Futago

Futago
Menikmati Masa Sma.



Tepat di depan keramaian itu langkah kakinya terhenti, maniknya bergerak menatap wajah penuh tanya.


"Boleh makan permen sebentar?, aku sedikit merasa gugup." Ujar Yuki.


"Ung." Hajime melepaskan tangan mereka menunggu Yuki memasukan pil ke dalam mulutnya.


"Tinggal satu, maaf senpai tidak kebagian." Hajime tersenyum kembali meraih tangan Yuki. Gadis itu hanya menatap punggung Hajime dalam diam.


Maniknya menjelajahi setiap sudut keramaian seraya menerima serbuan ingatan yang mirip dengan situasi sekarang. Manik Yuki berbinar kala melihat stan-stan makanan yang ramai dengan suara pedagang yang berteriak ceria menyapa para pelanggannya. Yuki melihat balita berusia tiga tahun menggunakan yukata pink lengkap dengan jepit rambut berwarna senada membuat balita itu terlihat sangat lucu menggemaskan, apalagi kedua pipi putih gembul dan manik bulatnya namun yang menarik perhatian Yuki adalah stik panjang yang ujungnya bulat berwarna merah. Balita itu tertawa-tawa sambil menjilati bulatan merah yang ujungnya terbuka bak kelopak bunga. Yuki menelan salivanya.


"Kamu mau?." Yuki sontak menoleh menatap Hajime dengan puppy eyesnya. Tanpa banyak bicara, ciri khas pemuda itu, Hajime membawa Yuki ke stan ringo ame (apple candy / permen apel). Hajime memesan satu kepada penjual, Yuki langsung menarik tangan Hajime membuat laki-laki itu menatapnya lalu menggeleng pelan.


"Hitotsu kudasai (Tolong permennya satu)." Ulang Hajime kepada pelanggan.


"Futatsu onegaishimasu. (Dua)." Srobot Yuki sopan.


"Sumimasen, hitotsu kudasai. (Maaf, permennya satu)." Yuki menggembungkan pipinya beralih menatap penjual.


"Futatsu (Dua)." Kekeh Yuki. Hajime menunduk, Yuki langsung membuang wajahnya kesamping.


"Gigimu bakal berlubang." Celetuk Hajime.


"Tidak akan, aku rajin gosok gigi." Jawab Yuki masih membuang wajahnya.


"Yuki." Panggil Hajime namun gadis itu malah melepaskan tangannya berbalik membelakangi Hajime.


"Ano ...?. Anak muda, pacarmu ngambek itu." Penjual yang tidak muda lagi itu menunjuk Yuki.


"Sebenarnya dia jarang ngambek. Tolong permennya satu." Yuki yang mendengar kalimat terakhir Hajime menyilangkan lengannya di depan dada, merasa kesal.


"Pacarmu sangat cantik, sejak kalian masuk dari pintu kuil banyak sekali pria yang menatapnya. Ini, jaga pacarmu dari tangan-tangan liar." Ucap penjual, Hajime mengulurkan uang tiba-tiba si penjual mencondongkan tubuhnya, Hajime pun ikut mencondongkan tubuhnya ke depan membiarkan penjual itu membisikan sesuatu.


"Bonus dariku untuk mata indah pacarmu. Semoga kalian langgeng." Bisik si penjual memberikan dua permen kepada Hajime.


"Terima kasih, tapi dia bukan pacarku." Balas Hajime menerima permen itu.


"Oh, kalau begitu semoga kalian cepat menjadi sepasang kekasih." Penjual itu tersenyum menyemangati Hajime.


"Terima kasih." Hajime membungkuk sekilas lalu berbalik mendapati yukata merah itu sudah tidak berada di tempatnya.


Hajime langsung mengedarkan pandangan mencari Yuki, begitu juga dengan si penjual namun hanya sebentar karena ada pelanggan lain yang datang.


Pemuda itu menemukan Yuki berdiri di depan stan takoyaki yang tak jauh dari tempatnya. Ia menghembuskan nafas lega menghampiri gadis itu.


Sret.


Hajime melirik datar ke belakang, memberikan peringatan kepada seorang pria yang hendak menyentuh pinggang Yuki. Pria itu mendengus kesal karena bukannya menyentuh pinggang ramping itu malah tangannya nyasar menyentuh lengan berotot Hajime, pergi membawa kegagalan.


Yuki yang sudah mendapatkan makanannya merasakan Hajime berdiri di belakangnya, ia melangkah ke stan sebelah menghiraukan pemuda itu. Crepes rasa coklat yang penuh buah strawberry, tanpa pikir panjang Yuki membeli ukuran besar.


"Masih marah?." Bisik Hajime di samping telinga Yuki seraya mengulurkan kedua tangannya ke depan dari masing-masing sisi tubuh gadis itu.


"Tidak." Jawab cepat Yuki mengambil kedua permen apelnya dari tangan Hajime.


"Agh, sayang kamu sudah punya pacar. Baru saja aku mau mengajakmu datting." Yuki menerima crepesnya.


"Terima kasih." Jawab Yuki membayar makanannya tanpa meladeni penjual muda itu.


Tangan penuh, hati gembira, menikmati berbagai rasa di dalam mulutnya Yuki dan Hajime berjalan semakin dalam ke kuil. Lampu-lampu kecil hingga lampion-lampion mulai menyala menghiasi malam ramai itu.


"Duduk dulu." Ujar Hajime menemukan bangku panjang yang diduduki oleh satu orang.


Hajime memperhatikan Yuki makan, membiarkan gadis itu mengotori sudut-sudut bibirnya. Sesekali ia juga ikut menikmati jajanan festival. Malam itu mereka menjadi pusat perhatian, belum ada gadis jepang yang memiliki warna mata sebiru langit dan lautan. Meski gadis itu makannya belepotan namun tetap terlihat anggun dan menawan.


"Sudah?." Tanya Hajime memberikan sapu tangannya kepada Yuki.


"Terima kasih." Yuki membersihkan sudut-sudut bibirnya yang tak terjangkau oleh lidahnya dengan sapu tangan Hajime.


"Kembang apinya masih lama?." Yuki mengeluarkan pilnya tanpa sepengetahuan Hajime. Menggigit pil itu.


"Sebentar lagi."


"Di sebelah mana mereka menyalakannya?." Yuki membereskan semua sampahnya.


"Di depan sana." Gadis itu beranjak untuk membuang sampah lalu menuntun Hajime ke tempat yang lebih sepi, menjauh dari keramaian.


"Kenapa kita ke sini?." Hajime merasa aneh, Yuki tersenyum sebentar beralih berdiri di depan pemuda itu.


"Sepertinya ada serangga di pundak senpai." Ujar Yuki mengulurkan tangannya.


Sebuah totokan kecil berhasil membuat tubuh Hajime membeku tak bergerak. Wajah itu tetap kalem meski di dalam pikirannya penuh pertanyaan. Yuki berjalan ke samping Hajime sedikit ke belakang, tangannya meraih tangan besar Hajime mengaitkan jari-jari mereka membawanya ke belakang tubuh pemuda itu.


"Aku tidak ingin senpai melihatnya. Jadi, kita seperti ini untuk sementara waktu." Ujar Yuki menerima handuk kecil dari belakang tubuhnya.


"Uhuk!. Uhuk!." Mizutani dan Dazai menghela nafas lega mendengar suara batuk dari mulut Yuki.


"Kamu tidak apa-apa?." Hajime memastikan.


"Ya, hanya batuk-batuk sebentar." Jawab Yuki.


Gadis itu sudah mengotori tiga handuk, berusaha meredam suaranya. Tibalah kembang api meluncur dan meledak di atas langit, Yuki menoleh ke belakang memberikan sinyal kalau dia baik-baik saja.


Suara kembang api yang ramai sukses meredam suara batuk Yuki. Melihat pemandangan indah di langit sana atau pemandangan tragis dari kedua remaja yang satu tidak tahu apa-apa dan satunya lagi kesakitan?, Mizutani dan Dazai menarik nafas panjang.


Bertepatan dengan kembang api terakhir Yuki sudah berhenti terbatuk. Ia membersihkan mulutnya hingga tak ada bekas darah setetes pun. Mizutani dan Dazai pergi membawa jejak-jejak penyakit Yuki.


"Apa kamu menikmatinya?." Suara tenang Hajime membuat gadis itu tak enak hati telah membuatnya tidak bergerak.


"Ung, sangat indah." Jawab Yuki menatap tangannya dan tangan Hajime.


"Boleh aku bergerak?." Yuki memberikan totokan kecil di tempat yang sama dari belakang.


Hajime membalikan tubuhnya menatap dalam manik Yuki. Suara langkah kaki orang-orang meninggalkan tempat itu terdengar oleh mereka berdua.


"Senpai ayo kita pulang." Ujar Yuki seraya menarik tangan Hajime.


"Senpai?." Hajime yang tidak bergerak sedikit pun membuat Yuki kembali menghadap pemuda itu.


"Apa?." Tanya Yuki.


"Aku harap kamu bisa mempercayai orang lain." Yuki yang hendak bertanya maksud Hajime pun terhenti.


Puk.


Cup.


Yuki melebarkan matanya, terkejut dengan apa yang dilakukan seniornya. Hajime menutup matanya mencium punggung tangannya sendiri yang menempel pada dahi Yuki. Ia merasakan gadis itu membeku karena ulahnya. Hajime menjauhkan wajahnya menatap wajah Yuki yang kebingungan.


"Ayo pulang." Ucap Hajime tersenyum lembut. Hajime melangkah melewati Yuki.


"Senpai. Tunggu." Yuki memegang dahinya dengan satu tangan seraya memiringkan tubuhnya menatap Hajime.


"Senpai menempelkan bekas kapten cheerleaders itu padaku?!." Geram Yuki.


"Ha?." Hajime sontak tertawa terpingkal-pingkal.


Yuki berjalan cepat dengan wajah cemberut karena kesal, yukata panjangnya mempersulit langkah kakinya jadilah kedua tangannya mengangkat yukata agar ia lebih cepat berjalan.


"Yuki tunggu!." Seru Hajime yang tak di dengar oleh gadis itu.


"Yuki!." Hajime berlari menyusul Yuki.


"Senpai baka, baka, baka." Hajime terkejut ketika mendengar gerutuan Yuki membuatnya semakin ingin memiliki gadis bermanik biru itu.


Grep.


Yuki langsung mendorong Hajime menjauh ketika pemuda itu menahan lengannya. Hajime menahan senyum mencoba kembali tenang.


"Aku tidak tahu hal itu bisa membuatku sekesal ini. Jadi biarkan aku sendiri senpai." Ujar Yuki menarik nafas panjang lalu berbalik melanjutkan langkahnya yang terhenti.


"Aku mencium punggung tanganku sendiri itu tidak termasuk menempelkan bekasnya padamu." Seru Hajime membuat Yuki berhenti.


Mungkin seharusnya aku lebih waspada kepada Sakai san waktu itu, batin Hajime.


"Tsuttsun." Lirih Yuki tanpa di dengar oleh Hajime.


"Maaf, ayo pulang." Ajak Hajime yang berhasil menyusul Yuki.


"Yo!, anak muda. Mau aku antar pulang?." Dazai dan Mizutani keluar dari tempat persembunyian mereka.


"Ayo." Ulang Hajime melirik Yuki.


"Tidak, ojou chan ada urusan dengan Tsubaki. Biar aku antar kau." Dazai melirik Yuki waspada.


"Aku pulang dulu. Kamu masih marah?." Yuki menatap Hajime dan tersenyum kaku.


"Sedikit, lebih ke menyadari betapa bodohnya aku." Hajime hendak menyentuh pucuk kepala Yuki namun urung, ia berbalik menghadap Dazai. Yuki yang menyadari itu meraih jari Hajime.


"Hati-hati." Lirihnya lalu melepaskan jari pemuda itu. Hanya sentuhan kecil dari Yuki membuat Hajime kembali tenang.


Aku terlalu banyak melukai hatinya, batin Yuki.


Tepat setelah Hajime dan Dazai tidak terlihat lagi Yuki terjatuh dan mengeluarkan teriakkan mengerikannya yang penuh kesakitan. Mizutani melakukan tugasnya dengan baik, berkali-kali mendapatkan tendangan dan cakaran di punggung tangannya tidak membuat ia gentar, Mizutani tetap menahan tubuh Yuki, sapu tangan sudah tersemat di sela-sela gigi gadis itu.


***


Musim panas berakhir dengan Yuki berada di atas ranjang. Udara sudah berubah dingin sejak satu bulan yang lalu, banyak anak-anak kelas tiga yang mulai fokus belajar untuk masuk ke universitas, mereka sudah pensiun sepenuhnya dari kegiatan baseball. Sedangkan klub sudah berganti kapten dan wakil mereka. Yuki juga mulai menganggap lebih serius ekskulnya, bahkan ia ikut menginap di asrama perempuan bersama Suzune agar bisa mengajari dua pitcher utama kelas satu, siapa lagi kalau bukan Inuzuka dan Nakashima.


Mereka sedang berada di babak akhir pertandingan musim gugur bulan oktober, perebutan tiket final ke koshien. Tiket yang gagal mereka dapatkan musim panas lalu. Yuki menatap tidak suka laki-laki dengan pelindung lengkap yang berlari kembali ke bangku cadangan.


"Pelatih." Lirih Yuki berdiri dari duduknya meletakan buku skor yang sejak tadi ia pegang. Mizutani melirik Yuki sekilas.


"Kamu seharusnya menyadarinya." Gerutu Yuki.


"Senpai, lihat sekarang giliranku memukul." Seru Inuzuka bersemangat memasuki lapangan.


Yuki berjalan menghampiri Kudo yang sedang duduk melepas pengamannya. Para pemain di bangku cadangan merinding melihat raut wajah Yuki yang terlalu datar.


"Wakilmu sudah berusaha menyembunyikannya, bukan begitu Hirogane kun?." Yuki menatap lurus manik Kudo.


"Aku sudah tidak bisa melindungimu lagi Kotaro." Jawab Hirogane, yang lain menatap bingung mereka.


"Apa yang kamu katakan manajer?." Yuki tidak menjawab ia berjalan menghampiri Hirogane.


"Bawa dia ke belakang bangku cadangan." Perintah Yuki tegas.


Alhasil beberapa anak langsung menyeret pelan kapten mereka ke ruangan luas di belakang bangku cadangan, mendudukan pemuda itu di kursi panjang.


"Ada apa?." Tanya Mizutani yang mengikuti mereka.


Kalau begini semua orang sudah tahu, manajernya memang ahli dalam pengobatan selain masalah baseball. Kudo melepas seragamnya menyisakan manset tetap melekat di tubuh. Yuki duduk di samping pemuda itu mengambil tangan kanan Kudo mengecek pangkal lengan pemuda itu.


"Sejak kapan?." Tanya Mizutani.


"Benturan keras pertandingan kemarin." Jawab Yuki.


"Agh!." Ringis Kudo merasakan nyeri saat jari Yuki menekan tepat di titik lukanya.


"Apa senpai masih bisa bermain?." Tanya Nakashima.


"Tanya saja kaptenmu yang sok kuat ini." Ledek Yuki kembali memberikan tekanan pada sekitar lengan Kudo.


"Agh!. Manajer tolong jangan terlalu dendam padaku." Yuki menatap tajam Kudo membuat laki-laki itu terdiam.


Diskusi cukup singkat terjadi antara Mizutani dan Kudo di sela-sela penanganan Yuki.


"Bagaimana?." Tanya Mizutani, Yuki melirik Mizutani sebentar lalu menatap Kudo.


"Kalian sangat ingin membalaskan dendam anak-anak kelas tiga dan kekalahan kemarin bukan, kalau begitu." Yuki menoleh kepada para pemain yang berkumpul di sana.


"Kalian memerlukan kapten sok kuat kalian ini di lapangan." Lanjut Yuki.


Yuki melihat para pemain bertanding sangat keren di lapangan, mereka menumpahkan semua kemampuan mereka hingga melewati batas demi untuk membalaskan dendam kepada sma midori, mengingat luka kekalahan mereka musim panas lalu menambah tekad baja mereka untuk menang, merebut tiket pergi ke koshien. Pukulan dramatis dari sang kapten menutup pertandingan. Pemain bersorak dan menangis bahagia, Yuki tersenyum memberikan tepuk tangan penghargaan.


Chizuru sangat terpukul dengan kekalahan pertama mereka, Yuki tidak bisa bersikap netral lagi sekarang. Inilah yang seharusnya ia lakukan musim panas lalu, duduk di bangku cadangan, ikut mengatur strategi dengan Mizutani, memberikan sedikit masukan arahan permainan, dan mengambil jalannya pertandingan berpihak kepada mereka.


Mulai sekarang sekolah lain harus melihat pesaing terkuat yang sudah mengalahkan sma midori, sma yang ditakuti oleh sekolah-sekolah unggulan.


"Suzune san sudah menunggu di depan loby, aku akan memesan taksi sebentar." Yuki melilitkan perban terakhir di lengan dan pundak Kudo.


"Pinjam kunci mobilnya." Pinta Yuki menatap penuh arti.


"Tidak." Jawab tegas Mizutani.


"Baiklah, lupakan tentang pelatihan musim dingin." Ancam Yuki.


"Segera kembalikan, jangan mampir ke mana-mana." Mizutani mengalah, memberikan kunci mobilnya kepada Yuki.


"Belum ada sejarahnya manajer mengancam pelatih disiplin super tegas sma serigala." Lirih Kudo mengejek Yuki.


"Aku akan menunggu apakah kamu masih sanggup mengeluarkan kata-kata tajammu di rumah sakit nanti." Yuki membalas tatapan Kudo, meledek balik.


"Dewi kejam." Lirih Kudo.


Hirogane dan Haruno memapah Kudo masuk ke dalam mobil, mereka berlima dengan Suzune san pergi ke rumah sakit khusus terapi cedera di tokyo dengan Yuki sebagai supirnya.


Membutuhkan waktu satu jam tiga puluh menit berada di dalam rumah sakit, Kudo dilarang memegang bola dan semua peralatan baseball selama satu bulan, selama itu juga ia tidak diperbolehkan ikut latihan walaupun sekedar berlari. Bahkan ia juga dilarang ikut dalam pertandingan musim semi nanti, Kudo harus beristirahat sepenuhnya dan mengikuti terapi dengan rutin.


Yuki mengantarkan mereka sampai ke tujuan, sebelum mengembalikan kunci mobil kepada Mizutani Yuki memutar balik mobil pergi ke suatu tempat.


***


Pagi yang dingin, salju pertama di bulan november. Lagi, hanya karena berdiri di pinggir jalan ditemani salju pertama yang turun membuat Yuki mengunyah pilnya. Syal berwarna navy melilit leher Yuki memberikan kehangatan yang sangat di perlukan. Hazuki menyambut kedatangannya dengan meriah seperti biasa, Yuki merasakan masa-masa sma yang dianggap orang lain sebagai masa yang tak terlupakan. Ia bersyukur di tengah kemelut masalah hidupnya yang terus berdatangan, ia dikaruniai teman-teman dan orang-orang yang selalu membuat harinya ramai, tak sepi dan monoton seperti dulu.


Brak!.


Buk!.


Gedebum!.


Buk!.


"Suara ribut apa itu?." Natsume membawa lari kakinya menaiki tangga, Yuki membuka sebuah buku yang sempat ia pinjam dari perpustakaan, berjalan menyusul Natsume.


"Yu chan!. Mereka berkelahi untuk memperebutkanmu, cepat hentikan mereka." Srobot cepat Natsume menunjuk kumpulan orang-orang. Yuki menghela nafas berat di pagi hari berjalan ke tengah kerumunan yang menutup jalan ke arah tangga.


Gadis itu dengan santai mendekati dua pemuda yang saling melempar bogem tangan.


Sret!.


Yuki menghempaskan bukunya ke depan tepat di tengah-tengah wajah keduanya membuat mereka menoleh ke arah Yuki.


"Ohayou, bukankah kalian terlalu mencolok di pagi hari?." Sapaan dan kalimat Yuki membuat rasa senang dan sakit datang bersamaan. Keduanya segera melepaskan tubuh masing-masing menjauh. Yuki menarik bukunya lalu mengulas senyum tipis.


"Semoga kalian mendapatkan hari yang baik." Ujar Yuki menurunkan ketegangan di sana, kakinya berjalan menaiki tangga kembali membaca buku di tangannya.


"Yu chaann, kamu memang yang terbaik." Celetuk Natsume menyusul gadis itu.


"Hm."


"Sepulang sekolah mau mampir ke cafe baru di dekat stasiun?." Ajak Natsume.


"Bagaimana kalau nanti malam?." Yuki menutup bukunya.


"Nanti malam ya?, agak sulit sih." Natsume sedang berpikir keras.


"Baiklah, nanti malam. Aku tunggu di depan cafe." Yuki mengangguk singkat.


"Aku mau mengajak Ueno san dan Honda san juga." Natsume berlari senang menghampiri keduanya.


Sudah lama tempat duduk dirubah oleh ketua kelas. Yuki kini duduk di bangku pojok kanan paling belakang tepat di dekat jendela, sedangkan ketiga temannya terpisah jauh dengannya. Yuki mengetuk punggung seseorang di depannya dengan telunjuk. Orang itu berbalik memiringkan tubuh menatap Yuki.


"Untukmu." Yuki mengulurkan tremos kecil berwarna hitam kepada Kudo.


"Aku ragu kalau minuman ini sudah di beri racun." Celetuk Kudo tajam seperti biasanya.


"Ya, dengan dosis tinggi." Balas Yuki.


"Berikan buku skornya." Yuki menatap dalam manik terhalang kaca mata itu.


"Aku juga tidak boleh melihat buku skor manajer?." Ejek Kudo seraya memberikan buku skor kepada Yuki.


"Minuman itu harus habis siang nanti. Itu bisa membantu penyembuhan cederamu." Jelas Yuki menyimpan buku skor di laci meja.


"Ne, kapten." Kudo melirik Yuki.


"Apa?."


"Hirogane kun dan Ueno san sudah berpacaran?." Pertanyaan Yuki membuat pemuda itu melirik ke arah temannya yang sedang bersemu merah menatap perempuan yang di sebutkan namanya tadi.


"Ya, setelah pertandingan final kemarin mereka resmi jadian." Jawab Kudo.


"Hm?, kenapa Ueno san menyembunyikannya dari kami?." Lirih Yuki.


"Mungkin Ueno san tidak mempercayai kalian." Ledekan Kudo menghasilkan pukulan kecil di lengannya.


"Aw!, aku sedang cedera." Protes Kudo.


"Bodo." Balas Yuki.


Sejak kekalahan musim panas lalu Yuki yang memutuskan untuk ikut fokus dengan klub semakin dekat dengan para pemain termasuk teman sekelasnya yang sudah diangkat menjadi kapten menggantikan Hajime, Yuki lebih sering melakukan diskusi dengan Kudo tentang tim, tentang baseball, tentang strategi, dan gaya bermain tim-tim sekolah lain beserta kekurangan dan kelebihan yang mereka punya. Meski mereka banyak melemparkan kata-kata pedas satu sama lain tapi saat berdiskusi mereka sangatlah kompak.


***


Malam yang sudah di janjikan, Yuki berpakaian kasual dengan hoody army kebesaran dan jeans hitam, sweater abu-abu melilit lehernya hingga menutupi mulut. Gadis itu menghampiri teman-temannya yang datang lebih cepat dari waktu yang di janjikan.


Empat gadis remaja itu menikmati waktu mereka di dalam cafe, ditemani berbagai menu manis yang menggoda iman. Meja mereka ramai dengan obrolan-obrolan perempuan yang belum pernah Yuki rasakan sebelumnya, mendengarkan cerita haru mereka sampai yang memalukan, Ueno akhirnya menceritakan tentang hubungannya dengan Hirogane setelah di pancing oleh Natsume, Honda yang ternyata juga sudah menjadi kekasih lawan mainnya di perlombaan raja dan ratu menceritakan bagaimana Yoshihara menembaknya, kini Natsume menatap Yuki yang sedang menikmati cakenya dan sibuk memperhatikan mereka. Ueno dan Honda menoleh kepada gadis itu, mereka diam menatap lamat-lamat wajah Yuki.


"Apa yang ingin kalian ketahui?." Akhirnya Yuki menyerah juga, membiarkan mereka mengetahui sedikit tentangnya toh mereka bertiga selama ini selalu terbuka dan berusaha mengerti Yuki dan satu sama lain.


"Kamu sudah jadian dengan Yuuki senpai Yu chan?." Yuki memasukkan potongan kecil cake ke dalam mulutnya.


"Tidak." Singkat, dan sangat jelas.


"Boleh kami tahu alasanmu menolak semua orang yang ingin menjadi kekasihmu?." Honda kini yang bertanya.


"Karena tidak ada satu pun di antara mereka yang mampu membuatku jatuh hati." Jawaban yang tidak bisa di bantah. Ueno mulai bertanya.


"Apa kamu pernah punya pacar sebelumnya?." Yuki memasukkan lagi cake lain ke dalam mulutnya.


"Hm." Wajah ketiganya langsung bersemangat.


"Ceritakan kepada kami kenapa kalian putus?, apa karena hubungan jarak jauh?. Seperti apa orangnya?." Srobot Natsume mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan.


"Dia mirip sepertimu Hazuki, tapi tidak lebih gila darimu." Jawab Yuki.


"Pasti dia sangat tampan karena mirip denganku." Ucap Natsume dengan percaya dirinya. Yuki tersenyum.


"Kenapa kalian putus?." Manik birunya melirik Honda.


"Dia pergi tepat satu menit lima belas detik setelah kami jadian." Sontak keheningan melanda meja itu. Yuki dengan santai menghabiskan cakenya.


"Yu chan." Lirih Natsume memecah keheningan.


"Kisah cintaku tidak seindah milik kalian. Aku terlalu bodoh karena tidak menyadari perasaanku sendiri lebih cepat, ketika dia akan meninggalkanku barulah aku menyadari betapa aku sudah jatuh ke hatinya." Jelas Yuki mengelap mulutnya.


"Hachibara san, aku harap akan ada orang yang bisa mengobati luka hatimu." Celetuk Ueno dengan manik yang berkaca-kaca.


"Hahaha. Ya, terima kasih." Balas Yuki santai.


"Dia laki-laki yang kuat bisa membuat seorang Hachibara san jatuh hati." Yuki tersenyum membenarkan perkataan Honda.


"Kamu punya fotonya Yu chan?, aku ingin lihat seperti apa dia." Pinta Natsume.


"Aku tidak memilikinya." Jawaban Yuki kembali membawa kesunyian di meja itu.


"Ayo pulang, sudah hampir jam sembilan loh." Ajak Yuki berdiri untuk membayar makanan mereka.


"Kenapa kamu yang bayar?. Kami akan bayar makanan kami sendiri." Tolak Ueno.


"Sudah, hanya kali ini." Ucap Yuki menahan tangan Ueno yang hendak membayar.


Mereka berempat berpisah di gang, jalan pulang mereka yang berbeda-beda. Malam dingin yang sepi tidak membuat Yuki merasa takut ia sempat mengantar Natsume sampai gang dekat apartemen gadis itu lalu berjalan kembali ke arah rumahnya.


Di saat ia hendak melewati jembatan besar ia mendengar suara gaduh dan teriakan tertahan seorang wanita, Yuki melirik ke bawah jembatan. Sekelompok preman sedang memukuli mangsa mereka dan menahan seorang sandra. Karena Yuki tak ingin ikut campur ia hanya menelphon ambulance lalu beralih hendak menelphon polisi kala pandangannya terjatuh kepada wajah si wanita.


Maniknya melebar penuh, jantungnya berdetak cepat. Ia mengurungkan niat memanggil polisi dan memutuskan menghadapi mereka.


Langkahnya tak bersuara menghampiri ketua preman yang sedang berdiri menonton tak jauh dari anak buahnya.


"Hentikan, aku sudah memanggil polisi dan ambulance." Ucap Yuki dingin, ia menggertak.


"Aome san!." Jerit kaget Dan.


Wanita itu sudah tidak memiliki tenaga untuk meronta, ia terus menangis menatap laki-laki yang sedang di keroyok karena berusaha melindungi dirinya.


Tiara, lirih Yuki dalam hati.