
"Bagaimana dua anggota yang kita kirim?."
Salah satu pelindung menjawab pertanyaan tuan muda mereka.
"Mereka berhasil menyusup ke pasar gelap di hongkong. Dua hari lagi mereka akan mengirimkan laporannya."
"Ruang gerak kita masih sempit karena kekurangan informasi." Fumio membuka suara.
Lusi melirik peta yang terdapat lingkaran merah. Ia memberikan keputusan untuk mengakhiri rapat malam ini.
"Lakukan seperti yang sudah di rencanakan,"
BRAAKKK!!.
"Astaga!." Pekik kaget Lusi sontak menoleh ke pintu yang terbuka sempurna.
Lusi ingin menegur ketidak sopanan cucunya namun ia urungkan. Hotaru melebarkan matanya melihat penampilan Yuki.
Kacamata bulat sedikit besar, rambut yang di gelung ke atas, dress selutut yang memiliki kerah lebar rendah itu, baju tidur!. Kenapa adiknya keluar hanya dengan memakai itu?, pikir Hotaru segera berdiri melepas hoody berbahan tipis miliknya.
Hotaru mendorong kursinya kasar, berjalan menghampiri Yuki.
"Yuki, pakaianmu. Pakai ini." Hotaru mengulurkan tangannya hendak memakaikan hoody miliknya.
PLAK!.
Semua orang terkejut dengan respon gadis itu. Hotaru menatap lamat-lamat wajah kembarannya.
Yuki sedang marah, batin Hotaru.
Pasalnya raut wajah Yuki saat ini sama persis seperti waktu saudari kembarannya hendak menerjang Ayumi terakhir kali. Desisan mengintimidasi keluar dari sela-sela bibir Yuki merubah suasana ruang rapat menjadi gelap, menyesakkan.
"Siapa yang berani meretasku?."
Hening.
Yuki mengedarkan pandangannya ke setiap anggota rapat lalu berhenti pada Lusi.
"Nenek, siapa yang berani meretasku?." Yuki sedikit meninggikan nada suaranya.
"Yuki!." Tegur Hotaru karena sikap tidak sopan dari kembarannya.
"Meretasmu?. Apa yang sedang kamu lakukan diam-diam Yuki?." Balas Lusi tenang.
"Serahkan hacker itu padaku nek." Yuki tersadar ia sudah kelewatan dan menormalkan nada bicaranya.
"Katakan yang sejujurnya apa yang kamu lakukan?. Di kediaman ini tidak ada yang menggunakan jaringan selain jaringan klan." Yuki melirik meja panjang itu.
Mereka merencanakan penyerangan ke salah satu markas BD, batin Yuki yang melihat peta di atas meja.
"Kenapa aku harus mengatakannya jika nenek juga bergerak secara diam-diam." Balas Yuki. Entah keberanian dari mana mulutnya mengeluarkan kalimat itu.
"Yuki." Tegur Hotaru lagi melihat wajah Lusi yang berubah serius.
"Nenek, aku akan bicara dengan Yuki." Bujuk Hotaru melangkah menghampiri Lusi.
Bruk!.
Hotaru menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Yuki yang sudah duduk bersimpuh di lantai.
"Yuki, apa yang kamu lakukan?." Lirih Hotaru yang diabaikan gadis itu.
Yuki menempelkan tangan kanan dan kirinya lalu meletakkannya di lantai membungkuk dalam. Sikap meminta maaf/ampun kepada keluarga utama. Hotaru bergerak ke pinggir melihat Yuki yang sudah sadar atas sikap tidak sopannya.
"Ampuni sikap lancang cucumu ini oba sama (nenek)." Kata Yuki.
Lusi menatap Yuki dalam diam. Gadis itu juga tidak berniat bergerak sampai Lusi mengatakan sesuatu. Hotaru menghela nafas berat melihat adiknya yang sudah membungkuk seperti itu selama dua menit.
"Apa yang ia retas sehingga membuatmu semarah ini?." Tanya Lusi. Yuki masih dalam posisinya.
"Angkat tubuhmu." Titah Lusi.
"Maafkan sikap tidak sopan saya oba sama." Ulang Yuki semakin membungkuk.
"Aku akan memberikanmu hukuman nanti. Sekarang angkat tubuhmu."
Yuki perlahan menegakkan punggungnya masih bersimpuh di lantai.
"Jawab aku, apa yang ia retas?." Ulang Lusi.
"Jika oba sama tidak mau memberitahukan dimana hacker itu berada saya akan mencarinya sendiri." Hotaru menatap Yuki menegurnya.
Hotaru melihat Yuki kembali membungkuk menempelkan telapak tangannya di lantai lalu beranjak berdiri.
Ini berbahaya!, batin Hotaru alarm pada dirinya langsung berbunyi nyaring.
"Nenek, biar aku saja." Hotaru menghentikan Lusi yang hendak mengatakan sesuatu.
"Yuki."
Grep.
Hotaru berhasil menahan tangan gadis itu sebelum kembarannya semakin dekat dengan pintu.
"Kamu tahu kami melakukan semua ini untuk melindungimu." Ucap Hotaru langsung pada intinya.
"Aku tidak memerlukannya." Hotaru bergeming mendengar jawaban Yuki.
Gadis itu menarik tangannya sampai terlepas dan kembali berjalan.
"Kata-katamu menyakiti para pelindung, seakan tidak menghargai pengorbanan mereka yang telah gugur." Tegas Hotaru.
Jika hanya mereka berdua saja Hotaru tidak mempermasalahkannya, masalahnya di sana para pelindung tingkat atas masih duduk di kursi mereka masing-masing. Dan sikap keras kepala Yuki kambuh.
"Yuki!." Teriak Hotaru seraya menerjang ke depan.
Sret!.
Hotaru mengerem kakinya memundurkan tubuh bagian atas menghindar dari bolpoin pisau andalan Yuki yang mengarah ke lehernya.
Lusi sangat terkejut melihat cucunya yang menodongkan pisau kepada saudara kembarnya sendiri.
Hotaru juga terkejut melihat sorot tajam Yuki. Gadis itu menghela nafas panjang menarik pisaunya.
"Aku juga tidak ingin ada yang gugur." Ucap Yuki lalu membungkuk dalam kepada Lusi sebelum kembali hendak pergi.
"Tidak ada jaringan selain jaringan klan di sini. Yuki, berhenti!." Gadis itu tetap berjalan.
"Aku akan menyita semua komputermu." Yuki terus berjalan mengabaikan Hotaru.
Woooosshh.
Hotaru sudah berdiri di depan pintu menghalangi jalan gadis itu.
"Jauhi bahaya!, apa kamu tidak paham?. Jangan ikut campur dan tetap di rumah." Hotaru memelankan suaranya di akhir kalimat.
"Hotaru, aku sedang marah, menyingkirlah." Hotaru menatap lurus manik biru Yuki.
"Berhenti keras kepala. Aku harus menghukummu." Hotaru berubah, bahkan suara dan sikapnya berubah drastis.
Yuki tidak pernah melihat Hotaru yang seperti ini. Tekanan aura Hotaru menerjang Yuki mengintimidasinya. Hotaru dalam mode pewaris klan. Kepala Yuki kembali terpancing, gumpalan hitam ingatan yang menghantuinya bermain-main di dalam sana.
Ia menarik nafas berat mengambil satu langkah mundur.
"Lakukan, aku tetap akan mencari hacker sialan itu." Ucap Yuki melepas kacamatanya membuangnya asal.
"Kebiasaan mengumpatmu harus di hilangkan." Suara berat Hotaru menggema.
Maaf Yuki, aku harus bertindak kasar agar kamu mau mendengarku, batin Hotaru.
Wush.
Srek.
Hotaru melepaskan tendangannya, Yuki menghindar dengan cepat. Kedua saudara kembar itu berakhir dalam pertarungan. Lusi menarik nafas berat. Kenapa jadi seperti ini?, cucu-cucunya dulu selalu melindungi satu sama lain.
Yuki melirik tangan kiri Hotaru yang hendak menangkapnya, ia berputar untuk menghindar ke samping namun ia terperangkap oleh kembarannya yang sudah bersiap menangkapnya dengan tangan yang lain. Yuki langsung melepaskan tendangan kencang.
Bugh!.
Pak!.
Yuki terdiam begitu juga Hotaru. Kehadiran orang ke tiga diantara mereka menghentikan pertarungan.
Kaki Yuki yang sudah menendang pinggang Fumio di tangkap oleh laki-laki itu, tangannya yang lain menangkap tangan Hotaru. Fumio menurunkan kaki Yuki, Hotaru menarik tangannya.
"Hotaru, tahan dirimu." Fumio melirik sahabat karibnya.
"Maaf, aku kehabisan cara untuk membuat Yuki berhenti." Sesal Hotaru. Fumio beralih menatap Yuki.
"Aku bisa membantumu, kenapa kita tidak berbagi informasi?." Fumio mencoba menarik Yuki, membujuk dengan caranya sendiri.
Yuki menyipitkan matanya kala manik mereka bertemu. Dengung keras di dalam kepalanya mulai terdengar menyakitkan.
"Menjauhlah." Ucap Yuki dingin. Ia melangkah menuju pintu.
"Nak ..." Yuki menghentikan kakinya mendengar suara lembut yang serak dari belakang.
"Nenek." Yuki membalikan tubuh mendapati wajah sedih Lusi. Yuki menarik nafas pendek berjalan menghampiri neneknya.
Yuki menekuk dua lututnya di samping kursi Lusi meraih kedua tangan keriput itu meremasnya pelan. Ia menengadah menatap mata berkaca-kaca itu.
"Kamu bertindak diam-diam di belakang nenek?." Lusi menatap sendu cucunya.
"Hm."
"Apa kamu tahu maksud peta di atas meja?." Suasana ruangan itu kembali berubah.
"Hm." Yuki tidak tega jika neneknya sudah memasang wajah sedih seperti ini.
"Hacker itu suruhan nenek." Benar tebakan Yuki.
"Nenek yang membawanya kemari untuk mencari keberadaan klan naga putih dan putri nenek." Lusi menghindari menyebut nama putrinya di depan cucunya yang satu ini.
"Apa dia meretas data penting milikmu?."
"Hm."
"Apa kamu mencari tahu tentang klan naga putih?." Yuki mengusap punggung tangan Lusi.
"Nenek, aku bukan anak kecil lagi. Kalian selalu melihatku sebagai Yuki kecil yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri, menganggap apa yang kalian lakukan demi diriku." Hotaru dan yang lain terkejut.
"Yuki, nenek dan semuanya tidak menginginkan hal buruk lagi terjadi padamu." Lusi menatap lembut dan dalam manik biru cucunya.
"Aku sangat berterima kasih, tapi nek. Aku sudah terlalu banyak menyakiti kerabat pelindung yang gugur karenaku." Ucap Yuki.
"Mereka melakukannya tanpa paksaan ... Mereka semua juga tidak ingin terjadi sesuatu yang mengancam nyawa keluarga utama. Tolong mengertilah Yuki." Gadis itu tersenyum kecut.
"Bukankah itu tidak adil." Lusi menatap wajah Yuki yang sekilas terlihat sendu.
"Mereka berhak melindungi nyawa mereka sendiri, kerabat yang mereka tinggalkan pasti juga merasakan pahitnya kehilangan. Demi satu nyawa, klan mengorbankan banyak nyawa. Ini tidak benar nek."
"Yuki, apa-apaan kamu." Hotaru tentu saja tidak setuju dengan pikiran saudari kembarannya.
Puk!.
Lusi meletakan tangannya di pucuk kepala Yuki, memberikan senyum penuh kasih.
"Kamu masih mengingat tragedi itu?." Yuki membalas tatapan Lusi sama dalamnya.
"Aku tidak akan pernah melupakannya." Hotaru di belakang sana menyisir rambutnya frustasi.
"Aku tidak memintamu melupakan Dimas tapi bisakah kamu tidak mengkaitkannya dengan kondisi kita sekarang?." Tanya Hotaru.
Yuki tidak menjawab ia beranjak berdiri melepaskan tangan Lusi. Hotaru melihat saudari kembarnya mendekat, mengangkat kedua tangan melingkar di lehernya.
Cup.
Yuki mencium pipi Hotaru, tersenyum sebentar. Lalu berjalan menuju pintu.
"Kamu mau mencari hacker nenek?." Yuki membalikan tubuhnya menatap Lusi.
"Ung." Membungkuk dan melangkah melewati pintu.
"Nenek akan memberitahumu dimana dia tapi dengan syarat." Ucap Lusi menghentikan langkah Yuki.
"Ayo kita bekerja sama." Imbuh Lusi.
"Nenek!." Protes Hotaru. Lusi menaikan satu tangannya menyuruh cucunya diam.
"Itu syarat pertama, syarat kedua. Pemilihan calon tunangan baru akan di percepat dan kamu harus melakukan sesuai prosedur yang ada." Hotaru bergeming, ia pikir telinganya sudah tuli sekarang. Perjuangannya yang selalu menolak pemilihan itu selama ini berujung sia-sia jika neneknya sudah memutuskan seperti itu.
Balasan Yuki membuat ruang rapat berubah tegang.
"Apa keuntungan yang aku peroleh?, bertemu dengan hacker itu? dan persyaratan yang nenek ajukan tidaklah sebanding."
Lusi memang pernah mendengar kalau Yuki akan melakukan negosiasi jika menghadapi persoalan yang sangat serius bagi gadis itu. Hotaru memilih diam dan kembali duduk di kursinya, begitu juga Fumio yang merasakan retakan panjang di dalam rongga dadanya.
"Apa yang kamu inginkan sebagai penawaran?." Tanya Lusi.
"Apa nenek yakin?." Lusi mengangguk kecil.
"Izinkan aku pergi ke luar negeri selama satu minggu." Semua orang terkejut.
Hening.
Hotaru menyisir rambutnya gusar.
"Fumio kun akan menemanimu." Balas Lusi.
"Sendiri, hanya aku sendiri." Yuki menekankan kalimat pertamanya.
"Jika nenek tidak setuju tidak apa-apa, aku akan menemukan hacker itu sendiri." Ujar Yuki hendak membungkuk lagi namun Lusi menghentikannya.
"Dia berada di tempat teraman di kediaman utama. Apa kamu bisa menerobos para pelindung dan membobol pintu keamanan?." Yuki mengulas senyum tenang.
"Jika itu yang nenek inginkan, silahkan menonton pertunjukanku." Balas Yuki.
Lusi menarik nafas berat menyandarkan punggungnya pada kursi. Ia tidak pernah berpikir akan menghadapi Yuki yang begitu keras kepala dan berubah membangkang seperti ini.
Melihat wajah neneknya yang begitu kelelahan dan banyak menyembunyikan beban berat lagi-lagi membuat Yuki tidak tega. Ia sudah bertindak jahat kepada neneknya yang diam-diam setiap malam memimpin rapat semata-mata hanya untuk dirinya, padahal di sini masih ada Hotaru yang perlu di perhatikan sebagai pewaris klan selanjutnya. Belum lagi mengurus semua perusahaan di jepang dan membantu memperbaiki klan yang sudah sangat lama ditinggalkan keluarga utama serta pemimpinnya.
Yuki melangkahkan kakinya dalam keheningan mendekati sang nenek.
Cup.
Lusi tersenyum hangat melihat cucunya yang sedang mengecup lembut kening keriput miliknya.
Lusi mengangkat tangan mengusap wajah Yuki.
"Nenek tahu, kamu tetap Yuki kecil kami yang manis." Yuki menjauhkan wajahnya menatap dalam manik Lusi.
"Aku merubah tawaranku. Bagaimana kalau aku yang memimpin kasus ini?." Lusi tertawa lirih mendengar tawaran cucunya.
"Apa tidak ada tawaran yang lebih mudah?." Yuki menyilangkan lengannya di depan dada.
"Tentu saja ada." Jawab gadis itu.
"Apa itu?."
"Mengizinkanku pergi ke luar negeri selama satu minggu." Yuki menyunggingkan senyum jailnya.
"Hahaha, itu lebih berbahaya dari tawaran ke dua." Lusi menghentikan tawanya setelah puas tertawa.
"Jadi ..?." Tanya Yuki.
"Baiklah, kamu boleh memimpin kasus ini." Lusi sudah memutuskan.
"Sepakat." Ucap Yuki tersenyum manis kepada neneknya.
"Apa kamu keberatan dengan pemimpin baru ini, waka?." Yuki sengaja memanggil Hotaru seperti para pelindung memanggilnya.
Bibir Hotaru sedikit berkedut menahan kekesalannya. Yuki semakin ingin menjaili saudara kembarnya itu.
"Tidak masalah, kamu boleh keluar dari kasus ini. Siapa lagi yang keberatan silahkan keluar dari ruangan ini." Tegas Yuki, kharisma business womannya terpancar jelas.
Hotaru mengusap wajahnya kasar. Fumio terlihat menahan senyum melihat sahabat karibnya di buat frustasi dan tidak berkutik sedikit pun.
Tidak ada yang keluar dari ruangan rapat setelah tiga menit Yuki menunggu.
"Baik, perintah pertama dari saya." Yuki langsung pada intinya, gadis itu masih tidak suka berbelit-belit.
Tangan Yuki menyentuh peta di atas meja dengan satu tangan, lalu melipatnya menjadi empat bagian, menutup gambar di dalamnya.
"Tidak ada penyerangan." Ucap Yuki. Semua orang tertegun tanpa terkecuali.
"Di larang protes tanpa seizinku." Kata Yuki segera setelah banyak wajah yang sudah menunjukkan ke engganan.
"Apa kalian sudah mengirimkan pelindung meninggalkan kediaman utama?." Wajah dan sorot mata Yuki sudah berubah sejak ia memegang peta. Mereka secara otomatis mengikuti cara kepemimpinan gadis itu.
"Ya, kami sudah mengirimkan pelindung menyebar ke beberapa tempat." Jawab Fumihiro. Yuki baru menyadari pria itu ada di sana, tentu saja!, dia adalah pemimpin para pelindung, dia pasti ada di sana. Yuki juga melihat Yamazaki dan si kecil Will.
"Perintahkan mereka semua kembali ke kediaman utama. Jangan menyela saya, waka." Hotaru yang sudah membuka mulut kembali menutupnya.
Yang di katakan ayah benar, Yuki lebih mengerikan dan lebih kejam dari yang aku bayangkan, batin Hotaru mengingat percakapannya dulu dengan Daren.
"Rapat kita selesai. Pastikan semua pelindung kembali dengan selamat." Yuki menyudahi rapat, berbalik menghadap Lusi untuk menagih perjanjian.
"Sekarang ayo antarkan aku kepada hacker yang sudah lancang meretasku nek." Tagih Yuki.
"Sudah terlalu malam, bagaimana kalau besok saja." Lusi merapikan poni Yuki.
"Sekarang nek." Jawab Yuki kekeh.
"Kalau begitu berikan penjelasan dulu kepada mereka setelah itu nenek antarkan kamu menemuinya." Yuki membuang wajahnya kesal.
Apa Lusi berniat mempermainkannya?, pikir Yuki.
"Itu tidak ada di dalam negosiasi kita." Tolak Yuki.
"Kamu tidak kasihan?, wajah Hotaru sudah sangat kusut, stress dengan keputusanmu." Ucap Lusi.
Yuki melirik kembarannya yang terlihat begitu kusut dan lelah menghadapi dirinya.
"Rencana itu sudah kami susun matang-matang hanya tinggal melakukannya." Jelas Yuki.
Bujukan Lusi kembali berhasil, cucunya membalikan tubuh menghadap para pelindung.
"Penyerangan kalian tidak akan membuahkan hasil apa pun, melainkan hanya menimbulkan korban dari para pelindung. Dan aku tidak akan membiarkan satu nyawa pelindung pun gugur tanpa seizinku." Tegas Yuki menyentuh hati para pelindung di sana. Bahkan Lusi sangat terkejut dengan cara kepemimpinan Yuki.
"Tempat yang kalian lingkari hanya sarang kecil milik klan naga putih. Tempat penyimpanan organ-organ manusia yang akan mereka jual. Sudah cukup penjelasanku, dilarang bertanya." Kata gadis itu melihat wajah-wajah yang penasaran, terkejut, dan lain-lain dari para pelindung.
"Kalau begitu nenek boleh bertanya?. Kan nenek bukan bagian dari kasus lagi." Tanya Lusi dengan nada jail yang mirip dengan Yuki.
Kini Yuki tahu dari mana asal sifat jailnya. Gadis itu tersenyum tak kalah jail dari Lusi.
"Silahkan nyonya." Lusi mengulum senyum dengan tingkah cucunya yang meletakan satu tangan di dada seraya membungkuk kecil.
"Seberapa jauh kamu mengetahui tentang klan naga putih?." Yuki berpura-pura berpikir.
"Mmmm ..?, sejauh aku bisa membunuh mereka." Jawab Yuki. Lusi tertegun.
"Yuki." Panggil Hotaru.
"Hm?." Yuki menoleh kepada saudara kembarannya. Dan.
Tak!.
"Akh." Lirih Yuki memegang dahinya yang di sentil oleh Hotaru tepat saat ia menghadap ke arah pemuda itu.
"Sejak kapan kamu menjadi seorang pembunuh." Celetuk Hotaru.
Yuki melirik wajah kembarannya dengan tangan yang masih memegangi dahi.
"Sejak aku membunuh Rin sialan itu." Jawab Yuki tanpa beban.
Tuk.
"Agh, Hotaru!." Protes Yuki melirik bibirnya yang ikut di sentil Hotaru.
"Kurang-kurangi umpatanmu, kamu ini putri dari Ay."
"Siapa?!." Hotaru menghentikan niatnya, tidak melanjutkan apa yang akan ia katakan.
"Aaa, kalau begini sepertinya aku harus menyerahkan tempat pewaris klan kepadamu." Hotaru mengalihkan pembicaraan setelah menyadari kesalahannya.
"Benarkah?, kalau begitu ajari aku cara membaca garis rahasia yang pernah kamu buat." Yuki terdengar sedikit antusias.
"Duh bodohnya aku, sepertinya tadi melantur." Ucap Hotaru menghindari bertatapan dengan manik biru Yuki.
"Hotaru ..." Protes Yuki melayangkan pukulannya di lengan pemuda itu berulang kali.
"Yuki, jangan menyakiti dirimu. Hentikan." Hotaru berusaha menangkap tangan saudari kembarnya. Dengan raut kesal Yuki mengangkat kakinya lalu menginjak cukup keras kaki Hotaru.
Buk.
"Agh." Lirih Hotaru menatap khawatir Yuki yang sudah kabur berlindung di belakang Lusi.
"Apa kamu tidak apa-apa?." Tanya Hotaru. Yuki memutar bola matanya malas, mengabaikan saudara kembarnya.
"Nek ayo, aku sudah tidak sabar bertemu dengan hacker itu." Ucap Yuki menuntun sang nenek untuk berdiri.
"Hahaha, sudah lama tidak melihat tingkah nakal kalian." Ujar Lusi berdiri menatap para pelindung yang sepertinya setuju dengannya.
"Hotaru, Fumio kun, Fumihiro, Takeru, ikut denganku." Yuki menaikan satu alisnya.
Kenapa mereka harus ikut?, batin Yuki.
"Nenek akan memperkenalkannya kepada mereka juga." Lusi menjawab pertanyaan tak terucap Yuki.
"Hai .., hai. Ayo berangkat." Yuki mendorong lembut pundak Lusi untuk berjalan.
Yuki sudah pernah mengunjungi semua bangunan di kediaman utama tapi ia tidak menyadari kalau pandora lantai teratas adalah tempat pelindung bagian IT bekerja. Yuki mengerjapkan matanya. Pelindung-pelindung yang tadinya sedang sibuk di komputer masing-masing segera menghentikan kegiatannya membungkuk sopan kepada mereka.
Dua puluh komputer saling berhadapan, dua komputer layar super besar memenuhi seluruh sisi dinding.
"Wow." Lirih Yuki.
Lusi tersenyum mendapati ekspresi cucunya. Inilah yang membuat Je tidak bisa terbang tinggi, batin Yuki takjub juga kesal.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?." Tanya Hotaru curiga.
"Membuat semuanya jadi milikku." Jawab Yuki jujur.
"Tidak akan aku biarkan." Balas Hotaru. Yuki mengedikkan pundaknya acuh.
"Aku akan membuatnya sendiri." Ucap Yuki.
"Jangan macam-macam Yuki ..." Kata Hotaru lembut yang mendapatkan seringaian manis dari gadis itu.
"Sudah, Yuki kemari." Lusi menuntun cucunya masuk ke lorong penuh pintu saling berhadapan.
Lusi berhenti di salah satu pintu. Menekan sandi yang mudah Yuki hafal, lalu menekan tiga jarinya bergantian di tempat yang sudah tersedia. Bunyi klik! nyaring menandakan kunci terbuka. Lusi mendorong pintu pelan membiarkan semua orang mengikutinya masuk.
Sebuah kamar luas dengan fasilitas lengkap yang Yuki dapatkan. Seperti sebuah apartemen, bahkan lebih karena di sana ada alat gym, beberapa game canggih yang Yuki tidak pahami, dan kantin mini. Suara berat dengan logat aneh menyapa telinga Yuki.
"Ooh, nenek Lusi!. Akhirnya nenek mampir ke sini. Aku baru mendapatkan informasi yang sangat menarik." Ujarnya riang.
Manik Yuki berubah tajam menoleh cepat ke asal suara.
Pria!, rambut ikal!, kulit sawo matang!, duduk di kursi hitam yang bergerak menghadap ke arah mereka. Yuki semakin kesal melihat pria itu hanya menggunakan satu komputer berukuran kecil.
"Agung, nenek akan mengenalkanmu dengan," Lusi belum sempat menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba Yuki berjalan melewatinya sangat cepat. Lalu,
BUGH!.
GEDEBUG.
Agung tersungkur di lantai setelah mendapatkan bogeman mentah sangat keras dari Yuki. Pria itu memegang pipinya mendongak kepada si pelaku yang membuatnya mimisan itu.
Agung terkejut melihat malaikat maut yang begitu cantik berdiri di depannya.
"Cakep cakep kok kasar." Komentar Agung mengejutkan Yuki dan Hotaru karena pria itu berbicara menggunakan bahasa indonesia.
"Bagaimana kamu bisa meretasku?." Tanya Yuki juga menggunakan bahasa negara neneknya. Kini Agung yang terkejut, pasalnya perempuan itu tidak terlihat ada modelan-modelan indonesianya.
"WOW!. Jadi tadi itu kamu?!. Wah wah wah, dunia memang sangat sempit." Yuki tidak suka respon pria yang masih duduk di lantai dengan darah yang terus keluar dari hidungnya.
Sret!.
Yuki mencengkeram kasar kerah baju Agung menariknya untuk berdiri. Yuki tidak sadar Agung menggelantung, kakinya tidak menapak pada lantai karena jarak tinggi badan mereka yang berbeda.
"Jawab aku, bagaimana kamu melakukannya?." Desis Yuki yang sudah marah sejak tadi.
"Keamanan jaringanmu super, super, sulit, lebih sulit dari milik FBI. Aku bahkan berkeringat dingin saat melakukannya." Jawab Agung.
Yang lain tidak mengerti apa yang sedang kedua orang itu bicarakan kecuali Hotaru dan Lusi.
"Yuki, lepaskan Agung. Hidungnya mimisan. Kamu bisa bicara dengannya pelan-pelan." Pinta Lusi.
Yuki melepaskan tangannya begitu saja.
Bruk.
Agung kembali tersungkur ke lantai. Yuki membuang wajahnya acuh, berjalan menuju sofa panjang di kamar besar itu. Menghempaskan tubuhnya di sana.
"Hotaru bantu Agung." Hotaru langsung memapah pria itu duduk di sofa yang agak jauh dari Yuki, ia takut kembarannya main pukul lagi.
Sejak kapan Yuki jadi suka memukul orang?, batin Hotaru.
"Fumio kun, tolong ambilkan kotak obat." Pinta Lusi.
"Hai, Lusi sama." Fumio segera mencari kotak obat di ruangan itu.
"Kalian, duduklah." Fumihiro dan Yamazaki beranjak duduk.
"Ini kotak obatnya Lusi sama." Fumio meletakan kotak obat di atas meja lalu ikut duduk dengan yang lain.
"Yuki, obati Agung." Pinta Lusi berbicara menggunakan bahasa jepang.
"Iyada (Tidak mau)." Tolak Yuki.
"Kamu yang memukulnya." Yuki tidak bergerak dari tempatnya duduk.
"Yuki." Panggil lembut Lusi.
"Tidak mau." Ulang Yuki.
Gara-gara dia aku membuat Je tertidur, mana mau aku mengobatinya, gerutu Yuki dalam hati.
Hotaru tanpa mengatakan apa pun mengambil kotak obat mulai mengobati Agung. Adiknya sedang kesal, kekeras kepalaannya pasti sangat tinggi, percuma membujuknya, pikir Hotaru.
"Agung, mereka adalah teman baik cucu-cucuku. Kapan-kapan mungkin mereka akan menemanimu saat keluar kamar." Jelas Lusi menyembunyikan semua fakta tentang keluarganya kecuali hal yang perlu pria itu ketahui.
"Agung desu, yoroshiku onegaishimasu." Agung memperkenalkan diri dengan logat anehnya menurut Yuki.
"Takehara, senang bertemu denganmu." Balas Fumihiro.
"Yamazaki, salam kenal."
"Fumio, senang bertemu denganmu."
Mereka memperkenalkan diri masing-masing.
"Yang sudah mengobatimu cucu pertama nenek, Hotaru." Hotaru mengulurkan tangannya seperti kebiasaan orang indonesia saat berkenalan.
"Hotaru, semoga kamu betah di sini." Agung dikejutkan lagi oleh pelafalan fasih dalam bahasa indonesia oleh Hotaru.
"Agung, betah kok. Betah banget malah." Jawab Agung mantap.
"Yang di sebelah sini cucu kedua nenek, namanya Yuki." Lusi menyentuh punggung tangan gadis itu.
"Cakep-cakep kok bar-bar nek?." Yuki tidak terpancing emosi oleh celetukan Agung.
"Hahaha, Yuki tidak seperti itu kok. Cucu nenek kembar, jadi jangan terkejut dengan tingkah mendadak mereka." Jelas Lusi.
"Iya nek." Jawab Agung membenarkan kapas yang menyumbat hidungnya.
Lusi melirik ke tiga pelindung yang memasang wajah datar. Lusi mengerti apa yang ada di dalam pikiran mereka.
"Aku yang meminta Agung memanggil nenek saja." Tiba-tiba Lusi mengatakan itu membuat ketiganya paham.
Satu minggu yang lalu saat Agung di bawa masuk ke kediaman utama, Lusi menutup mata pria itu sejak keluar dari bandara, memasukkannya langsung ke dalam kamar ini dan menguncinya dari luar. Fakta itu sengaja di sebar luaskan untuk berjaga-jaga karena ada orang luar di kediaman utama dan mereka harus berhati-hati.
"Boleh nenek dengar informasi apa yang baru kamu dapatkan?." Tanya Lusi.
"Ya, aku menemukan wanita yang nenek cari. Mmm ..?, ah iya!, si Ayhppp." Hotaru langsung membekap mulut Agung dengan tangannya.
"Dimana wanita itu?." Tanya Lusi tenang, Hotaru perlahan melepaskan tangannya.
"Di palestina." Hotaru terkejut.
"Bagaimana kamu bisa meretas sampai ke sana?." Hotaru kagum dengan orang yang Lusi bawa itu.
Ternyata dapat di andalkan, batin Hotaru.
"Aku meretas data Yuki." Semua orang kini menatap gadis itu. Yuki mengabaikan dengan membuang wajahnya ke samping.
"Lalu apa lagi yang kamu retas?." Tanya Hotaru harap-harap cemas.
"Setelah pertempuran panjang yang begitu sengit aku hanya mendapatkan satu informasi itu, aku juga menemukan jaringan yang mirip dengan yang di gunakan Yuki namun jaraknya cukup jauh. Mungkin di luar jepang. Aku terus mencoba menelusurinya tapi tiba-tiba jaringanku di serang dan kontak kami terputus." Ucapnya panjang lebar tanpa titik koma.
"Yang aku sesali, jaringan Yuki memiliki banyak ribuan data, tidak!, triliunan data dan aku tidak berhasil menerobosnya. Keamanan Yuki sungguh membuatku hampir pingsan." Pemilihan kata yang menyebalkan di telinga Yuki.
"Kamu bisa meretasnya lagi?." Tanya Hotaru yang mendapatkan tatapan tajam dari Yuki.
"Tidak. Jaringan kami benar-benar terputus, jaringannya tidak terdeteksi, hilang tanpa jejak." Jawab Agung.
"Bagaimana kamu menemukan jaringanku?." Geram Yuki.
"Tidak sengaja. Aku sedang mencoba menyusup ke satelit di luar angkasa agar lebih mudah mencari orang dan kelompok yang nenek cari tapi aku malah menemukan satu jaringan yang sudah meny, hwaaa!." Agung menatap dengan serius jarum di sela-sela jari Hotaru tepat di depan wajahnya.
Agung terkejut dengan refleks cepat laki-laki di sampingnya.
"Kamu mau menjelaskan atau Agung yang melanjutkan ceritanya?." Hotaru menatap lurus gadis yang tengah duduk tenang jauh di sana.
"Kenapa kamu bertanya kalau sudah tahu?." Jawab Yuki.
Fumio menghela nafas. Saudara kembar itu pasti akan memulai perang saraf lagi.
"Boleh aku bicara?." Lusi menatap ke arah Fumio.
"Bicara lah." Jawab Lusi.
"Sekarang sudah jam satu dini hari, apa tidak sebaiknya pembicaraan ini di lanjutkan besok?." Yuki melirik jam dinding di dalam kamar itu.
"Kamu benar, kita lanjutkan kapan-kapan." Lusi setuju tapi tidak dengan Hotaru.
"Eiji, kamu melakukannya untuk membela Yuki bukan." Gadis itu merapikan dressnya.
"Ya, selain itu aku ada rapat pagi besok." Jawab jujur Fumio.
Yuki tiba-tiba berjalan menuju meja komputer Agung, duduk manis di sana dengan jari-jari yang siap bergerak. Tanpa basa-basi lagi Yuki menjelajahi isi komputer Agung.
"B ba bagaimana kamu bisa membuka kuncinya?!." Teriak Agung meloncat berdiri sampai kapas yang menyumbat hidungnya terjatuh.