Futago

Futago
Ceroboh



Dengan wajah sedikit merah menahan malu Yuki sedikit menunduk membuat rambutnya jatuh menutupi wajah. Teriakan dari lapangan A membuat orang-orang kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing.


"Maaf aku mengganggumu." Ucap Yuki, laki-laki bersurai kecoklatan itu menggeleng kuat.


"Mmm? sedikit." Katanya ragu-ragu, ekspresi wajah yang terlihat polos namun juga k*nyol ditambah tingkah lucunya membuat Yuki terhibur.


"Aku pergi, semangat." Yuki membuat gerakan kecil dengan mengepalkan tangannya.


"H ha hai'!, terima kasih banyak. Aku pasti akan masuk tim inti!." Teriaknya tanpa rasa malu membuat Yuki menahan senyum membalikan badan menuju kedua teman kelasnya di sisi lapangan A.


"Kalian terlihat akrab." Kata Takamoto setelah Yuki berdiri disampingnya.


"Aku hanya menyapanya." Jawab Yuki matanya bertabrakan dengan Mizutani lalu ia menunduk sekilas.


"Tidak adil." Protes Natsume menatap tajam Yuki.


"Takamoto san terima kasih untuk hari ini, aku pulang dulu. Terima kasih banyak." Yuki sedikit membungkuk lalu pergi meninggalkan kedua teman kelasnya.


"Ooi! kamu mengabaikanku lagi?." Seru Natsume dari suaranya terdengar ia sangat kesal.


Yuki mengambil tasnya yang masih ada didalam kelas lalu berjalan menuju loker sepatu. Saat Yuki membuka loker ia kembali terdiam, beberapa surat berserakan jatuh dari dalam loker karena terlalu banyaknya.


Apa mereka pikir aku pegawai pos, kenapa mereka suka sekali mengirim surat kepadaku, rutuk Yuki memunguti surat di lantai lalu mengambil surat yang ada didalam loker memasukan semuanya kedalam tas.


***


Hari jumat, dan besok libur ... Yuki tersenyum memikirkannya, ia sudah lelah melihat surat-surat yang selalu ada didalam loker sepatunya, ia juga lelah menghadapi sikap liar Natsume yang selalu berusaha mendekatinya.


Jam kedua adalah olah raga, anak-anak perempuan meninggalkan kelas dengan membawa baju olah raga, Yuki yang masih kurang paham dengan kebiasaan disekolah barunya hanya bisa mengikuti yang lain.


Mereka memasuki ruang ganti perempuan, Yuki menghentikan langkahnya, ia sedikit ragu masuk ke dalam.


"Kenapa? ayo masuk." Ucap Natsume menarik kencang tangan Yuki lalu menutup pintu dibelakangnya.


Mata Yuki melebar, ia terkejut melihat pemandangan didalam ruang ganti. Teman-temannya tanpa ragu membuka baju seragam mereka, menyisakan kaos dalam dan celana dal*m?!, Yuki segera membalikan badan menghadap pintu.


"Aku ingin ke toilet." Ucap Yuki segera melarikan diri dari sana.


Itu memalukan, kenapa mereka terlihat biasa-biasa saja, batin Yuki masuk ke dalam salah satu bilik toilet, mulai mengganti bajunya. Tidak membutuhkan waktu lama Yuki keluar dari toilet dan bergabung kembali dengan teman-temannya di lapangan lari.


Mereka berbaris dengan rapih, kaos pendek berwarna putih dan celana training panjang berwarna hitam melekat di tubuh Yuki.


"Baik hari ini kita akan melakukan pengukuran waktu lari kalian. Yang pertama, lari seratus meter, dan yang kedua, lari estafet empat ratus meter. Siap, lakukan pemanasan. Ketua kelas, silahkan." Jelas guru olah raga yang berbadan tinggi dan terlihat agak kurus.


"Berhitung, mulai!." Seru Takamoto memimpin aba-aba. Secara otomatis anak-anak melakukan pemanasan dengan aba-aba hitungan dari Takamoto selaku ketua kelas yang baru Yuki sadari.


Setelah selesai pemanasan, anak-anak perempuan yang mendapat giliran pertama sudah bersiap-siap. Sensei (Guru) juga sudah siap dengan peluit dibibir, stopwatch ditangannya, dan papan nilai ditangan lainnya.


Aba-aba dimulai. Empat anak berlari bersamaan, setelah itu dilanjut kloter kedua.


"Sepertinya kita tidak akan lari bersama." Yuki memutar bola matanya malas mendengar ucapan Natsume disampingnya.


"Mau sampai kapan kamu menempel padaku?." Tanya Yuki yang sudah jengah.


"Sampai kamu mau menjadi temanku." Yuki memalingkan wajah menatap teman-temannya yang sudah selesai.


"Bukankah temanmu sudah banyak, bertambah atau tidak, tidak berpengaruh." Ucap Yuki.


"Tidak, itu sangat berpengaruh bagiku, karena aah .., giliranku." Natsume berlari kecil bersiap dijalurnya.


Sebelum ada aba-aba dari pak guru, Natsume melambaikan tangannya kepada Yuki, gadis itu tersenyum lebar yang terlihat menawan membuat para laki-laki menyorakinya memberikan dukungan.


Priiiiitt!.


Natsume dan tiga teman lainnya berlari sekuat tenaga. Yuki berjalan memposisikan diri karena setelah ini giliran dirinya. Tiba-tiba Yuki menaikan satu alis, pemandangan yang buruk tertangkap oleh matanya. Natsume mencapai finish pertama dan mendapat sorakan heboh dari penonton.


"Hachibara san ...!. Ganbare! (Semangat)." Teriak Natsume dari pinggir lapangan, lagi-lagi Yuki memutar bola matanya karena kelakuan gadis itu.


Priiitt!.


Yuki mulai berlari dengan kecepatan sedang, kemudian telinganya mendengar sorakan kompak dari pinggir lapangan. Anak-anak perempuan dan laki-laki berteriak menyemangatinya, Yuki yang terkejut menoleh kesamping mendapati Natsume sedang memimpin pemandu sorak dadakan.


Kenapa ada gadis seperti itu, batin Yuki kembali menatap lurus kedepan, ia finish ketiga dengan waktu yang lumayan tidak buruk, menurutnya.


"Kerja bagus, masih ada kesempatan lainnya." Kata Natsume menepuk-nepuk punggung Yuki dengan keras, Yuki melemparkan tatapan tajam kepada gadis itu menyuruhnya berhenti.


"Hehe gomen (maaf)." Natsume menjauhkan tangannya dari punggung Yuki.


"Baik, giliran laki-laki." Seru sensei.


"Ayo kita duduk disini." Seperti biasa, Natsume menarik tangan Yuki begitu saja.


Natsume bertepuk tangan dan sesekali menyoraki anak laki-laki, lain hanya dengan Yuki yang terlihat tidak tertarik.


"Waah, anak-anak dari klub baseball memang punya kaki yang cepat." Komentar Natsume.


"Hachibara san lihat dia! lihat lihat." Natsume menunjuk seseorang seraya menarik-narik lengan kaos Yuki dengan heboh. Yuki yang terusik melirik kearah yang ditunjuk Natsume.


"Dia seperti kucing, larinya cepat sekali." Ucap Natsume dengan wajah cerianya. Untuk kali ini Yuki setuju dengan Natsume, laki-laki itu sangat cepat.


"Siapa ya namanya ..?." Natsume mengerutkan kening mengingat-ingat.


"Hirogane Yuzu kun ... Ya, Hirogane." Natsume tersenyum senang telah mengingat nama teman satu kelasnya itu.


"Persiapan lari estafet! kalian bebas memilih anggota kelompok yang terdiri dari empat orang." Jelas pak guru.


Dua anak perempuan datang menghampiri Natsume memintanya bergabung dengan mereka yang ditanggapi ramah oleh sang empu.


"Tinggal mencari satu orang lagi." Kata salah satu diantara mereka, sejak tadi Yuki mengedarkan pandangan mencari kelompok yang terbuang, dia akan masuk kedalam kelompok itu.


"Kenapa mencari kan ada Hachibara san." Natsume menarik lengan Yuki mendekat kepadanya.


"Anu.., mmm." Gumam gadis berambut panjang yang diikat ekor kuda itu.


"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya tapi Hachibara san maaf, aku tidak ingin kamu masuk kedalam kelompoku." Jelas gadis berambut pendek sepundak. Raut wajah Natsume tiba-tiba berubah.


"Kenapa?." Tanya Natsume dengan nada serius membuat Yuki melirik gadis itu.


"Kamu lihat juga kan, Hachibara san larinya tidak cepat." Jawab gadis kuncir kuda.


"Aku hanya ingin satu kelompok dengan Hachibara san, kalau kalian tidak suka apa boleh buat." Natsume menarik tangan Yuki untuk berdiri mengikutinya.


"Baiklah." Sergah cepat gadis berambut pendek.


"Hachibara san ikut ke dalam kelompok kita." Lanjutnya lirih.


"Yey!." Sorak girang Natsume.


"Tapi, Hachibara san kita masukan dipelari ke empat. Kita bertiga akan memberikan jarak yang jauh agar bisa menang." Gadis kucir kuda menambahi.


"Tidak masalah." Ucap Natsume dengan percaya diri.


Yuki yang tidak berniat berbicara dengan mereka tetap diam dan mengikuti alur.


Suara peluit mengintrupsi mereka, sensei memulainya dengan siswa laki-laki lebih dulu. Persaingan diantara mereka sangat sengit, teriakan dukungan dari siswi perempuan saling bertabrakan, menyebut nama orang yang mereka dukung masing-masing. Natsume yang terpancing dengan atmosfir persaingan membuka mulutnya.


"Jangan coba-coba teriak atau aku akan pindah kelompok." Lirih Yuki datar namun berhasil menghentikan Natsume yang lalu menutup mulutnya kembali.


Pertandingan siswa laki-laki sudah selesai, dengan otomatis siswi perempuan bersiap dijalur masing-masing. Natsume dan Yuki berdiri dipinggir lapangan.


Priiittt.


Gadis rambut ekor kuda memulai dengan sangat baik, ia menyalip dua orang sekaligus. Atmosfir persaingan sebelumnya sepertinya masih tertinggal, para gadis terlihat serius saling menyalip satu sama lain. Gadis rambut ekor kuda berada di urutan pertama membuat dua orang selain Yuki tambah bersemangat.


Gadis berambut pendek bersiap menerima tongkat estafet. Beberapa detik kemudian gadis ekor kuda keluar lapangan setelah memberikan tongkat estafet kepada gadis berambut pendek.


"Waah, kamu sangat keren. Otsukaresama (Kerja bagus)." Ucap Natsume menepuk pelan pundak gadis rambut ekor kuda seraya berjalan ke jalur lari memposisikan dirinya.


Gadis kucir kuda dan gadis rambut pendek bersorak senang melihat jarak yang sangat jauh mereka merasa seperti sudah menang. Namun hal mengejutkan terjadi membuat keduanya terdiam seketika, dan berganti tim-tim lawanlah yang kini bersorak-sorak menyemangati tim masing-masing.


Natsume tiba-tiba memelankan larinya, ia terlihat kesakitan tapi tetap memaksakan diri untuk berlari, satu persatu tim lawan menyalip Natsume dan membalikan keadaan.


"Bagaimana ini bisa terjadi?." Lirih gadis rambut pendek.


Tim-tim lawan sudah memberikan tongkat mereka kepada pelari terakhir namun Natsume masih terlihat jauh dibelakang. Yuki bisa melihat Natsume sedang menghapus air matanya dari kejauhan.


"Padahal kita sudah berusaha sekuat tenaga." Lirih gadis rambut ekor kuda dengan wajah kesal. Yuki mengulurkan tangannya kepada gadis rambut ekor kuda itu.


"Boleh aku pinjam ikat rambutmu?." Gadis rambut ekor kuda yang sudah pasrah memberikan ikat rambutnya tanpa mengatakan apa pun.


"Apa dia tidak bisa lebih cepat sedikit." Ucap ketus gadis rambut pendek.


"Bukankah kalian terlalu egois." Ucap Yuki menerima ikat rambut berwarna merah muda itu.


"Apa maksudmu?." Tanya gadis rambut pendek tidak terima.


"Natsume san tetap berusaha terus berlari meski merasakan sakit dipergelangan kakinya." Jawab Yuki berjalan menuju jalur lari seraya mengikat rambutnya.


Ega maaf, aku mengikat rambutku, padahal kamu tidak menyukainya, batin Yuki.


Natsume yang sudah dekat melihat gadis bermata biru sedang berdiri santai menunggunya, ia segera memberikan senyum lebar yang dipaksakan kepada gadis itu.


Natsume berhenti didepan Yuki mengulurkan tongkat estafet sambil menunduk, satu tangannya memegang lutut menopang tubuhnya. Beberapa detik Yuki hanya diam menatap gadis liar yang kini berubah melow itu. Natsume mengangkat kepalanya menatap Yuki.


"Gome- (Maa-)."


Tuk!.


Natsume tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena Yuki yang tiba-tiba mengambil tongkat estafet dan memukul pelan kepalanya.


"Bodoh." Lirih Yuki dan langsung berlari dengan kecepatan tinggi. Hati Natsume bergetar.


"Aku tidak pernah salah menilai orang baik sepertimu, karena itu aku tidak akan menyerah sampai kamu mau berteman denganku." Gumam Natsume menatap Yuki yang sudah menyalip satu orang.


"Natsume chan, ayo aku bantu." Gadis rambut pendek dan gadis yang tadinya dikucir kuda memapah Natsume ke pinggir lapangan.


Yuki terus menyalip lawan-lawannya dengan kecepatan tinggi membuat penonton kebingungan. Lawan terakhir yang hanya berjarak tiga meter dari garis finish pun sudah disalipnya, Yuki menabrak pita berwarna putih dan memelankan laju larinya.


Semua orang terpaku begitu juga dengan sensei. Yuki berjalan santai menghampiri timnya.


Semua mata terpaku dengan pemandangan didepan mereka. Seorang gadis dengan kulit putih pucat dan tubuh bak model terkenal berjalan kearah mereka, rambut yang dikucir kebelakang semakin memperjelas garis wajah gadis itu dan memperlihatkan leher putih beserta tulang selangka yang menggoda, ditambah keringat membasahi wajah hingga leher membuat seluruh pasang mata membeku tak bergerak.


Mata biru itu berkedip pelan ia berhenti didepan anggota timnya melepas ikat rambut membiarkan rambut hitamnya jatuh terurai, angin musim semi berhembus pelan menambah keindahan pemandangan didepan mereka.


"Kenapa dengan kalian?." Tanya Yuki datar.


Bahkan mereka semakin terhipnotis dengan suara yang mengalun dari mulut gadis itu.


Yuki yang merasa ada yang aneh dengan suasana sunyi disekitar lapangan menendang kaki Natsume pelan.


"Aaarrggh!." Jerit Natsume mengangkat kakinya yang sakit.


"Hachibara san." Tegur gadis rambut pendek kepada Yuki.


"Kamu tidak boleh melakukannya." Protes gadis yang meminjamkan ikat rambut.


"Hm. Terima kasih." Ucap Yuki mengembalikan ikat rambut yang ia pinjam.


"Baik pelajaran selesai kalian boleh istirahat." Suara sensei memecah kesunyian panjang itu.


"Natsume chan cepat ke uks segera obati lukamu." Perintah sensei. Akhirnya Natsume dipapah oleh dua teman setimnya.


***


Sejak tadi Natsume terus menggerutu didalam uks membuat petugas uks menutup telinga dengan tangannya.


"Kenapa dia tidak ikut mengantarku ke uks, kita kan satu tim!." Celotehnya.


"Setidaknya dia harus menjengukku." Protesnya.


"Dia benar-benar menyebalkan, aku bukan orang aneh! aku hanya ingin berteman dengannya." Rutuk Natsume.


"Kamu memang aneh, dan ... Berisik." Sahut petugas uks.


"Sensei apa salahnya berteman, aku bukannya ingin memeras atau melakukan hal buruk padanya." Srobot Natsume.


"Kamu butuh tips untuk mendekati cowok rupanya, baiklah aku akan memberikanmu secara gratis, jurus menaklukan laki-laki." Ucap petugas uks mendekati ranjang Natsume.


"Sensei ini bukan tentang laki-laki. Dia itu terlihat sangat sempurna tapi juga misterius, sejak pertama kali melihat matanya aku langsung yakin bahwa aku harus berteman dengannya." Kata Natsume menggebu-gebu.


"Perempuan ternyata, aku tidak tertarik." Balas petugas uks hendak menjauh dari ranjang Natsume namun gadis itu mencegahnya. Natsume menggenggam tangan wanita berusia sekitar dua puluh tujuh tahunan itu.


"Dia sangat berbeda, sensei akan tahu jika melihatnya." Ucap Natsume penuh keyakinan.


Tok. Tok. Tok.


Kedua perempuan itu menoleh ke arah pintu.


Sreeekk.


Pintu digeser pelan, seorang gadis dengan mata biru memasuki ruang uks, berjalan menghampiri mereka. Yuki mengangguk sekilas kepada petugas uks.


"Apa aku mengganggu kalian?." Tanya Yuki melirik tangan petugas uks yang digenggam oleh Natsume.


"Ah!, tidak." Natsume melepaskan tangannya dengan cepat. Petugas uks itu berjalan kembali ke kursinya.


"Aku malas pergi ke kantin, makanlah yang ada." Yuki menaruh tote bag bekal makan siangnya diatas nakas dekat ranjang Natsume.


"Kamu tidak perlu melakukannya, bagaimana denganmu?, bukankah itu bekalmu?." Tolak Natsume hendak mengembalikan tote bag Yuki.


"Bersikap menolak padahal kamu mengharapkannya." Ucap Yuki yang telak mengenai hati Natsume.


"Tidak bisakah kamu memilih kata-kata yang lain? yang tadi terlalu ngena membuatku sedikit kesal." Natsume melirik Yuki yang sedang memperhatikan perban dikakinya. Gadis itu menyentuh pelan perban Natsume lalu mengetuk-ngetuknya dengan ujung jari beberapa kali.


"Sepertinya lukamu cukup parah. Syukurlah, kalau begini aku bisa terbebas darimu selama satu minggu kedepan." Celetuk Yuki dengan nada ceria. Perempatan muncul di kening Natsume.


"Bagaimana kamu tahu kalau lukanya harus menunggu selama satu minggu untuk sembuh?." Tanya petugas uks.


"Aku hanya menebak." Jawab Yuki singkat.


"Hachibara san!." Seru Natsume memanggil Yuki tiba-tiba.


"Jahat sekali tadi kamu menendang kakiku." Protes Natsume yang baru mengingat hal itu.


"Karena kalian diam cukup lama, tidak menjawabku." Natsume membuka mulutnya hendak protes tapi Yuki lebih dulu mengatakan sesuatu.


"Jangan bersikap kuat jika tidak mampu. Melakukan sesuatu yang ceroboh hanya akan merugikanmu." Natsume tertegun dengan ucapan Yuki untuknya, ia tersenyum lebar dengan sorot mata ceria menatap manik berwarna biru itu.


"Jadi kita berteman, kan ... Yu-chan." Yuki mengangkat satu alisnya membalas tatapan Natsume.


"Hah? Yu ... Chan?!." Ulang Yuki.


"Waah .., sejak pertama bertemu aku ingin sekali memanggilmu seperti itu. Oh, mulai sekarang panggil nama belakangku, Hazuki. Karena kita sudah berteman." Ucap Natsume memutuskan sebelah pihak. Yuki menarik nafas panjang.


"Aku pergi." Yuki lebih memilih kembali ke kelas dari pada harus berlama-lama dengan gadis liar didalam uks.


"Ung (Ya), sampai nanti Yu ... Chan!." Seru Natsume girang. Yuki sedikit aneh mendengar panggilan barunya.


"Benarkan sensei, dia sangat menarik." Ucap Natsume menoleh menatap guru uks.


"Ya."