oleh Sayuri, gadis kecil itu langsung menawarkan diri untuk membantu.
Sampai pada latihan hari pertamanya berakhir, Yuki berjalan menuju gang penjemputan di temani Sayuri yang menuntun sepedanya.
"Ada yang ingin kamu katakan?." Tanya Yuki yang merasakan gerak-gerik gadis kecil itu. Sayuri tersenyum lebar.
"Ojou sama, apa masih sakit?. Kemarin anda banyak menerima pukulan." Tanya Sayuri hati-hati.
"Hotaru menyuruhmu menanyakan itu?." Yuki berhenti sejenak menatap senja di langit.
"Benar ojou sama, tapi!. Sebenarnya saya juga ingin bertanya." Sayuri ikut mendongak menatap langit oren yang perlahan berubah ke unguan.
"Apa kamu ingin menjadi mata-mata Hotaru?."
"Bu bukan seperti itu. Saya hanya ingin terus berada di samping ojou sama yang sejak dulu saya kagumi. Ibu setiap hari menceritakan kehebatan ojou sama, ja," Sayuri terkejut kala Yuki menepuk pelan pucuk kepalanya.
"Terima kasih, hari ini kamu juga bekerja sangat keras. Lukaku akan cepat sembuh tidak perlu khawatir." Ucap Yuki.
"Ha .., i." Sayuri ingin melakukan salto sekarang, ia tidak bisa menahan perasaan bahagianya.
Mereka berpisah di gang tempat mobil kediaman utama terparkir.
Di perjalanan pulang Yuki melihat sebuah minimarket, ia menghentikan mobil untuk mampir sebentar.
Begadang sambil ngemil jauh lebih baik dari pada tidak. Agh, Yuki teringat kalau kedua tangannya terus sibuk dengan dua keyboard, haruskah dia membuat tangan ke tiga untuk memasukan makanan ke dalam mulutnya?. Yuki memikirkan rencana itu sambil memborong makanan ringan di rak minimarket.
"Kenapa tidak gendut?." Yuki melirik pemuda gila di atap memakai seragam pelayan toko. Gaho mengusap dagunya dengan telunjuk.
"Bagaimana bisa gigimu masih rapi?. Kamu tidak takut diabetes, Hachibara chan?." Yuki menaikan satu alis mendengar akhiran panggilan namanya.
"Wow!, seksi. Aku suka alismu yang terangkat satu." Yuki membuang wajahnya.
Gadis itu terus berjalan mengambil jajanan yang menarik perhatiannya. Keranjang itu penuh dengan coklat, es krim, dan makanan ringan yang lain.
"Kamu bisa menghitungnya sekarang." Kata Yuki datar mendapati Gaho masih berdiri di belakangnya.
"Hmmm, santai saja. Kamu tidak ingin cepat-cepat pergi meninggalkanku lagi bukan." Yuki tidak menanggapi.
Gaho menghitung belanjaan Yuki dengan pelan dan sengaja di lama-lamakan. Yuki menghelas nafas panjang.
"Jika pelayananmu seperti ini aku pastikan tidak akan kembali." Gaho melirik wajah datar Yuki.
"Ok, jangan mengancamku seperti itu." Gaho mempercepat pekerjaannya.
"Silahkan, besok jangan lupa mampir lagi." Ucap Gaho yang tidak di tanggapi oleh Yuki.
Gadis itu keluar dan masuk ke dalam mobil mewah.
"Heee ,,. Sudah kelihatan sih kalau orang kaya." Lirih Gaho dari dalam minimarket.
***
Ruang kaca, Yuki mengamati tumbuhan-tumbuhan herbal di sana, mengambil beberapa. Membawanya ke meja putih di tengah-tengah kumpulan tumbuhan, dimana beberapa alat tradisional tersedia, Yuki dengan pengetahuannya mengumpulkan tumbuhan herbal menjadi satu lalu menghaluskannya dengan alat yang tersedia, menimbuknya dengan telaten.
Salah satu pelayannya menghampiri Yuki.
"Ojou sama, jam latihan anda sudah di mulai." Yuki menambahkan beberapa bubuk herbal yang ia temukan di rak pojok rumah kaca.
"Katakan aku akan terlambat selama lima belas menit." Titah Yuki.
"Baik, ojou sama." Yuki sangat fokus dengan kegiatannya.
Wooooossshhh.
Gadis itu tidak merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Bak para bayangan, insting Yuki tidak bisa mendeteksinya. Sebuah tangan mendarat di pucuk kepala Yuki lalu kecupan singkat mengantarkan kepergian orang itu. Yuki langsung memutar tubuhnya dengan wajah kesal, Hotaru di luar rumah kaca menyeringai senang lalu pergi.
Curang!, geram Yuki. Ia meringis menyentuh pinggangnya. Hari ini ia mati-matian bersikap biasa saja dengan luka-luka di tubuhnya.
Yuki segera kembali ke kamar masuk ke dalam ruang ganti melepas bajunya. Ia mengoleskan hasil tumbukan tumbuhan herbal di sekujur kulitnya yang membiru, menutupnya dengan perban. Membelit dari perut hingga kedua pundak dan lengannya. Yuki meraih kaos hitam panjang sekaligus dengan celananya. Ia mulai berjalan menuju barak di samping dojo.
Barak yang sepi dan penerangan sederhana karena memanglah gadis itu yang meminta. Sosok laki-laki itu terus mengayunkan pedang kayunya sampai kehadiran Yuki membuatnya berhenti. Ia membalikan badan menatap sepasang mata biru, mereka terdiam cukup lama dengan isi pikiran masing-masing. Pelayan di belakang sana tidak bisa menahan bibir mereka untuk tidak tersenyum.
"Hachibara Yuki desu, yoroshiku onegaishimasu." Ucap Yuki membungkuk sebentar. Jarak yang jauh membuat pelayan-pelayan itu tidak bisa mendengarkan pembicaraan tuan mereka.
"Fumio Eiji, kochira koso yoroshiku onegaishimasu." Balas Fumio membungkuk hormat.
Kita melakukannya seperti orang asing, batin Fumio.
"Sebuah kehormatan bagi saya terpilih untuk mengajari anda berpedang." Fumio menggunakan bahasa formal kepada Yuki, gadis itu mengangguk kecil.
"Maaf untuk keterlambatanku, lain kali saya pastikan tidak akan melakukannya."
Fumio berjalan dengan tenang dan tegas menghampiri Yuki, berhenti di jarak satu meter memberikan pedang di tangannya. Yuki menatap pedang kayu meraihnya dalam genggaman. Fumio menarik tangannya menjauh dan saat itulah Yuki merasakan berat pedang itu.
Ara ra ra ra!, berat. Kau yakin pedang ini terbuat dari kayu bukan dari timah?, komentar Yuki dalam hati.
"Pedang kayu milik dojo cenderung lebih berat dari pedang kayu di luar sana. Coba anda ayunkan." Yuki mengikuti instruksi Fumio.
Tangannya perlahan mengangkat pedang ke atas, otot-ototnya yang masih memar menjerit kesakitan. Fumio menangkap ujung pedang.
"Saya akan mulai mengajari cara mengayunkan pedang dan kuda-kuda kaki." Ujar Fumio. Yuki memberikan pedang itu kembali ke Fumio.
Bohong jika Fumio tidak tahu Yuki sedang menahan sakit di tubuhnya. Meskipun Morioka tidak serius melawan Yuki tetap saja banyak pukulan yang mendarat di tubuh gadis itu yang tidak memiliki pengalaman dengan metode perlindungan bela diri klan.
"Silahkan perhatikan saya." Fumio menunjukkan kuda-kuda yang benar, posisi tangan, cara mengayun, dengan runtut dan rinci.
Yuki sangat memperhatikan. Malam itu Yuki di buat terus mengayunkan kedua tangannya yang saling menyatu, berpura-pura memotong angin kosong.