
Manik Yuki menyorot tajam, ia menahan amarahnya tatkala mendengar suara yang sedang berceloteh ria di dalam ruangan di hadapannya. Ia mengangkat tangan menggeser pintu ke samping.
"Kamu lama sekali,, mengambil ayam gorengnya Ta." Manik coklat terang itu melebar, tubuhnya membeku.
Yuki menatap tajam Hotaru.
"Yuki." Lirih Hotaru, suaranya penuh akan kerinduan. Hotaru hendak menerjang Yuki untuk memeluk adiknya.
"Shoot."
Zeb.
Bruk!.
"Hotaru!." Seorang pemuda memegang pundak Hotaru mengecek keadaan temannya. Fumio menyandarkan tubuh Hotaru pada dinding kaca di belakang mereka.
Yuki mengingat wajah itu, wajah yang menyerangnya sebelum Hotaru muncul.
"Kamu melumpuhkanku Yuki?." Ucap Hotaru menatap adiknya yang masih berdiri di ambang pintu. Hotaru meringis mendapati tatapan tajam dari manik biru yang selalu menatapnya lembut penuh sayang. Setetes air mata jatuh ke pipinya.
Sret.
Sret.
Hotaru melebarkan matanya melihat dua orang asing lainnya tiba-tiba berdiri menyamping di kanan kiri Yuki.
"Kita pergi dari sini. Sekarang." Lirih Mizutani tegas menekan setiap kalimatnya.
"Ojou chan." Lirih Dazai sedikit lembut namun menuntut.
"Jangan!. Jangan bawa pergi Yuki dariku!." Jerit Hotaru.
"Kali ini saja. Aku tahu apa yang sedang aku lakukan." Ujar Yuki membuat keduanya mundur.
Yuki melangkah ke depan memasuki ruang tengah. Suara dari televisi seakan tak terdengar oleh Yuki. Fumio berdiri diantara saudara kembar itu.
"Yuki." Panggil Fumio lirih, jantungnya berdegup sangat kencang. Ia masih tidak percaya gadis yang berdiri di depannya adalah gadis cilik yang ia tunggu selama ini.
Manik biru Yuki masih seperti dulu, namun sorotnya berbeda. Yuki tidak pernah menatap tajam seperti sekarang apa yang gadis itu lakukan. Fumio menelan salivanya kasar, sosok itu berubah menjadi perempuan sangat cantik, tidak! dari dulu dia memang sudah sangat cantik. Tapi bukan hanya karena fisik Yuki yang membuatnya jatuh cinta, hubungan mereka lebih dari sekedar cinta monyet.
Tenggorokan Fumio tiba-tiba terasa kering, lidahnya kaku, mulutnya sulit untuk di gerakkan.
"Minggir." Suara merdu namun dingin Yuki menusuk hati Fumio. Pemuda itu masih ingat suara serak, berat, dan kasar perempuan yang memiliki mata ODD di kyoto, perempuan itu juga yang Hotaru panggil Yuki meski wajah mereka jauh berbeda.
Fumio ingat Hotaru sering memberikannya peringatan kalau Yuki yang sekarang bisa menjadi siapa saja. Karena itu juga, ia berkumpul di sini untuk membicarakan perubahan rencana pencarian gadis itu sebelum Takehara kembali dari kegiatan belanjanya namun siapa sangka Yuki malah manghampiri mereka.
"Ming. Gir." Suara tajam Yuki menyadarkan Fumio dari lamunannya.
"Eiji, biarkan." Ucap Hotaru. Fumio menoleh ke belakang lalu menyingkir.
"Yuki." Panggil Hotaru sayang. Pemuda itu mengerutkan keningnya melihat raut wajah Yuki yang tidak biasanya muncul, adiknya mengerutkan dahi dengan wajah kesal.
"Kamu tidak apa-apa?!." Srobot Hotaru.
"Jawab pertanyaanku dengan jujur Hotaru." Glek. Hotaru menatap lekat-lekat wajah adiknya yang kembali berubah tegas dengan sorot mata tajam.
"Ung, aku akan menjawab semua pertanyaanmu, tapi bisakah kamu mendekat." Yuki tidak bergerak dari tempatnya.
"Apa kamu sangat membenciku sekarang?." Tanya Hotaru ada nada kegetiran di sana.
Tidak!, mana bisa aku membencimu!, jerit Yuki dalam hati. Ia pun kini ingin menangis dan memeluk erat kembarannya, ia juga sangat merindukan Hotaru, selama ini ia berusaha mati-matian bertahan demi Hotaru. Yuki tidak bisa hidup tanpa Hotaru, sungguh. Andai ia bisa mengungkapkannya kepada dunia
ia sangat tersiksa hidup jauh dari saudara kembarnya.
"Bagaimana bisa cucu kakek hanya kamu?." Tanya Yuki setelah berhasil mengolah emosinya.
DEG!.
DEG!.
DEG!.
DEG!.
Nyawa ke empat orang itu seakan meninggalkan raganya untuk sesaat. Dazai hendak menyeruak masuk namun lengan Mizutani menahannya.
"Tsubaki!, ini." Srobot Dazai.
"Sudah terlambat. Kita ikuti permintaannya." Ucap Mizutani, Dazai mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
"Apa yang kamu katakan, cucu kakek kita berdua." Jawab Hotaru tenang.
"Kenapa yakuza hanya mengetahui Hachibara Hotaru satu-satunya cucu kakek?." Hotaru menatap dalam manik tajam itu.
"Yuki," gadis itu memotong cepat.
"Jangan sembunyikan apa pun dariku." Geram Yuki. Hotaru menghembuskan nafas berat melirik Fumio yang menatap Yuki tak berkedip.
Eiji pasti terkejut melihat Yuki yang sekarang, batin Hotaru.
"Untuk melindungiku?." Sergah Yuki tidak sabar.
"Hm." Hotaru menjawabnya dengan gumaman.
"Karena aku yang menciptakan benda aneh itu?." Lanjut Yuki.
"Hm."
"Katakan padaku kenapa kamu mau dijadikan tumbal oleh kakek?." Hotaru terkejut mendengar kalimat tak sopan dari Yuki.
"Kakek tidak menjadikanku tumbal Yuki, aku adalah pewaris selanjutnya, tugasku adalah melindungi semua anggota keluarga." Jelas Hotaru pelan.
"Omong kosong macam apa itu!. Aku." Kini Hotaru yang memotong kalimat Yuki dengan lembut.
"Dulu kamu tidak bisa berkelahi." Yuki terdiam seketika, mengingat cerita singkat tentang dirinya yang masih kecil dari Dazai.
"Kamu membenci perkelahian Yuki." Lanjut Hotaru.
"Saat itu baru prasangka nenek Yuri dan kakek. Untuk berjaga-jaga aku belajar bela diri dari kakek lebih dini. Tidak lama setelah nenek Yuri meninggal mereka menyerang kita. Untunglah malam itu kamu menginap di rumah Eiji, mendukung skenario yang kakek buat, tentang aku lah satu-satunya cucu kakek. Aku yang sudah di bekali bela diri klan setidaknya bisa bertahan dari ancaman mereka. Kakek mempercayakanmu padaku. Karena alasan itulah kita tidak boleh terlalu lama bersama agar mereka tidak mencurigaimu. Aku aka,"
PLAK!!!.
Semua orang terkejut. Hotaru menatap lantai dengan manik bergetar. Rasa sakit di pipinya tidak seberapa dengan perasaan nyeri di hatinya. Perlahan Hotaru menggerakkan kepalanya menghadap ke depan mencari manik Yuki.
"Apa yang kamu katakan?. Sang pewaris?. Skenario?. Semua ini sudah di rencanakan?." Suara Yuki bergetar ia jatuh terduduk karena kakinya sudah tidak mampu menopang tubuhnya lagi.
Yuki memukul-mukul dadanya, kebiasaan gadis itu ketika sudah tidak kuat menahan air mata.
Bugh bugh bugh bugh.
"Yuki, berhenti. Jangan sakiti dirimu!." Jerit Hotaru.
"Eiji!. Hentikan Yuki!." Teriak Hotaru, ia tidak bisa merasakan anggota tubuhnya kecuali bagian kepala sampai ke leher.
Fumio berlutut di samping Yuki menangkap tangan gadis itu, menahannya.
Eiji?. Siapa?, batin Yuki.
Seperti suara kaset rusak berdengung di dalam kepala Yuki tapi tidak ada tanda-tanda ia akan mengingat sesuatu.
"Are?. Tsubaki, Dazai?. Bagaimana kalian bisa datang ke sini?. Reunian?, kalian sudah bertemu dengan waka (tuan muda)?." Yamazaki menghampiri keduanya dari arah dapur.
Mizutani dan Dazai hanya diam di tempat.
"Banyak hal yang ingin aku ceritakan, kenapa berdiri di sini ayo duduk." Yamazaki melangkah masuk ke dalam ruang tengah dengan nampan makanan di tangannya. Ia pikir kedua pria itu di undang oleh Hotaru tanpa sepengetahuannya.
Yuki menoleh ke belakang mengabaikan laki-laki di sampingnya. Maniknya bertemu dengan manik sipit itu.
Klontang!.
Nampan terjatuh ke lantai. Yamazaki bergetar mendekati Yuki, bibirnya bergerak-gerak tapi tidak ada suara yang keluar.
Yuki ingat, pria ini lah yang berusaha Dazai tutupi darinya di rumah sakit. Dazai sangat takut Yuki bertemu dengan pria itu.
"Ojou chan. Akhirnya saya bisa bertemu dengan anda lagi." Kata Yamazaki. Dua bayangan itu melihat wajah bingung dan frustasi Yuki.
"Takkecchan, tolong bantu aku menyentuh Yuki." Pinta Hotaru.
"Waka!, apa yang terjadi?." Yamazaki segera mendekati Hotaru.
"Takkecchan?," lirih Yuki yang hanya bisa di dengar oleh Fumio.
"Kenapa anda bisa seperti ini?." Yamazaki membantu Hotaru duduk lebih tegap.
"Yuki melumpuhkanku, seperti yang dia lakukan kepada pelindung lain." Yamazaki terkejut ia menoleh cepat hendak menatap Yuki namun gadis itu ternyata sudah menatapnya.
Manik biru itu mengunci manik Yamazaki.
"Aku akan membawa ojou chan pergi." Lirih Dazai.
"Aku akan menghalangi sisanya." Sambung Mizutani.
Tepat ketika tubuh Yuki bergetar Dazai dan Mizutani melompat ke depan.
Zbugh!.
Hantaman keras antara tubuh Yamazaki dan Fumio dengan Mizutani membuat kedua pelindung terpental. Yamazaki dan Fumio merasakan pergerakkan aneh dari kedua orang itu membuat mereka berubah mode siap bertarung.
"Apa maksudnya ini Tsubaki?!." Tanya Yamazaki, suaranya sedikit meninggi.
"Maaf, sebaiknya anda tidak tahu." Baru selesai mengatakan itu suara tubuh terjatuh terdengar dari belakang Mizutani, pria itu menoleh dengan cepat.
Yuki berhasil lolos dari gendongan Dazai dan memberikan pukulan kuat di ulu hatinya, Dazai yang kurang sigap terdorong ke belakang kakinya membentur pojok meja membuatnya terjatuh.
"Jangan ambil adikku!." Teriak Hotaru memahami apa yang kedua orang itu coba lakukan.
"Uhuk!." Yuki menutup mulutnya dengan tangan.
Hotaru membeku. Melihat darah mengalir jatuh dari sela-sela jari Yuki.
"Sial." Geram lirih Yuki mengeluarkan kotak permennya mengunyah pil dan menelannya.
Ekor mata Yuki menangkap pergerakan Mizutani yang hendak menangkapnya. Yuki langsung mendongak menatap manik pria itu, sorot matanya melembut memohon kepada Mizutani.
"Tsuttsun." Lirihnya.
"Tidak." Tegas Mizutani.
"Aku belum selesai uhuk!. Bertanya uhuk!." Mizutani berdiri menghalangi pandangan Hotaru, Yamazaki, dan Fumio.
"Ojou chan!, apa yang terjadi?." Yamazaki membeku di tempatnya menatap punggung lebar Mizutani.
Zrugh.
Fumio menerjang Mizutani dari belakang.
Brak.
Sekali hempasan tangan Mizutani menerbangkan Fumio, membentur dinding kaca. Jari Yuki terangkat menunjuk pemuda itu.
"Shoot."
Zeb!.
"Agh." Fumio terkejut, ia merasakan ada sesuatu yang menyengatnya, dan tiba-tiba tubuhnya lumpuh, ia tidak bisa merasakan anggota tubuhnya.
"Dazai. Kita pergi." Titah Mizutani.
"Tsuttsun!. Uhuk!." Yuki meronta di dalam cekalan kuat tangan Mizutani.
"Tidaakk!." Teriak Hotaru.
"Tsubaki!, kita bicara baik-baik!." Yamazaki yang di abaikan ikut menerjang pria itu.
Mizutani melepas cekalannya menyambut pukulan Yamazaki.
Pak!.
"Dazai, bawa Yuki pergi." Ucapnya mendorong tangan Yamazaki. Perkelahian keduanya pun terjadi.
Dazai langsung menghampiri Yuki, gadis itu cepat-cepat mengangkat tangannya ke depan. Dazai berhenti seketika.
"Ojou chan, ini tidak benar. Ayo pergi dari sini." Bujuk Dazai. Yuki mengelap hidungnya dengan punggung tangan yang lain.
"Diam atau aku juga akan menembakmu Dai chan." Ancam Yuki.
"Bawa Yuki apa pun yang terjadi!." Seru Mizutani di tengah-tengah pertarungan sengitnya.
"Takkecchan uhuk!., tahan Tsuttsun!." Yuki yang saat ini sedang mengingat tentang Yamazaki langsung memerintah pria itu.
Yamazaki lebih gencar menyerang Mizutani. Tidak ada yang menduganya, kehadiran orang itu dari begitu banyaknya orang.
"Hotaruuu, aku membeli ayam goreng kesukaan .., mu?." Takehara terkejut melihat gadis bermanik biru itu berada di dalam rumahnya, ia juga bingung dengan kekacauan yang terjadi.
Semua orang diam.
Takehara mengenal semua orang di sana tanpa terkecuali. Apa yang sedang terjadi?. Kenapa nyonya besar tidak memberitahukan apa pun tentang pertemuan Hotaru dan Yuki. Hotaru?, kenapa pemuda itu duduk diam, loyo seperti itu?. Takehara berjalan melewati Dazai menghampiri Hotaru meletakan belanjaannya di atas meja.
Ruang tengah berubah berantakan, ayam goreng tercecer di lantai. Mizutani dan Yamazaki menghentikan perkelahian mereka menatap wanita yang duduk berlutut di depan Hotaru.
Anak ini, batin Mizutani dan Dazai.
"Kenapa denganmu?." Takehara mengecek nadi Hotaru, ia tidak menemukan sesuatu yang aneh. Tapi kenapa tubuh pemuda itu seperti karet loyo?.
"Shishou? (Master?)." Panggil Yuki tidak percaya.
"Ojou chan." Takehara menoleh menatap Yuki.
"Apa anda melakukan sesuatu kepada Hotaru?." Tanya Takehara.
Hotaru?. Lancang sekali anak ini, geram Mizutani dan Dazai dalam hati.
"Kenapa shishou ada di sini?." Tanya Yuki balik.
"Apa maksudmu Yuki?." Tanya Mizutani.
"Aku belajar bela diri dari shishou, uhuk." Yuki memuntahkan darah lagi.
"Yuki, kamu kenapa?!. Jawab aku." Sergah Hotaru.
Takehara menatap Yuki, ia menelan salivanya kasar.
"Ojou chan, anda?." Takehara beranjak berdiri.
"Rin!. Bawa Yuki pergi dari sini. Mereka mau menjauhkanku dari Yuki." Titah Hotaru.
Manik Yuki bergetar hebat. Darahnya keluar tanpa di iringi batuk. Mizutani dan Dazai yang melihatnya kalang kabut, wajah mereka berubah pucat.
"Ojou sama!." Seru keduanya berlari menangkap Yuki yang terjatuh. Mereka terduduk menangkap Yuki.
"Rin?. Takehara?." Gumam Yuki.
Sssrrrr ... Darah meluncur begitu saja dari mulut dan hidung Yuki.
"Yuki!. Apa yang terjadi?. Yuki?!. Kalian jawab aku!. Apa yang terjadi dengan Yuki hah!?!." Jerit Hotaru dalam tangisnya. Laki-laki itu tidak sanggup melihat saudari kembarnya seperti itu.
Yuki menunduk mencengkeram kepalanya. Nama itu terus berulang di dalam kepalanya.
"Rin, Rin, Rin?." Manik Yuki terus bergetar semakin cepat. Hotaru ketakutan melihat adiknya jadi seperti itu, ia teringat cerita Fathur. Yuki sedang sakit, mulutnya dan hidungnya mengeluarkan darah.
"Yuki jangan mengingatnya!." Seru Mizutani menarik tangan Yuki menjauh dari kepala gadis itu.
"Ojou chan, berhenti. Tidak apa-apa tidak mengingatnya. Berhenti." Dazai kalap air matanya sudah jatuh tak terbendung.
Darah terus keluar seperti air terjun. Yuki terus menggumamkan nama yang sama.
Gelap, pandangan Yuki menggelap padahal kelopak matanya terbuka lebar.
"Hiks, Yuki. Kamu kenapa?, jangan membuatku takut. Hiks. Brengs*k!, apa yang terjadi dengan adikku?!!!." Jerit frustasi Hotaru, tidak ada yang mendengarkannya.
Fumio tidak tahan melihat pemandangan mengerikan di depannya, air mata yang tidak pernah ia keluarkan setelah berpisah dari Yuki kini kembali jatuh. Yamazaki was-was, satu kata muncul di kepalanya melihat apa yang terjadi dengan gadis itu.
"Rin. Tahan suamiku." Gadis belia itu menyeret satu kakinya mendekati Daren.
"Yuki, maaf ibu sangat kotor." Yuki kecil mendekati ibunya.
"Okaa san (Ibu), darahnya sangat banyak. Harus segera di bersihkan." Anak kecil yang tidak lain adalah dirinya memberikan kain bersih, membersihkan tangan penuh noda darah.
"Okaa san sudah menolong Yuki sama ayah. Terima kasih." Ucapnya berusaha menenangkan Ayumi. Yuki kecil meremas tangan Ayumi dengan kedua tangan kecilnya.
Brak.
Dak!. Sret.
Brugh!. Brugh!.
Yuki kecil mencari asal suara. Pelindung yang selalu bermain dengannya tiba-tiba melumpuhkan ayahnya dan mengunci pergerakkannya.
"Rin, lancang sekali kamu." Tegur Yuki, suara lembutnya terdengar kesal.
"Jangan lepaskan." Titah Ayumi.
"Kamu sudah hilang akal Ayumi!." Teriak Daren, pitingan anak kecil itu tidak main-main, julukannya sebagai calon pelindung berbakat bukan omong kosong.
"Aku sudah memerintahkanmu Rin. Ingatan Yuki harus di hapus agar mereka tidak menyerangnya lagi. Tugasmu, tahan Daren agar tidak menggagalkannya." Yuki kecil mendongak menatap ibunya.
"Baik, Ayumi dono." Jawab gadis belia itu.
*"Brengs*k kau Rin. Kau sudah sama-sama gilanya dengan Ayumi!. Aku tidak akan pernah memaafkanmu!." Erang Daren, memberontak sekuat tenaga.*
Rin melayangkan sebuah totokan keras di pundak bagian depan Daren. Geraman kesakitan keluar dari mulut laki-laki itu.
"Tou san? (Ayah?)." Yuki kecil mulai menangis melihat ayahnya kesakitan.
Ayumi menekuk lutut, mensejajarkan tingginya dengan Yuki kecil.
"Yuki, dengar nak." Yuki kecil pun membalas tatapan ibunya.
"Ibu juga tidak ingin melakukan ini kepadamu. Tapi Yuki lihat sendiri kan. Mereka terus mengejar dan tidak akan berhenti sampai mendapatkan kita berdua." Yuki kecil mengikuti arah telunjuk Ayumi. Ke arah tumpukan mayat yang berserakan, darah menggenang bak air sungai.
Yuki kecil langsung memeluk ibunya menenggelamkan wajahnya di ceruk hangat Ayumi. Isakkan kecil keluar dari bibirnya.
"Ibu tidak ingin hidupmu terus di kejar ketakutan seperti malam ini." Ayumi membalas pelukan Yuki kecil.
"Yuki ... Mau menolong ibu?." Manik birunya mendongak menatap manik coklat terang sedikit gelap itu. Bibirnya menahan isakkan.
"Hm?. Apa yang bisa Yuki bantu?."
"Berhenti Ayumi!." Maniknya bergulir mencari ayahnya di belakang sana, namun tubuh Ayumi segera menghalanginya.
"Yuki ..." Suara lembut dan tatapan sayunya menerobos manik biru Yuki, menguncinya.
"Ini satu-satunya cara agar kita bisa hidup beberapa tahun ke depan." Wajah bersih, cerah bak malaikat kecil itu menunggu kelanjutan kalimat ibunya.
"Kamu sedang tidak berpikir dingin Ayumi. Masih ada cara lain. Yuki!. Jangan dekati ibumu!." Teriakan suara itu mengganggu perhatian Yuki.
"Tou san? (Ayah?)." Yuki melihat Rin memperkuat kunciannya pada tubuh Daren.
"Yuki," panggil Ayumi lembut menarik kembali perhatian gadis kecil itu, suara Daren memotong kalimat istrinya.
"Ayumi!. Berhenti!. Dia anakku!." Manik coklat terang sedikit gelap itu berubah tajam.
"Dia juga anakku!." Teriak Ayumi, terlihat jelas wajahnya sangat frustasi.
"Tidak ada cara lain. Hiks, hiks." Tangan kecil dan lembut Yuki memegang pipi Ayumi menghapus air mata ibunya dengan jari.
"Jangan bertengkar, Yuki tidak suka. Yuki akan membantu, jangan bertengkar lagi." Ucap gadis kecil.
"Yuki, maafkan ibu. Ibu tidak akan membiarkanmu menderita sendiri. Ibu akan mencari si jari buntung dan membunuhnya sebelum ia mendapatkan kita." Air mata Ayumi semakin deras.
"Tidak!, Yuki!. Jauhi ibumu!. Sial!. Minggir!." Teriakan Daren semakin menjadi-jadi. Ia memberontak keras.
"Daren dono, ini yang terbaik." Ujar Rin.
*"Diam! kau anak kecil!!. Kep*rat. Seharusnya aku membiarkanmu di tusuk musuh tadi. RIN!."*
Manik birunya bergetar ketakutan melihat ayahnya murka seperti itu, melihat mayat-mayat berserakan, di tambah suara guntur keras membelah langit di luar sana. Hujan deras mengguyur bumi menghasilkan suara memekakkan telinga. Yuki semakin takut, tangan kecilnya meremas pundak Ayumi.
"Yuki pergi!. AYUMI!!!. JAUHKAN TANGANMU DARINYA!." Manik sendu itu menatap dalam manik biru Yuki.
Ayumi mendekatkan tangannya ke tengah-tengah dahi Yuki. Maniknya mengunci manik anaknya, suara Ayumi terbalut aura khas keturunan darah langsung keluarga Hachibara.
"Yuki, ibu akan menemanimu suatu saat nanti." Ucapnya, air mata terus menyeruak keluar.
"Ibu ..?."
Ayumi meletakkan tangannya yang lain di pucuk kepala Yuki. Bibirnya mulai bergerak.
"Hachibara Yuki." Suara Ayumi kala memanggil nama lengkap Yuki tubuh kecil putrinya merespon hebat. Diam, membeku, tatapan kosong yang sudah tenggelam ke dalam matanya. Bibir Ayumi melanjutkan ritual hukuman.
"Sunyi, kegelapan, suci, rahasia leluhur, terjerat dalam sulur hitam, kau! ..."
"AYYUUUMMIIIII ..."
"RIN!. Lepas!. AYUMI JANGAN SEBUT NAMA ANAKKU!."
Seketika suara teriakan melengking menantang guntur membelah hati dan jiwa Daren.
"AAAAAAAARRRRRRGGGGGGHHHHHH ....!!!!!!!!!!!!!!!."
"Ojou san!. Kembali!. Sadar!. Sial." Geram Mizutani menggoyang-goyangkan pundak gadis itu.
"Ojou chan!. Bertahanlah. Kumohon, kumohon." Dazai menggenggam kedua tangan Yuki.
"Yuki!. Yuki!. Dengarkan aku!. Yuki!. Maaf. Jangan membuatku takut, Yuki!." Jerit Hotaru.
"Yuu ..." Panggil Fumio lirih dengan suara bergetar.
"Hukuman." Celetuk Yamazaki.
Hotaru dan Fumio menatap pria itu hendak menuntut penjelasan namun suara gumaman Yuki kembali terdengar dan semakin jelas.
"Rin, Takehara Rin?, Rin, Rin, Rin." Yang di panggil berdiri bergeming di tempatnya.
"Berhenti mengingatnya. Dengarkan aku. Berhenti mengingatnya!." Sergah Mizutani.
Lantai sudah tergenang darah gadis itu.
"RRIIIIIIIIIIIIIIIINNNN ....!!!." Teriak Yuki maniknya mengedip cepat.
"Haaahh ..." Mizutani dan Dazai langsung merengkuh tubuh Yuki ke dalam pelukkan mereka.
Kepala gadis itu terkulai lemas di pundak Mizutani.
"Terima kasih, sudah bertahan. Terima kasih." Ucap Dazai.
"Ayo kita pulang ke rumah." Kata Mizutani.
"Tidak." Lirih Yuki mengangkat kepalanya pelan.
"Masih ada yang harus aku lakukan." Yuki mendorong pelan kedua bayangan itu.
"Yuki."
"Ojou chan." Keduanya menatap Yuki tidak suka.
"Jangan ganggu aku." Ucap Yuki lemah namun mutlak. Gadis itu dalam mode putri klan.
Manik Yuki bergerak menatap Hotaru, ia memperbaiki cara duduknya bersimpuh, lalu menegakkan punggungnya, sikap sempurna!. Mizutani dan Dazai otomatis membungkuk seraya memundurkan kaki mereka. Semua orang di sana tahu apa arti dari sikap sempurna bagi keturunan langsung.
Sikap yang menandakan keseriusan, kesopanan, di larang melakukan kesalahan atau tidak akan di ampuni.
Air mata Hotaru semakin deras. Yuki berlumuran darah, wajahnya sangat berantakan, tapi maniknya menatapnya lembut dan tegas mirip sekali dengan tatapan nenek Yuri.
"Kenapa dia memanggil nama kecilmu?."
Swwwuuuusshhh.
Suara tenang, lembut, dan dalam itu menyihir semua orang.
"Kami sedang menyamar sebagai kakak adik." Jawab Hotaru, suaranya juga tenang, dan penuh kharisma, menggemakan kekuasaan.
"Kamu memiliki perasaan kepadanya?." Hotaru menatap lebih dalam manik biru itu.
Yuki mengelap darah di bawah bibir yang baru saja keluar dengan jari telunjuk dan jari tengah. Mengangkat tangannya ke depan mengarahkannya kepada Hotaru. Darah menetes jatuh dari dua jari Yuki.
"Satu tetes darahku pun. Aku tidak sudi merestui perasaan kalian." Ucap Yuki tajam.
Deg!.
Udara semakin dingin terasa di kulit. Yuki masih menatap Hotaru.
"Aku tidak memiliki perasaan kepada Rin." Jawab Hotaru sangat tegas.
"Rin, aku tidak akan mengampunimu yang telah membantu iblis itu menanamkan hukuman padaku!." Suara Yuki menyayat bagai bilah katana. Maniknya bergulir menatap wanita itu.
Yamazaki merinding hebat!. Tangannya bergetar cepat. Apa yang dia dengar barusan?. Ayumi dono memberikan hukuman kepada putrinya?!, Rin membantu Ayumi dono?. Jadi itu benar hukuman?. Bagaimana ojou chan bisa bertahan?. Pikiran Yamazaki berkecambuk.
Hotaru dan Fumio seketika mengingat pembicaraan mereka bertiga tentang hukuman malam itu.
"RIN!." Teriak Hotaru menatap nyalang wanita itu.
Yuki beranjak berdiri.
"Rin bagianku, kalian menyingkir." Lirih Yuki. Mizutani dan Dazai segera menjauh dari sana.
"Uhuk!." Yuki kembali terbatuk.
"Berani sekali kau menyukai saudara kembarku." Ucap Yuki sarkas.
"Kau lupa daratan, Rin." Yuki menyunggingkan senyum miring.
Hotaru menggertakkan giginya. Ini yang tidak di sukai Hotaru, Yuki sepenuhnya sudah murka.
"Uhuk!. Bagaimana, apa kamu puas melihatku seperti ini?." Yuki membuka tangannya setelah menutup mulut menghadap wanita itu.
"Apa kau senang Rin?." Yuki melangkah mendekat.
"Shishou, sudah lama kita tidak berlatih." Lanjut Yuki sinis.
"Ojou chan. Tolong dengarkan saya." Pinta Rin.
Yuki menegakkan punggungnya.
"Apa kau akan menyatakan perasaanmu kepada saudara kembarku?."
"Ojou chan saya,"
Whoooossshhh ...
Yuki menerjang cepat Rin.
Brak!.
Ayunan kuat lengan Yuki di tahan oleh Rin.
Syuuuttt.
Yuki mengirim tendangan samping mengincar pinggang Rin.
"Uhuk!."
Buk.
Yuki mundur beberapa langkah, tendangannya tidak sempurna karena terganggu oleh batuk hukuman itu.
"Saya mengikuti Daren dono untuk menebus kesalahan saya ojou chan." Ucap Rin. Yuki tertawa sinis.
"Itu tugasmu sebagai pelindung Rin. Dan apa yang kau katakan. Menebus?. Uhuk!." Yuki tiba-tiba tertawa mengerikan.
"Hahahaha ...!."
"Bahkan jika menebusnya dengan nyawamu itu tidak akan CUKUP!." Teriak Yuki maniknya menatap nyalang menggetarkan Rin.
Hotaru ingin merengkuh Yuki, ia berusaha menggerakkan tubuhnya, ia ingin melindungi adiknya. Lihat betapa kesakitannya manik biru itu. Bahkan untuk semua kejadian menyakitkan mereka saat terpisah gadis itu selalu tegar dan kuat, tidak terlihat sedikit pun pancaran rasa sakit di maniknya. Tapi sekarang, Yuki sedang berjuang sendiri.
"Ojou chan, Ayumi do."
"Jangan sebut nama iblis itu!." Teriak Yuki, kembali terbatuk.
Fumio tidak kuat, ia ingin melindungi Yuki. Keadaan gadis itu sudah seperti zombi berdarah-darah.
"Tapi jika nyonya tidak melakukannya naga putih akan mengejar kalian. Mereka memiliki jaringan besar di dunia." Yuki melebarkan matanya.
Berarti klan naga putih tahu kalau Hotaru di tawan oleh Yakuza, tapi mereka tidak melakukan gerakkan apa pun atau berusaha untuk merebut Hotaru. Mereka mengabaikannya, batin Yuki melirik Hotaru. Mata mereka bertemu.
Yuki tidak suka melihat wajah pias khawatir saudara kembarnya.
Klan naga putih tahu bahwa akulah yang membuat alat itu, meski aku tidak ingat alat seperti apa. Sejak awal mereka sudah mengincarku, sejak awal yakuza sudah di bodohi, sejak awal rencana kakek meleset, sejak awal rencana klan naga putih berjalan lancar, lanjut Yuki dalam hati.
"Uhuk!." Yuki menunduk.
"Bagaimana kau tahu tentang klan itu?." Suara Mizutani memecah keheningan.
"Karena pemimpin mereka melihat semua kejadian pada malam penyerangan ke dua." Jawab Rin.
Nafas Yuki mulai tersengal-sengal. Ingatan bayangan sepasang mata yang menatapnya dengan tajam di balik jendela kamarnya kembali berputar.
"Yuki, sudah. Jangan mengingatnya. Kumohon. Dengarkan aku." Lirih Hotaru dalam tangisnya.
"Karena itu nyonya terpaksa menghapus ingatan anda." Lanjut Rin.
"Omong kosong!." Sergah Yuki dingin.
"Jika itu masalahnya. Iblis itu hanya perlu menghapus ingatan tentang formula alat itu, lalu kenapa dia menghapus semuanya?!." Yuki kembali berdiri tegap seraya mengelap kasar mulutnya dengan punggung tangan.
"Kenapa dia menghapus Hotaru dariku?, kenapa dia menghapus kakek dariku?, kenapa dia menghapus klan?. KENAPA DIA MENGHAPUS SEMUANYA RIN?!." Teriak Yuki. Emosi yang sudah lama ia pendam ia keluarkan sedikit kepada wanita itu.
Zreg!.
Yuki menyerang tanpa ampun. Pertarungan jarak pendek mereka terjadi. Kecepatan Yuki tidak bisa mengimbangi kecepatan Rin. Darah yang keluar mengganggu pergerakan Yuki. Yuki menahan pukulan samping dengan tangan kirinya, tangan kanannya menerjang ke depan mengincar leher Rin.
Grep!.
Zzeeett.
Tap tap tap.
Yuki mendorong Rin setelah tangannya berhasil mencekik wanita itu. Rin menekuk kakinya bertumpu pada dinding di belakang menggagalkan niat Yuki membenturkan tubuhnya.
Brak!.
Rin melepaskan tangan Yuki dari leher dan lengannya dengan kasar, kakinya diarahkan ke perut Yuki namun satu detik sebelum kakinya mendarat di perut rata itu cairan panas dan kental mengotori dagu dan lehernya.
"Uhuk!."
DAK!.
Bruk!!.
"RIN!." Teriak Hotaru, wajahnya merah menatap tajam wanita itu.
Yuki terlempar, ia berusaha berdiri namun Rin sudah berdiri di sampingnya mengangkat kaki tinggi-tinggi.
Wooooosshh.
Yuki melihat Mizutani sudah berdiri di depan Rin melayangkan pukulannya kepada wajah wanita itu. Rin reflek menutupi wajahnya, menyilangkan tangan di depan wajah.
"Jangan menyentuhnya!." Tinju Mizutani berhenti di depan wajah Rin.
"Dia milikku." Ucap Yuki berdiri menatap Mizutani.
"Jangan ada yang ikut campur." Mizutani beralih menatap Yuki.
"Waktumu sudah habis. Ayo pergi." Ucap Mizutani, Dazai segera berdiri di samping Yuki.
"Empat puluh menit sebentar lagi berakhir ojou chan." Ucap Dazai.
"Berikan aku pil ke tiga." Pinta Yuki.
Mizutani tahu ini akan terjadi.
"Tidak."
"Tsuttsun!."
"Tidak bahkan jika aku harus menyerahkan nyawaku." Tegas Mizutani.