Futago

Futago
Darah dan Air Mata.



"Keiji kun?." Hajime tersenyum kecil, gadis di belakangnya memang selalu mencari adiknya jika suasana hati atau pikiran gadis itu sedang buruk.


"Aku sudah menghubungi Keiji untuk cepat pulang, dia baru membalas pesanku. Sepertinya dia hampir sampai." Jelas Hajime.


"Ung."


"Kamu lapar?." Hajime mengoper ponselnya ke tangan kanan.


"Tidak."


"Sudah sore, kamu belum makan apa-apa sejak tadi siang. Aku akan memasakkan sesuatu." Yuki menggelengkan kepalanya pelan.


Hajime yang merasakan gelengan kepala Yuki di punggungnya tidak jadi berdiri.


"Masa san?."


"Sedang pergi ke rumah sakit dua menit yang lalu. Katanya dia tidak memiliki nomor dokter pribadimu, jadi memutuskan untuk langsung menjemputnya." Yuki tersenyum tipis.


"Masa san pasti ketakutan melihatku yang tiba-tiba pingsan."


"Ung."


Hening.


Mimpi gelap penuh suara-suara yang ia kenal masih terdengar jelas di telinga Yuki, bagaikan belenggu hitam yang mencekik tubuhnya. Dulu, mimpi kenangan menyakitkan tentang Hotaru kala pergi meninggalkannya terus berputar setiap hari. Sekarang, mimpi aneh yang tak kalah menyakitkan menghantui dirinya.


Yuki tidak mempunyai pilihan lain, seakan-akan opsi hidupnya hanya satu, bertahan. Bertahan dari segala jenis rasa sakit, entah menyerang jiwa maupun raganya. Perlahan gadis itu menggerakkan tangan kirinya ke samping, merambat ke atas tangan kiri Hajime, meletakkannya di sana. Yuki merasakan tubuh pemuda itu terkesiap namun hanya sebentar.


"Yuki." Panggil Hajime khawatir.


Gadis itu tidak menjawab panggilan Hajime, ia menggeser kepalanya menghadap punggung laki-laki itu, menempelkan keningnya. Hembusan nafas dari hidung Yuki membuat Hajime membeku.


"Yuk." Suara Hajime tercekat kala tangan kanan gadis itu bergerak mencengkeram kaos sebelah kanannya.


Jantung berdegup semakin cepat, keringat dingin sudah menetes dari dahinya. Hajime berusaha tenang, sikap Yuki aneh, tidak biasanya gadis itu bertingkah seperti ini.


Suara gadis itu menyadarkan Hajime.


"Jangan menyukaiku." Ucap lembut Yuki. Hajime kehilangan kata-kata.


Yuki mempererat cengkeramannya pada kaos dan meremas kuat tangan besar Hajime.


"Jangan menyukaiku." Ulang Yuki.


Aku tidak ingin orang lain menjadi korban ke dua. Setelah kejadian di kolam renang, aku semakin takut akan ada korban lain seperti kak Dimas, tidak lagi, tidak di depan mataku atau pun orang yang dekat denganku, batin Yuki.


Dewa kematian benar-benar tidak suka jika aku memiliki orang-orang yang tulus di sekitarku, lanjut Yuki tangan kanannya semakin mencengkeram kaos Hajime.


"Aku tidak akan menyukaimu." Suara berat dan tenang itu memberikan Yuki jawaban.


"Berjanjilah." Desak Yuki.


"Hm, aku janji."


Yuki melepas remasan tangannya, berpindah bergerak menjauh.


"Kamu sudah berjanji kepadaku, senpai." Tanpa Yuki tahu pemuda itu mencengkeram erat ponselnya.


Yuki sadar, respon tubuh Hajime mengatakan hal yang sebaliknya, pemuda itu marah, marah kepada Yuki yang seenaknya mempermainkan perasaan laki-laki itu. Tapi semua itu tidak benar!. Tidak benar, Yuki takut kehilangan lagi, ia tidak mungkin bisa melindungi semua orang, karena itu ia selalu memberikan jarak dan batasan. Gadis itu tidak ingin merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya, tidak lagi.


Tubuh Yuki bergetar di balik punggung Hajime, gadis itu sekuat tenaga menahan air mata yang memaksa keluar.


Maaf, aku sudah melukaimu senpai. Maaf, telah membuatmu merasakan sakit. Maaf, aku tidak layak mendapatkanmu yang terlalu baik untukku. Maaf, seharusnya sejak awal aku menjauh. Maaf .., lirih Yuki dalam hati.


Tubuhnya semakin bergetar hebat tatkala gadis itu semakin menahan gejolak di dalam dirinya. Tenggorokannya tercekat sangat menyakitkan, lidahnya kelu, kedua matanya terasa sangat panas, nafasnya memburu.


Hajime yang merasakan tubuh Yuki bergetar langsung meletakkan ponselnya di atas kasur, tangan kanannya mengusap pelan tangan Yuki yang mencengkeram kaosnya.


"Maaf, apa aku melukaimu?." Hampir saja satu tetes cairan bening lolos dari penjaranya jikalau gadis itu tak mendengar suara berat nan tenang itu.


Hotaru, panggil Yuki lemah dalam hati.


Hajime menggagalkan air mata Yuki yang hampir terjatuh.


Laki-laki itu merasakan deru nafas kasar di punggungnya, perlahan cengkeraman pada kaosnya mulai mengendur. Ia tanpa henti mengusap tangan ramping Yuki, membuat sang empu lebih tenang.


Aku tidak tahu kamu serapuh ini, Yuki. Apa yang sebenarnya terjadi?, ada apa denganmu?, kenapa tidak cerita?, banyak orang yang peduli padamu. Teman-temanmu selalu menunggu kamu terbuka kepada mereka. Aku, Keiji, tidak bisakah kamu mempercayai kami?, batin Hajime.


Yuki merasakan ketulusan pemuda itu, Hajime mengkhawatirkannya.


"Apa ini?, kalian sudah pacaran?." Hajime menoleh ke belakang, menatap adiknya yang masih menggunakan seragam sekolah.


Yuki mengatur nafasnya, ia memperbaiki ekspresinya yang berantakan.


"Keiji." Tegur Hajime.


"Apa aniki? (kakak?), apa aku harus pergi sekarang?." Yuki menarik sudut bibirnya, tingkah Keiji selalu membuat sifat jailnya keluar.


Gadis itu menjauhkan kepalanya dari punggung Hajime menoleh menatap jail Keiji.


"Kenapa buru-buru adik ipar, kemarilah." Yuki menekuk kedua kakinya bersila, menepuk kasur di depannya menyuruh Keiji duduk.


"Setidaknya actingmu harus lebih meyakinkan Hachibara san." Sanggah Keiji tapi ia tetap melakukan apa yang diminta gadis itu, duduk di hadapan Yuki.


"Ara?, apa aku kurang meyakinkan?." Yuki berpura-pura terkejut menarik tangan kanannya menjauh di gantikan oleh tangan kirinya yang meraih tangan besar itu, mengaitkan jari-jarinya dengan jari-jari besar Hajime.


"Bagaimana kalau begini?, apa sudah meyakinkan?." Tanya Yuki mengangkat tangan mereka ke depan wajah Keiji.


"Tidak, aku tidak akan merestui kalian." Yuki tertawa mendengar jawaban ketus Keiji, tangannya yang bebas bermain di pipi anak itu.


"Kenapa mencari restumu sulit sekali hm?, kalau begitu bagaimana kalau dengan paman Yuuki?." Ledek Yuki menurunkan tangannya tanpa melepas tautan mereka.


Hajime hanya diam, memperhatikan perdebatan adik dan tetangganya, sesekali ia melirik tangan mereka yang masih menyatu.


Janji yang sangat sulit, batin Hajime.


"Kenapa kamu begitu menentangku adik ipar?." Keiji menekuk wajahnya.


"Berhenti memanggilku seperti itu. Aku tidak ingin memiliki kakak ipar jail sepertimu." Sergah Keiji membuat Yuki semakin tertawa.


"Hahaha, hai hai (ya ya). Aku akan mengabulkan permintaanmu." Balas Yuki.


"Eh?!." Keiji terkejut.


"Hm ..?." Yuki menaikan satu alisnya.


"Kamu setuju begitu saja?, seharusnya kamu memperjuangkan aniki Hachibara san." Yuki menutup rapat bibirnya, dan mencubit pipi Keiji gemas.


"Kamu maunya apa sih Keiji kun ..?. Jadi ingin menggigit pipimu." Geram Yuki.


"Apa?!, tidak. Kamu gila Hachibara san, mau jadi kanibal ya." Keiji menahan tangan Yuki yang mencubitnya semakin keras.


Deg!.


Deg!.


Deg!.


Hajime yang pertama kali sadar akan tatapan Yuki yang berubah kosong. Tangannya meremas pelan tangan gadis itu.


"Yuki." Panggilnya. Keiji pun sama, ia terkejut melihat tetangganya yang tiba-tiba diam menatapnya kosong.


"Hachi bara san?." Lirih Keiji.


Hajime mengelus lembut punggung tangan Yuki dengan ibu jarinya.


"Yuki, kamu mendengar kami?." Gadis itu tidak menjawab melainkan langsung menarik Keiji dan dirinya keluar dari kamar.


"Hachibara san apa yang terjadi?." Yuki masih tidak menjawab ia menuruni tangga sangat cepat.


"Yuki, ada apa denganmu?." Hajime sedikit menekan suaranya, ia khawatir. Gadis itu sedang dirumah sendirian dan wajahnya masih pucat, apalagi sepertinya mereka ditarik ke pintu depan.


Benar dugaan Hajime, Yuki mengusir mereka tiba-tiba. Yuki melepas tautannya dengan Hajime membuka pintu depan lalu mendorong pelan punggung pemuda itu keluar, Yuki juga menarik pelan tangan Keiji untuk keluar.


"Maaf, aku baru ingat ada sesuatu yang harus aku lakukan. Terima kasih sudah membantu dan menjagaku, senpai. Keiji kun, terima kasih sudah menjengukku aku akan main kerumah besok." Ujar Yuki menarik tubuhnya ke dalam rumah namun Keiji membalas gadis itu.


Grep.


Anak itu tidak melepaskan tangan Yuki, menggenggamnya erat-erat.


"Ung, katakan pada kami, mungkin kami bisa membantu. Setidaknya sampai Masamune san kembali bersama dokter." Kakak beradik itu terlihat tidak akan melepaskan Yuki begitu saja.


Aku tidak punya waktu lagi, aku sudah tidak kuat menahannya. Apa boleh buat, batin Yuki mengambil keputusan.


Yuki menarik tangannya yang Keiji genggam dengan sisa tenaga yang ia punya, menjijit dan sedikit mendongakkan kepala.


Cup.


Kecupan di pipi membuat Keiji terkejut dan melepaskan tangan Yuki. Gadis itu langsung menatap lurus manik Hajime.


"Pulang ya. Aku baik-baik saja." Kata Yuki beralih mengacak-acak rambut Keiji.


"Anak baik. Terima kasih." Ucapnya dan langsung menutup pintu, menguncinya dari dalam.


"Aniki, aku tidak percaya Hachibara san baik-baik saja." Lirih Keiji. Hajime hanya diam menatap pintu silver di depannya.


Di sisi lain pintu, Yuki mencengkeram kenop pintu sangat kuat hingga menyakiti tangannya sendiri. Tenaga di kakinya hilang, menghasilkan suara debuman keras kala tubuhnya jatuh ke lantai.


Dar. Dar. Dar. Dar.


"Yuki!, apa yang terjadi di dalam?."


"Hachibara san!. Buka pintunya."


Yuki mengabaikan suara gaduh di luar pintu ia merangkak menggunakan kedua tangannya untuk menyeret tubuhnya.


Tes. Tes. Tes. Tes.


Darah dari hidung turun ke lantai membuat sebuah garis merah panjang karena gesekan baju.


"UHUK!." Yuki menarik nafas panjang.


"Mi chan." Lirihnya meringkuk kesakitan.


Tubuh gadis itu menegang, tangannya bergerak-gerak menarik rambut hitamnya.


"Da za .., i ..." Ucap Yuki putus-putus. Jari-jari kakinya mencengkeram lantai.


"Uhuk!, uhuk!, uhuk!." Darah menggenang di lantai, Yuki berusaha tidak menggigit bibirnya, mempertahankan kesadarannya sampai Mizutani atau Dazai sampai.


Rumahnya tidak memiliki peredam suara, sudah di pastikan teriakannya akan sampai ke pertigaan jalan di depan sana. Tangan itu semakin menarik kuat rambut hitam yang sudah terkena noda darah. Bak air mancur, darah terus keluar dari hidung dan mulut Yuki.


Sebuah mobil berhenti di depan rumah sederhana itu. Seorang wanita dan pria keluar dari dalam mobil menatap bingung kedua pemuda yang menggedor-gedor pintu.


"Hajime, ada apa?." Tanya Masamune. Kedua pemuda itu menoleh ke belakang, wajah mereka terlihat sangat khawatir.


"Yuki, mengunci pintu dari dalam. Suara benturan keras, dan." Seketika itu mereka mendengar erangan kesakitan cukup keras dari dalam rumah.


Dazai melebarkan matanya meminta kunci rumah dari wanita itu. Lalu menarik pelan Masamune ke dalam mobil memintanya pergi ke supermarket membeli bahan makanan yang sulit-sulit, untuk makan malam mereka nanti. Masamune menolak, suara erangan dan rintihan dari dalam rumah terus terdengar membuat Masamune takut terjadi sesuatu yang buruk dengan gadis bermanik biru di dalam sana.


"Masamune san!." Perhatian Masamune beralih menatap Dazai.


Wajah pria itu sangat fokus menatapnya dan manik itu sangat tegas menatap maniknya mengunci seluruh perhatian Masamune.


"Saya mohon pengertiannya Masamune san, saya harap anda bisa bekerja sama. Masalah ojou chan serahkan saja kepada saya." Suara Dazai seakan menyihir Masamune sehingga wanita itu mau pergi menuruti perintah pria itu.


Dazai berjalan menghampiri dua pemuda yang pernah ia temui, kedua tangannya menepuk pundak kakak beradik itu.


"Terima kasih, sekarang biarkan aku yang menanganinya. Kalian pulanglah." Keiji bersikukuh tidak mau pergi dari sana.


Ciiiittt.


Brak!.


Suara rem dan pintu mobil tertutup sangat kasar. Mizutani berjalan cepat menghampiri Dazai.


"Dazai!, kenapa belum masuk?." Sergah pria itu. Dazai membalikkan tubuh kakak beradik itu menghadap Mizutani.


"Kedua anak ini bersikeras tidak mau pergi." Mizutani menatap tegas manik Hajime.


"Yuuki. Pulanglah." Keiji maju selangkah menolak pergi.


"Hachibara san di dalam sana sedang kesakitan bagaimana kami bisa pulang!." Sergah anak itu. Mizutani menatap tajam Keiji.


"Jika kau ingin Yuki segera diobati pulanglah. Sekarang." Keiji menekuk wajahnya tidak setuju.


Puk. Hajime menepuk pundak adiknya.


"Kita pulang Keiji." Keiji menatap kakaknya tidak percaya. Mereka kembali terdiam saat suara erangan keras menyayat telinga dan hati mereka.


Yuki!,


Hachibara san, batin kakak beradik itu.


"Maafkan kami pelatih, kami akan pulang sekarang." Ucap Hajime menunduk sopan, tangannya mendorong kepala Keiji agar melakukan hal yang sama. Mereka berjalan kembali ke rumah, menatap lantai dua rumah di sebelah mereka. Bahkan ketika kedua saudara itu masuk ke kamar masing-masing suara erangan dan teriakan Yuki masih sangat jelas terdengar.


Ceklek.


Brak!.


Ceklek.


Kedua bayangan itu disuguhkan dengan pemandangan garis darah yang mengotori lantai, mereka berlari mengikuti jejak darah itu menemukan tubuh Yuki di belakang sofa.


"Ojou chan!."


"Yuki."


Mizutani melepas dasinya berlutut di samping gadis itu di ikuti oleh Dazai.


"Tunggu." Dazai menahan tangan Mizutani yang hendak memasukkan dasinya diantara gigi Yuki. Sebelum Mizutani bertanya Dazai membersihkan mulut Yuki yang penuh dengan darah.


"Lakukan."


Mizutani meraup tubuh Yuki menyandarkannya di dada kiri pria itu, agar darah yang keluar tidak kembali masuk ke dalam mulut. Mizutani mendekatkan tangannya ke mulut Yuki, Dazai menahan kedua tangan Yuki agar tidak menarik-narik rambutnya.


"Aaarrrggghh ..!."


"Tsubaki apa yang kau lakukan?. Cepat!." Teriak Dazai melihat Mizutani membeku menatap Yuki.


Dasar bodoh!, apa kau ingin polisi datang ke sini dan mengira kita sedang menganiaya orang, geram Dazai.


"Dazai, lihat." Lirih Mizutani.


"Apa!." Dazai menatap sarkas Mizutani, ia kaget. Mizutani memasang ekspresi sendu di wajahnya, lalu ia menggeser maniknya ke bawah.


Bibir merah itu tersenyum dengan darah yang terus keluar tanpa terbatuk, tubuh Dazai menegang. Tangannya menggenggam erat tangan kecil itu.


"Ojou chan, katakan sesuatu kumohon." Dazai menangis, menarik tangan Yuki ke dekat mulutnya.


Dazai tahu artinya, dia sangat tahu. Semua yang pernah melihat hukuman pasti tahu apa yang sedang terjadi.


"Kumohon jangan menyerah. Ojou chan, jangan tinggalkan kami." Tangis Dazai semakin menjadi-jadi.


"Kami mohon bertahanlah, teriaklah, ojou chan .., ojou chan. Kami sudah ada di sini, anda tidak sendirian lagi, kumohon ... Bicaralah ..."


Cup!. Cup!.


Dazai mencium kedua tangan Yuki yang berada di dalam genggamannya.


"Katakan sesuatu ... Jangan menyerah, aku akan melakukan apa pun untukmu, aku sangat memohon kepadamu, bertahanlah. Ojou chan," Dazai tidak bisa berkata apa-apa lagi ia sibuk menangis menunduk dan menciumi tangan Yuki.


"Maaf, aku terlambat. Tolong maafkan pelindung tidak berguna ini. Kumohon jangan menyerah, Ojou san ..." Bisik Mizutani menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya roboh seketika.


Aku bersumpah akan menghancurkan siapa pun yang membuatmu seperti ini, batin Dazai.


Tetaplah bersama kami, jangan menyerah, ojou san. Anda adalah alasan hidup kami, kumohon, bertahanlah, batin Mizutani.


Tes. Tes. Tes.


Darah dan air mata terus mengalir terpisah, gadis itu tak bergerak sedikit pun.


"Tsubaki ... Apa yang harus kita lakukan, Tsubaki?. Ojou sama kita ..." Suara Dazai bergetar hebat.


Aku akan membalas dendam kepadanya, bahkan jika aku harus meninggalkan klan, sumpah Mizutani terukir di dalam relung hatinya.