
Yuki menghentikan kudanya tepat di barak, maniknya menyapu setiap sudut mencari seseorang.
"Ojou sama. Selamat siang." Yuki melirik ke bawah. Seorang pelindung membungkuk kepadanya.
"Kamu melihat Will?." Tanya Yuki.
"Dia ada di dalam dojo ojou sama." Jawabnya.
"Tolong panggilkan dia kemari." Pinta Yuki.
"Baik."
Yuki melompat turun dari punggung kuda, mengusap lembut wajah kudanya.
"Terima kasih sudah mengantarku. Kamu boleh kembali ke padang rumput." Yuki menepuk dua kali leher kudanya.
Kuda putih itu meringkik kecil mendorong wajah Yuki dengan kepalanya lalu berlari kecil ke belakang barak. Yuki menatap kuda itu di telan pepohonan, ia berjalan menuju tempat senjata yang sudah tersedia di pinggir barak. Mengambil dua pedang kayu sekaligus.
"Ojou samah!." Yuki menoleh ke samping mendapati salah satu pelayannya terengah-engah membungkuk hormat kepadanya. Peluh wanita itu membasahi baju yang dikenakannya.
"Anda dari mana saja?, seluruh orang khawatir karena anda pergi dengan terburu-buru." Pelayan itu sontak baru menyadari kesalahan pemilihan kata-katanya untuk di ucapkan kepada nona muda mereka dan segera membungkuk.
"Maaf atas kelancangan saya ojou sama." Yuki memberikan isyarat agar pelayannya menegakkan tubuh.
"Tidak apa-apa. Maaf membuat kalian khawatir, aku hanya pergi ke pemakaman sebentar. Tolong pegang ini untukku." Ucap Yuki memberikan tas selempangnya.
"Baik ojou sama."
"Ojou sama anda sudah kembali." Yuki melirik Will yang sedang membungkuk kepadanya. Ia langsung melempar satu pedang di tangannya tanpa menunggu Will siap. Anak itu menangkapnya dengan mudah.
Wush.
Grep.
"Berlatih denganku Will." Pinta Yuki berjalan ke tengah barak, bergabung dengan pelindung lain yang sedang berlatih.
"Ojou sama, saya tidak pantas." Yuki melirik ke belakang.
"Will, Fumio san sedang sibuk dengan pemilihannya. Dan aku yang memintamu sendiri, kamu masih ingin menolakku?." Anak itu langsung membungkuk lebih dalam.
"Stop. Jangan meminta maaf. Mari kita latihan." Srobot Yuki sebelum kalimat formal lainnya keluar dari bibir Will.
Yuki meletakan pedang kayunya di atas tanah dan mulai melakukan pemanasan. Will berdiri tenang menunggu Yuki selesai.
"Baiklah Will jangan menahan diri. Lakukan yang terbaik ini perintah." Ucap Yuki bersiap dengan pedang di tangan.
"Saya akan berusaha." Yuki mengangguk mantap.
Gadis itu mengingat-ingat pelajaran yang sudah ia dapat. Menatap lurus manik lawan, berpikir menebak gerakkan lawan.
Tang!.
Dua pedang kayu saling berbenturan.
Dak!.
Srek!.
Will mendorong pedang Yuki lalu mengarahkan pedangnya di depan leher gadis itu.
Posisi mereka kembali seperti semula. Yuki tanpa menyerah terus berusaha menyerang Will.
Brak!.
Yuki terlempar hingga terjatuh. Ia segera berdiri bersiap menyerang Will lagi.
Tang!.
Bruk!.
Pedang Yuki terlempar, tangannya ikut terhempas ke belakang. Ia segera meraih pedang dan kembali menyerang. Segala jenis gerakkan ia coba agar bisa mendekati Will setidaknya membuat anak itu terpojok.
Tang!.
Srek!.
Bruk!.
Wush!.
Brak!.
Yuki mengusap keringat di dahi menggunakan lengan polosnya. Baju dan celananya sudah kotor. Terik matahari yang ia benci pun tidak ia hiraukan.
Jika seperti ini terus, melawan iblis itu pasti mustahil. Berpedang ..., batin Yuki menatap Will yang belum banyak berkeringat.
Jika saja iblis itu tidak memegang samurai warisan turun temurun, mungkin aku bisa menyeimbangkan. Tidak!. Bahkan bela diri klanku masih payah. Untuk kali ini aku kesal dengan kebodohan diriku di masa lalu yang tidak mau berlatih, lanjut Yuki dalam hati dan segera mengayunkan pedangnya seraya berputar seratus delapan puluh derajat, mengincar pinggang Will.
Will segera menangkis sisi samping namun bukan itu yang sebenarnya Yuki incar. Gadis itu melempar pedang ke sisi kanan mengayunkan pedang ke leher Will.
Will membungkuk menghindari tebasan seraya mengayunkan pedangnya ke atas. Yuki melirik ke bawah melakukan salto ke belakang menghindar.
Tang!.
Yuki menahan ayunan keras pedang Will yang datang dari atas kepalanya. Ia di buat berlutut oleh anak itu. Yuki sadar, tenaganya dan tenaga Will jauh berbeda. Sekuat-kuatnya ia berlatih, pengaturan chi milik Will sangatlah kuat sedangkan dirinya masih mentah dalam mengatur aliran chi miliknya.
Tiba-tiba Will menarik pedangnya membuat Yuki bingung, sedetik kemudian ayunan cepat datang dari depan. Yuki melebarkan matanya.
Tang!.
Bruk!.
Agh, ini menyakitkan, batin Yuki yang terlempar ke belakang bersama pedangnya. Untunglah ia sempat menahan pedang Will.
"Ojou sama. Mari kita istirahat dulu." Will berlari menghampiri Yuki.
"Nanti Will, aku masih ingin melakukannya." Yuki segera berdiri menghentikan langkah kaki Will.
Yuki menarik nafas panjang. Berkonsentrasi merasakan aliran chi miliknya. Setelah di rasa siap ia menyerang Will dengan ayunan tak kalah keras.
Tang!.
Tang!.
Yuki berkali-kali terjatuh, pedangnya terlempar dari tangan. Ia terus mencoba menyerang Will hingga langit biru berubah ke orenan. Gadis itu terjatuh untuk yang ke sembilan puluh kali, dadanya naik turun mengatur nafas. Kakinya ia selonjorkan ke depan, melirik sebentar lengan kaos yang robek karena pedang Will.
Dengan ini aku sadar, Fumio san selama ini menahan dirinya saat melatihku. Bagaimana tidak, laki-laki itu tidak perlu bergerak untuk membuatku mundur, gerutu Yuki dalam hati.
Tangannya menarik lengan kaos, menyobeknya. Kini kaos lengan kirinya hilang, sedangkan lengan satunya masih utuh.
"Ojou sama." Panggil Will hendak memberikan air minum kepada gadis itu.
"Will!." Srobot Yuki kembali semangat.
"Y ya, ojou sama?." Jawab Will terkejut.
"Aku akan tunjukan bagaimana cara menggunakan tali ini." Ucap Yuki mengeluarkan tali dari belakang tubuhnya.
"Kita istirahat sebentar ojou sama." Will kembali mendekat.
"Will." Panggil Yuki menekuk kedua kakinya, bersila lalu menepuk tanah di depannya.
Will mengikuti isyarat gadis itu, ia mengulurkan botol kepada Yuki yang di terima gadis itu dan di letakan di samping tubuhnya. Botol yang malang.
"Lihat ini." Yuki melakukan sesuatu kepada tali dengan sepuluh jarinya.
"Bagaimana menurutmu?." Tanya Yuki menatap Will.
Anak itu menatap lamat-lamat tali di tangan Yuki yang menurut gadis itu ekspresi Will terlihat lucu.
"Bukan di tengahnya. Lihat di pinggir tali." Ucap Yuki. Will melirik pinggir tali. Kilauan silver terpancar tipis.
"Aku tunjukan." Yuki melepas sepuluh jari seraya berdiri tegap.
"Ojou sama istirahat." Sebelum Will menyelesaikan kalimatnya Yuki sudah mnjawab.
"Kita sudah istirahat tadi."
Will pun ikut berdiri tanpa membantah.
"Will kamu boleh memilih alat apa pun untuk melawanku." Ucap Yuki mengeratkan tali sepatunya.
"Saya memakai ini saja ojou sama." Jawab Will dengan pedang kayu di tangannya.
"Ung. Aku tidak akan menggunakan bela diri klan Will. Jadi bersiaplah. Lakukan seperti tadi." Kata Yuki menghadap anak itu.
"Saya sudah siap ojou sama." Yuki menyeringai senang, mengejutkan Will.
"Aku datang Will." Yuki sudah menggulung ujung tali di jari tengahnya dan ujung yang lain ia tarik.
Wooosshh ...
Yuki menendang ke belakang tanah yang ia pijak, meluncur ke arah Will dengan kecepatan yang berbeda dengan sebelumnya. Anak itu mundur beberapa langkah meletakan pedang di depan tubuhnya menahan serangan Yuki.
Wush.
Srek!.
Kriiieeettt ...
Will melebarkan matanya. Yuki baru kali ini melihat raut wajah terkejut dari anak itu.
Will tidak menyangka dirinya terlilit tali dari bawah hingga pangkal lengannya. Ia tidak dapat bergerak.
"Jika kamu sudah mengunci lawanmu seperti ini kamu dapat melakukan gerakan seperti ini." Yuki berjalan menghampiri Will seraya menunjukkan sentakan berirama.
Zuts zuts.
Tali kawat tipis, kaku, dan tajam sepanjang satu setengah senti, tiba-tiba keluar dari dalam tali hitam itu ke arah luar. Will hampir saja melotot. Kawat-kawat itu sangat banyak seperti duri-duri pohon merambat.
"Warna silver yang kamu lihat tadi adalah pantulan dari kawat ini. Kamu juga bisa mengeluarkan di bagian dalam, yang akan menembus langsung daging kuncianmu. Keduanya dapat di keluarkan bersama-sama." Jelas Yuki menyentak pelan tali membuatnya terlepas dari Will.
"Lihat ini." Yuki kembali mengeluarkan sentakan berirama yang mirip. Dan kawat-kawat dari sisi lain muncul begitu saja.
"Apa kamu paham Will?." Tanya Yuki.
"Ojou sama ..." Lirih anak itu.
"Hm?. Tenang saja tali ini masih bisa melakukan banyak hal. Perhatikan jari-jariku, jangan melewatkan gerakkan sekecil apa pun." Peringat Yuki.
Gadis itu menyentak dua kali ke atas dan ke bawah menghilangkan kawat-kawat tajamnya.
"Serang aku. Jika kamu bisa menjatuhkanku lagi aku akan mengabulkan satu permintaanmu." Ucap Yuki.
"Saya mengerti." Jawab Will tanpa melepaskan pandangannya dari jari Yuki.
"Baik. Mulai!." Aba-aba Yuki.
Will menyerangnya dengan pedang di tangan. Yuki dengan mudah mengaitkan tali pada pedang dan melemparnya jauh ke belakang. Will mengepalkan tangan melayangkan tinjunya ke arah perut Yuki.
Pak!.
Sret!.
Will bingung, kenapa nona mudanya menahan tinju miliknya dengan satu tangan. Ia merasa bersalah telah mendaratkan tinjunya di telapak tangan Yuki.
"Agh!. Yuki, sakit." Rengek Hotaru dari arah belakang gadis itu.
Sret.
Yuki menarik tali ke samping memunculkan saudara kembarnya dengan kedua tangan terikat di depan perut.
"Apa yang kamu lakukan?." Tanya Yuki.
"Ikut bergabung dengan kalian. Aku tidak bisa menahannya lagi, melihat dari kejauhan kalian yang terlihat asik sendiri." Jelas Hotaru.
"Tugasmu?." Tanya Yuki lagi. Hotaru melirik ke pinggir barak.
"Sudah selesai sejak tiga jam yang lalu. Matahari juga sudah hampir tenggelam. Kalau sudah seperti ini kamu selalu lupa waktu." Jawab Hotaru.
"Will, kamu bisa melihat dari samping bagaimana caraku menggunakan tali ini. Ingat, cermati gerakkan jari-jariku." Ulang Yuki mengabaikan saudara kembarnya.
"Bagaimana denganku?." Hotaru menatap Yuki berharap.
"Kamu menjadi partnerku." Jawab Yuki seraya melepas tali yang melilit tangan Hotaru.
"Tentu." Hotaru terlihat senang.
"Jangan terlalu jauh dan jangan terlalu dekat. Kamu bisa menjaga jarakmu?." Yuki menatap Will.
"Ya ojou sama." Anak itu memberi jarak yang Yuki inginkan. Gadis itu mengangguk mantap.
"Bersiap Hotaru." Kata Yuki berjalan memberikan jarak.
"Aku tidak akan menahan diri, sebaiknya kamu juga seperti itu." Seru Yuki.
"Kamu serius?." Balas Hotaru. Yuki memutar bola matanya malas sebagai jawaban.
Yuki serius ternyata, batin Hotaru.
Aura keduanya tiba-tiba berubah. Manik biru dan coklat terang itu saling menatap. Tidak ada yang bergerak setelah sepuluh detik lamanya.
Ini kesempatanku untuk mengukur kemampuan, semoga Hotaru benar-benar serius, batin Yuki.
Jangan terlalu serius dengan alatmu Yuki, batin Hotaru tidak bisa lengah dengan alat canggih penuh rahasia milik adiknya.
Tangan Yuki yang berada di samping diam-diam melakukan gerakkan dengan dua jarinya. Sangat cepat, dari kejauhan kedua orang itu terlihat hanya berdiri diam bak patung.
Szwuuuuusshhh ...
Set.
Hotaru menghindari lontaran tali yang mengarah ke lehernya.
Grep!.
Hotaru menangkap tali itu.
Wuuusshh ...
Hotaru menoleh ke depan mendapati Yuki meluncur ke arahnya, seperti saat gadis itu meluncur ke arah Fumihiro. Hotaru tersenyum hangat menyambut Yuki. Gadis itu membalas senyuman Hotaru dengan senyuman tipisnya.
Tidak semudah itu Hotaru, batin Yuki.
Gadis itu melihat Hotaru memindahkan talinya ke sisi lain dan menyentak tali membuat tubuh Yuki semakin cepat meluncur mendekat. Yuki melempar ujung tali yang lain ke belakang tubuhnya, melepas tali di jari tengah.
Zreeeettt!!.
Tali tiba-tiba mengencang dan seperti tanpa beban Yuki dengan ringan menarik tali ke bawah membawa tubuhnya terbang ke atas. Berputar sekali lalu menekuk satu kakinya mengirim tendangan ke bawah mengincar pundak Hotaru.
Hotaru yang terkejut karena belum terbiasa dengan aksi-aksi akrobatik adiknya pun terkejut melepaskan tali di genggamannya seraya melangkah mundur.
Diam-diam Yuki tersenyum miring menangkap tali yang Hotaru lepas saat ia memutar tubuh.
Hup.
Yuki mendaratkan ujung jari salah satu kakinya lalu berputar melemparkan tali itu dengan tangan kiri ke arah Hotaru, sedangkan tangan kanannya meraih tali yang mengait ke paku besar yang menancap di tembok tinggi barak membuat ujung tali itu kembali ke tangannya.
Srreeett ...
Ciiiittt ...
Hotaru yang sudah terlilit tali langsung mengangkat satu kakinya menginjak tali itu kuat-kuat. Ia mendapati Yuki memiringkan kepala membuatnya penasaran apa yang akan adiknya lakukan selanjutnya.
Yuki dengan acuh melempar ujung tali yang ia pegang ke arah Hotaru. Namun tangan yang lain memegang tengah-tengah tali. Alhasil dua ujung tali melilit Hotaru. Yuki menyentak pelan tali di tangannya membawa tubuh Hotaru mendekat.
"Apa aku kalah?." Tanya Hotaru setelah sampai di depan Yuki.
"Mungkin. Will." Panggil Yuki. Anak itu berlari cepat berdiri di samping Yuki.
"Tali ini bisa mengeras dan menjadi senjata padat di kedua ujungnya." Jelas Yuki melepas lilitan di tubuh Hotaru.
"Pegang tengah-tengah tali." Yuki memperlihatkan caranya kepada Will.
"Tarik berlawanan arah." Yuki menarik kedua tangannya berjauhan.
"Letakan jarimu seperti ini." Yuki meletakan jari telunjuknya di bawah tali dan ke empat jari yang lain di bagian atas tali.
"Tarik dengan kuat, beri sedikit sentakan agar tali dapat merespon kode kita." Ucap Yuki melakukan apa yang ia katakan.
Sret!.
Kedua ujung tali sepanjang empat puluh senti mengeras, kaku. Hotaru ingin menghentikan adiknya namun ia menahan diri. Setelah ini Hotaru akan menanyakan tujuan Yuki menjelaskan fungsi aneh talinya.
"Pegang ini. Kamu masih ingat gerakkan mengeluarkan kawat tadi?." Tanya Yuki seraya memberikan tali itu kepada Will.
"Masih ojou sama." Jawab Will menatap kagum tali hitam di tangannya.
"Coba kamu lakukan." Ucap Yuki.
Will mengingat gerakkan Yuki lalu mengikutinya.
Zhub. Zhub.
Kawat-kawat tajam keluar dari kedua sisi. Will terkagum dengan hasil yang telah ia lakukan lalu kembali menyembunyikan kawat.
"Bagus." Ucap Yuki tangannya refleks mengusap pucuk kepala anak itu.
"Kamu bisa mengalahkan dua puluh musuh sekaligus dalam dua gerakkan kecil." Will menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
"Yuki." Panggil Hotaru lirih.
"Hm?." Gumam Yuki. Lalu kembali fokus kepada Will.
"Aku hampir lupa. Tali ini juga bisa merayap dari bawah. Dia aman terkena air, dan masih banyak yang dapat di lakukan dengan tali ini. Teruslah berlatih dan mencobanya. Kalau bisa kamu berlatih di ruang terbuka dengan beberapa pohon atau kayu sebagai peraga musuh." Imbuh Yuki mengabaikan Hotaru.
Yuki menarik tangannya dari kepala Will, menekuk kedua lutut mensejajarkan manik birunya dengan anak itu.
Will terkejut, ia kesulitan menahan ketenangannya.
"Will." Panggilan lembut itu membuat Will merinding.
Dengan malu-malu anak tiga belas tahun itu menggerakkan bola matanya bertemu dengan manik biru berkilau milik nona muda.
Seakan waktu terhenti seketika, Will terpaku dengan manik bersih, biru, tatapan hangat, menarik dirinya menyelam ke dalamnya.
"Aku sangat kagum denganmu yang baru berusia tiga belas tahun sudah berhasil menjadi salah satu pelindung tingkat tinggi." Suara merdu Yuki mengalun indah masuk ke dalam telinga.
"Tapi aku tidak bisa membiarkanmu berada di barisan depan." Will seketika merasa sedih.
"Kamu sangat berharga untuk menjadi penerus pelindung selanjutnya. Dan kamu masih tiga belas tahun." Will ingin protes dan memberi tahu nonanya kalau dia sangat mampu mengemban tugas apa pun.
"Kamu ingat luka tembak di perutmu satu tahun yang lalu?." Will tertegun, masih tak melepas pandangannya dari manik biru itu.
"Aku yang menjahit perutmu." Hotaru terkejut. Ia menatap Yuki dalam diam.
"Yang ingin aku katakan. Aku tidak ingin melihatmu terluka seperti itu lagi. Jadilah lebih kuat, sampai aku menempatkanmu di barisan paling depan. Mulai sekarang, kamu tidak perlu ikut rapat pelindung. Habiskan waktumu sebaik mungkin." Ucap Yuki seraya tersenyum manis.
***
Hotaru menghela nafas panjang. Ia tidak mengira adiknya akan memberhentikan Will mengikuti rapat. Ia berjalan memasuki kamar Yuki menatap deretan foto yang jujur. Sangat membuatnya cemburu.
Ia dan Yuki sudah tidak pernah mengambil foto bersama. Mereka, satu keluarga, tidak pernah mengambil foto lagi sejak hari itu.
Ceklek.
"Hotaru, kamu sudah siap?. Bukankah hari ini giliranku?." Suara dari belakang mengalihkan perhatian Hotaru dari foto-foto di atas meja.
"Kenapa kamu sedih?." Malaikat kecil klan berjalan anggun menghampirinya.
"Ada apa?. Apa karena aku tidak membolehkan Will ikut rapat lagi?." Jari panjang itu mengusap lembut sebelah wajahnya.
"Hotaru?." Ia merengkuh pinggang Yuki meletakkan dahinya di pundak gadis itu.
"Ada apa, hm?." Hotaru merasakan usapan lembut di belakang kepalanya.
"Aku menyayangimu saudariku. Jika pemilihan ini membuatmu kesulitan kamu boleh melakukan apa pun yang kamu mau." Tutur Hotaru.
Yuki terkekeh lirih, membalas pelukan saudara kembarnya dengan mengusap lembut punggung lebar Hotaru.
"Aku tidak tahu, dan tidak terlalu peduli." Hotaru sempat terkejut dengan jawaban Yuki.
"Aku hanya ingin melakukan ini dengan cepat. Lalu kembali fokus dengan masalah klan kita." Jelas Yuki.
Hening.
"Mau memilihkanku dress yang cocok untuk hari ini?." Tawar Yuki.
***
Yuki di antar oleh Hotaru menuju salah satu halaman kecil yang sudah di siapkan meja bundar beserta kursinya.
"Sepertinya Morioka san sudah menunggu lama." Ucap Hotaru. Pemuda yang tadinya tengah duduk sudah berdiri menyambut kedatangan kedua anak kembar itu.
"Tidak waka, saya baru saja sampai." Balasnya.
Hotaru dan Morioka saling melempar senyum ramah. Empat pelayan perempuan sudah bersiap di dekat mereka dan dua pelindung berada agak jauh. Meskipun di dalam kediaman utama mereka tetap berjaga takut-takut akan ada sesuatu yang tidak di inginkan terjadi.
Hotaru beralih menatap Yuki. Gadis itu pun mendongak membalas tatapan saudaranya.
"Semoga semuanya berjalan lancar, hanya sampai nanti sore." Ucap Hotaru.
"Ung, dan malamnya pesta lagi." Jawab Yuki seraya memutar bola mata.
"Hahaha, ya. Kamu tidak akan bisa menghindarinya." Hotaru kembali melirik Morioka dengan bibir yang masih tersenyum.
"Tidak baik menunggu tamu terlalu lama. Aku pergi, bersenang-senanglah." Kata Hotaru lalu menunduk untuk membisikan sesuatu.
"Setidaknya berusaha bersenang-senang." Yuki sontak tersenyum tipis.
"Ung." Jawab Yuki.
Hotaru menarik dirinya.
"Morioka san aku pergi dulu, silahkan nikmati sarapan sederhana kami." Ucap sopan Hotaru.
"Saya merasa tersanjung mendapatkan kesempatan ini." Balas Morioka. Hotaru mengangguk kecil lalu membalikan tubuhnya meninggalkan Yuki berdua dengan Morioka.
"Ohayou gozaimasu, ojou sama (Selamat pagi nona)." Sapa Morioka, Yuki membalas tak kalah sopannya.
"Mari." Yuki menerima uluran tangan laki-laki itu menuntunnya ke salah satu kursi.
Morioka menarik kursi mempersilahkan Yuki untuk duduk. Gadis itu membungkuk kecil sebagai ucapan terima kasih lalu duduk dengan nyaman di sana.
Para pelayan yang melihat kedua orang itu sudah duduk di kursi masing-masing segera menyajikan beraneka makanan yang cocok untuk sarapan pagi yang cerah ini.
"Terima kasih." Kata Morioka setelah pelayan terakhir meletakan dessert. Pelayan membungkuk hormat lalu berjalan mundur kembali ke tempatnya.
Laki-laki itu beralih hendak mengatakan sesuatu kepada gadis di sebrang meja, tapi tak di sangka gadis itu tengah menatapnya dengan ekspresi ramah.
"Mari." Ucap gadis itu dengan cangkir di tangannya, memberikan isyarat sopan untuk memulai sarapan mereka.
Morioka pun ikut mengangkat cangkirnya, meminum teh hangat yang memiliki bau harum khas. Mereka memulai sarapan dalam ketenangan pagi yang khidmat.
"Apakah kemarin cukup menyenangkan bersama nenek dan Hotaru?." Tanya Yuki membuka obrolan.
"Ya, sangat menguras keringat." Yuki tersenyum kecil.
"Kamu terlihat menikmatinya." Balas Yuki.
"Aku sangat senang saat Lusi sama memanggil namaku untuk datang hari ini." Yuki melirik cangkirnya.
"Apa ada yang ingin Morioka san lakukan?." Tanya Yuki.
"Bolehkah saya yang memilih?." Yuki tersenyum lebih lebar.
"Tentu."
"Kalau begitu, aku ingin melukis dengan anda. Kita melukis wajah satu sama lain. Bolehkah?." Yuki mengangguk kecil.
"Terdengar menarik." Balas Yuki mengangkat satu tangannya.
Seorang pelayan menghampiri Yuki. Gadis itu meminta mereka mempersiapkan keperluan melukis untuknya dan Morioka.
"Baik ojou sama." Pelayan undur diri, sedangkan pelayan yang lain membereskan meja.
Yuki bercakap-cakap membahas strategi pengembangan klan, kualitas para pelindung, dan hal-hal di luar pemilihan calon tunangan. Yuki lebih nyaman berbicara dengan Morioka dari pada dengan laki-laki yang lain di dalam klan.
Morioka tidak pernah membahas masalah sensitif tentang hubungan laki-laki dan perempuan, bahkan Morioka jarang sekali memberikan Yuki pujian yang berlebihan. Morioka lebih sering bertukar pikiran dingin yang di selingi candaan. Laki-laki itu juga tidak pernah protes dengan ide aneh Yuki. Seperti melawan gadis itu di barak, Morioka tanpa menahan diri menuruti kemauan gadis itu.
Pelayan datang membawa perlengkapan melukis lengkap. Mereka segera menata kanvas berhadapan. Yuki dan Morioka segera duduk di depan kanvas masing-masing. Mereka sementara saling memperhatikan satu sama lain lalu tenggelam ke dalam setiap goresan.
Selang tiga puluh menit kemudian Morioka sudah selesai. Bagaimana dengan Yuki?, gadis itu sudah berhenti sejak lima belas menit yang lalu. Decakan kagum tidak sengaja keluar dari mulut para pelayan.
"Ojou sama, boleh saya pergi ke sana?." Morioka menatap Yuki dari sebrang.
"Tentu."
Morioka berjalan mendekati Yuki melihat hasil lukisan gadis itu.
"Aku seperti sedang bercermin." Komentar Morioka.
"Apa kamu menyukainya?." Tanya Yuki.
"Ya, terima kasih banyak. Dan ini untuk anda." Morioka memberikan hasil lukisannya kepada Yuki.
"Terima kasih Morioka san, ini sangat bagus." Kata Yuki jujur.
"Maaf, aku hanya melukis separuh wajah anda." Yuki menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku menyukainya." Aku Yuki.
Lukisan dirinya sedang duduk di depan kanvas memakai dress biru muda, wajah yang serius, tangannya memegang kuas dan pallet. Yuki tidak pernah memperhatikan ia akan terlihat seperti itu jika di lihat dari samping.
"Aku senang anda menyukainya." Ucap Morioka.
Setelah selesai dengan Morioka Yuki sekarang duduk di belakang koto bersama Fumihiro. Pria itu duduk di depan Yuki agak ke samping. Menemani gadis itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Yuki yang membiarkan pintu ruang musik terbuka lebar kini mulai memainkan instrumen alat musik tradisional itu. Musik yang nenek buyutnya ajarkan. Tanpa gadis itu sadari banyak orang di luar menikmati alunan melodi yang sudah sangat lama tidak pernah di dengar lagi.
Kediaman utama serasa hidup kembali. Suasana nostalgia kala para tetua masih sehat dan mengisi kediaman utama.
Yuki menghentikan permainannya, menarik kedua tangan menaruhnya di atas pangkuan.
"Takehara san."
"Ya, ojou sama." Meski posisinya sekarang sama dengan para calon yang lain Fumihiro tidak berani untuk menatap wajah Yuki langsung. Ia merasa tidak sopan jika melakukannya.
"Bagaimana perasaanmu setelah kehilangan adikmu?." Fumihiro terlihat tidak terkejut mendengar pertanyaan Yuki.
"Saya berharap dia akan hidup lebih baik di kehidupan selanjutnya." Jawaban Fumihiro tidak memuaskan Yuki.
"Di sini aku yang membunuhnya padahal dia tidak bersalah." Tegas Yuki.
"Rin bersalah karena sudah lancang menyukai calon tunangan anda." Yuki melirikkan matanya.
"Kamu sudah tahu?."
"Saya dan kedua orang tua kami sempat memberikan peringatan, melarangnya, meminta Rin untuk berhenti. Maafkan ketidak becusan saya mendidik Rin." Fumihiro membungkuk. Atensi Yuki kini berpindah sepenuhnya kepada Fumihiro.
"Maaf sudah membunuh orang tua dan adikmu."
"Orang tua saya gugur dengan terhormat ojou sama. Adik saya sudah pantas menerima hukumannya." Yuki mengamati pria itu.
"Takehara san."
"Ya, ojou sama?."
"Kenapa kamu mengikuti pemilihan ini?. Kamu juga menaruh perasaan kepadaku?." Tanya Yuki blak-blakan.
"Sungguh, saya tidak berani untuk berpikir seperti itu. Saya di lahirkan dari keluarga pelindung biasa, bukan pelindung dari keluarga terhormat. Mana mungkin saya berani menyimpan rasa kepada anda ojou sama." Jawab Fumihiro.
"Lalu?."
"Para pelindung senior dan beberapa pelindung tingkat atas mengajukan nama saya kepada Lusi sama." Yuki menaikan satu alis menebak maksud terselubung para pelindung. Dengan santainya Yuki mengatakan.
"Dengan menikahkan putri klan dengan pemimpin para pelindung, kediaman utama tidak akan kehilangan putri klan. Putri klan akan tetap tinggal di kediaman utama, begitu maksud mereka?." Yuki menangkap garis lembut menghiasi wajah Fumihiro.
"Tebakan anda selalu benar ojou sama." Yuki menghela nafas pelan.
"Bagaimana denganmu?. Apa tidak ada wanita yang sudah mengisi hatimu?." Fumihiro tetap tenang.
"Di dalam kepala saya hanya ada klan ojou sama."
"Berhenti berbohong. Katakan saja kalau kamu memang sudah memilikinya." Lagi-lagi Yuki menangkap garis melengkung di wajah Fumihiro.
"Memiliki perasaan kepada seseorang tidak harus memiliki orang itu ojou sama." Yuki terdiam sebentar.
Bagaimana caramu mengikhlaskannya, tanya Yuki dalam hati.
Yuki menutup kelopak matanya mengalunkan melodi yang ia dengar dari dalam kepala. Kembali memetik senar koto.
"Apa yang kamu dengar Takehara san?." Tanya Yuki masih memainkan jari-jarinya.
"Suara kerinduan hati anda ojou sama." Yuki perlahan menarik kedua sudut bibirnya. Wajah seseorang muncul, memberikan senyum menyebalkan yang tidak kenal akan penolakan darinya.
Aku merindukanmu kak, batin Yuki.
Matahari sangat terik. Membuat Yuki mengubah tempat kencannya dengan Eden.
"Aku tidak tahu apakah pemilihan tempat ini sudah benar." Ucap Yuki.
"Tempat ini sangat bagus ojou sama. Cafe-cafe di luar sana belum ada yang seperti ini." Balas Eden jujur.
Yuki membawa pemuda itu ke dapur kediaman utama. Tepatnya, di tempat makan yang mirip dengan cafe negeri dongeng.
"Terima kasih Fujita san, sudah mau menghargai pilihan saya. Kalau begitu silahkan pesan apa pun yang Fujita san inginkan." Ucap Yuki.
"Bolehkah ojou sama yang memilihkannya untuk saya?." Sontak Yuki menaikan satu alis. Ia belum pernah di perlakukan seperti itu. Memilihkan makanan untuk orang lain?. Yang benar saja.
Suara tawa Eden terdengar memenuhi ruangan yang tak besar namun sejuk itu. Sebelumnya Yuki meminta pelayan untuk mengecilkan ac sekecil mungkin.
Gigi gingsul pemuda itu pun mengintip keluar menambah kesan manis wajahnya.
"Maaf ojou sama, ekhem. Anda boleh memberikan apa saja, saya tidak pilih-pilih soal makanan." Kata Eden setelah meredam suaranya. Ekspresi Yuki tadi membuat pemuda itu tidak bisa menahan tawanya.
Yuki mengatakan sesuatu kepada pelayan. Setelah beberapa saat meja sudah di penuhi oleh segala jenis makanan.
"Ojou sama, ini?." Eden menatap segala jenis ukuran piring dan isinya, lalu mendongak untuk menatap gadis itu.
Yuki tersenyum seraya mengedikkan maniknya menatap piring-piring itu.
"Aku termasuk perempuan yang bisa makan banyak, apa kamu keberatan?." Kalimat Yuki terdengar seperti sebuah tantangan bagi Eden.
"Kebetulan saya juga. Anda mau melakukan game, siapa yang makan lebih banyak?." Tawar Eden.
"Kenapa tidak." Yuki menyanggupi.
"Baiklah, siap ... Mulai." Ucap Eden.
Bukan seperti lomba siapa cepat menghabiskan makanan. Di sini siapa yang makan lebih banyak itu lah pemenangnya.
Yuki dengan anggun seperti biasa, menikmati makanannya. Eden bergeming menatap raut wajah gadis itu yang sangat berbeda dari biasanya.
Aku sudah kalah. Bagaimana putri klan bisa memiliki berbagai pesona di setiap apa yang ia lakukan, batin Eden mengulum senyum. Oh!, jantungnya berdegup semakin cepat.
Meski begitu Eden tetap meneruskan permainan yang sudah ia mulai. Dari piring satu ke piring yang lain. Dessert satu ke dessert yang lain. Keduanya juga sudah menghabiskan empat gelas es lemon.
Pelayan yang melihat meja mulai kosong lagi segera mengisi dengan menu yang lain. Tanpa sengaja kedua orang itu melirik horor piring-piring yang baru saja datang dan menatap manik satu sama lain.
Hening.
Seketika tawa mereka pecah menyadari kebodohan yang telah keduanya lakukan. Untuk apa mereka berlomba dengan makanan. Menyiksa diri sendiri dengan memaksa memasukkan makanan ke dalam perut.
"Fujita san, ada saus di bawah bibirmu." Ucap Yuki setelah berhenti tertawa. Eden mengambil tisu mendekatkannya ke wajah.
"Di sini?."
"Ya."
Eden mengelap bawah bibirnya lalu mengelap sudut yang lain. Yuki pun melakukan hal yang sama.
"Apa kita akan melanjutkannya lagi?." Yuki menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku kalah, ini sudah berlebihan untukku." Jawab Yuki.
"Sebenarnya saya juga. Anda petarung yang tangguh ojou sama. Dapat melangkah sejauh ini." Puji Eden membuat Yuki terkekeh kecil.
Mereka berbincang sedikit. Kebanyakan Yuki yang memancing Eden untuk bercerita sedangkan dirinya diam mendengarkan.
Memutuskan untuk berjalan keluar dari dapur karena waktu bersama Eden akan segera habis. Keduanya berpisah di dekat lorong rumah kaca.
Yuki berjalan malas ke bangunan paling belakang kediaman utama. Ia mengeluarkan ponsel melihat angka 03.00 p.m. Gadis itu ingin menghindari yang satu ini namun apa daya, semua orang membela pria itu.
Di padang rumput luas berdiri tegap seorang pemuda tinggi dengan tubuh proporsional memakai jaket kulit dan celana coklat khusus berkuda sedang membicarakan sesuatu dengan Iwao ketua penjaga kuda-kuda di sana.
Kaki Yuki tiba-tiba berhenti. Entah kenapa kakinya sangat berat berjalan ke sana. Pemuda itu menoleh ke arahnya di susul oleh Iwao yang baru menyadari kehadiran gadis itu.
Iwao terlihat mengatakan sesuatu lalu memberikan sarung tangan hitam dengan ujung-ujungnya yang bolong kepada Fumio dan berlalu pergi. Pemuda itu berjalan menghampiri Yuki seraya memakai sarung tangannya.
Hal aneh Yuki rasakan. Maniknya tidak dapat lepas dari sosok itu, melangkah pelan ke arahnya. Yuki tiba-tiba merasa takut. Ia ingin mundur dan segera kabur dari sana. Tangannya pun terasa dingin.
Sosok tegap Fumio sudah dekat dengan Yuki, wajah pemuda itu bahkan semakin jelas di manik birunya. Dengan sekuat tenaga Yuki menggerakkan kakinya yang kebas mundur ke belakang.
Bruk!.
"Aaahhhkk!."
Jerit melengking dari belakang tubuh Yuki membuat gadis itu membalikan badan.
"Ai chan!. Ya ampun, maafkan kakak." Yuki segera berlutut membantu anak kecil itu yang terjatuh karena dirinya.
"Onee chan, Ai yang salah. Ai tadi langsung lari setelah melihat onee chan sudah datang." Jawab polos Ai.
Deg!.
Yuki merasakan kehadiran sosok itu tepat di belakangnya. Refleks Yuki memeluk Ai setelah gadis cilik itu berhasil berdiri. Yuki mengabaikan lutut polosnya yang menyentuh rerumputan.
Aku tidak tahu kenapa aku seperti ini?. Aku tidak ingin bertemu dengannya?. Tidak. Aku, takut. Kenapa?, kenapa aku takut?. Hotaru .., kumohon. Datanglah, jerit pilu Yuki dalam hati.
Ai yang tiba-tiba merasakan pelukkan Yuki mengerat membuat perasaan senangnya berubah bingung.
"Onee ....., chan?." Panggil Ai.
"Hm?." Gumam Yuki.
"Onee chan sakit?." Tanya gadis cilik itu.
"Tidak. Ai chan mau bermain dengan kakak?." Tawar Yuki menemukan ide agar ia tidak perlu bersama Fumio.
"Ung!. Boleh ya, nii chan?!." Seru Ai riang.
"Hm, kakak berkuda dulu." Balas suara di belakang tubuh Yuki.
"Yeeaaayy ...!." Ai mengangkat kedua tangannya ke atas.
Fumio menatap punggung Yuki sebentar lalu menepuk pucuk kepala Ai barulah ia pergi meninggalkan keduanya. Diam-diam Yuki bernafas lega.
"Onee chan kita mau main apa?." Tanya Ai bersemangat.
"Apa saja yang Ai chan mau." Jawab Yuki.
Yuki menghabiskan waktunya meladeni gadis cilik itu. Membuat mahkota dari bunga, melakukan sulap seperti yang ia lakukan kepada Ellen, bermain petak umpet di tempat terbuka dengan sedikit tempat yang bisa untuk bersembunyi.
Yuki di buat terus tertawa oleh kelakuan gadis cilik yang tidak mau diam itu. Celotehan Ai membuatnya merasa lebih baik. Yuki tiba-tiba teringat Keiji, ia ingin memainkan pipi gembul anak itu.
"Onee chan!. Ayo ke sini!." Seru Ai melambaikan tangan kepada Yuki yang tengah duduk di atas rumput, lalu membalikan badan kecilnya berlari hendak mengejar anak kuda.
Tiba-tiba Fumio menghampiri Ai dari samping menangkap tubuh adiknya mengangkat Ai ke dalam gendongan.
"Kamu akan menakutinya."
"Tidak onii chan ..!, Ai mau berteman dengan kuda itu." Protes Ai.
"Ai pasti sudah lelah." Kata Fumio menghampiri Yuki.
"Kita istirahat sebentar." Imbuh Fumio melatakan Ai di tengah-tengah antara dirinya dan Yuki.
Pelayan langsung memberikan Ai dan Fumio minuman untuk menyegarkan diri.
"Onee chan mau?." Tawar Ai menyodorkan minumannya.
"Kakak sudah minum tadi." Tolak Yuki halus. Ai menundukkan kepala menikmati seruputan minuman manisnya.
Pada saat itu Fumio meletakan tangan kirinya di belakang Ai, mencondongkan tubuhnya ke samping seraya menunduk.
"Yuu." Panggil Fumio lirih.
Fumio tidak mendapatkan respon apa pun. Bahkan gadis itu tidak bergerak, mengacuhkan keberadaan Fumio.
"Aku akan menjaga jarak denganmu jika itu yang kamu inginkan." Bisik Fumio tenang. Tidak ada nada sedih pada suaranya.
"Ai, mau berkuda dengan kakak?." Tawar Fumio setelah menarik tubuhnya menjauh.
"Boleh?!." Seru Ai menatap kakaknya.
"Ung. Ayooo ..." Fumio langsung mengangkat tubuh Ai tinggi-tinggi seraya beranjak berdiri, dan menggendong anak kecil itu.
"Hahaha ... Haha ... "
Suara tawa riang Ai menggema semakin menjauh. Yuki terus menatap kakak beradik itu, tangannya tanpa sadar meremas rumput di samping tubuhnya.
Perlakuan Fumio kepada Ai tidak jauh berbeda dengan perlakuan pemuda itu kepadanya dulu. Ya, meski Yuki tidak dapat melihat wajah ke empat anak kecil yang selalu memaksanya mengingat memori masa lalu Yuki sadar, yang mana dirinya, Hotaru, Rin, Fumihiro, dan Fumio. Hal itulah yang menumbuhkan ketakutan di dalam hati Yuki.
Gema teriakan riang Ai menyadarkan Yuki. Anak kecil itu ikut menggenggam erat tali kekang kuda, tubuh kecilnya di tahan oleh lengan kiri Fumio. Pemuda itu ikut tertawa melihat respon adiknya. Yuki sudah tidak tahan lagi.
Gadis itu berdiri dengan cepat dan melangkah kembali ke bangunan kamarnya namun baru dua langkah ia berjalan kepalanya membentur sesuatu.
"Anda tidak apa-apa?, ojou sama?." Yuki mendongak mendapati wajah Eden menunduk menatap maniknya.
"Maaf, aku tidak melihatmu Fujita san. Aku tidak apa-apa. Kenapa kamu bisa ada di sini?." Tanya Yuki.
Eden merasa janggal dengan jawaban Yuki namun ia tidak sopan jika mendesak bertanya.
"Aku ingin memberikan ini, Ellen menitipkannya padaku. Maaf, tadi aku lupa." Yuki menatap gelang manik-manik biru indah.
"Terima kasih. Ini sangat cantik." Yuki menerima gelang itu.
"Terima kasih." Ucap Yuki yang kedua kalinya.
***
Tok tok tok.
"Yuki. Keluar. Ada apa denganmu?." Suara Hotaru mengetuk pintu kamar Yuki.
"Yuki, acara sudah di mulai sejak tadi. Apa kamu perlu bantuan di dalam?." Hotaru menarik nafas panjang.
"Ayo kita bicara. Yuki ..."
"Dia tidak menjawab?." Hotaru menoleh mendapati Daren sudah berdiri di belakangnya.
"Tidak." Hotaru menggeser tubuhnya ke samping memberikan ruang kepada Daren.
"Yuki! ..," baru saja Daren hendak membujuk putrinya pintu kamar berderit bergerak ke samping.
Sosok manik biru itu menampakkan penampilan berani malam ini dengan dress press tubuh, lengan bersilang, berwarna merah. Gaun itu menjulang panjang menyentuh lantai. Yang menarik perhatian ayah dan putra itu adalah ekspresi dingin milik gadis itu.
"Kamu baik-baik saja?." Hotaru menyeruak meraih lengan Yuki.
"Ayo selesaikan secepatnya." Jawab Yuki berjalan mengangkat gaun bagian depan dengan kedua tangan.
Daren menarik nafas panjang, menepuk punggung putranya.
"Berikan adikmu ruang." Daren berjalan menyusul Yuki lebih dulu.
Hotaru menarik nafas panjang, ia hendak pergi dari sana namun pemandangan mengejutkan membuatnya berhenti.
Ia menyapu maniknya ke isi kamar Yuki yang berantakan. Kamar Yuki tidak pernah sekali pun berantakan. Hotaru sempat tidak percaya dengan mata coklat terangnya.
Selimut sudah teronggok di lantai, seprai sangat berantakan, buku, dan banyak dress berserakan. Hotaru menyisir rambutnya ke belakang, ia menunduk tidak bisa membayangkan saudari kembarnya sendiri yang melakukan itu.
Hotaru bergerak menuju ruang ganti membuka pintu itu dengan kasar.
Ceklek!.
Ia bergeming di tempat. Keadaan ruang ganti tetap rapi yang membuatnya sangat terkejut adalah, kaca di sebelah kanan ruang ganti retak. Retakan besar.
Hotaru segera tersadar berlari secepat mungkin meninggalkan kamar itu.
Seharusnya mereka belum sampai, Yuki belum memberitahukan pilihannya kan. Mereka belum mengumumkannya, batin Hotaru khawatir.
Bagaimana bisa ia tidak memikirkan perasaan adiknya, bagaimana bisa ia tidak mencoba mendengarkan pikiran saudari kembarnya. Dia benar-benar saudara yang buruk. Geram Hotaru merutuki diri sendiri.