
Pagi, di kala semua orang masih tertidur Yuki untuk pertama kalinya setelah sekian lama satu mobil dengan Hotaru. Yuki memilih duduk di kursi samping kemudi, Hotaru hanya dapat memandangi punggung adiknya dari belakang.
Mobil berhenti di depan stasiun, Sayuri berangkat bersama Yamazaki. Anak-anak sudah menunggu di depan stasiun dengan wajah mengantuk mereka. Tidak banyak barang-barang yang Yuki bawa, cukup ransel di punggungnya.
"Senpai!." Seru Sayuri bersemangat. Anehnya gadis loli itu tidak mau diam hanya di sekitar Yuki.
"Masih pagi kecilkan suaramu."
"Ung." Ciiiitt, suara ban mobil mengalihkan perhatian anak-anak.
Fumio dan seorang gadis keluar dari kursi penumpang. Yuki mengalihkan pandangannya mengajak Sayuri menyingkir.
"Kamu datang dengannya?." Hotaru melempar minuman soda yang baru di belinya dari mesin.
"Ya, aku mendapat telefon dari ibunya untuk berangkat bersama." Jawab Fumio setelah menangkap kaleng soda.
"Seberapa jauh hubungan keluarga kalian?." Hotaru melirik Aoki yang sedang berbicara dengan Hara.
"Tidak sejauh itu. Aku pernah mengantarnya pulang setelah selesai latihan. Bertemu kedua orang tuanya sebentar." Jelas Fumio menengguk minumannya.
"Kapan?."
"Sebelum kamu kembali. Aku tidak akan berpaling, kamu meragukanku Hotaru?." Tanya Fumio dengan santai.
"Entahlah. Aku juga bingung."
"Hm?." Jawaban Hotaru membuat Fumio bertanya-tanya.
"Jika aku melarangmu, membatasimu bersama perempuan lain tapi ternyata adikku masih terus mengabaikanmu bukankah aku terlalu jahat." Fumio hampir tersedak minumannya.
"Bukan salahmu. Tidak ada yang mengira hukuman itu ada di tubuhnya."
Prok!.
"Anak-anak sebentar lagi waktunya berangkat ayo masuk." Hara menggiring anak asuhnya mengantri tiket yang sudah Yamazaki bayar dengan anggaran sekolah.
"Pelatih, kenapa kita tidak naik bus seperti tahun lalu saja?." Protes Yuto.
"Sekali-kali naik kereta express buatan negara kita." Jawab Hara.
Di dalam kereta Yuki terus memakan cemilan dengan Sayuri. Suara Aoki yang lembut berbicara dengan Yamazaki sesekali masuk ke dalam telinganya. Tempat duduk mereka yang berada di depan belakang itu membuat Yuki dapat mendengar suara Aoki.
"Ojou sama terganggu?." Lirih Sayuri.
"Tidak, kenapa harus terganggu?." Sayuri menjawab pertanyaan Yuki dengan menggelengkan kepala.
***
Setelah perjalanan yang panjang dan lama. Akhirnya mereka sampai di tokyo. Anak-anak sangat bersemangat, Yamazaki ternyata sudah memesan bus untuk mereka. Yuki yang sibuk menjawab telefon dari Daren membuatnya tertinggal dengan teman-teman yang lain. Mereka semua sudah masuk ke dalam bus.
Yuki meminta maaf kepada Yamazaki dan Hara karena membuat mereka menunggu. Maniknya tidak menemukan bangku yang lain. Sayuri sudah duduk bersama Yuto, Hotaru bersama Aoki. Yuki berjalan kembali ke depan mencoba berbicara dengan Hara.
"Pelatih sepertinya masih lelah, mau saya yang menyetir?." Tawar Yuki. Yamazaki menahan senyum di belakang Hara.
"Tidak boleh. Jangan bercanda manajer. Harus memiliki sim untuk bisa menyetir." Tolak cepat Hara. Yuki mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya.
"Saya punya pelatih." Hara dibuat melongo oleh Yuki.
"Sudah sudah, jangan aneh-aneh. Duduk, kita mau berangkat." Hara mengibas-ngibaskan tangannya mengusir Yuki. Yuki melirik ke belakang.
"Takkecchan mau,"
"Tidak Yuki. Silahkan duduk di kursimu." Yuki mengumpat dalam hati. Mereka sekongkol mengerjainya.
Dengan terpaksa ia duduk di sebelah Fumio. Memberi jarak diantara keduanya. Bus mulai berjalan, Yuki memilih fokus dengan ponsel di tangannya.
***
Mereka di sambut oleh manajer anak-anak kelas satu. Yuki turun terakhir barulah Fumio menyusulnya dari belakang. Yuki membantu membawa barang-barang keperluan klub bersama Sayuri dan Aoki.
Mereka di tuntun ke lantai dua. Para pemain menginap di salah satu ruang kelas yang sudah di rubah menjadi sebuah kamar. Karena sudah masuk liburan musim panas banyak ruang kelas yang tidak terpakai. Lalu para manajer di tuntun menuju lantai tiga. Para manajer akan tidur di satu ruangan yang sama dan ini pertama kalinya bagi Yuki tidur bersama perempuan lain kecuali Natsume tentunya.
"Sma Koiwa yang pertama kali datang jadi masih banyak tempat yang bisa di pilih." Jelas manajer voli tuan rumah.
"Kami memiliki empat manajer kami berada di sebelah kanan." Imbuh mereka.
"Kalau begitu, kami memilih di sebelah kiri dekat dengan pintu belakang." Kata Aoki. Yuki setuju dengan itu, ia tidak ingin banyak berinteraksi dengan mereka nantinya.
"Baiklah, namaku Chika dan dia Kagami, senang bertemu dengan kalian." Mereka mulai berbasa-basi, Yuki banyak diam bahkan manajer tuan rumah itu terlihat penasaran dengannya namun sungkan bertanya.
Tidak banyak yang bisa di lakukan, sampai sore hari tiba. Yuki di hadapkan dengan dapur kantin sekolah. Sayuri yang membaca raut wajah Yuki segera melakukan sesuatu. Berpura-pura meminta Yuki mengambilkan wortel yang berada di samping gadis itu hingga permintaan tolong aneh lainnya. Untunglah Aoki belum sadar.
Makan malam yang cukup tenang karena hanya anak-anak dari sekolah mereka saja. Tim lain akan datang mulai besok. Setiap tim hanya mengirimkan tim inti mereka.
Yuki lagi-lagi di buat bungkam dengan setumpuk piring kotor bekas makan malam timnya. Ini baru namanya pesuruh yang sesungguhnya, batin Yuki.
Apa yang harus ia lakukan?, semprotkan dengan air saja?, rendam?, masukkan ke dalam mesin cuci biar cepat selesai?. Pikiran-pikiran Yuki beradu sampai Sayuri datang menolongnya.
"Sayuri, aku berhutang budi kepadamu." Lirih Yuki bernafas lega.
"Tidak ojou sama. Oh iya boleh saya minta tolong. Maaf jika saya lancang."
"Tidak masalah, apa yang bisa aku bantu?."
"Saya ingin membeli es krim yang ada di samping kantin tapi uang saya tertinggal di dalam tas, boleh saya minta ambilkan?. Sekali lagi saya minta maaf." Yuki tersenyum lalu mencubit sebentar pipi Sayuri.
"Aku juga tidak bawa uang. Aku ambilkan sebentar." Ucap Yuki.
"Terima kasih ojou sama." Yuki mengacak sekilas rambut Sayuri sebelum pergi.
Tanpa Yuki sadari sejak tadi ada orang yang bersembunyi di titik butanya. Hotaru dan Fumio yang memanggil Sayuri memberikan gadis itu skenario agar Yuki pergi dari kantin.
"Biarkan saja, kamu pasti lelah mengerjakan tugas Yuki dan melindunginya." Ujar Hotaru mengambil alih spon dari tangan Sayuri.
"Terima kasih, kamu boleh duduk di sana." Fumio memegang handuk kering untuk mengelap piring yang sudah bersih.
Keduanya menyelesaikan semua piring sebelum Yuki kembali.
"Sayuri, ayo kita beli es krim." Sayuri tersenyum berjalan ke arah Yuki.
***
Hari minggu malam. Kantin terlihat penuh dengan luapan para pemain voli, Yuki juga tidak di hadapkan dengan dapur atau wastafel pencuci piring lagi, sebelas manajer kecuali dirinya sudah cukup untuk mengerjakan kedua jenis tugas itu. Yuki memilih membersihkan meja dan menyapu ala kadarnya.
Yuki seperti hantu, ia akan muncul jika tempat itu sudah sepi dan cepat pergi jika banyak orang yang datang.
Malam sudah sangat larut tapi Yuki belum ada tanda-tanda kembali ke kamar. Ia masih asik duduk di atap menatap langit malam. Pelatihan akan di mulai besok, ia sudah tidak dapat bersembunyi lagi.
Yuki memutuskan untuk kembali, bergerak sangat pelan agar tidak membangunkan manajer yang lain.
Yuki sulit untuk tidur, pikirannya tidak tenang. Sampai matahari memunculkan dirinya. Yuki segera membereskan kasur lipat yang ia pakai menatanya dengan rapi lalu pergi ke kamar mandi di sekolah itu, membersihkan dirinya sebelum yang lain bangun.
Ia sudah siap dengan kaos pendek putih dan celana training putih ungunya. Ia menata kursi, mengangkatnya dari atas meja, mengelap meja dan menata piring-piring yang akan di gunakan untuk sarapan.
Selesai. Yuki segera kabur ke atap.
"Aoki san bukankah manajer kalian ada tiga orang, kenapa aku selalu melihat hanya ada dua?." Tanya manajer senior tuan rumah.
"Agh, itu karena manajer kami yang satu lagi sangat cepat dalam bekerja, dia pergi untuk melihat-lihat sekitar." Jawab Aoki sekenanya saat mereka sedang menyiapkan sarapan.
Yuki lapar, dan untungnya ia menghubungi Yamazaki untuk membelikannya roti. Yuki memang suka kabur tapi kali ini ia merasa seperti pecundang. Mau tidak mau ia harus menghadapinya.
Semua orang sudah berkumpul di dalam gym yang sangat luas. Ada enam sekolah yang ikut pelatihan dan terdapat enam lapangan.
Setelah pidato singkat dari kepala sekolah tuan rumah, para pemain mulai berlatih tanding dengan sekolah yang berbeda. Sekolah Yuki sedang melakukan briefing sebelum bertanding.
"Senpai, mereka sepertinya sudah tidak sabar melawan kita." Lirih Jun yang notabenenya tidak tertarik memperhatikan sekitar.
Fumio menoleh ke samping mendapati para pemain yang akan menjadi lawan mereka juga manajer bahkan pelatih mereka melihat ke arah teman-temannya berada.
"Mereka tidak ingin tawuran kan?." Celetuk Yuto.
Tak.
Hotaru menyentil pelan dahi juniornya.
"Kalau tawuran di kolong jembatan, ngapain di gym." Jawabnya.
"Siapa tahu senpai." Balas Yuto tidak mau kalah.
"Hachibara san!." Tiba-tiba ada yang berteriak dari arah tim lawan.
Hotaru pikir mereka meminta suit untuk menentukan sekolah mana yang melakukan servis lebih dulu. Tim lawan pun di buat bingung karena yang datang bukan orang yang mereka harapkan.
Latihan sudah di mulai tiga jam yang lalu, Yuki memutuskan untuk cuek seperti biasa. Mengabaikan berbagai tatapan yang mengarah kepadanya.
Tidak terasa waktunya istirahat siang, Yuki, Sayuri, dan Aoki menghampiri timnya yang berada di lapangan tengah membawa botol-botol minum yang baru dan membagikan handuk.
"Yuki." Panggil Hotaru menghampiri kembarannya. Namun seperti biasa Yuki mengabaikannya memilih menghindar.
"Dengarkan aku sebentar." Kekeh Hotaru mengikuti Yuki.
Hotaru merasakan tatapan-tatapan aneh dari sekolah tuan rumah. Bukan tatapan memuja atau yang biasa laki-laki lain lakukan kepada Yuki. Hotaru hanya ingin memperingatkan Yuki karena adiknya terlihat terlalu cuek dengan mereka.
"Yuki, onegai (tolong)." Hotaru bahkan sampai memohon.
Srek.
Pak.
Yuki menghindar lalu menangkap tangan Aoki. Hotaru mengerem kakinya agar tidak menabrak tubuh Yuki.
"Aoki, apa yang kamu lakukan?." Tanya Hotaru menatap manajer kelas duanya.
"Sudah cukup senpai. Aku tidak tahan lagi dengan kelakuan kekanak-kanakan Hachibara senpai." Aoki menarik tangannya dengan kasar hingga terlepas.
"Hentikan Aoki, semua orang melihat kita." Tegur Hotaru.
"Aoki chan." Panggil Fumio.
"Berhenti membelanya senpai!." Aoki mulai meninggikan suaranya.
"Seharusnya yang merasa malu itu Hachibara senpai, sejak tadi sudah banyak orang yang menatapnya aneh." Yuki hanya diam mendengarkan.
Srrrttt.
Set.
Sayuri menarik handuk di pundaknya, melangkah ke depan hendak menyerang Aoki namun Yuki berhasil menghentikan Sayuri dengan isyarat tangannya.
"Jaga mulutmu Aoki san. Berhenti mengoceh jika tidak tahu apa-apa." Gertak Sayuri dingin.
"Sayuri ..." Panggil Yuki halus. Isyarat agar gadis itu diam.
"Semua orang sudah tahu, seluruh sekolah kita sudah tahu. Betapa sombong, angkuh, dan jahatnya kembaran kapten." Mata Aoki berkilat marah. Yuki membiarkan gadis itu mengeluarkan unek-uneknya.
"Adik macam apa yang bersikap kasar kepada kakaknya. Saudara macam apa yang bersikap dingin kepada saudaranya. Hachibara san?." Aoki maju selangkah mendongak menatap manik biru Yuki.
"Dimana hatimu?. Apa kamu memiliki hati untuk merasa menyesal dengan sikapmu yang selalu menyakiti kapten?. Apa kamu tidak melihat kesedihan di mata kapten setiap melihatmu?. Dimana hati nuranimu Hachibara san?!." Yuki mengulas senyum tipis kepada Aoki.
Ketegangan yang mereka buat menyebar ke seluruh gym.
"Sudah?." Satu pertanyaan itu lah yang keluar dari mulut gadis yang sudah di maki-maki oleh Aoki.
"Kalau sudah, aku mau istirahat." Ujar Yuki berjalan pergi. Beberapa anak-anak sekolah lain yang menonton menahan suara tawa mereka melihat tanggapan Yuki yang habis di serang oleh teman sesama menejernya.
"Hachibara san!. Dasar pengecut!." Yuki menghentikan langkahnya berbalik menatap Aoki.
"Siapa di sini yang tidak tahu malu?." Tanya Yuki mengembalikan kalimat itu kepada Aoki.
Wajah Aoki berubah merah padam.
SSRREEETT!!.
JJEEDDDEEEERRRR!!!.
Pintu jim di banting sangat keras memunculkan beberapa orang dengan seragam musim panas.
"YUUUU CCCHHAAAAAAAANNNN !!!." Bulu kuduk Yuki langsung merinding hebat mendengar teriakan melengking yang sangat ia kenali.
TAP!. TAP!. TAP!.
"YU CHAN!, KELUAR!."
Semua atensi terpaku kepada tamu tak diundang. Untunglah para pelatih dan guru-guru sudah pergi lebih dulu jadi semua keributan ini tidak sampai ke telinga mereka.
Manik Natsume bergerak bagaikan harimau kelaparan mencari sosok yang ia hafal. Setelah mendapatkan pesan dari manajer voli teman satu kelasnya yang meragukan tentang menejer tim voli sekolah lain yang kebetulan agak mirip dengan Yuki, alasan itu sudah cukup membuat Natsume dan Honda juga Ueno tanpa pikir panjang berlari ke gym voli putra.
Di dalam gym tidak ada yang berani bergerak. Melihat tiba-tiba seekor singa betina merangsek masuk membuat nyali mereka ciut. Bukan apa, pasalnya perempuan kalau sudah mengamuk lebih mengerikan dari pada laki-laki kalau sedang marah.
Honda menarik lengan Ueno dan Natsume menunjuk seseorang yang sedang memunggungi mereka. Natsume melebarkan matanya.
Apa mungkin Yu channya melakukan itu kepada rambutnya?, kemana rambut hitamnya selama ini?, tanya Natsume dalam kepalanya. Natsume menangkap gerakkan gadis itu yang hendak melangkah pergi.
"JANGAN BERGERAK!." Teriak Natsume.
Yuki membeku seketika, ia meringis dalam hati. Hazuki sedang marah besar, batinnya.
Percuma saja jika ia kabur sekarang Natsume akan mengejarnya sampai ke ujung dunia. Suara langkah kaki Natsume terdengar semakin mendekat, Sayuri langsung bersiaga.
"Sayuri." Panggil Yuki lirih. Gadis loli itu menoleh menatap Yuki.
"Tidak apa-apa, mereka tidak berbahaya." Ucap Yuki. Sayuri mengendurkan otot-ototnya meskipun masih ragu.
Yuki menarik nafas panjang. Hal itu tertangkap oleh manik Hotaru, Fumio, dan rekan tim mereka. Yuki membalikan badan perlahan sampai menghadap tepat ke arah Natsume, Ueno, dan Honda.
"Yo, Hazuki." Sapa Yuki datar.
Dan itu ternyata membuat ketiga temannya berhenti bergerak. Tubuh mereka bergetar, tangis ketiganya pecah. Natsume yang paling keras. Seakan gadis itu tidak menahan apa pun, ia meraung berlari ke arah Yuki.
"Yu chaaaaannn ..."
Yuki juga ingin menangis melihat mereka menangis. Pertemanan mereka memang sebentar tapi sangat membekas di dalam hati dan ingatan Yuki.
Yuki mengangkat tangannya mengacungkan jari telunjuk, seperti yang selalu ia lakukan ketika Natsume hendak memeluknya. Natsume yang melihat itu semakin meraung menangis sejadi-jadinya, ia sangat merindukan teman birunya itu. Berlebihan?, tentu saja untuk gadis gila seperti Natsume. Pasalnya Natsume sudah menganggap kehadiran Yuki lebih penting dari hidup gadis itu sendiri.
Jika tidak ada Yuki mungkin ia sudah hancur di tangan kakak tiri dan ayah tirinya, jika tidak ada Yuki mungkin Natsume sekarang berada di dalam rumah sakit jiwa.
Begitu pun dengan Honda. Jika Yuki tidak memilihnya menjadi perwakilan ratu ia pasti masih di bully dan di siksa oleh teman-teman smpnya, jika bukan karena bantuan Yuki dan perlindungan yang di berikan gadis itu mungkin Honda memilih jalan bunuh diri untuk mengakhiri penderitaannya.
Sedangkan Ueno sangat tulus berteman dengan Yuki. Gadis bermanik biru itu seperti sebuah magnet besar yang menarik apa pun ke arahnya, sangat sulit untuk di tolak.
Natsume merentangkan kedua tangannya. Yuki sedikit mundur mendapati Natsume sudah dekat dengannya.
Tuk.
Natsume berhenti. Yuki menahan tangannya tetap berada di dahi Natsume. Manik mereka bertemu. Seperti ratusan tahun lamanya mereka tidak bertemu dan sekarang masih seperti mimpi bagi Natsume.
"Yu chan, HIKS!." Yuki tersenyum lembut menyihir siapa pun yang melihatnya.
"Hm." Gumam Yuki.
"HIKS, HIKS, YU chan ..." Panggil Natsume lagi.
"Hm."
"Hachibara san."
"Hachibara san."
Honda dan Ueno berjalan mendekat.
"Maaf, tidak berpamitan dengan kalian." Ucap Yuki, ternyata hal itu membuat Natsume kembali menggila.
"Kamu!. BENAR-BENAR MENYEBALKAN YU CHAN!." Yuki terkejut dan langsung menarik tangannya menghindar ke sana kemari agar tidak tertangkap oleh Natsume.
"Hazuki!, sadar!." Seru Yuki takut suaranya tidak terdengar oleh Natsume.
"APA HIKS!. KATAMU?. KENAPA KAMU SELALU MENGHILANG? HIKS!. KENAPA TIDAK PERNAH MEMBERI HIKS! KABAR. APA KITA INI BUKAN TEMANMU?!. HIKS." Jerit horor Natsume. Ueno dan Honda mengangguk-anggukkan kepala mendukung Natsume seraya sibuk menghapus air mata mereka.
Hotaru dan Fumio menikmati tontonan itu. Jarang sekali ada orang yang bisa membuat Yuki pucat pasi seperti sekarang.
Saudari kembar Hotaru terus menghindar seraya mencoba menenangkan orang yang di panggil Hazuki itu.
"Maaf, aku tahu aku salah. Dengarkan aku." Memang sulit berbicara dengar orang gila, batin Yuki.
"Hachibara senpai. Apa tidak apa-apa manajer di serang seperti itu?." Tanya Yuto.
Anehnya suara Yuto yang tidak kalah lirihnya dengan suara Yuki tertangkap oleh telinga Natsume, dengan cepat gadis itu membalikan badan menatap Yuto menghentikan niat Hotaru untuk menjawab.
Yuto yang di tatap seperti itu pun menciut dan berlindung di belakang tubuh Fumio.
"Siapa yang kamu panggil Hachibara san?." Tanya Natsume dingin.
"K kapten." Jawab Yuto terbata seraya menunjuk Hotaru. Natsume beralih menatap Hotaru menyipitkan matanya.
"Hachibara?." Ulang Natsume menggantungkan kalimatnya yang dilanjutkan oleh Hotaru.
"Hotaru. Salam kenal." Ucap Hotaru santai.
Ini tidak boleh terjadi, batin Yuki.
"Hazuki." Panggil Yuki berjalan menghampiri temannya.
"Kamu?. Saudara kembarnya Yu chan?." Tanya Natsume memastikan seraya berjalan mendekati Hotaru.
"Yuki bercerita tentangku?. Ya, aku saudara kembarnya."
PLAAKKK!!.
Yuki seketika mengerem kakinya meringis kesakitan. Hazuki seharusnya kamu menahan sedikit tenagamu, rutuk Yuki dalam hati.
Hotaru yang wajahnya terlempar ke samping kembali menatap Natsume perlahan. Gadis itu menatap nyalang Hotaru dengan api amarah yang berbeda dengan yang tadi.
"Kemana perginya kamu ketika Yu chan sakit!?." Natsume mendorong pundak Hotaru kasar. Pemuda itu melebarkan matanya, ia tahu apa yang dimaksud Natsume tapi ia tidak menyangka gadis di depannya mengetahui hal itu.
"Kemana kamu saat Yu chan membutuhkan orang untuk bersandar!?." Natsume mendorong pundak Hotaru yang satunya lagi.
"Hazuki." Panggil Yuki dari belakang.
"Kemana kamu saat Yu chan tidak bisa bergerak di atas kasurnya!?." Natsume kembali menangis hebat, dan masih terus mendorong pundak Hotaru.
"Hazuki." Yuki mencoba menghentikan temannya.
"Kemana kamu di saat Yu chan kehabisan DARAH!?." Teriak Natsume.
PLAK!.
Hotaru melebarkan matanya begitu juga dengan Natsume yang telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk menampar Hotaru. Yuki mengabaikan rasa nyeri di tempat yang sama.
"Yu chan ... Kenapa?. Maaf, aku." Natsume tergagap melihat darah di sudut bibir Yuki.
Gadis bermanik biru itu malah tersenyum sangat manis dan tulus, masih menatap Natsume dengan lembut.
Puk.
Yuki meletakan tangannya di pucuk kepala Natsume, lalu menepuk-nepuknya pelan.
"Yosh yosh (Cup cup), mau sampai kapan kamu menangis?. Gym bakal tenggelam kalau kamu tidak berhenti menangis." Suara lembut yang sangat menenangkan itu terdengar jelas di seluruh gym.
Yuki perlahan maju, melingkarkan lengannya memeluk Natsume, satu tangannya mengusap-usap lembut belakang kepala gadis itu.
"Maaf." Lirih Yuki.
Natsume langsung melingkarkan tangannya di tubuh Yuki, kembali menangis hebat. Natsume meredam suaranya dalam pelukkan gadis bermanik biru itu.
Pemandangan yang indah, Yuki bagaikan induk beruang yang menenangkan anaknya. Hal itu membuat orang-orang meragukan penghakiman semua kata-kata Aoki kepada Yuki beberapa menit yang lalu. Lihat, gadis bermanik biru itu memiliki hati yang sangat lembut dan hangat.
Honda dan Ueno bergabung dengan kedua temannya dalam sebuah pelukkan yang besar. Hotaru menyisir rambutnya ke belakang lalu meremasnya pelan. Saudara kembarnya memiliki teman-teman yang baik. Dan kata-kata Natsume dengan mulus menusuk hati Hotaru, menohoknya tepat sasaran.
"Ayo kita pergi ke cafe." Celetuk Honda melepas pelukkannya dan menghapus air mata dengan punggung tangan setelah merasa lebih baik.
"Ide bagus. Kamu harus menjelaskan semuanya kepada kami Hachibara san." Ancam Ueno yang ikut melepas pelukkan.
"Kalau begitu. Hiks!." Ucap cepat Natsume melepas pelukkan Yuki dan beralih memegang kedua tangannya.
"Pegang mahluk yang suka kabur ini. Kita seret dia ke cafe." Honda dan Ueno mengangguk paham.
Grep.
Grep.
Yuki melebarkan matanya. Natsume memegang tangan kirinya, Honda memegang tangan kanannya, Ueno mendorong punggung Yuki maju.
"Tunggu. Tunggu sebentar. Aku masih ada latihan." Tolak Yuki yang menggeliat berusaha melepaskan diri.
"Mereka bisa mengurus diri mereka sendiri." Celetuk Natsume.
"Hazuki. Tidak boleh seperti itu. Sensei akan memarahiku." Yuki tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia tidak mungkin melukai teman-temannya agar dapat melepaskan diri.
"Hachibara san, kami yang akan bertanggung jawab tenang saja." Ucap Ueno.
"Jangan mengkhawatirkan apa pun ayo kita pergi." Sambung Honda. Yuki hanya menghela nafas berat.
Natsume melambaikan tangan kepada tim voli oukami, kepada teman-temannya yang sudah memberitahukan informasi penting ini.
"Aku bisa menangkapnya berkat kalian. Terima kasih!." Seru Natsume, Yuki melirik tim mantan sekolahnya lalu memutar bola matanya, ciri khas yang sering ia lakukan jika sedang malas atau kesal. Tim voli oukami tertawa bahagia mendapatkan respon itu dari Yuki.
Kejutan Yuki belum berhenti sampai di situ. Teriakan menggelegar dari arah pintu depan gym membuatnya terperanjat kaget.
"SENPAAAIIII ...!!!." Ke empat gadis menoleh menatap ke sumber suara.
Laki-laki berseragam putih lengkap menghadang Yuki di depan pintu gym.
"Senpai selingkuh!." Hardik Nakamura membuat Yuki menaikan satu alisnya dengan cepat.
"Senpai menghianati kami!." Hardik Inuzuka. Yuki semakin melebarkan matanya dan mengerjap bingung.
"S senpai, kenapa pindah?." Ok, pertanyaan waras dari Haruno.
"Setidaknya katakan sesuatu sebelum pergi." Sambung Hirogane.
"Yo, manajer. Apa laki-laki klub voli lebih menarik dari pada kita?." Celetuk Kudo membuat pemain yang lain menatap Yuki tajam.
Natsume menoleh kepada Yuki dan baru tersadar kalau gadis itu masih mengangkat satu alisnya dan menutup rapat mulutnya membuat wajah gadis itu terlihat menggemaskan.
"Sudah aku katakan berhenti mengangkat alismu Yu chan!." Yuki menoleh menatap Natsume.
"Apa salah alisku Hazuki?." Protes Yuki.
"Pokoknya turunkan sekarang." Paksa Natsume.
"Alisku tidak bersalah padamu." Yuki menjauhkan wajahnya dari Natsume.
"Yu chan!."
Aksi mereka menimbulkan rasa gemas dan lucu secara bersamaan oleh orang-orang yang menonton hingga sebuah tangan mengangkat tubuh Yuki dengan entengnya dan meletakan gadis itu di depan tubuh orang yang mengangkatnya.
Ueno, Honda, dan Hazuki dibuat melongo melihat mangsa mereka di rampas oleh Nakashima.
"Senpai milikku." Yuki menghela nafas berat. Nakashima menunduk menatap pucuk kepala Yuki.
"Senpai tidak boleh berselingkuh lagi. Tinggalkan klub voli ayo kembali ke tim baseball. Aku sudah menumbuhkan otot-otot lenganku seperti yang senpai minta." Ucap panjang Nakashima yang tidak sadar sedang di tatap banyak predator kelaparan.
Satu detik kemudian.
Brak.
Buk.
Pak.
Tendangan di ******, pukulan di perut, tamparan di belakang kepala. Semua Nakashima dapatkan dari para senpainya.
"Bocah kurang aj*r, berani-beraninya memegang sang dewi." Senior 1.
"Lancang sekali tanganmu. Kamu dilarang melempar hari ini." Sergah Kurokawa catcher cadangan kelas tiga.
"Sudah bosan hidup. Hah?!." Hirogane memiting leher Nakashima di bawah ketiaknya.
"Kalian semua." Anak-anak klub baseball terdiam menatap Kudo.
"Bunuh dia." Titahnya.
Mereka langsung berseru mencoba mengeroyok Nakashima. Itu kesempatan emas bagi Yuki untuk kabur tentu saja tidak ia sia-siakan.
Yuki melangkah mundur dan, lari!.
Bruk.
"Agh." Lirih Yuki mendongak. Ia yakin tidak ada orang di belakangnya tadi.
"Warna rambutmu jelek." Yuki terkejut. Wajahnya berubah cerah berseri, suasana hatinya juga berubah. Senyumnya merekah sampai kedua matanya menyipit, ia memamerkan gigi-gigi putih rapinya.
Keiji terpaku dengan penampilan baru Yuki, terlihat lebih imut meski aura seksi gadis itu tidak lah luntur. Apalagi senyum yang tidak pernah Keiji lihat, bahkan sampai matanya menutup.
"Keiji kun!." Jerit Yuki menghentikan kekacauan di belakang tubuhnya.
Grep.
Tanpa pikir panjang Yuki memeluk Keiji, menarik bocah bongsor itu menunduk.
"Oh, Yu chan mulai lagi." Lirih Natsume yang sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ung, Hachibara san sangat lengket dengan Keiji kun. Sangat susah untuk kita menjauhkan mereka." Tambah Ueno. Honda yang baru tahu fakta itu kembali melihat interaksi antara Yuki dan juniornya.
"Kamu berhasil masuk ke sini hm?." Suara Yuki terdengar ringan dan merdu. Gadis itu sedang senang.
"Hachibara san, lepaskan. Mereka akan membunuhku." Pinta Keiji yang melihat tatapan tajam dari para senior-seniornya.
"Siapa yang berani membunuhmu?, suruh lewati dulu mayatku." Jawab Yuki mengeratkan pelukkannya pada tubuh besar Keiji.
Hotaru melirik Fumio yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kamu makan apa bisa jadi besar begini?." Tanya Yuki. Keiji menepuk-nepuk pundak belakang Yuki memintanya untuk melepaskan pelukan.
"Makan nasi. Hachibara san, lepaskan." Jawab Keiji cepat.
Sret.
Yuki melepaskan pelukkannya dan sekarang kedua tangannya sudah bertengger di kedua pipi Keiji. Bergerilya di sana.
"Pipi gembulmu juga tambah berisi." Ucap Yuki senang.
"Hwa chi bwarwa swan, lwepaskwan." Yuki terkekeh geli mendengar kalimat tidak jelas yang keluar dari mulut anak itu.
Semua orang tersihir dengan interaksi keduanya. Membuat iri para kaum adam.
"Ternyata kamu bisa masuk sekolah ini hm?. Sekarang panggil aku senpai." Pinta Yuki.
"Twidak, kamwu tidwak swekowlah di swini." Tolak Keiji.
Yuki memasang wajah jail dengan senyum yang ia tahan. Tangannya semakin gencar bergerilya di pipi Keiji.
"Apa?, katakan sekali lagi?. Panggil, se.., n, pai." Ulang Yuki.
"Twidak mauw." Kekeh Keiji.
Sedangkan di depan pintu gym.
"Hachibara san imutnya ..." Lirih Honda.
"Ung." Jawab Natsume dan Ueno menyetujui.
"Sang dewi ..." Lirih siswa tim baseball maupun tim voli sma oukami. Mereka kembali terpukau dan merasa cemburu dalam waktu yang bersamaan.
Yuki tidak bisa berada di sana lebih lama lagi, ia akan menculik Keiji pergi.
"Ayo Keiji kun kita pergi." Yuki menghentikan kegiatannya di pipi Keiji dan menarik tangan besar Keiji pergi menjauh.
Sret.
Tubuh Keiji diam tidak bergerak di tempatnya. Yuki membalikan tubuh menatap Keiji seraya mengangkat satu alis.
"Aku tidak bisa. Pertandingan musim panas sudah dimulai. Aku akan pergi ke koshien tahun ini." Yuki terkejut. Tapi bibirnya tersenyum cerah.
Yuki berjalan mendekati Keiji tanpa melepaskan tangan anak itu.
"Apa kamu sudah masuk tim inti?." Tanya Yuki.
"Ung." Yuki mendongak tersenyum bangga.
"Apa kamu yakin bisa memukul bola milik Chizuru?."
"Ung."
Yuki menaikan tangannya merapikan rambut Keiji.
"Ayo, aku akan membantumu latihan." Ujar Yuki menoleh kepada mantan rekan timnya.
"Semuanya, ayo kita berlatih." Ujar Yuki datar namun dapat membakar api semangat mereka.
"Ooouu!! (Baaaiikk!!)." Seru mereka sangat bersemangat.
"Tidak bisa. Kamu bukan manajer baseball lagi Hachibara san." Keiji menarik tangan Yuki yang hendak pergi bersama para seniornya.
"Tidak masalah Keiji kun, aku akan bicara dengan pelatihmu nanti." Ujar Yuki kembali berbalik hendak pergi ke lapangan tim baseball.
"Kamu sudah pindah sekolah."
Deg!.
Fakta menyakitkan yang tidak hanya menghentikan Yuki namun para pemain baseball lainnya. Yuki tersenyum lembut berbalik menatap Keiji.
"Kamu benar. Kita di sekolah yang berbeda." Yuki mendaratkan jari telunjuknya di sebelah pipi Keiji, menggerakkannya memutar.
"Kenapa ada darah di bibirmu?." Tanya Keiji, ia ingin menanyakannya sejak tadi namun belum ada kesempatan.
"Di tampar Hazuki." Adu Yuki.
Natsume sedikit tidak terima tapi benar adanya kalau dia lah yang menampar Yuki lebih tepatnya, dia berniat menampar Hotaru. Mengingat itu Natsume menoleh ke belakang mendapati wajah shock, tidak percaya, dan wajah tidak suka oleh Hotaru dan laki-laki yang Natsume tidak tahu siapa namanya.
"Kembalilah berlatih. Jika ada yang berani mendaratkan satu pukulan saja padamu aku akan memberikannya pelajaran." Ancam Yuki melirik ke arah tim baseball.
"Hm. Jangan lupa pulang." Yuki menaikan satu alis menatap manik Keiji. Keiji membungkuk untuk membisikan sesuatu.
"Aniki (Kakak) merindukanmu." Setelah mengatakan itu Keiji bergabung dengan rombongannya.
Yuki menoleh kepada Ueno cs. Ia berubah pikiran.
"Mau kabur?." Yuki mengedikkan alisnya ke atas. Tawaran yang di sambut dengan senang hati.
"Ayo kita kabuuur ..." Honda, Ueno, dan tentunya Natsume berlari riang menghampiri Yuki.
Mereka berempat berjalan meninggalkan gym sampai suara berat menghentikan Yuki.
"Yuki. Jangan pergi dari tanggung jawabmu." Yuki menoleh perlahan.
Mizutani berdiri tegap dengan Yamazaki di sampingnya.
"Tsuttsun." Panggil Yuki.
"Tidak. Kembali." Jawab Mizutani.
"Tsuttsun." Ulang Yuki lebih lembut.
"Kembali, Yuki." Yuki memutar bola matanya kesal.
"Tidak." Ulang Mizutani.
"Tsuttsun." Geram Yuki.
Dengan kesal Yuki berjalan meninggalkan ketiga temannya melewati Mizutani dan kembali masuk ke dalam gym, mengambil botol minum entah milik siapa yang langsung di minumnya.
Tsuttsun menyebalkan!, gerutu Yuki.
Kebiasaan Yuki yang sering menurut kepada Mizutani belumlah hilang.