Futago

Futago
Manajer Tim.



Yuki mengganti pakaian santainya dengan kaus polos berlengan tiga perempat berwarna merah yang dimasukan kedalam rok mini model a / a-line skirt berwarna hitam yang menampilkan lingkar pinggang Yuki yang kecil. Ia juga memakai topi warna hitam pemberian seseorang beberapa bulan yang lalu untuk menutupi wajahnya, Yuki memberikan sentuhan terakhir dengan tas selempang mini dan sepatu sneakers putih.


"Masa san aku pergi." Pamit Yuki.


Yuki mengambil jalan belakang agar langsung sampai tujuan. Dari jarak jauh saja sudah terdengar teriakan-teriakan para anggota klub baseball.


Yuki melihat banyak sekali orang yang sedang menonton, dari anak kecil sampai orang tua, tidak sedikit perempuan yang juga menonton kegiatan klub itu.


Yuki mengedarkan pandangan melihat pertandingan yang tidak ia pahami sama sekali. Ia mendapati Mizutani sedang berdiri dibelakang seseorang yang menggunakan helm besi? sedang duduk jongkok.


Yuki benar-benar tidak paham dengan permainan baseball, yang dia lihat sekarang seseorang sedang berdiri sendirian ditengah lapangan, melempar bola agar ditangkap oleh orang didepan sana yang duduk jongkok, lalu ada orang yang berdiri disampingnya agak kedepan bertugas untuk memukul bola.


Teriakan kembali terdengar saat dua orang berlari menginjak base di depan pemain yang duduk jongkok, di depan sana, mencetak angka. Meskipun Yuki tidak paham dengan permainan itu tapi ia bisa menilai jika permainannya berat sebelah.


Yuki menonton dari pinggir lapangan di belakang salah satu ibu-ibu, mencoba memahami.


Didalam teriakan yang terus bersahutan, telinga Yuki menangkap suara yang tidak asing baginya ia mengedarkan pandangan berjalan ke asal suara.


Yuki tidak tahu apa yang sedang laki-laki itu lakukan, berdiri dipinggir lapangan melempar bola kepada laki-laki berkacamata yang juga duduk jongkok didepannya.


"Sepertinya bolamu tidak lebih cepat dari orang yang sedang melempar ditengah lapangan itu." Kata Yuki berdiri disamping jaring pembatas.


"Berisik. Begini-begini juga aku bekerja dengan keras melatih lemparanku." Jawabnya sarkas persis seperti saat pertama kali mereka bertemu.


"Hey! siapa kamu, berani-beraninya mengejek lemparanku." Protesnya seraya berkacak pinggang dan menunjuk kearah Yuki.


Tangan kiri Yuki menarik belakang topinya kebawah sedangkan tangan kanannya memegang ujung topi mengangkatnya sedikit.


"Yo, ohayou." Sapa Yuki sambil tersenyum.


Laki-laki itu menjatuhkan bibir bawahnya melotot menatap Yuki.


"Kenapa diam?, bukankah kamu sedang latihan?." Tanya Yuki membuat kedua laki-laki itu tersadar.


"Gadis bermata biru! kenapa kamu ada disini?, kamu .., kamu .., sedang berkencan?." Tanyanya heboh seperti biasa, dengan wajah yang ditekuk dan pundak yang melorot kebawah.


"Kencan?, tentu saja tidak." Jawab Yuki polos.


"Benarkah?! pasti benarkan ya .., ahahaha." Laki-laki itu tertawa keras bak perampok yang sukses menjarah bank.


"Lihat saja gadis bermata biru, aku akan naik ke gundukan itu, melempar bola mematikanku dan tidak akan ada yang bisa memukulnya." Katanya sombong.


"Oi! kalau mau mengobrol terus, aku tinggal." Seru seseorang diseberang sana.


"Jangan ... Jangan ... Jangan ..!, aku akan melemparnya lagi." Sergahnya heboh membuat Yuki tersenyum.


"Kalau begitu semangat!." Ucap Yuki berjalan menjauh dari laki-laki itu agar dia bisa fokus latihan.


Dua orang itu tidak menyadari bahwa interaksi mereka dilihat oleh para pemain dari lapangan yang menguarkan aura gelap menatap si laki-laki dengan tatapan tajam.


Sepuluh menit telah berlalu akhirnya laki-laki bersurai kecoklatan itu masuk kedalam lapangan ia menggunakan sarung tangan dengan warna berbeda dari teman-temannya yang lain. Ia kidal, pelempar kidal.


Pertandingan berjalan cukup menarik setelah laki-laki bersurai kecoklatan itu memasuki lapangan, entah apa yang membuat para pemukul kesulitan memukul bolanya, padahal putaran bola tidak terlalu cepat.


"Aku ingin memukul bolanya." Ucap suara yang rendah dan tenang, Yuki menoleh ke sumber suara mendapati Hajime berdiri disampingnya agak jauh.


"Senpai?." Hajime menoleh menatap Yuki.


"Osu (Salam)." Jawab laki-laki tinggi itu, Hajime terlihat berbeda dengan balutan seragam baseballnya.


"Kenapa ada disini?, bukannya ada pertandingan?." Hajime mengalihkan pandangan melihat kearah lapangan.


"Pemain inti tidak boleh ikut bertanding, karena ini pertandingan antara senior dan junior, untuk memperebutkan posisi di tim inti yang kosong." Jelas Hajime.


"Senior dan junior, apa karena itu terlihat berat sebelah?." Lirih Yuki.


"Hm. Pelatih mungkin sedang mencari anak kelas satu yang bisa membantu tim, memperkuat tim." Jawab Hajime. Yuki kembali fokus melihat pertandingan.


"Apa yang terjadi senpai?, kenapa para pemain keluar lapangan?." Tanya Yuki.


"Kamu tidak tahu tentang baseball?." Tanya balik Hajime, Yuki menggeleng pelan.


"Mereka sedang berganti posisi. Tim yang tadi menyerang terkena enam strike out dan sekarang mereka berganti menjadi tim bertahan begitu pun sebaliknya." Yuki fokus dengan penjelasan dari Hajime.


"Kenapa hanya pemain yang duduk didepan sana yang menggunakan pelindung lengkap?." Tanya Yuki lagi.


"Pemain itu disebut sebagai catcher atau penangkap yang berjongkok dibelakang pemukul atau batter dan bertugas menangkap bola yang dilempar oleh pitcher tetapi tidak dipukul oleh batter." Yuki mendengarkan dengan seksama.


"Pitcher adalah orang yang melempar bola dari tengah lapangan, catcher juga memberikan instruksi dan strategi melempar bola kepada pelempar."


"Karena catcher adalah pemain yang berpeluang terkena bola lebih banyak dari pada pemain lain jadi harus menggunakan pengaman lengkap." Jelas Hajime panjang lebar.


Yuki ingin bertanya lebih banyak tapi ia merasa tidak enak kepada seniornya itu. Laki-laki berambut kecoklatan yang Yuki kenal memasuki kotak pemukul ia berteriak menyemangati dirinya sendiri membuatnya terlihat kony*l menimbulkan gelak tawa para penonton. Yuki menahan dirinya agar tidak terbawa suasana.


Dua kali ayunan yang tidak membuahkan hasil, entah kenapa Yuki merasakan debaran jantungnya sendiri. Ayunan ketiga mengenai pemukul, bola melambung melewati pemain bertahan laki-laki itu berlari cepat mengincar base 2 (base \= tempat berupa bantalan yang harus dilewati oleh para pemain).


Laki-laki bersurai kecoklatan itu meluncurkan badannya kedepan agar tidak terkena out. Apakah permainan baseball banyak melakukan gerakan meluncur dan sliding, apakah mereka tidak merasakan sakit?, pikir Yuki.


"Jika mereka terkena satu out lagi mereka akan berganti dan tidak mendapatkan skor." Ucap Hajime mengalihkan perhatian Yuki.


"Apa menurut senpai dia tidak akan bisa memukulnya?." Tanya Yuki melihat pemain bertubuh kecil yang tergolong pendek ketimbang pemain lain sedang bersiap memukul.


"Kalau aku pasti akan memukulnya." Ucap Hajime penuh keyakinan. Yuki ikut merasa tegang.


"Aku akan membawamu pulang ..!." Teriak pemain kecil itu dengan suara kecilnya kepada laki-laki bersurai kecoklatan. Yuki menahan senyum, pemain itu terlihat lucu bagi Yuki.


"Pulang?, apakah mereka tidak akan pulang jika anak itu tidak memukul bolanya?." Tanya Yuki yang baru tersadar. Hajime tertawa membuat Yuki salah tingkah bahkan suara tawanya pun begitu tenang.


"Ahahaha." Hajime masih terus tertawa.


"Ekhem, maaf. Yang dimaksud pemain itu adalah memukul bolanya agar pemain yang berada dibase ke dua bisa sampai ke home base, base yang ada didepan catcher." Jelas Hajime, Yuki yang merasa malu sedikit menutupi wajahnya dengan topi.


"Apa yang terjadi jika pemain itu sampai di home base?." Yuki sangat penasaran.


"Mereka akan mendapatkan satu poin dan permainan akan terus berlanjut." Jawab Hajime.


Pemain kecil itu berhasil memukul bolanya dalam sekali percobaan sorak sorai dari para penonton dan pemain membahana diseluruh lapangan. Yuki ikut gugup melihat laki-laki bersurai kecoklatan itu sedang berlari mengincar base home, bola dilempar dari pemain bertahan kepada catcher, laki-laki bersurai kecoklatan meluncur meliukan badannya saat bola ditangkap oleh catcher.


Bola mata Yuki bergerak-gerak bak elang yang sedang mencari mangsanya jantungnya berdegup kencang.


"Safe!." Teriak Mizutani sebagai wasit, seketika teriakan heboh dari bangku cadangan pecah membelah udara. Yuki masih tidak mengerti dengan perasaannya, ia ikut merasa senang tanpa alasan yang pasti. Jenis olah raga ini telah mempermainkan emosinya bak menaiki roller coaster.


"Aku masih kurang paham dengan olah raga ini tapi, sepertinya menarik." Ujar Yuki.


"Besok Keiji ada pertandingan, mungkin jika kamu melihatnya bisa mendapatkan pengetahuan lebih." Kata Hajime.


"Keiji pemain baseball?." Tanya Yuki.


"Ung."


"Pantas saja badannya sangat besar." Gumam Yuki.


Ia kembali mengingat saat keluar dari ruangan Mizutani, didepan asrama segerombol anggota klub sedang membicarakan sesuatu. Badan mereka yang tinggi-tinggi mengintimidasi Yuki, ia akhirnya memutuskan kembali masuk kedalam ruangan Mizutani.


Meskipun sudah biasa dikelilingi oleh penjaga-penjaga berbadan besar-besar dan sangat tinggi, mereka tidak menatap Yuki dengan cara yang aneh seperti orang-orang disekolah ini menatap Yuki, Yuki merasa tidak nyaman.


Pertandingan pun selesai penonton satu persatu meninggalkan lapangan. Hajime, laki-laki itu sudah kembali ke timnya beberapa menit yang lalu. Mizutani menghampiri Yuki dengan seorang wanita yang terlihat lebih muda dari Mizutani dan seksi.


"Bagaimana menurutmu, menyenangkan bukan." Kata Mizutani.


"Hm, olah raga yang penuh strategi." Jawab Yuki.


"Kamu benar, tidak hanya strategi yang diperlukan kemampuan membaca peluang juga sangat penting." Jelas Mizutani.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?." Tanya Yuki langsung kepada intinya.


"Jangan terburu-buru, kenalkan dia pencari bakat dari sma kita." Mizutani menoleh kepada wanita disampingnya.


"Suzune Ayako salam kenal." Ucap wanita itu, Yuki menunduk sekilas.


"Hachibara Yuki." Balasnya singkat.


"Yuki, kamu sudah memutuskan akan masuk klub mana?." Tanya Mizutani.


"Belum."


"Bagaimana kalau menjadi manajer klub baseball." Saran Mizutani.


"Apa tugas menjadi manajer?." Tanya Yuki setelah berpikir sebentar.


"Kamu bisa lihat dilapangan," ucap Mizutani, Yuki pun menoleh melihat ke lapangan.


"Seperti mereka, menyiapkan air minum untuk anggota, menyiapkan handuk, ikut membersihkan bola, kadang juga menyiapkan makanan kecil untuk para anggota, menulis skor pertandingan dan beberapa pekerjaan lainnya, sebuah bentuk untuk menyokong tim." Jelas Mizutani.


Apa dia ingin aku menjadi pelayan mereka?. Jangan harap, batin Yuki.


"Oooii!!, Gadis bermata biru. Kamu melihatku mencetak angka?!." Tanya laki-laki bersurai kecoklatan itu seraya berlari menghampiri Yuki. Karena teriakan kerasnya menarik perhatian anggota yang lain.


"Kantoku (Pelatih) terima kasih untuk hari ini. Aku telah diberikan kesempatan untuk bertanding." Ucap laki-laki itu dengan percaya diri lalu membungkuk dalam.


"Pelatih melakukannya bukan untukmu Inuzuka san." Sahut Suzune.


"Hehehe .., saya akan berusaha lebih keras lagi." Seru laki-laki itu.


"Apa kamu kesini untuk melihat pertandinganku?." Laki-laki itu menoleh menatap Yuki.


"Tidak." Jawab Yuki singkat, laki-laki bernama Inuzuka itu menekuk wajahnya.


Mizutani mengabaikan Inuzuka dan kembali fokus kepada Yuki.


"Kamu bisa pikirkan lagi nanti malam, semakin banyak manajer, tim akan semakin terbantu." Kata Mizutani.


"Wah! jadilah manajer kami!." Srobot Inuzuka bersemangat.


"Aku tidak mau menjadi manajer dengan tim berat sebelah." Jawab Yuki mencoba menyindir, Inuzuka mendekati Yuki tangannya mulai bergerak-gerak.


"Itu karena para senpai tidak menahan diri menghadapi kami, mereka terlalu kuat, tidak memiliki celah." Kata Inuzuka beralasan, Yuki memiringkan kepalanya seraya mengangkat satu alis.


"Kalau begitu, jika aku masuk tim inti kamu harus menjadi manajer kami." Seru Inuzuka seraya menunjuk Yuki, para pemain tanpa terkecuali sedang mengamati mereka.


"Akan aku pikirkan." Jawab Yuki datar. Inuzuka tersenyum lebar mendengar jawaban Yuki.


"Baiklah sudah diputuskan. Maaf kita belum berkenalan sebelumnya." Inuzuka memperbaiki postur tubuhnya berdiri tegap.


"Inuzuka Shinichi kelas 1-3 calon ace oukami koukou, yoroshiku onegaishimasu." Ucap Inuzuka seraya membungkukan badan.


Kohai (Junior) ternyata, batin Yuki.


"Hachibara Yuki 2-1, yoroshiku ne Inuzuka kun (salam kenal ya)." Inuzuka sontak mundur satu langkah matanya melebar, sudut bibirnya bergerak-gerak. Ekspresi yang selalu membuat Yuki ingin tertawa.


"Se se senpai ?!." Serunya terkejut.


"Ung doushita? (Ya kenapa?)." Tanya Yuki.


"Aku kira kita satu angkatan." Lirihnya.


"Maaf telah mengecewakanmu." Inuzuka gelagapan mendengar Yuki meminta maaf tangannya bergerak-gerak didepan Yuki.


"Tidak tidak tidak, itu bukan salah senpai, aku yang seharusnya meminta maaf telah bersikap tidak sopan." Ucap Inuzuka dengan nada suara yang terdengar panik. Yuki tidak bisa menahannya lagi, suara tawanya pecah.


"Ahahaha." Inuzuka terdiam sejenak mendengar suara Yuki.


"Kamu memang tidak sopan." Ucap Yuki disela-sela tawanya.


"Ehehehe." Inuzuka ikut tertawa canggung sambil menggaruk belakang kepalanya.


PLAK!.


Sebuah tangan mendarat dengan keras dipundak Inuzuka membuat laki-laki itu terdiam seketika.


"Sepertinya kamu harus diberi pelajaran." Lirih seseorang dari belakang Inuzuka. Yuki perlahan menghentikan tawanya menatap laki-laki dibelakang Inuzuka yang terlihat tidak asing.


"Maaf, kohai bodoh ini harus segera kembali ke tim." Ucap Hirogane salah satu teman sekelas Yuki seraya menarik paksa pundak Inuzuka.


"Apa?! senpai mengataiku bodoh?." Inuzuka menatap kesal Hirogane.


"Berisik, ayo cepat." Hirogane mengalungkan lengannya dileher Inuzuka menyeretnya pergi.


"Kamu mengatakannya tadi, kamu mengatakannya." Inuzuka masih protes.


"Ba-ka (Bo-doh)." Ulang Hirogane lebih keras disebelah telinga Inuzuka.


"Chotto ... Senpai, mata itta! (Sebentar ... Kamu, mengatakannya lagi!)." Seru Inuzuka tidak terima.


"Sampai jumpa ...!." Teriak Inuzuka dari dalam lapangan melambaikan tangannya kepada Yuki, Yuki tersenyum kecil membalas lambaian Inuzuka membuat laki-laki itu mendapat tendangan di ****** dan pukulan dikepala oleh para seniornya.


"Junior belagu!." Ucap senior 1.


"Berani-beraninya kamu merayu wanita." Geram senior 2.


"Sudah bosan hidup kamu hah!." Teriak senior 3.


"Apa salahku! apa salahku?. Aku tidak merayunya." Inuzuka membela diri.


"Omong kosong." Ucap senior lainnya.


"Kamu kira kami tidak melihatnya!."


"Padahal selama hampir tiga tahun ini aku terjebak di baseball membuatku tidak bisa dekat dengan perempuan." Celetuk senior lain.


"Aku juga." Sahut yang lainnya.


"Sama."


"Dan berani-beraninya kamu memamerkan kedekatanmu kepada kami hah!." Teriak senior 3.


"Mau mencoba memanas-manasi kami?." Hajime dengan tenang ikut menimpali teman-temannya.


Yuki yang menonton dari luar lapangan merasa iba kepada Inuzuka, ia juga sedikit heran dengan tingkah kumpulan para anggota klub itu.


"Yuki." Panggil Mizutani.


"Berikan aku waktu lebih untuk memutuskannya." Pinta Yuki.


"Sampai jumat besok, kamu harus sudah mengisi formulirnya." Tegas Mizutani, Yuki membungkuk sebagai ucapan terima kasih.


***


Seperti pagi kemarin, Yuki melakukan pemanasan didepan rumah melirik sekilas ke rumah sebelah. Apakah Keiji tidak jogging pagi dulu sebelum pertandingan?, batin Yuki mulai berlari kecil.


Didekat taman umum yang kemarin ia kunjungi ada sebuah mesin penjual minuman otomatis, gadis itu berniat membeli minuman dan beristirahat sebentar. Yuki merogoh sakunya mengeluarkan dompet, ia sedikit ragu. Perlahan mengeluarkan kartu berwarna hitam, benda satu-satunya yang ada didalam dompet.


"Apa yang bisa aku lakukan dengan benda ini disini?." Gumam Yuki.


"Aku harus mencobanya, ini bukan ibu-ibu penjual pinggir jalanan di hongdae."


Yuki menempelkan kartunya ditempat pembayaran mesin itu lalu menekan tombol minuman yang ia inginkan, namun tidak berhasil.


"Tidak berguna." Yuki mengerucutkan bibirnya kesal.


Gadis itu berbalik berlari kembali ke rumah, saat ia sudah dekat dengan rumahnya Yuki melihat Masamune sedang membawa dua kantong besar dimasing-masing tangannya.


"Masa san, mau kemana?." Tanya Yuki menghampiri Masamune.


"Hari ini jadwal buang sampah, hampir saja aku lupa." Jawab Masamune.


"Dimana tempat mengumpulkannya?." Yuki mengambil salah satu kantong dari tangan Masamune.


"Diujung sana." Masamune menunjuk kotak sampah berukuran besar yang terbuat dari jaring besi diujung gang.


Mereka berdua berjalan berdampingan tanpa mengatakan sepatah kata pun sampai Yuki melihat mesin penjual minuman otomatis diujung gang.


"Mm, Masa san." Panggil Yuki setelah mereka memasukan kantong sampah kedalam kotak sampah.


"Nani? (Apa?)." Tanya Masamune.


"Maaf bolehkah aku meminta sesuatu?." Yuki melirik Masamune yang sedang menatapnya.


"Tentu." Jawab Masamune.


"Belikan aku, itu." Yuki menunjuk mesin berwarna merah.


"Aku tadi mencoba membelinya tapi tidak bisa." Lanjut Yuki.


"Tidak bisa?." Ulang Masamune, Yuki mengeluarkan dompetnya.


"Sepertinya aku tidak memerlukan benda ini." Yuki membuka dompetnya lebar-lebar memperlihatkan isinya.


"Yu ki, kamu bercanda kan?." Masamune menatap tidak percaya gadis dihadapannya itu.


"Percuma memiliki tiga benda ini jika tidak bisa untuk membeli sesuatu." Gumam Yuki mendekati mesin lalu menunjuk minuman yang dia inginkan.


"Terima kasih Masa san aku mau berlari lagi." Ucap Yuki setelah mendapatkan minuman yang ia inginkan lalu kembali berlari meninggalkan Masamune.


"Apakah dia tidak pernah ke kantin?." Lirih Masamune menatap punggung Yuki yang semakin menjauh.