Futago

Futago
Biarkan Aku Bertanya.



Tok. Tok. Tok.


Hajime mengetuk pintu kamar lalu menatap adiknya yang lebih pendek dari dirinya.


"Mau masuk lebih dulu?." Tawar Hajime.


"Tidak apa-apa?." Tanya Keiji.


"Hm, aku di belakangmu."


Awalnya Keiji berpikir Yuki hanya sakit biasa tapi setelah melihat raut wajah kedua orang di bawah sana membuatnya berpikir ulang.


Perlahan Keiji membuka pintu melangkah masuk, harum wangi manis yang lembut langsung menyeruak masuk ke dalam hidung Keiji. Ia merinding, ini pertama kalinya Keiji masuk ke dalam kamar perempuan, begitu juga dengan laki-laki di belakangnya.


Keiji melihat Yuki terbaring di atas ranjangnya, ia mulai mendekat dan semakin mendekat membuatnya bisa melihat dengan jelas wajah pucat, lemah, dan bibir yang agak bengkak, ada luka bekas gigitan, kulitnya pun mengelupas memperlihatkan warna kemerahan di balik kulit itu. Alih-alih cairan bening seperti pada umumnya melainkan warna merah yang menggantung di besi pinggir ranjang.



Ada apa dengan wajahmu?.


Keiji melirik tangan Yuki yang memegang sebuah buku, membacanya.


"Aa .., itu .., ada apa dengan wajahku?." Keiji yang kebingungan tidak tahu mau menjawab apa.


Berbahagialah, sementara ini aku tidak bisa bermain dengan pipimu.


Keiji mengerutkan keningnya.


"Itu bukan bermain, kamu menganiayanya." Protes Keiji, Yuki ingin tersenyum tapi ia menahannya.


***


Sejak kemarin Natsume meneror ponsel Yuki, meskipun Yuki sudah mengatakan dia baik-baik saja tapi gadis itu terus menerornya.


"Sudah siang, makan dulu." Masamune masuk dengan nampan di tangannya. Yuki perlahan mengangkat tubuhnya, bertumpu kepada tangan kanan, ia mendorong tubuhnya untuk menyandar ke kepala ranjang.


"Pelan-pelan." Masamune segera membantu Yuki setelah meletakan nampan di atas nakas.


"Sudah lebih baik?." Tanya Masamune, Yuki menganggukkan kepalanya.


"Syukurlah, tapi bibirmu masih belum membaik." Ujar Masamune mengambil air, melakukan hal yang sama seperti Mizutani membasahi bibir Yuki.


"Kenapa kamu tega melukai bibirmu sendiri." Kata Masamune, ia menatap wajah Yuki yang sedikit mulai membaik tidak sepucat kemarin.


Mi chan pergi jam berapa?.


"Pagi-pagi sekali, setengah enam mungkin."


Semalam Mizutani menjaga Yuki sampai larut malam, pria itu tidak mau tidur di kamarnya yang berada tepat di samping kamar Yuki.


Masamune memberikan lemon hangat kepada Yuki lalu mengoleskan obat di bibir gadis itu.


Maaf aku merepotkanmu.


"Jangan berkata begitu." Kata Masamune menaruh kantung darah di atas pangkuan Yuki.


Yuki mulai mengganti kantung darahnya.


"Aku akan keluar sebentar mau membuang sampah." Masamune memberitahu.


Jangan khawatir, aku tidak akan hilang.


Masamune turun ke dapur, meletakan mangkuk kotor yang langsung ia cuci. Ia hendak membuang kantung darah yang sudah kosong itu. Masamune membuka tong sampah, ia terdiam sebentar.


Belum ada dua puluh empat jam setelah Yuki pulang dari rumah sakit tapi sudah sebanyak ini kantung darah yang ia habiskan, batin Masamune.


Duk duk duk duk duk.


Suara gaduh dari tangga mengganggu ketenangan Yuki.


Ceklek.


"Yu chan!." Teriakan menggelegar membuat Yuki menarik nafas dalam.


"Ap apanya yang tidak apa-apa!?." Natsume dan Ueno berjalan menghampiri Yuki.


"Oh tidak ... Bibir seksiku." Heboh Natsume, Yuki memutar bola matanya.


"Lihat wajah malaikat ini, jangan sekarat dulu." Kalimat nyeleneh dari Natsume mendapatkan pukulan dari Ueno.


"Kemarin kamu menghilang tiba-tiba." Ucap Ueno, Natsume mengagguk setuju tangannya mengusap lengan yang mendapat pukulan dari Ueno.


"Seharusnya kamu memberitahuku jika sedang tidak enak badan." Protes Natsume.


"Kenapa dengan bibirmu?, kenapa bisa seperti ini?." Lanjut Natsume.


"Seperti bekas gigitan." Ueno mengamati, menatap lekat-lekat bibir Yuki.


"Siapa yang menggigitmu?!." Natsume mulai marah.


Yuki hanya diam mendengarkan serbuan kata-kata dari kedua orang itu. Mereka berdua akhirnya lebih tenang setelah beberapa menit, Natsume duduk di pinggir ranjang Yuki dan Ueno duduk di kursi dekat ranjang.


"Sakit apa?." Tanya Natsume menatap Yuki lekat-lekat.


"Anemia?." Tanya Ueno melirik kantung darah yang menggantung.


Bagaimana kalian bisa datang ke sini?.


Natsume dan Ueno terkejut saat Yuki mengangkat buku memperlihatkannya kepada mereka.


"Kamu tidak bisa bicara?, suaramu tidak apa-apa kan?," Natsume lebih mendekatkan wajahnya untuk melihat bibir Yuki.


Yuki membiarkan Natsume melakukan apa pun yang gadis itu mau, ia tidak punya tenaga untuk meladeninya.


"Bibirmu ..." Natsume tidak menyelesaikan kalimatnya ia memilih untuk menjawab Yuki.


"Aku dan Ueno san memaksa Yuuki senpai untuk memberitahukan alamat rumahmu dan kebetulan di depan rumah kami bertemu dengan bibimu, dia menyuruh kami untuk masuk saja." Jelas Natsume.


Apa Hazuki meneror senpai?.


Pertanyaan itu di tujukan kepada Ueno.


"Ung."



Dan kalian bolos sekolah?.


Natsume dan Ueno tersenyum kaku.


"Ueno san, hari ini panas sekali ya." Natsume mengalihkan pembicaraan.


Tuk.


Yuki yang mulai bisa menggerakan tangannya memukul kecil kepala Natsume dengan buku di tangannya.



Aku sudah mengirim pesan kepadamu.


"Aku tidak percaya, karena itu aku bersikeras datang kemari." Srobot Natsume.


"Dan lihat, bagian mana yang baik-baik saja?. Mengangkat buku saja kamu kesusahan." Natsume menatap serius manik Yuki.


Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Beberapa hari lagi aku akan sembuh, maaf sudah merepotkan kalian sampai jauh-jauh datang ke sini.


***


Di suatu malam, tepat pukul sebelas, angin menelusup mengusap lembut wajah gadis yang sedang tertidur.


Sebuah bayangan hitam tersenyum sinis menatap tubuh tidak bergerak itu.


"Wajah tertidurnya sangat mirip dengan Ayumi dono."


Sreeeeettt ...!.


Bayangan itu sangat terkejut, ia tidak bisa menghindar tepat waktu, sesuatu menggores pipinya. Darah segar mengalir jatuh.


Gadis tertidur itu membuka matanya perlahan. Bagaimana bisa gadis itu sadar akan kehadirannya?, ia sudah sangat sempurna menyusup ke kamar ini, tanpa menimbulkan suara sedikit pun.


Yuki bangun, ia menoleh ke bayangan hitam di ujung kamarnya.


"Aku tidak mengenal orang yang kamu maksud." Si penyusup terkejut dengan intonasi suara yang keluar dari bibir penuh luka itu.


"Jadi .., aku mirip siapa?." Si penyusup berusaha mengembalikan sikap dinginnya.


Kamar gelap tanpa penerangan, hanya cahaya bulan yang menyelusup lewat jendela kamar yang terbuka membuat si penyusup dengan jelas melihat manik biru itu.


"Hmm ..?, kamu lupa dengan nama ibumu heh."


Yuki menarik sudut bibirnya menunjukkan senyum tak kalah sinis.


"Sepertinya anda salah orang, bukan itu nama ibuku." Si penyusup kembali terkejut, apa dia tidak mengakui ibunya sendiri?, batin si penyusup.


"Hachibara Ayumi adalah ib!." Si penyusup kini lebih siap ia menghindari sebuah jarum tepat waktu.


Dia tidak bisa di remehkan, aku tidak bisa melihat gerakan tangannya, batin si penyusup.


"Karena kamu sudah masuk ke kamar ini tanpa permisi," Yuki menggantungkan kalimatnya ia turun dari ranjang berdiri berpegangan dengan besi alat untuk menggantungkan kantung darahnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja bukan." Si penyusup diam membeku.


Whuuusshh ...


Sret.


Yuki menangkap dengan mudah gagang pisau kecil itu.


"Incar yang benar tuan, aku hanya berdiri diam di sini." Si penyusup tersenyum lebar.


"Wow, anda lumayan juga. Lain kali aku akan membidik dengan benar." Kata si penyusup berbalik hendak melompat keluar jendela.


Dak!.


Si penyusup bergerak ke samping, lagi-lagi pipinya tergores pisau yang baru ia lempar. Si penyusup menoleh kepada gadis lemah itu.


"Lain kali ak." Tubuhnya membeku, maniknya terkunci oleh tatapan dalam mata biru itu. Rasa takut menyelimuti tubuhnya, penyusup itu tanpa sadar menahan nafas.


"Tutup jendelanya."


Sial!, tubuhku kenapa tidak menuruti perintahku hah!, geram si penyusup bergerak menutup jendela.


"Kemari." Suara Yuki berdengung di dalam gendang telinganya.


Apa yang harus aku lakukan, benar kata Mizutani. Sial, kenapa aku tidak mendengarkannya, sesal si penyusup. Ia berjalan kaku menghampiri Yuki.


"Jadi .., siapa dirimu tuan?." Tanya Yuki.


"Aku salah satu," penyusup itu langsung menggigit lidahnya agar tidak melanjutkan apa yang akan mulutnya katakan.


Aku terperangkap, kenapa aku melupakan kalau dia selalu bersama nyonya tetua. Oh, betapa miripnya ia dengan beliau, batin si penyusup menatap Yuki nanar.



"Kenapa iblis itu hanya mengirim satu pembunuh?, setidaknya ada lima pembunuh yang harus iblis itu kirim kemari." Si penyusup tertegun.


Apa yang dia katakan?, apa maksudnya?. Apa musuh sudah bergerak, bagaimana dia tahu tentang musuh kami?, batin si pembunuh.


"Tuan, dimana iblis itu berada?." Tanya Yuki tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.


"Siapa yang anda maksud?." Yuki menaikan satu alisnya, tatapannya berubah datar.


Yuki mengangkat satu kakinya tinggi-tinggi, penyusup yang melihat itu melebarkan matanya, tapi telat. Yuki sudah mengayunkan kakinya cepat mengenai pundak penyusup membuatnya tersungkur berlutut di depan tubuh gadis itu.


Dak!.


Bruk!.


Ap apa ini tenaga orang sakit, bisa-bisanya aku dikalahkan oleh gadis kecil sepertinya, geram si penyusup.


"Sepertinya tuan tidak bisa di ajak bicara baik-baik." Si penyusup menggeram kesal.


Yuki menjulurkan kakinya ke depan menyentuh dagu penyusup mengarahkannya untuk mendongak menatap wajah Yuki.


"Iblis yang membawa saudara kembarku pergi. Dimana dia?." Lirih Yuki seperti mendesis menahan emosi yang ingin segera keluar.


Bola mata penyusup bergetar cepat, ia melihat kebencian di mata biru itu, bahkan sekarang seluruh kulitnya merinding mendengar nada dingin yang keluar dari mulut gadis yang ia remehkan.


"Aku tidak akan mengulangi pertanyaanku."


Setelah mengatakan itu Yuki menarik sedikit kakinya memindahkan ke samping kepala si penyusup. Penyusup itu tetap membeku di tempatnya seakan ia sudah pasrah dengan apa yang akan di lakukan Yuki.


Yuki menunggu sebentar, ia masih memberikan kesempatan si penyusup untuk menjawab namun penyusup itu tetap bungkam. Yuki menggertakan giginya geram. Dan tanpa aba-aba kakinya menendang ke samping dengan kuat.


BUK!.


BRAK!


Suara benturan keras antara kepala dan lantai kamar. Yuki menatap tajam tubuh yang terbaring di bawah sana, ia mengangkat kakinya lagi mengarahkan ke belakang, Yuki akan menendang dada si penyusup hingga menabrak dinding di ujung kamarnya, namun sesuatu merusak semuanya.


Ceklek!.


"Yuki ..!!." Seru Mizutani membuka pintu.


"Ada ap ..?!." Mizutani bungkam matanya melebar melihat tubuh yang ia kenal tergeletak di lantai.


Kedatangan Mizutani sangat menolong si penyusup, penyusup itu perlahan mendapatkan tubuhnya kembali, ia lepas dari kontrol gadis itu. Perlahan si penyusup bergerak diam-diam.


BUK!.


BRAK!.


SIAL!, seru si penyusup dalam hati. Yuki benar-benar tidak bisa di remehkan, gadis itu menyadari pergerakan penyusup dan tanpa ampun menendang tepat di dada si penyusup membuatnya terlempar hingga menabrak dinding kamar.


"Sebelum tuan mengatakan dimana iblis itu. Aku tidak akan melepaskan tuan."


Sial sial sial!, dia tidak akan melepaskanku jika seperti ini terus, geram si penyusup memegangi dadanya seraya beranjak duduk.


"Aku datang ke sini atas kemauanku sendiri, dan aku tidak tahu dimana Ayu ..."


SETAK!.


Kalimat penyusup terhenti karena benda seperti bolpoin dengan bilah pisau tajam melayang di samping telinganya menancap ke dinding di belakang tubuhnya.


"Jangan sebut nama iblis itu di hadapanku." Ucap dingin Yuki hendak mendekati si penyusup. Penyusup itu kembali bergetar, Yuki mulai mengeluarkan aura yang membuat semua orang berada di bawah kendalinya.


"Yuki!, kamu belum boleh banyak bicara. Biar aku yang menangani penyusup ini!." Seru Mizutani berlari mendekati si penyusup.


Lagi-lagi suara Mizutani membuat si penyusup sadar, penyusup segera berdiri dengan sekali tarikan membuka jendela kamar dan melompat keluar, tangan Mizutani terulur ingin meraih tubuh si penyusup namun gagal.


Mizutani menarik nafas pelan, ia lega orang itu bisa memanfaatkan keadaan untuk pergi dari sana.


"Dia mengenal kakek." Mizutani sontak membalikan badan menghadap Yuki.


"Jenis pertahanan tubuhnya sama." Mizutani menatap Yuki yang terus melihat keluar jendela.


"Seharusnya dia tidak bisa bergerak secepat itu setelah menerima tendanganku." Yuki beralih menatap Mizutani.


"Masukan ini ke dalam pengamatanmu." Ucap Yuki membalikan tubuhnya berjalan kembali ke ranjang, merebahkan tubuhnya seperti semula.


Mizutani menutup jendela kamar lalu menguncinya. Ia duduk di samping ranjang melihat dalam kegelapan, adakah darah di bibir gadis itu. Untunglah tidak ada darah di sana, bibir Yuki mulai mengering. Matanya beralih menatap wajah yang sudah tertidur itu, ini yang Mizutani rasakan saat menjaga jarak dengan Yuki, gadis remaja itu memiliki banyak misteri, dan yang tidak membuatnya ragu adalah darah keluarga Hachibara yang mengalir di dalam tubuh Yuki.


***


Suara gonggongan Shiro anjing milik Keiji membuat Yuki terbangun, ia melirik ke samping mendapati Mizutani tidur sambil terduduk di kursinya. Yuki menarik nafas panjang, mengingat kejadian tadi malam.


Mari kita lihat permainan macam apa ini, batin Yuki beranjak duduk.



Ia melirik kantung darah yang sudah habis, tangannya melepas jarum yang menancap di tangan kirinya.


Ceklek.


Yuki melirik ke arah pintu melihat Masamune berdiri menutup mulutnya dan tangan yang lain memegang kantung darah. Yuki tersenyum kecil memberi kode untuk masuk.


"Apa semalaman Mizutani san tidur seperti itu?." Tanya Masamune dengan suara lirih.


"Sepertinya begitu." Jawab Yuki.


"Aku sudah tidak membutuhkannya, tenagaku sudah kembali." Kata Yuki menunjuk kantung darah.


"Kamu sudah melepasnya?, kamu yakin?." Tanya Masamune memastikan.


"Ung."


"Maaf, aku ketiduran saat menjagamu." Suara serak dari samping menarik perhatian kedua perempuan itu.


"Kalau begitu aku akan menyiapkan sarapan dulu." Masamune keluar kamar membawa pergi kantung darah di tangannya.


"Sepertinya Masamune san tidak mendengar keributan tadi malam." Celetuk Mizutani.


"Hm, kamarnya berada di bawah, atau mungkin karena tidurnya yang terlalu lelap." Jawab Yuki beranjak dari ranjangnya.


"Kamu sudah baik-baik saja?." Mizutani mengingat tenaga Yuki tadi malam.


"Ya, aku sudah sembuh. Dua hari lagi bibirku juga sembuh, terima kasih sudah menjagaku, pasti klub kerepotan tidak ada Mi chan di sana."


"Ada Suzune san dan Yuuki yang mengatur klub jadi aku bisa tenang." Mizutani berdiri menghampiri Yuki sedikit membungkuk menatap tenang manik biru itu.


"Dengar Yuki, aku akan memberitahukan sesuatu kepadamu." Yuki yang mendapati sikap Mizutani berubah secara tiba-tiba membalas tatapan pria itu dengan lembut.


"Surat itu memang dari nenekmu tapi ayahmulah yang memintaku untuk menjadi walimu." Ungkap Mizutani.


Ayah?, batin Yuki.


"Aku tidak bisa mengatakan lebih dari ini, sampai kamu bisa bertahan selama satu tahun tinggal di sini." Yuki mendengarkan dengan seksama.


"Kenapa tidak bisa?." Tanya Yuki.


"Untuk kebaikanmu, ayahmu tidak ingin kamu kebingungan. Carilah jawabannya sendiri dan tetap bertahan." Jawab Mizutani.


"Jika aku tidak bisa bertahan?." Mizutani memegang pundak Yuki.


"Kamu akan di bawa pergi dari sini untuk selamanya dan," Mizutani menatap lekat-lekat manik Yuki.


"Kamu tidak akan mendapatkan apa pun, tidak menyelesaikan apa pun, dan kamu akan terus seperti ini. Seperti sekarang ini." Mizutani menekan kalimat terakhirnya lalu ia menarik tangannya kembali dan berjalan ke pintu.


"Biarkan aku bertanya dua hal." Srobot cepat Yuki menghentikan langkah Mizutani.


"Hm." Jawab Mizutani membalikan badan menatap Yuki.