Futago

Futago
Dua Pelindung Rahasia Klan.



Memang kami tidak pernah merasakannya tapi kami sudah sering melihat penderita penyakit itu tersiksa, sangat mengerikan bahkan tak jarang kami menutup mata tak ingin melihatnya. Banyak dari kami pernah melihatnya, batin Mizutani.


"Mi chan, jangan sembunyikan apa pun lagi." Ucap Yuki menoleh menatap Mizutani.


Kedua pria itu tertegun, sorot mata gadis itu kini berubah sendu. Tangan Yuki terulur menyentuh sebelah pipi Mizutani.


"Aku tidak tahu apa pun, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak tahu musuh yang di maksud kakek, aku tidak tahu kehidupanku sebelum usia enam tahun." Yuki menarik nafas panjang.


"Yang pasti, aku tahu keadaan sedang tidak baik-baik saja karena aku sudah berada di sini. Di tempat seharusnya aku hindari."


Mungkin ini alasan ayah tidak melibatkanku dalam urusan perusahaan di jepang, ayah takut akan memicu penyakitku bekerja, batin Yuki.


"Satu tahun batasku untuk bertahan, aku tidak akan mati semudah itu. Katakan semuanya Mi chan, katakan. Bahkan jika kamu mengatakannya pun aku tidak akan langsung mengingatnya." Yuki menatap dalam manik Mizutani, seakan membujuk pria itu.


Aku tahu nenek tidak mengetahui tentang penyakit yang sedang aku derita, karena neneklah yang memberikanku pilihan ini, batin Yuki mengingat saat Lusi dan Daren berdebat tentang keputusan itu.


Mizutani terlihat menutup mata mengumpulkan tekad di dalam dadanya.


"Ojou chan." Yuki sedikit terkejut karena ini pertama kalinya Mizutani memanggilnya dengan sebutan itu. Sikap yang tadinya sangat tegas seakan Yuki adalah gadis kecil yang harus diatur berubah melunak.


"Ya Mi chan?." Yuki menarik tangannya perlahan.


"Selamat datang kembali." Mizutani tiba-tiba membungkukkan badan sangat dalam di ikuti Dazai di sampingnya.


"Ung, aku kembali." Saat mengatakan itu suara Yuki sedikit bergetar, perasaan hangat yang familiar menyelimuti dadanya. Seakan ia sudah mengenal lama kedua orang itu.


Mizutani dan Dazai kembali ke dalam posisi duduk sempurnanya.


"Kami adalah pelindung rahasia klan, kami utusan dari Hachibara Ko sama yang tersebar di seluruh jepang. Kami di sebut dengan pelindung bayangan." Mizutani memperkenalkan dirinya dan kelompok.


"Kami dulunya tinggal di kediaman utama namun tuan besar melihat potensi lain di diri kami mengizinkan kami untuk meninggalkan kediaman utama dengan syarat menjadi pelindung rahasia di luar sana, melarang kami untuk kembali apa pun yang terjadi dengan keluarga utama." Mizutani masih mengingat jelas kalimat yang diucapkan Hachibara Ko saat malam pengangkatannya menjadi pelindung bayangan.


Jika terjadi hal buruk di sini, jangan sekali pun kau kembali, klan kita harus ada yang meneruskan. Mungkin, peran kalian akan sangat penting suatu saat nanti, capailah cita-cita kalian jangan lupakan tradisi klan, itulah pesan Hachibara Ko kepadanya.


"Seperti Dazai, dia adalah putra dari koki dan pelayan keluarga utama, seharusnya ia meneruskan pekerjaan orang tuanya tapi tuan besar melihat minat besar Dazai dengan hal-hal medis menawarkannya belajar ilmu kedokteran." Dazai tersenyum mengingat kejadian saat diberikan tawaran besar itu oleh Hachibara Ko.


"Ya, dan di sinilah saya." Sambung Dazai.


"Klan besar, dengan pemimpin yang sangat adil, murah hati, tegas tapi juga hangat, semua pengikut merasa bahagia dengan kehidupan yang dibangun keluarga utama. Memberikan kami kelonggaran tapi masih dengan batasan-batasan agar tetap berjalan di jalurnya, tidak mengekang tapi menghormati. Kami merasa sangat aman dan damai." Lanjut Dazai sebuah cairan bening jatuh dari matanya.


"Maaf," ucap Dazai segera menghapus cairan yang jatuh di pipi.


"Aku sangat merindukan masa-masa itu, merindukan kediaman utama." Mizutani mengangguk setuju.


"Ini adalah pilihan kami, sekarang yang memimpin kami adalah Daren dono. Tuan besar mewariskan kami kepadanya." Yuki mendengarkan dengan baik.


"Saya akan menjelaskan kediaman utama lebih dulu." Kini Dazai membuka suara.


Yuki mengangguk singkat.


"Kediaman utama dahulunya di bangun khusus oleh kaisar pertama untuk permaisuri dan digunakan sebagai rumah utama setelah kaisar selesai menjabat."


"Bagaimana dengan selir?." Tanya Yuki.


"Selir yang tidak memiliki keturunan juga tinggal di sana."


"Apa keturunan kaisar ada yang memiliki dua istri lagi?." Entah kenapa Yuki penasaran.


"Tidak ojou chan." Jawab Dazai, Yuki kembali mempersilahkan Dazai melanjutkan ceritanya.


"Seperti keluarga kerajaan di jaman dahulu, sampai sekarang pun banyak orang yang menjaga dan mengabdi kepada keluarga utama, termasuk keluarga bangsawan di jaman dulu yang selalu setia kepada kaisar."


"Penerus terus terlahir, memiliki kelebihan masing-masing, sampai pada Hachibara Ko, tuan besar yang menjadi ilmuan geografi." Dazai berhenti sebentar melirik Mizutani yang mengangguk singkat.


"Tuan besar sejak masih muda sudah menentang untuk menjadi pewaris meneruskan klan, tuan besar tidak bisa menghindari takdir dan kewajibannya."


"Karena tahu akan hal itu tuan besar melakukan pemberontakan kecil kepada tetua, atau ojou chan bisa memanggilnya kakek buyut, Hachibara Go sama."


Kakek buyut, batin Yuki.


"Tuan besar bergabung dengan kelompok Yakuza sebagai perlawanannya, sampai bertemu dengan Lusi sama, tuan besar meninggalkan kelompok Yakuza, menerima takdirnya sebagai penerus dan menikahi Lusi sama."


"Tentang keunikan keluarga utama, saya hanya tahu dua diantaranya." Yuki memfokuskan perhatiannya kepada Dazai.


"Senjata turun temurun dari kaisar pertama dan kemampuan mengendalikan ingatan yang bisa disebut sebagai hukuman." Yuki tersenyum tipis mengalihkan perhatiannya keluar jendela kamar.


Hening.


"Ternyata seperti itu." Yuki kembali mengulas senyum getir.


"Penyakitku ini adalah hukuman."


Mizutani dan Dazai menutup rapat mulut mereka, bukan hal mengejutkan jika Yuki langsung paham. Bahkan kenyataan itu pun tidak bisa diterima oleh para anggota yang lain jika mendengarnya.


"Selain ayah dan kalian siapa yang tahu tentang ini?." Mizutani yang menjawab.


"Tidak ada ojou chan." Yuki mengangguk sekilas.


"Jadi, kekacauan apa yang telah aku lakukan?."


"Tidak ada." Yuki mendengus sinis.


"Tidak akan ada akibat jika tidak ada sebab yang terjadi."


"Sungguh tidak ada ojou chan." Yuki berubah dingin setelah mendengar jawaban tidak memuaskan.


"Kalian masih mau menyembunyikannya?." Mizutani dan Dazai menutup rapat mulut mereka.


Srreeeettt.


Mizutani tidak terkejut dengan gerakan cepat Yuki, pria itu tetap tenang meski sebuah alat aneh seperti pisau kecil menempel di kulit lehernya.


Yuki menggunakan tangan kirinya yang terdapat jarum infus, menggenggam bolpoin pisau miliknya, semakin menekan pisau ke leher Mizutani.


Hening.


Dazai berusaha untuk tidak bertindak gegabah.


"Jangan main-main denganku." Ucap Yuki dingin.


"Itu misi kita ojou chan, untuk tidak memberitahu anda alasannya, agar kami bisa lebih mudah melindungi anda. Saya mohon anda mengerti." Dazai membungkuk dalam.


"Apa kau pikir aku tidak bisa melindungi diriku sendiri, Dazai." Yuki marah, tentu. Dari suaranya yang semakin dingin sudah sangat jelas gadis itu sedang marah.


"Ya, anda tidak bisa ojou chan." Yuki memelotot, menatap tajam Mizutani.


Darah terlihat merembes dari leher Mizutani yang nekat menggerakan mulutnya membuat lehernya tersayat pisau Yuki.


"Bagaimana anda melindungi diri sendiri jika penyakit anda bisa datang sewaktu-waktu." Darah Mizutani mengotori pisau Yuki.


"Berhenti membuat alasan, katakan atau aku akan melakukan lebih dari ini." Geram Yuki.


Gubrak!.


Suara kursi terjatuh, Dazai menjatuhkan dirinya berlutut di lantai.


Berhasil, batin Yuki melihat gertakannya berhasil membuat Dazai bergerak.


"Ojou chan, saya mohon. Jangan paksa kami mengatakannya, jika anda memaksa kami mengabaikan tugas lebih baik anda membunuh kami. Klan kita adalah klan terhormat begitu juga para pelindung seperti kami. Lebih baik tewas terhormat dalam tugas, tidak terbersit sedikit pun menghianati pemimpin kami."


Klan yang kalian agung-agungkan klan seperti apa sebenarnya?, batin Yuki menarik pisau di leher Mizutani mengelapnya dengan handuk kecil di atas nakas lalu kembali menyimpannya di balik lengan baju rumah sakit.


"Memaksa kalian sangat sulit." Ucap Yuki kini menekan leher Mizutani dengan handuk di tangan memeriksa luka.


"Ceritakan kepadaku kenapa Hotaru, kakek, dan nenek meninggalkan aku?." Dazai mengelap keringat di dahi dengan punggung tangan.


"Berhenti menolak. Aku yakin kalian tidak akan suka jika aku mencari jawabannya sendiri." Lanjut Yuki turun dari brankar.


"Ojou chan!." Seru Mizutani dan Dazai melihat Yuki yang belum sembuh total berdiri di pinggir brankar.


"Baik kami akan mengatakannya." Ucap cepat Dazai.


"Tapi ojou chan, tolong kembali lagi ke ranjang." Yuki hanya melirik malas Dazai.


"Saya akan mengatakannya sungguh, percayalah ojou chan."


"Aku tidak mempercayai siapa pun." Kata Yuki, ia mengingat betapa banyaknya orang yang sudah menghianati dan membohongi dirinya.


"Ojou chan saya mohon." Kata Dazai pelan.


Mizutani berdiri menghadap Yuki hendak membujuk gadis itu.


Bruk.


Mizutani bingung kenapa dia sudah terbaring di ranjang menatap langit-langit kamar.


"Obati dia." Yuki kembali melirik Dazai yang termangu di lantai.


"B baik." Dasai segera keluar dan kembali dengan peralatan lengkap. Tidak mungkin ia menyuruh suster karena ini rahasia mereka bertiga.


Yuki memilih duduk menunggu.


"Ojou chan." Panggil Mizutani beranjak duduk.


"Maaf, lukamu tidak dalam tapi akan membekas, jika kamu mengizinkanku meminjam lab rumah sakit aku akan membuat bekas lukamu hilang." Dazai tertarik tentu saja.


"Aku tidak mempermasalahkan itu." Mizutani turun dari ranjang.


"Tapi tidak dengan sekolah."


"Aku bisa mengatasinya."


"Baik, aku juga akan meminjam lab." Mizutani menatap Yuki lekat.


Sangat keras kepala seperti biasa, batin Mizutani.


"Hanya satu hari." Akhirnya Mizutani mengalah berjalan menghampiri Yuki.


"Lebih dari cukup." Jawab Yuki membiarkan Mizutani menggendongnya kembali ke ranjang.


"Jadi apa yang terjadi dengan keluarga Hachibara?."


***


00 : 00 Laboratorium rumah sakit. Yuki berkutat dengan cairan-cairan di dalam mini tabung. Setelah Dazai mengatur ruang lab agar kosong dan para suster tidak curiga, ia membawa Yuki masuk ke sana.


Dazai sejak tadi sibuk memperhatikan Yuki, sesekali ia ikut membantu dan mencatat.


"Ojou chan, ini untuk apa?." Dazai mendekatkan wajahnya ke salah satu tabung.


"Penawar racun." Yuki membersihkan tangannya.


"Anda sungguh ingin menyerang mereka?." Dazai mengamati Yuki yang kini menyuntik tangannya sendiri mengambil sampel darah.


"Jika cerita kalian benar, orang-orang di kediaman utama sedang bergerak. Aku akan menyelidiki dengan caraku."


"Ojou chan, ada kami." Dazai mengingatkan.


"Tugas kalian untuk melindungiku bukan menerima perintahku bukan." Dazai melipat kedua lengannya di depan dada.


"Benar, itu menyedihkan."


"Dazai." Dazai menoleh menatap Yuki yang sudah kembali berkutat dengan sampel darahnya.


"Aku butuh bantuanmu, ini bukan perintah tapi aku meminta tolong." Dazai mengangguk mantap. Yuki menarik sudut bibirnya.


Ia tidak bisa meminta bantuan Mizutani, pria itu pasti akan menolak.


Setelah Yuki mendengar rangkaian cerita dua belas tahun silam, ia tidak bisa menahan rasa yang berkecambuk di dalam dadanya. Banyak sekali nyawa yang berguguran karena itu, memanglah tugas mereka untuk menjaga keluarga utama tapi mendengar banyaknya orang yang kehilangan nyawa membuat Yuki mengingat betapa menyedihkannya ditinggal pergi seseorang untuk selamanya.


Entah gadis itu menyadarinya atau tidak kalau Mizutani masih menyembunyikan sesuatu yang bahkan Dazai dan pelindung bayangan lainnya tidak tahu.


***


"Anda yakin sudah mau pulang ojou chan?." Yuki mengambil seragam sekolahnya dari Mizutani.


"Aku sudah cukup menghisap darah rumah sakit Dazai." Mizutani mengulas senyum simpul.


"Tsubaki, apa kita akan tetap diam seperti ini?." Tanya Dazai setelah Yuki masuk ke dalam toilet.


"Hm. Tidak ada perintah yang lain."


"Kau yakin?."


"Hm."


"Bagaimana kalau membawa ojou chan ke pertemuan kelompok?."


"Tidak, belum waktunya."


"Aku dengar pria tua itu nekat menyerang ojou chan." Mizutani menganggukkan kepalanya.


"Dia hampir tidak bisa lolos jika aku tidak datang."


"Pria tua itu sudah gila." Komentar Dazai.


"Dia masih menganggap Yuki gadis kecil yang tidak suka kekerasan."


Ceklek.


"Aku kira laki-laki yang menyusup ke kamarku suruhan iblis itu untuk membunuhku." Komentar Yuki yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


"Bukan, dia salah satu dari kami." Jawab Mizutani.


"Ojou chan, saya penasaran siapa yang anda maksud iblis itu?." Tanya Dazai. Yuki tidak berniat menjawab.


"Aku pergi, terima kasih untuk perawatannya."


***


Di dalam mobil Yuki sibuk dengan ponselnya.


"Aku tahu kamu tidak puas dengan informasi yang kamu dapat." Mizutani memecah kesunyian.


"Tidak masalah, aku akan segera mendapatkannya, nanti." Jawab Yuki penuh keyakinan.


"Apa?." Tanya Mizutani melihat Yuki menyodorkan tangannya menengadah meminta sesuatu.


"Pilku." Mizutani mengerutkan kening.


"Satu, aku tidak butuh lebih. Hanya untuk berjaga-jaga." Jelas Yuki.


Mizutani merogoh sakunya mengambil kotak permen kecil berisi satu pil yang sudah ia siapkan, memberikannya kepada Yuki.


"Arigatou." Ucap Yuki memasukkannya ke dalam saku seragam.


"Satu minggu kamu ketinggalan pelajaran, sebentar lagi juga akan ada tes. Perlu aku ajari?." Tawar Mizutani.


"Tidak, klub sedang sibuk jangan pikirkan aku, aku akan berusaha tidak merepotkanmu lagi jadi Mi chan bisa fokus dengan anak-anak." Mizutani mengangguk singkat.


Yuki keluar dari mobil tepat saat bel sekolah berbunyi, ia melangkah santai menaiki anak tangga satu persatu. Begitu juga murid-murid yang lain berhamburan masuk ke dalam kelas masing-masing.


Sreeekkk.


Yuki menggeser pintu belakang kelas, melangkahkan kakinya menuju bangku kosong satu-satunya.


"Ya ampun!, Yu chaaannn !!." Yuki merapatkan matanya mendengar suara petir Natsume.


Sontak anak-anak menoleh ke belakang menatap Yuki.


Dak dak dak dak.


Natsume berlari merentangkan tangan menghampiri Yuki. Dengan gaya khasnya Yuki mengeluarkan telunjuk hendak menahan dahi Natsume. Bukannya memeluk Yuki Natsume malah membolak-balikkan wajah Yuki ke kanan dan ke kiri lalu menatap lamat-lamat bibirnya.


"Kamu tidak melukai bibirmu lagi kan?, bibir seksiku masih aman kan?." Srobot Natsume heboh.


Tak.


Yuki mengeluarkan jurus karatenya memukul pelan kepala Natsume.


"Berhenti, kita jadi tontonan kelas." Ucap Yuki mengabaikan pertanyaan Natsume.


Respon Natsume membuat Yuki menaikan satu alisnya. Gadis cerewet itu tiba-tiba diam menangis tanpa suara.


"Ishikawa san memberitahuku, kamu terluka karena bermain koto, sensei membawamu pergi dan tidak ada kabar lagi." Suara Natsume lirih, namun bisa di dengar oleh seluruh anak di kelas.


"Aku datang kerumahmu tapi bibi juga tidak tahu, aku bertanya kepada sensei tapi sensei tidak mau memberi tahuku. Setidaknya kamu membalas pesanku." Yuki perlahan menurunkan alisnya, Natsume menatap Yuki menghapus air matanya.


"Apa itu sulit, membalas pesanku?."


"Ung." Jawaban Yuki membuat air mata Natsume kembali jatuh.


"Apa kamu akan seperti ini terus?."


Natsume takut, ia takut sahabatnya itu pergi untuk selamanya. Ia tidak sengaja melihat isi kantung sampah yang akan di buang oleh Masamune saat mereka bertemu, di dalam kantung transparan itu penuh kantung-kantung darah menguarkan sedikit bau amis.


Pastilah sahabatnya ini sangat kesakitan, mengingat hal itu membuatnya sangat khawatir.


"Aku bisa mendonorkan da."


Puk.


Natsume terdiam, Yuki meletakan tangannya diatas kepala Natsume.


"Maaf membuatmu khawatir, aku sudah tidak apa-apa." Entah isakkan dari mana tertangkap oleh telinga Yuki.


Natsume menatap wajah cantik yang sedang tersenyum kepadanya.


"Ohayou, Hazuki." Sapa Yuki. Natsume membalas senyum itu dengan senyum lebarnya.


"Ung, ohayou Yu chan!."