
Seperti permintaan Yuki, Mizutani dan Dazai datang setelah jam makan malam. Mereka kini berkumpul di depan komputer Yuki.
Mizutani dan Dazai termenung menatap layar komputer yang menampilkan peta negara mereka dengan banyak titik merah berkedip-kedip.
"Bagaimana, kalian paham?." Tanya Yuki setelah mengatakan apa yang terjadi dengan komputer miliknya dan apa yang telah ia lakukan dengan komputer miliknya.
Dazai menelan salivanya kasar, Mizutani menarik nafas berat seraya memijat-mijat dahinya.
"Tsubaki." Panggil lirih Dazai seraya menatap wajah kusut Mizutani.
"Ya, aku tahu." Jawab Mizutani dengan nada lesu.
"Baik, aku tahu kalian sedang memikirkan sesuatu yang kalian rahasiakan dariku. Tapi, ini lebih penting." Yuki menunjuk layar komputer di sampingnya seraya menatap kedua pria itu.
"Bagaimana bisa anggota mereka mati begitu cepat, setiap hari, tidak! setiap malamnya selama tiga hari berturut-turut." Yuki mengamati raut wajah kedua pria di hadapannya.
"Penyerangan pertama, mereka membunuh kurang dari dua puluh orang, di sini juga pemilik club mati terbunuh yang tidak lain adalah pemimpin kecil diantara bagian kelompok yang memegang lima puluh anggota. Penyerangan kedua, mereka membunuh lebih dari lima puluh lima orang, dan target mereka adalah pemimpin kelompok yang lebih tinggi dan memegang lebih dari seratus anggota. Penyerangan ke tiga ini tidak main-main." Yuki menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Penyerangan besar-besaran di markas pemimpin tertinggi, mereka membunuh lebih dari dua ratus orang beserta pemimpin dan tangan kanannya, tidak ada yang tersisa di markas itu, semuanya mati." Yuki beralih menatap lurus manik Dazai.
"Dan di malam yang sama saat penyerangan itu terjadi, orang itu membawa korban tembak dini hari, waktu yang tepat setelah menempuh jarak dari saitama ke tokyo." Dazai tertegun dengan analisis Yuki, Mizutani semakin menekan dahinya, memijat dengan keras.
"Aku ingin menanyakan siapa mereka yang membunuh para anggota yakuza, dan tidak segan-segan membunuh salah satu pemimpin tertinggi mereka. Siapa yang memimpin penyerangan itu?. Jika berhubungan dengan keluarga Hachibara, berarti mereka sudah bergerak, dengan kecepatan luar biasa." Yuki menatap tajam manik Mizutani.
"Siapa yang memimpin mereka?." Lirih Yuki penuh penekanan.
"Ojou chan," Yuki langsung memotong kalimat Dazai setelah mendengar nada enggan dari pria itu.
"Jawab pertanyaanku ketika aku masih bisa menahan diri, kalian tahu maksudku dengan menunjukkan gambar di komputerku bukan. Aku tidak butuh informasi dari kalian, aku bisa mencarinya sendiri tapi kenapa aku masih bersikeras memaksa kalian untuk menjawab pertanyaanku?." Yuki kini melirik Mizutani yang masih memijat dahinya.
"Karena untuk mengurangi jumlah penyakitku kambuh, aku belum bisa mati sekarang, belum. Sampai aku bisa mencari duduk permasalahan benang kusut ini. Jadi Mi chan, apa kamu mengerti?."
Tsubaki, bagaimana ini?, batin Dazai melirik laki-laki itu.
"Huuufftt." Mizutani menarik nafas dalam lalu menjauhkan tangannya dari dahi yang sudah berubah merah.
"Ojou chan, apa Daren dono mengetahui kemampuan anda ini?." Yuki mengedikkan bahu.
"Seharusnya ayah tahu, karena aku yang membuat program perlindungan di semua perusahaannya, kecuali di sini tentunya. Tapi, bisa jadi ayah tidak tahu jika kemampuanku lebih dari itu." Jawab Yuki lalu menunjuk Je yang tiba-tiba melayang diantara Yuki dan Mizutani.
Dazai mengusap wajahnya dengan kasar lalu terduduk di karpet coklat muda di kamar itu.
"Aku menyerah, terserah kepadamu Tsubaki." Ujar Dazai mengibaskan tangannya di udara.
"Kita tidak bisa lari lagi." Kata Mizutani ikut duduk di karpet lembut itu.
"Aku akan menjawab pertanyaan yang bisa aku jawab, bagaimana?." Yuki mengangguk kecil.
"Baik, aku mulai dari siapa yang membunuh para yakuza itu." Mizutani mulai memberikan informasi yang Yuki inginkan.
"Mereka adalah pelindung dari kediaman utama. Siapa yang memimpin penyerangan itu?, hanya ada satu nama di kepalaku yaitu Fumihiro. Dia adalah pelindung pribadimu, dia dilatih keras sejak kalian masih di dalam kandungan. Karena akan ada bayi kembar dengan jenis kelamin berbeda, tuan besar mempersiapkan pelindung khusus untuk cucu perempuannya, sedangkan untuk cucu laki-laki tuan besar sendirilah yang akan melindunginya." Yuki mencerna penjelasan Mizutani.
"Ya, mereka sudah bergerak. Kami para pelindung bayangan tidak mengetahui informasi lebih dalam dari kediaman utama. Kami pun hanya menerka-nerka apa yang terjadi, itu yang kami lakukan selama ini." Yuki mengangkat satu alisnya.
"Tugas kami adalah melindungimu, pelindung lain melihat kami sebagai mantan anggota yang berhubungan baik dengan klan. Kamu ingat, kami adalah pelindung rahasia yang bahkan nyonya besar, dan Ay." Mizutani menghentikan kalimatnya, ia tidak ingin memperburuk suasana hati Yuki dengan menyebut nama Ayumi.
"Mereka tidak tahu tentang kami, hanya Daren dono dan kamu. Karena kami dibuat khusus untukmu." Yuki mendengarkan.
"Jadi?, orang bernama Fumihiro ini berjalan sendiri?, memutuskan sendiri apa yang harus di lakukan para pelindung?, dengan mempertaruhkan keselamatan onggota klan yang lain?." Entah Yuki sadar atau tidak suaranya berubah menjadi dingin.
"Dia lebih muda dariku, tapi tuan besar sangat memujinya, dia adalah salah satu murid asuhan langsung tuan besar. Yang aku dengar terakhir kali, Fumihiro dipanggil untuk kembali di saat ia melakukan tugas latihan terakhirnya oleh tuan besar." Mizutani melanjutkan penjelasannya setelah melihat raut wajah Yuki.
"Saat itu tuan besar pergi meninggalkan jepang." Yuki seperti berpikir sebentar.
"Apa kamu tahu berapa banyak orang di dalam kediaman utama?." Tanya Yuki.
"Tidak, aku sudah lama meninggalkan kediaman utama. Bahkan saat kami mendengar penyerangan itu dan ingin kembali kami tidak bisa."
"Bagaimana dengan jumlah anggota klan?." Mizutani berpikir.
"Cukup banyak, keluarga para penerus bangsawan terdahulu masih setia menjadi anggota klan, bahkan tidak ada satu diantara mereka yang meninggalkan klan setelah semua kekacauan itu terjadi."
"Artinya, banyak nyawa yang harus dilindungi. Aku harap orang bernama Fumihiro ini tidak bodoh mengambil keputusan dan membuat anggota klan berada dalam bahaya." Dazai dan Mizutani sontak menatap Yuki yang sudah dengan wajah dinginnya.
Nona mudanya ini sangat memikirkan para anggota, padahal gadis remaja itu tidak pernah bertemu mereka, lebih tepatnya tidak mengingat mereka.
"Anda tidak bertanya kabar tentang anak kecil yang kita operasi?." Yuki menggelengkan kepala.
"Dia hanya butuh dua hari untuk bisa bergerak lagi, dan saat itu laki-laki yang kamu takuti pasti sudah membawanya pergi. Mereka tidak akan berdiam diri di tempat yang sama cukup lama. Hal itu akan membuat musuh menyadari keberadaan mereka."
"Jenius." Sahut Dazai tersenyum lebar. Yuki menggeleng pelan.
"Tidak Dazai, kamu akan melihat siapa jenius yang sebenarnya." Ujar Yuki menarik salah satu sudut bibirnya ke atas.
Yuki mengarahkan jarinya ke atas tombol enter, dan menekannya dengan kuat.
Cetak!.
Sebuah garis muncul di permukaan peta, menyambung dari satu titik ke titik yang lainnya, terus menyambung bertabrakkan dengan garis lain lalu menyambung lagi.
"Bukankah ini menarik?." Ucap Yuki riang, maniknya mengagumi garis-garis itu.
Dazai mengerjap sesaat, keningnya berkerut, otaknya memaksa untuk berpikir keras.
"Aku, seperti pernah melihat garis seperti ini tapi dimana?, kapan?." Lirih Dazai, Yuki langsung menghadap Dazai penuh ingin tahu.
"Tidak, itu tidak mirip Dazai." Kini Mizutani membuka suara.
"Waw ..!, apa ini?." Yuki tidak bisa menyembunyikan wajah ketertarikannya.
Dazai menatap Mizutani begitu juga Mizutani yang menatap Dazai, mereka tersenyum melihat ekspresi Yuki.
Gadis yang selalu datar, acuh itu kini tertarik akan sesuatu dengan ekspresi yang menggemaskan.
"Beri tahu aku." Sergah Yuki tidak sabar.
Mizutani mengangguk singkat.
"Mirip garis yang di miliki Hachibara Go sama, kakek buyutmu, tetua klan." Yuki melebarkan matanya.
"Lalu, apa bedanya?."
"Pola garisnya terasa berbeda. Kemungkinan besar memiliki arti yang berbeda pula. Garis ini lebih rumit." Jelas Mizutani.
"Agh!, benar. Aku pernah melihat garis meliuk-liuk di salah satu dinding di dalam dojo." Ucap Dazai semangat.
"Tapi, apa artinya garis itu?. Kenapa bisa ada di sana?." Tanya Dazai, Yuki melirik layar komputer.
"Aku menemukan kejanggalan saat mendapati banyak titik merah yang padam." Mizutani dan Dazai mendengarkan.
"Tokyo, osaka, saitama, kenapa kyoto tidak di serang juga padahal osaka sangat dekat dengan kyoto. Kenapa kyoto di tinggalkan?, salah satu pemimpin tertinggi yakuza juga ada di sana. Bukankah itu aneh?. Lalu aku mencari lebih lanjut dan menemukan pola mereka, menggambarkannya dengan garis agar lebih jelas, dan lihat. Itu bekerja." Jelas Yuki.
"Kamu tahu pola mereka?." Tanya Dazai.
"Ung."
"Kamu tahu kemana target mereka selanjutnya?." Tanya Mizutani.
"Ung."
"Jangan coba-coba terlibat." Tegas Mizutani yang diangguki Dazai.
"Kenapa?."
"Duduk." Titah Yuki tapi Mizutani tidak bergerak sedikit pun.
"Mi chan, duduk." Rajuk Yuki, masih tidak ada respon. Yuki memutar bola matanya.
"Dengar aku, dan duduk." Berhasil, dengan berat hati Mizutani kembali duduk.
"Aku tidak akan ikut campur sampai mereka melumpuhkan paru-paru kelompok itu. Tapi aku tidak akan membiarkan mereka menyerang jantung kelompok." Dazai dan Mizutani bingung.
"Lihat dengan jelas garis-garis itu, bukan garis lurus saja yang kalian perhatikan tapi titik berhenti garis itu." Yuki menggeser kursinya agar dua pria itu bisa melihat dengan jelas layar komputer.
"Mereka merayap, dari anggota kecil terus naik ke anggota yang lebih besar. Pemimpin tertinggi di kyoto lebih tinggi kedudukannya karena ia lebih lama memimpin atau bisa dikatan dia lebih tua dan lebih berpengaruh dari pemimpin tertinggi di saitama yang notabennya adalah anak dari pemimpin terdahulu." Yuki menjelaskan.
Ya ampun ojou chan!, kau membuatku merinding, batin Dazai.
Aku bangga tapi aku juga khawatir, seberapa jauh yang sudah kamu ketahui, batin Mizutani.
"Bagaimana anda mengetahui semua itu?." Dazai akhirnya bertanya apa yang ada di dalam pikirannya.
"Cukup mudah, asal kamu mengetahui siapa musuhmu kamu akan mudah mencari informasi tentang mereka."
Tidak!, tidak, itu tidak mudah, batin Mizutani dan Dazai.
"Mereka musuh kita kenapa kamu tidak membiarkan jantung mereka mati?." Tanya Mizutani.
"Benar." Srobot Dazai menyetujuinya.
"Karena otak musuh yang sebenarnya bukanlah diantara mereka." Tidak bisa dipungkiri Dazai dan Mizutani melebarkan matanya, kaget dengan pernyataan Yuki.
"Benar, yakuza memang terlibat dalam penyerangan klan kita, bukan. Tapi, keluarga utama. Musuh yang sebenarnya, menggunakan yakuza, mempengaruhi mereka untuk berpihak dengannya hanya karena kakek pernah menjadi salah satu diantara mereka. Jika aku menjadi musuh aku juga akan melakukan hal yang sama." Mizutani kembali memijat dahinya.
"Yakuza tidak sepenuhnya salah, tapi mereka juga pantas mendapatkan pelajaran atas apa yang telah mereka lakukan kepada kita. Jika aku membiarkan pelindung klan menyelesaikan misi mereka, masuh yang sebenarnya tidak akan menampakkan diri."
Hening.
"Agh ... Masalah ini sangat rumit tapi terdengar mudah jika Ojou chan yang mengatakannya." Dazai memberikan senyum penuh arti kepada Yuki. Senang, bersyukur, itulah yang dirasakan Dazai.
"Apa pun rencanamu aku tidak akan membiarkanmu terlibat dalam satu tahun ini." Ujar Mizutani lagi lebih tegas.
"Ung, aku tahu. Tenang saja Mi chan, perlahan-lahan ingatanku pasti akan kembali." Yuki membuat Mizutani kembali terkejut, tapi hanya sebentar, pria itu menarik nafas panjang.
"Tuan besar benar, anda terlalu jenius. Karena itu!, kami pelindung bayangan ada untuk melindungimu." Dazai tersenyum lebar mendengar pernyataan penuh percaya diri dari Mizutani.
"Jangan remehkan kami ojou chan." Imbuh Dazai.
"Yoroshiku (Mohon bantuannya), dan .., tolong siapkan kantung darah sebanyak mungkin. Kata Mi chan musim panas akan menjadi awal perjuanganku melawan dewa kematian." Ujar Yuki dengan enteng membuat Dazai meringis ngeri.
Tangan Yuki kembali mengotak-atik keyboard, merubah tampilan layar menjadi sekumpulan simbol aneh. Dazai tentu saja tertarik dengan itu, ia mendekat mengamati Yuki.
"Wow." Gumam Dazai takjub.
"Aku tidak suka eksperimenku di lihat orang lain kecuali Hotaru, tapi untuk kalian ini adalah hadiah." Ujar Yuki menghentikan kegiatannya.
Gadis itu tiba-tiba bermain dengan jam tangannya. Sebuah simbol, lalu hologram transparan yang muncul, dan kecanggihan yang terus membuat Mizutani dan Dazai membuka mulut dan matanya lebar-lebar.
"Je, memasukan data Dazai." Ujar Yuki jarinya bergerak cepat di atas keyboard.
Sebuah gambar DNA berputar-putar di layar komputer, detik berikutnya foto Dazai dan profil lengkap dirinya terlihat di layar, yang menakjubkannya semua tulisan itu masih menggunakan simbol.
"Aku tidak bisa membacanya?." Gumam Dazai yang terdengar oleh Yuki.
"Apa kamu ingin bisa membacanya?." Tanya Yuki.
"Ya ojou chan." Jawab Dazai cepat. Jawaban Yuki membuat Mizutani terkekeh kecil.
"Belajar."
Yuki mengabaikan dua pria yang sibuk dengan kegiatan masing-masing ia fokus memasukan data Mizutani. Seperti Dazai, DNA Mizutani dan profil lengkapnya muncul di layar.
Cetak.
Komputer memproses dengan cepat, mengirimkannya ke Je si burung hantu. Mau bagaimana pun jam tangan dan Je saling terhubung, dan untuk menambahkan data baru haruslah melewati komputer yang di rangkai sedemikian rupa.
"Je tunjukan informasi tentang Dazai."
"Baik." Jawab Je lalu mengeluarkan sinar dari matanya menunjukan hologram transparan.
"Dazai, menghapus nama marganya, dokter, golongan darah AB, ..." Je terus menjelaskan tentang Dazai sampai lokasi pria itu saat ini.
"Selesai." Kata penutup Je.
"Apa aku harus menunjukan informasi Mi chan, Yuki?." Setelah di rawat di rumah sakit terakhir kali, Yuki merubah panggilan Je kepadanya.
"Tidak perlu." Jawab Yuki lalu menatap Mizutani.
"Ini cara mudah agar kalian dapat menemukanku dengan cepat." Yuki berjalan menuju pintu kamar.
Ceklek.
Masamune terkejut tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar. Ia tersenyum kikuk kepada Yuki karena ketahuan berusaha menguping. Dazai dan Mizutani menatap wanita itu tanpa ekspresi membuat Masamune kelimpungan bingung, menyesal, malu, dan merutuki diri sendiri.
"A .., i .., e .., et." Masamune tidak berani menatap manik Yuki.
"Mereka tidak akan melakuan hal buruk kepadaku, Masa san jangan khawatir." Ucap Yuki langsung tepat sasaran. Masamune meremas tangannya.
"Tenang saja, Dazai san adalah dokterku. Toh ada Mi chan, semuanya akan baik-baik saja." Ujar Yuki menangkup tangan Masamune. Wanita itu mengangguk dalam.
"Maaf belum sempat memperkenalkannya kemarin, padahal dia sudah tidur di kamar Mi chan." Imbuh Yuki tersenyum kecil.
Masamune mengulum bibirnya ke dalam sebentar.
"Maaf aku melakukan hal yang memalukan, aku juga telah bersikap kelewatan. Aku terlalu mengkhawatirkanmu berlebihan." Akhirnya Masamune dapat berbicara dengan benar.
"Ung, tidak apa-apa, aku senang Masa san mengkhawatirkanku." Masamune tersenyum mendengar balasan Yuki.
"Ya sudah, aku turun dulu. Maaf sudah mengganggu kalian." Kata Masamune membungkuk dalam lalu pergi.
Yuki kembali menutup pintu lalu menguncinya.
"Ojou chan!, bagaimana kalau dia sudah mendengar percakapan kita?." Tanya Dazai, wajahnya berubah serius.
"Tidak akan, karena aku sudah mengantisipasinya." Jawab Yuki.
"Bagaimana?." Dazai antusias.
"Tidak penting, sekarang keluarkan ponsel kalian." Penolakan Yuki yang dingin membuat Dazai kesal.
"Jika aku memanggil kalian dengan cara ini kemungkinan aku dalam bahaya atau kritis. Bisa juga saat aku membutuhkan kalian." Jelas Yuki menarik atensi dua orang pria itu.
"Mi chan." Panggil Yuki.
Mizutani hendak membuka mulutnya untuk menjawab tapi ia terlambat, ponselnya bergetar hebat lebih dulu. Layar ponsel tiba-tiba berubah hitam gelap namun ada sebuah gambar titik lokasi Yuki berada.
"WAW!." Jerit Dazai menatap takjub.
"Dazai." Ponsel Dazai pun merespon hal yang sama. Pria itu menatap takjub ponselnya.
"Maaf aku meretas ponsel kalian, selama ada jam atau Je aku bisa mengirim kalian tanda itu." Mizutani mengangguk singkat.
"Apa aku juga bisa melacakmu setiap saat?." Tanya Mizutani.
"Tidak, tanpa seizinku."