
Setelah istirahat lumayan panjang, Mizutani mengadakan briefing di lapangan in door. Ia menjelaskan kemenangan yang di dapatkan oleh tim A, dan lain-lain. Yuki berharap briefing cepat selesai, ia ingin segera pulang.
"Dan saya mendengar bahwa tim B yang hampir kalah mendapatkan arahan tepat dari manajer." Yuki dengan malas tetap mendengarkan.
"Karena kekurangan pembimbing, tim B menjadi korban sering tidak terdampingi, tidak ada yang mewakili menjadi pelatih untuk memberikan arahan." Hening, semua orang masih mendengarkan.
"Saya menunjuk Yuki, menitipkan tim B kepadanya." Sontak semua orang menatap gadis itu.
Menitipkan?, aku bukan penitipan barang!, geram Yuki dalam hati, ia tetap tenang meski dalam hati sudah kesal.
"Maaf pelatih, saya menolak." Semua orang tertegun dengan jawaban Yuki.
Pelatih adalah orang yang sangat profesional, ia tidak mudah mengakui kemampuan orang lain apalagi ini pelatih sendiri yang mempercayakan timnya berarti orang itu sudah diakui kemampuannya oleh pelatih.
Apa Mi chan sedang membalas dendam karena sikapku minggu lalu. Aku tidak ada waktu untuk terjerat dengan kegiatan klub ini, banyak yang harus aku kerjakan, batin Yuki.
"Baik, akan saya bicarakan lagi nanti. Untuk hari ini sudah cukup." Penutupan Mizutani, ia berjalan keluar lebih dulu.
"Yuki!." Panggil Mizutani dari ambang pintu.
"Saya tunggu diruangan saya."
Apa lagi maunya, batin Yuki.
Beberapa menit setelah briefing Yuki berjalan meninggalkan loker, ia tidak akan menuruti Mizutani, ada urusan yang lebih penting menunggunya di rumah.
"Mau kabur lagi tuan putri." Yuki menghentikan langkahnya.
"Ung." Jawab Yuki, ia tidak ingin bicara dengan siapa pun.
"Mau aku antar ke ruangan pelatih?." Tawar Kudo.
"Aku sudah menjawabmu tadi." Ucap Yuki datar.
"Berhenti bertingkah seperti anak kecil yang suka kabur." Yuki tersenyum miring.
"Ya, kamu benar. Akan aku hadapi dia." Jawab Yuki seakan lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri.
Yuki mengganti arahnya berjalan menuju ruangan Mizutani. Ia mengetuk pintu sebelum masuk, hanya ada Mizutani di sana.
"Aku sudah menolak tadi, dan keputusanku tidak bisa di rubah." Kata Yuki tegas.
"Duduk dulu." Titah Mizutani. Yuki menurut, ia duduk di sofa di hadapan Mizutani.
"Aku memang terlalu meminta banyak kepadamu, aku ingin kamu mengerti, dengan kamu selalu berada di jarak pengawasanku tugasku akan lebih mudah." Yuki menaikan satu alisnya. Mizutani menatap manik biru Yuki dengan tenang.
"Nenek dan ayahmu menitipkanmu padaku, kamu tidak lupa itu kan." Tambah Mizutani.
"Aku juga sudah mengatakannya kepadamu kemarin." Yuki membalas tatapan Mizutani tidak kalah tenang.
"Di luar sekolah kamu bukan siapa-siapaku. Aku bukanlah narapidana yang harus diawasi dua puluh empat jam." Kesunyian yang tenang melingkupi ruangan itu.
"Kamu salah, aku memang wali di sekolah tapi nenek dan ayahmu menitipkanmu selama berada di jepang, aku punya hak atas dirimu." Isi kepala Yuki bekerja dengan cepat, tanpa melepas pandangannya dari manik Mizutani.
Yuki menyempurnakan duduknya sesuatu yang asing atau biasa ia anggap naluri dirinya, benar. Naluri, itu lah jawabannya, seru Yuki di dalam pikirannya.
Sesuatu yang akhir-akhir ini membuatnya stres, bukan kepribadian ganda yang ada di dalam tubuhnya tapi NALURI!. Seperti seekor singa yang memimpin kawanannya, menjaga wilayahnya dari hewan lain, naluri memburu sang penguasa, tanpa sadar Yuki menarik sudut bibirnya ke atas menampakkan senyum miring yang jarang ia lakukan.
Perlahan Mizutani ikut menyempurnakan cara duduknya, wajah pria itu tetap memandang lurus ke depan namun matanya menatap meja yang menjadi penghalang diantara mereka berdua. Pemandangan itu tidak luput dari mata elang Yuki. Yuki kini melebarkan senyumnya.
"Berhenti berpura-pura Mi chan, siapa dirimu sebenarnya?, apa kamu kenal dengan kakek." Mizutani tidak bisa melawan aura yang keluar dari Yuki.
"Aku adalah walimu, nenek dan ayahmu hanya menitipkanmu kepadaku." Jawab Mizutani dengan tenang.
"Orang asing tidak akan langsung bereaksi dengan perubahan posisi duduk seperti ini, siapa pun kamu katakan ini kepada nenek." Yuki menatap Mizutani lekat-lekat.
"Berhenti untuk membodohiku, karena aku tidak akan membiarkannya kali ini." Ucap Yuki lalu berdiri berjalan menuju pintu.
"Satu lagi." Yuki menoleh, kembali menatap Mizutani yang masih setia dengan posisinya.
"Berikan aku komputer jika kamu masih ingin aku menangani tim B." Setelah mengatakan itu Yuki membuka pintu ruangan melangkah meninggalkan Mizutani di dalam.
Yuki berjalan menuruni tangga melewati kamar-kamar asrama para pemain. Sepi, mungkin karena sudah jam makan malam semua orang berada di kantin. Yuki berhenti sebentar, mendongak ke atas menatap langit malam. Hanya ada tiga bintang malam ini.
Aku merindukanmu, ucap Yuki dalam hati.
"Apa kalian bersitegang lagi?." Yuki menurunkan pandangannya.
"Tidak." Jawab Yuki menghampiri Hajime yang berdiri di pagar tinggi.
"Kamu berhasil menolak pelatih?." Hajime tidak bisa melepaskan pandangannya dari sosok perempuan yang berjalan anggun menghampirinya.
Kulit putih pucat yang seakan bercahaya terkena sinar bulan, warna bola matanya biru memancarkan kelembutan di malam hari, bibir menawan dan seksi yang bergerak, suara merdu yang mengalun keluar dari mulutnya.
"Aku memberikan pilihan kepada Mi chan. Jangan menungguku lagi, aku berani pulang sendiri senpai." Hajime tersadar dari lamunan, Yuki sudah berhenti tepat di hadapannya.
"Rumah kita searah, hanya menunggu sebentar. Berbahaya anak perempuan berjalan sendirian di malam hari." Jawab Hajime jujur. Yuki mengikuti Hajime berjalan di samping laki-laki itu.
"Nana senpai lebih berbahaya, dia pulang sendirian ke stasiun belum lagi di kereta dia tidak mengenal siapa pun." Ujar Yuki mengingat senior anggunnya.
"Nana sudah ada yang mengantar." Ucap Hajime.
"Hmm, pacarnya?." Celetuk Yuki entah kenapa ia penasaran, siapa laki-laki yang beruntung mendapatkan senior anggun dan dewasa sepertinya.
"Belum, sebentar lagi mungkin."
"Aku tebak dia juga anggota baseball." Hajime mengangguk kecil.
"Siapa?." Tanya Yuki.
"Siapa menurutmu." Yuki memutar bola matanya.
"Mana aku tahu, aku tidak menghafal mereka semua." Sergah Yuki.
"Mau mengenal mereka?." Tawar Hajime, Yuki menatap ke depan.
"Tidak." Seperti ini saja sudah membuatku pusing, tambah Yuki dalam hati.
"Pantas saja banyak laki-laki yang tertolak." Yuki menaikan satu alisnya.
"Senpai tahu dari mana?."
"Semua orang juga tahu. Mereka,"
"Berhenti, jangan membahasnya lagi." Srobot Yuki menghentikan kalimat yang akan Hajime katakan.
Malam sebelum Yuki tertidur, ia mempersiapkan segala barang-barang untuk penyamarannya besok. Sesuatu yang baru di ingatnya saat berbicara dengan Jun Ho membuat Yuki menghampiri lemari.
Yuki membuka lemari mengeluarkan kopernya, ia membuka koper mengambil kotak cukup besar dari sana membawanya ke meja belajar.
Sreek. Tuk. Tuk. Cetak.
Kunci kotak tiba-tiba berputar sendiri setelah Yuki menggeser-geser permukaan samping kotak, simbol yang hanya diketahui olehnya. Kotak terbuka perlahan membiarkan pemiliknya melihat isi di dalam sana.
Yuki mengambil selembar foto satu-satunya yang ia miliki, bahkan foto anggota keluarganya yang lain Yuki tidak punya, hanya selembar foto itu. Yuki mengusap permukaan foto mengingat sosok sang kakek.
"Apa sekarang aku sudah berdiri di garis start lagi kek?, apa kamu mau memberitahuku ada apa di depan sana?, mungkin sekedar informasi tidak penting pun tak masalah. Aku benar-benar tidak tahu apa pun, tidak bisa menebak sesuatu di depan sana, aku benci ketidaktahuan, aku benci saat tidak bisa menebak apa pun, aku benci kekosongan otakku." Lirih Yuki. Ia mulai ragu.
"Karena itu membuatku berpikir tidak masalah jika aku hidup seperti ini. Menjalani hidup seperti orang pada umumnya, tapi logikaku berkata lain." Yuki masih menatap wajah kakeknya.
"Hidup tidak semudah itu, ada harga yang harus di bayar untuk sebuah kehidupan." Yuki melirik kotak berukuran sedang yang tergeletak di dalam kotak.
"Setidaknya berikan aku petunjuk untuk membuka kotak yang kamu tinggalkan." Yuki meletakan foto kakeknya dengan hati-hati, ia beralih ke barang-barang yang sempat diambilnya dari ruang rahasia di indonesia bersama tiga bola yang ia berikan kepada Fathur sebelum ia pergi.
Sebuah bolpoin yang sebenarnya adalah pisau kecil, beberapa jarum hasil penelitiannya, sebuah jam tangan dan bola kecil seperti bola ping pong. Yuki mengambil jam tangan lalu memasangnya.
Menyentuhkan ibu jari lalu jari manis dan terakhir jari tengahnya, tiga sidik jari untuk mengaktifkan jam tangan berwarna silver itu. Simbol-simbol aneh muncul dan berputar-putar di permukaan jam tangan, seperti puzzle, Yuki menyatukan satu persatu simbol dengan tepat.
Bipbip!.
Jam tangan itu menimbulkan suara kecil di susul tampilannya yang berubah seperti jam pada umumnya.
"Je ..." Panggil Yuki.
Ddrrrttt ...
POP!.
Bola berukuran bola ping pong itu bergetar di dalam kotak dan mengeluarkan bunyi pop yang nyaring merespon jam tangan dan suara penciptanya. Satu titik cahaya kecil sangat kecil muncul dari dalam bola, bola itu terbang melayang-layang di depan wajah Yuki.
"Hahaha .., sudah lama aku tidak mendengar nama itu." Jawab Yuki tertawa getir.
"Aku ingin mengganti datanya merubah Eva menjadi Yuki." Ucap Yuki mendorong-dorong kecil bola yang melayang-layang itu.
"Tentu." Jawab Je yang melayang kembali ke depan jari Yuki.
"Tidak bisa sekarang Je." Balas Yuki, senyumnya mengembang. Hanya bertemu dengan benda ciptaannya saja bisa membuat Yuki sebahagia ini.
"Aku merindukanmu Je." Ucap Yuki jujur, ia merindukan ruang rahasianya.
"Tentu." Jawab Je si bola, sekarang.
"Hahaha, untung aku sempat membuatmu. Aku tidak tahu jika kamu akan aku gunakan seperti sekarang. Kamu adalah koleksi harta karunku." Yuki menatap lembut Je.
"Terima kasih." Yuki kembali tertawa karena jawaban bola melayangnya.
"Je berubah jadi lebah." Titah Yuki.
"Di konfirmasi."
Zzzzzzzzz.
Garis-garis muncul di seluruh permukaan bola, retakan sedikit demi sedikit memenuhi bola.
Krak.
Dzzzzzz.
Bola itu terbuka membentuk mahluk yang Yuki minta lengkap dengan mata dan dua antena di kepala.
Sempurna, batin Yuki. Ia menjulurkan jari telunjuknya membiarkan lebah jadi-jadian itu hinggap di sana.
"Apa kamu ingin bentuk lain Je?." Tanya Yuki.
"Hmm, bagaimana dengan sesuatu yang imut, apa aku menyimpan data perubahan itu?." Yuki mengetuk jam tangan di sisi-sisi tertentu beberapa kali, permukaan jam kembali berubah.
"Je tampilkan model."
"Di konfirmasi."
Beberapa detik kemudian data-data model Je duplikat yang pernah Yuki input muncul di hadapan Yuki, seperti hologram Je mengeluarkan sinar dari satu titik cahaya di dahinya menunjukan sebuah tampilan.
Yuki berpikir sebentar, ia tertarik dengan model burung hantu dengan mata bulat dan hidung kecil.
Lucu, batin Yuki.
"Je, burung hantu lebih cocok untukmu." Ujar Yuki.
"Ganti model."
"Baik, model baru di konfirmasi."
Dan Je si lebah melakukan proses pergantian bentuk, bertransformasi menjadi seekor burung hantu mini.
"Sayangnya kamu tidak bisa membuka sayapmu." Gumam Yuki, ia belum sempat melakukan percobaan-percobaan yang lain. Yuki mengetuk jam tangannya lagi merubah tampilan semula.
Yuki mengambil kotak mulus tanpa gembok maupun tempat kunci dengan ukiran aneh dan sebuah pesan misterius berada di bagian bawah peti. Yuki menatap ukiran burung elang di sisi kiri kotak yang terpisah dengan sayapnya, sedangkan ukiran sepasang sayap berada di sisi kanan kotak.
"Bagaimana caranya mereka bisa bersatu?. Elang, eagle, Hotaru." Yuki menemukan sesuatu, kenapa ia melupakan keberadaan kotak ini saat Hotaru masih bersamanya. Yuki kembali mengingat tato di pangkal lengan kanan saudara kembarnya.
Tiga gambar dan sebuah sandi. Tidak mungkin kakek menggunakan sandi caesar untuk kedua kalinya, sandi itu sudah digunakan untuk tato milikku, jadi punya Hotaru pasti sandi yang lain, pikir Yuki.
Apa maksud dari gambar jangkar, salju, dan .., apa yang aku lihat saat itu?, sebuah alat musik?, ucap Yuki dalam hati.
Cetik. Yuki membunyikan jarinya mengingat sesuatu. Aku harus kesana besok, batin Yuki lalu merapihkan lagi semua barang-barangnya.
"Je, waktunya tidur." Ucap Yuki mengusap pelan kepala burung hantu itu.
"Baik."
"Off." Ucap Yuki.
Puk!.
Sinar dari dalam tubuh Je si burung hantu tiba-tiba padam, Je si burung hantu terjatuh di telapak tangan Yuki. Yuki menyimpannya di meja belajar di dekat foto kakeknya, ia berjalan menuju ranjang menghempaskan tubuhnya ke sana.
***
Pagi-pagi sekali Yuki buru-buru keluar dari rumahnya, mengambil langkah seribu menuju sekolah.
"Ouh! Keiji kun." Yuki terkejut ia hampir saja menabrak anak laki-laki itu.
"Masih pag," Yuki langsung mendaratkan tangannya di kedua pipi Keiji menghentikan apa yang akan di katakan anak itu.
"Ohayou ... Keiji kun." Sapa Yuki dengan senyum di wajahnya. Keiji bergeming, sepertinya perempuan di hadapannya ini sudah lebih baik seperti yang dikatakan oleh kakaknya.
"Hachibara san, lepas." Protes Keiji berusaha menjauhkan wajahnya.
"Tidak bisa, tanganku sudah lengket dengan pipimu." Keiji kesal tapi ia tidak bisa melakukan apa pun kecuali, pasrah.
"Mau latihan pagi?." Tanya Yuki jarinya masih bermain di pipi Keiji.
"Hm."
"Anak pintar ..." Ucap Yuki menepuk-nepuk pipi Keiji lalu menurunkan tangannya.
"Aku berangkat dulu, sampai nanti." Pamit Yuki lalu berjalan melewati Keiji. Keiji menoleh menatap punggung Yuki yang menjauh.
"Yuki?." Tanya Hajime menutup pintu rumahnya.
"Hm." Gumam Keiji masih menatap punggung Yuki yang sudah berbelok ke tikungan.
"Tumben dia berangkat sepagi ini, apa dia masih menghindari para siswa laki-laki." Kata Hajime berjalan menghampiri adiknya.
"Sepertinya menyusahkan hidup dengan wajah seperti itu." Celetuk Keiji membuat Hajime meliriknya tidak percaya.
"Kamu sudah mulai puber Keiji." Kalimat yang terlontar dari Hajime membuat adiknya diam cemberut.
"Sebentar lagi umurku lima belas tahun." Gerutunya berjalan meninggalkan Hajime.
"Dia sudah besar." Gumam Hajime menatap adiknya yang sudah pergi.
***
Sudah tiga kali lebih Yuki mengetuk pintu tapi masih tidak ada jawaban, ia mengulanginya lagi namun nihil, alhasil Yuki masuk begitu saja.
Ruangan yang tidak sengaja ia masuki minggu lalu, matanya tidak sengaja menangkap satu benda yang belum pernah Yuki lihat, tapi kini benda itu ada tujuh. Yuki mendekat, mengamati setiap incinya.
Benda ini sama dengan salah satu gambar di tato Hotaru, aku sangat yakin, batin Yuki.
"Siapa?." Yuki segera menoleh ke sumber suara. Laki-laki yang pernah menolongnya kabur dari Mizutani sedang berdiri di ambang pintu.
"Ohayou gozaimasu (Selamat pagi)." Sapa Yuki sopan tidak lupa sedikit menunduk.
"Hobi burukmu yang masuk ke dalam ruangan orang tanpa permisi lebih baik segera di hilangkan." Ujar Laki-laki itu meletakan tasnya di atas meja.
"Maaf, aku sudah mengetuk berkali-kali tapi tidak ada jawaban dan, memutuskan masuk tanpa ijin." Ucap Yuki mengakui ketidak sopanannya.
"Apa kamu ingin memanjat jendela lagi?." Tanya Ishikawa.
"Tidak, aku datang karena benda ini." Yuki kembali menatap benda panjang dengan banyak senar itu.
"Namanya koto, apa kamu tidak pernah melihatnya?." Banyak alat musik yang Yuki pelajari tapi yang satu ini ia belum pernah melihatnya.
"Tidak." Jawab Yuki.
"Itu adalah alat musik tradisional jepang sekaligus instrumen nasional jepang." Ishikawa tiba-tiba memberikan pelajaran tentang alat musik koto kepada Yuki.
"Kamu orang luar pantas jika tidak tahu tentang koto." Ishikawa mendekati salah satu koto.
"Tidak. Aku warga negara asli jepang, ayah biologisku berkewarga negaraan amerika." Yuki membantah pernyataan Ishikawa.
"Aku bisa melihatnya."
"Mau mendengarnya." Tawar Ishikawa. Yuki menoleh sebentar lalu kembali menatap alat musik panjang itu.
"Satu bulan lagi, klub kami akan melakukan pertunjukan di aula sekolah."