Futago

Futago
Musim Panas Terakhir.



Suara desingan panah terdengar dari tempat Yuki berdiri, gedung setengah terbuka itulah yang dituju olehnya, seorang pemuda terlihat sangat fokus menatap bidikannya.


Woooosshhhh.


Sswwiiiiinnngggg ...


Zeb!.


Ratusan kali bahkan lebih sekali pun, Yuki tidak akan pernah bosan mendengar suara anak panah milik pemuda itu. Yuki berjalan memasuki gedung, melepas sepatu boots miliknya menyisakan kaos kaki berwarna putih.


Rey menghentikan kegiatannya melirik Yuki dari atas sampai bawah lalu kembali fokus dengan bidikannya. Yuki menikmati kesunyian tempat itu, dan selingan suara anak panah Rey. Tangannya mengambil panah beserta busur menempatkan dirinya di belakang Rey.


Busur panjang melebihi tingginya, anak panah yang terjepit pada ketiga jari, tarikan nafas panjang dan tahan, Yuki merilekskan seluruh tubuhnya sebelum melepas panah.


Zeb. Suara panah Rey.


Wwoooossshhh.


Swiiiiiiiiiinngg ...!.


ZEB!.


Yuki menarik panah lain dari samping tubuhnya, ia masih tidak menyukai suara yang dihasilkan panahnya saat meluncur. Yuki kembali menarik panah, ekor matanya menangkap Rey yang menatapnya dengan wajah pucat.


"Apa suara panahku semakin terdengar sedih, Rey?." Anak itu membuang wajahnya kembali fokus dengan bidikan.


Yuki tidak menghiraukan adik kelasnya itu, ia sedang berusaha mengisi kepalanya dengan banyak udara, memfokuskan isi kepalanya dengan suara panahnya. Berbagai pegangan sudah Yuki coba agar bisa membuat suara panahnya berubah lebih baik namun, nihil. Sama seperti belajar memasak, sangat sulit.


Tempat itu di isi oleh dua suara anak panah saling susul menyusul, Yuki bahkan sudah mengabaikan suara anak panahnya dan lebih fokus mendengarkan suara panah Rey, namun tangannya masih terus bergerak melepas panah-panah yang tepat sasaran.


Grep!.


Yuki menoleh pelan menatap Rey mencengkeram panahnya yang menempel pada busur. Keringat memenuhi dahi anak itu.


"Hentikan, jangan memanah. Aku tidak sanggup mendengarnya lagi." Yuki tersenyum sangat tipis yang tak terlihat oleh Rey. Tangannya menurunkan panah dan busur, memilih duduk santai di sana.


"Seperti apa suara panahku hari ini?." Tanya Yuki mendongak ke atas seakan menyuruh Rey untuk duduk seperti dirinya.


"Y ya, itu ..." Rey menatap panah-panah Yuki yang menancap memutari garis batas poin.


Bagaikan seseorang di penjara di sel bawah tanah, meraung kesakitan karena siksaan-siksaan kejam yang terus didapat. Mengerikan, mengerikan, ucap Rey dalam hati.


"Duduklah, kamu belum menjawabku." Rey kaget, ia perlahan duduk menyamping.


"Tersiksa, mungkin." Yuki memiringkan kepalanya, mendapati Rey mengepalkan tangan.


Mengerikan, imbuh pemuda itu.


"Hahahaha ..." Yuki tertawa dengan jawaban Rey, tidak! lebih tepatnya menertawakan dirinya.


"Apa kamu menertawakanku senpai?!." Tanya dingin Rey.


"Mungkin perasaanmu saja." Yuki mendengar Rey mendecih.


"Hei, kenapa tidak ikut bergabung ke festival?." Tanya Yuki.


"Dan memakai kostum aneh seperti senpai, lupakan. Aku tidak tertarik." Jawab ketus Rey.


"Aku paham, kyudo sangat penting untukmu." Maniak kyudo, lanjut Yuki dalam hati.


"Kamu tidak akan paham, pergilah." Usir Rey.


"Jangan asal menilai seseorang paham atau tidak paham seakan dinosaurus purba akan hidup kembali." Balas Yuki. Rey melirik Yuki mengejek gadis itu.


"Aku tidak ingin mendengar itu dari mulut senpai." Tawa Yuki pecah tatkala diberikan kalimat pedas dari lawan jenis untuk pertama kalinya. Biasanya para perempuan yang membencinya.


"Orang gila, kabur dari rumah sakit mana?." Celetuk Rey yang melihat seniornya masih tertawa lepas. Yuki menutup mulut untuk meredam suaranya.


Ya ampuun, ini lucu sekali. Hahaha, aku orang gila? hahaha, batin Yuki.


Selang beberapa waktu suara tawa Yuki berhenti, gadis itu mengatur nafasnya dan mendapatkan keanehan pada isi kepalanya.


Ingatan yang sedang berputar perlahan melambat.


"Aku bisa membaca pikiran, apa kamu percaya Rey?." Rey mendengus ke samping.


"Akan aku tunjukan, lihat ke sini." Ujar Yuki, yang mulai merasa nyaman dengan pemuda yang sudah pasti tidak terganggu dengan bermacam aura miliknya, Rey melihatnya seperti gadis biasa tanpa memuji atau terpesona dengan berbagai alasan.


"Gila." Ketus Rey.


"Pfffttt." Yuki menutup mulut dengan sebelah tangan dan tangan lain mengetuk pundak anak itu.


"Apa?!." Sergah kesal Rey.


Yuki langsung menatap manik itu, melakukan salah satu keahliannya.


"Heee?, kamu tidak ingin menjadi pemain kyudo terkenal rupanya." Ucap Yuki melepas kontak mata mereka dan di gantikan wajah mengejek beserta alis yang terangkat. Anak itu beberapa detik bergeming lalu membuang wajahnya dalam diam.


"Apa urusanmu!, urusi saja hidupmu sendiri, sen. Pai!." Rey terkejut Yuki mengatakan kalimat yang sedang ia pikirkan.


"Hahaha, kamu percaya sekarang, Rey?. Jangan terlalu percaya diri untuk menanggungnya sendiri, anak kecil." Ejek Yuki.


Ya walaupun aku juga seperti itu, tapi. Kami berbeda, batin Yuki.


"Apa yang kamu katakan senpai!. Ini sudah keterlaluan." Geram Rey menatap nyalang ke arah Yuki. Gadis itu menekuk kedua lututnya ke dalam, lengannya melingkar memeluk kakinya.


"Cengeng." Lirih Yuki menatap dalam manik Rey.


Rey membeku. Bagaimana bisa orang yang baru dua kali ia temui bisa menebak semua yang dirasakannya dengan benar. Selama ini tidak ada satu orang pun yang tahu, bahkan semut lewat sekali pun.


"Orang sempurna sepertimu tidak akan pernah mengerti apa yang aku rasakan." Geram Rey menahan amarahnya.


"Senpai yang selalu mendapatkan pujian dari semua orang, yang selalu mendapatkan perhatian semua orang, bisa melakukan semuanya sendiri. Mana mengerti!." Wajah Rey merah menahan emosinya.


"Tidak ada yang sempurna, itu pilihanmu. Kamu menjebak dirimu sendiri tanpa siap dengan konsekuensi yang akan kamu dapatkan." Lagi-lagi kalimat Yuki tepat sasaran. Rey memicingkan mata.


"Apa senpai pikir semua laki-laki akan jatuh kepada senpai?, dan berkata lembut kepadamu?." Rey menarik sudut bibirnya ke atas.


"Aku bukan termasuk laki-laki seperti mereka." Ucap dingin Rey. Yuki tertawa lirih.


"Aku tahu, karena itu aku menebak isi pikiranmu." Jawaban Yuki mengejutkan Rey.


"Hidup memang tidak bisa sesuai keinginan kita. Berjuanglah jika menurutmu itu benar, dan bertahanlah jika menurutmu kamu bisa melaluinya." Saran Yuki mendapati Rey yang sudah tidak marah lagi.


"Sebelum aku pergi ada satu rahasia yang akan aku berikan padamu." Rey menatap bingung Yuki.


"Aku tidak tertarik dengan jalan cerita hidup senpai." Sergah cepat Rey.


"Pfffttt. Hahahaha." Yuki dibuat banyak tertawa karena pemuda itu, kalimat yang keluar dari mulut Rey terdengar sangat logis.


Hentikan, atau aku akan menjahilimu terus, batin Yuki menghentikan tawanya.


"Rey." Panggil Yuki seraya berdiri. Pemuda itu mendongak menatap wajah Yuki.


"Jika kamu bisa menggunakan kedua tanganmu dengan baik kenapa harus memilih satu?, jika kamu bisa pergi ke sekolah dan bekerja part time sekaligus kenapa harus mengorbankan satunya." Yuki mengulurkan tangan ke arah Rey.


"Senang berbicara denganmu." Rey menatap sebentar tangan Yuki lalu menjabatnya.


"Hm."


Yuki meninggalkan gedung klub kyudo setelah di rasa pikiran dan ingatan itu berhenti berputar. Ia menghampiri Dazai dan Keiji di lantai empat. Mereka berjalan ke arah kelas Hajime.


"Ini masakan aniki (kakak), tidak jauh berbeda dengan yang di rumah." Komentar Keiji yang duduk di samping Yuki.


"Perutku penuh, tidak muat lagi." Lirih Yuki.


"Anak muda itu sangat cocok menggunakan celemeknya." Dazai memandangi dapur yang menghadap ke meja customer.


Pria itu sudah mendengar semuanya dari Mizutani beberapa menit yang lalu, mereka harus bersabar sampai besok untuk menanyakannya kepada Yuki.


"Aku heran kenapa aniki tidak risi dengan penggemar liarnya." Yuki melirik ke arah dapur.


"Itu kesempatan mereka mengambil foto senpai, toh bagi mereka senpai sangat keren berpakaian seperti itu." Celetuk Yuki.


"Benar, tidak ada wanita yang tidak menyukai pria yang menggulung lengan kemejanya, menggunakan celemek dan memasak dengan tampilan rapi." Dazai menambahi. Yuki dan Keiji melirik pria itu dan mengatakan kata yang sama.


"Panas."


"Panas."


Yuki menikmati festival sekolahnya bersama kedua laki-laki itu. Memasuki rumah hantu, berkunjung ke cafe maid, peramal zodiac yang membuat Yuki ingin tertawa, dan masih banyak lagi. Sudah berkali-kali Dazai rewel membujuk Yuki untuk istirahat namun gadis itu selalu tidak mengindahkannya. Kini mereka memasuki klub seni yang mengadakan pameran lukisan.


Banyak sekali pengunjung, Yuki dan Keiji bahkan terpisah. Di saat menikmati hasil mahakarya orang lain manik Yuki menangkap sebuah lukisan yang menarik perhatiannya. Tanpa Yuki sadari Dazai sedang mematung menatap salah satu lukisan dan tidak mengikuti dirinya.


Apakah aku seperti ini?, batin Yuki meneliti setiap inci, setiap garis, lukisan dirinya.


Ia melirik ke bawah lukisan, melihat banyak sekali kertas tertempel yang ditinggalkan para pengunjung, berisi tulisan komentar tentang lukisan itu. Yuki melirik lukisan lain pun sama, ada kertas yang menempel di bawahnya.


"Wajahmu selalu seperti itu." Ucap Keiji yang sudah berada di samping Yuki.


"Hm?."


"Seperti mahluk alien karena tidak nyata berada di bumi." Tangan Yuki sungguh sudah sangat gatal ingin mendarat di pipi gembul Keiji. Namun kesadarannya selalu menahan niat Yuki.


Ini sekolah, ini sekolah, gumam Yuki dalam hati.


"Dimana Dai chan?." Keiji menunjuk pojok ruangan.


"Sejak tadi dia tidak bergerak dari sana." Yuki yang penasaran pun menghampiri pria itu.


"Apa yang kamu lihat?." Tanya Yuki melirik lukisan dari punggung Dazai.


"Lukisanku?, kenapa?, ada yang aneh?." Dazai masih menatap lukisan itu.


"Saat melukisnya, anda tidak apa-apa ojou chan?."


"Ya, Tsuttsun juga ada di sana." Jawab Yuki.


Tanpa menjelaskan maksudnya, Dazai mengajak Yuki istirahat di atap. Keiji yang merasa kakinya pegal pun setuju.


Di atap Dazai menyuntikan lagi cairan pemulih tubuh. Yuki yang melihat raut wajah khawatir Keiji mengalihkan perhatian pemuda itu dengan jarinya yang bergerilya di pipi.


"Sudah hampir malam, bibi pasti sudah menunggumu pulang." Keiji beralih dari jarum di tangan Yuki menatap gadis itu.


"Shiro (Nama anjing Keiji) ingin bertemu denganmu."


"Jangan bercanda." Ucap Yuki mencubit gemas pipi Keiji.


Kakak beradik itu hari ini telah melihatnya di suntik.


Pukul tujuh malam tersisa dua acara lagi, perlombaan dansa raja dan ratu, dan pengumuman pemenang festival olahraga juga budaya. Keiji sejak tadi sudah pulang, Yuki juga sudah mengganti bajunya dengan seragam. Gadis itu sedang berkumpul dengan Natsume dan Ueno, memberikan dukungan kepada Honda. Setiap perwakilan raja ratu perkelas naik ke atas panggung, dress yang dipakai mereka sangat cantik tapi hanya satu dress yang menarik perhatian Yuki. Honda sangat cantik dengan dress yang pas di tubuhnya.


Satu persatu pasangan menuruni tangga depan panggung turun ke lantai tengah aula. Bak raja dan ratu, Honda menggamit kecil tangan Yoshihara yang membantunya turun. Setelah semua peserta berada di lantai dansa tiba-tiba lampu utama di matikan di ganti oleh lampu dengan sirna yang lebih lembut yang menyorot ke tengah lantai dansa, musik romantis mulai mengalun dan para peserta mulai berdansa.


Setelah perlombaan dansa selesai, musik romantis di gantikan dengan musik ala eropa, membebaskan para pengunjung untuk ikut turun ke lantai dansa. Sepasang pasutri muda yang tidak lain adalah penduduk sekitar turun lebih dulu memulai dansa mereka, disusul pasangan tua yang masih terlihat segar bugar, tak terasa lantai tengah aula sudah ramai dengan orang.


"Aku tahu kamu sudah punya pacar, tapi bolehkah aku mengajakmu hanya untuk sekedar berdansa." Ajak laki-laki yang Yuki tak kenali, seraya mengulurkan tangan kepada Natsume dengan wajah malu-malu.


"Ung." Jawab Natsume menyambut tangan itu.


"Yu chan, Ueno san, aku duluan." Ujar Natsume sebelum pergi.


"Apa menurutmu Hazuki akan selingkuh?." Ueno tertawa mendengar pertanyaan Yuki.


"Tidak, Natsume chan tidak akan melakukannya."


"Ekhem!." Mereka dikejutkan oleh kehadiran orang lain.


"Hirogane kun?." Lirih Ueno. Yuki memperhatikan kedua teman kelasnya itu.


"Aku sebenarnya tidak bisa menari tapi, apa kamu tidak keberatan jika mengajariku?." Ucap Hirogane membuang wajahnya ke samping seraya menggaruk belakang kepalanya.


Yuki melirik Ueno.


"Aku juga tidak bisa menari." Raut wajah Hirogane berubah. Yuki menaikan satu alisnya.


"Mari belajar bersama." Lanjut Ueno yang kembali membuat raut wajah Hirogane berubah.


"Hachibara san, maaf. Aku pergi sebentar." Pamit Ueno, Yuki menggeleng pelan.


"Jangan pikirkan aku, nikmati waktu kalian." Ucap Yuki melepas mereka pergi.


Apa yang sudah aku lewatkan?, batin Yuki melihat kedekatan Hirogane dan Ueno yang tidak pernah terlihat.


"Ekhem!. Jangan hanya menonton." Yuki tersenyum mengetahui siapa yang berdiri di sampingnya. Orang itu berpindah di depan Yuki, mengulurkan satu tangan seraya membungkuk bak bangsawan.


"Saya merasa sangat terhormat jika anda berkenan berdansa dengan laki-laki ini, tuan putri." Ucapnya dengan senyum di bibir.


Yuki membalas dengan menekuk kaki kanan ke belakang mengangkat sedikit rok seragamnya dan meletakkan tangan yang lain di depan dada.


"Penghinaan bagi saya jika menolak ajakan anda tuan." Ucap Yuki meletakkan tangannya di atas tangan Dazai.


Keduanya berjalan ke pinggir lantai dansa, perlahan mengikuti alunan musik sedikit cepat dari sebelumnya. Yuki berputar-putar dengan satu kaki diangkat menyentuh lutut kala Dazai melakukan gerakkannya. Salah satu ingatan yang sudah Yuki ingat adalah pesta di keluarga besarnya, saat itu dua anak kecil yang Yuki yakini adalah ia dan saudara kembarnya melakukan dansa bersama. Menimbulkan gelak tawa dan decak kagum tamu undangan.


Bermodalkan itu Yuki berdansa tanpa beban, Dazai selalu membuatnya tersenyum dengan melirik Mizutani yang berdiri jauh di sana, mengejek pemimpin bayangan itu yang tidak bisa berkutik untuk bersama Yuki.


Yuki tersadar, dari berbagai ingatan masa lalu miliknya masih ada ingatan yang membuatnya tersenyum seperti sekarang.


"Dai chan, setelah ini pasti akan banyak rumor kalau aku benar-benar memiliki pacar om-om paruh baya." Bisik Yuki saat Dazai membungkuk memutar pinggang ramping Yuki.


"Hahahaha, lihat tatapan haus darah mereka. Saya ragu bisa keluar hidup-hidup dari sini." Yuki tertawa lirih mendengar jawaban Dazai.


Mereka berhenti berdansa, Yuki berjalan cepat menghampiri Mizutani di dekat pintu aula. Mizutani yang melihat itu pun dibuat bingung. Sepertinya karena Yuki yang terlalu banyak melakukan aktifitas hari ini membuat efek cairan pemulih tubuh tidak bekerja dengan baik. Yuki tersungkur ke depan saat jaraknya dengan Mizutani sudah dekat.


"Yuki."


Mizutani menangkap kedua lengan Yuki sedangkan Dazai berdiri di belakangnya, menghalangi pandangan orang lain.


"Maaf."


"Bisa berjalan?." Yuki menggeleng pelan.


"Malam ini aku akan menghisap banyak darah." Ujar Yuki berusaha berdiri di bantu oleh Mizutani.


"Cairan itu sudah habis." Kata Dazai.


"Hm, aku hanya membawa dua botol."


"Kita menyingkir dulu dari sini Tsubaki." Lirih Dazai menutupi tubuh Yuki dengan badannya yang besar.


"Ya." Jawabnya langsung mengangkat tubuh Yuki pergi meninggalkan aula.


Di ruang uks yang sepi Yuki terbaring bersimbah keringat dan nafas yang tak beraturan.


"Kamu terlalu memaksakan dirimu." Sergah Mizutani.


"Lebih baik kita pulang." Srobot Dazai.


"Aku ingin melihat api unggun." Pinta Yuki.


"Anda sudah sangat pucat sekali ojou chan." Tolak Dazai lembut.


"Sebentar saja, minggu depan sudah masuk libur musim panas bukan." Kekeh Yuki.


"Makan dulu nanti aku antarkan ke lapangan." Mizutani menuruti Yuki.


Di aula terakhir kali Hajime melihat Yuki bersama Dazai sedang berdansa, ia yakin tidak melepas pandangannya dari gadis itu tapi sudah tiga puluh menit Hajime kehilangan jejak Yuki. Hajime masih mencari-cari sosok Yuki menyusuri setiap kerumunan anak-anak yang berkumpul mengelilingi api unggun. Musik tarian musim panas berpasangan mulai terdengar namun ia masih belum menemukan gadis itu.


Sret!.


Hajime melirik ke bawah, melihat sebuah tangan kecil menggamit tangannya. Hajime menoleh melihat pemilik tangan itu.


"Maaf!. Ano .., senpai." Wajah itu sudah bersemu merah, dan berusaha mendongak untuk menatap matanya.


"Maukah senpai menari denganku?." Hajime mengenali gadis itu sebagai salah satu teman Yuki.


"Ueno san." Ueno gugup mendengar namanya dipanggil oleh orang yang ia sukai.


"Ya?."


"Maaf, aku tidak bisa. Apa kamu melihat Yuki?, aku sedang mencarinya." Tolak Hajime. Jangan di tanya bagaimana perasaan seorang wanita yang sudah membuang rasa malunya untuk mengajak orang yang disukai namun berakhir di tolak. Ueno mengepalkan tangannya diam-diam.


"Aku juga tidak melihatnya. Terakhir kami bersama saat di aula." Jawab Ueno ada nada getir yang ia tahan.


"Terima kasih, aku akan mencarinya lagi." Ucap Hajime membalikan badan, pergi. Sebuah tangan menarik ujung kaos olah raganya menghentikan langkah Hajime.


"Ueno san?." Hajime hendak membalikan tubuhnya namun di cegah oleh Ueno.


"Jangan melihat ke sini, senpai." Srobot cepat Ueno. Hajime menurut, ia tetap berada di posisinya.


"Aku .., sejak sekolah smp kita bertemu dalam pertandingan musim panas, saat itu aku bertekad untuk masuk ke sma yang sama dengan senpai menjadi bagian dari klub musik agar bisa mendukung senpai di lapangan ... Senpai aku," Ueno menggigit bibir bawahnya, sudah separuh jalan hanya tersisa kalimat terakhir namun tenggorokan Ueno terasa sangat sulit untuk mengatakannya.


"Senpai ..." Ayo selesaikan ini Ueno, batin Ueno.


"Yuuki senpai aku menyukaimu!." Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutnya.


Ueno menunduk tak berani melihat punggung di hadapannya. Hajime membalikan badan secara perlahan melirik gadis yang tingginya tidak sampai dadanya.


"Terima kasih untuk perasaan tulusmu, maaf aku tidak bisa membalasnya." Ueno melepas pegangannya pada kaos Hajime, membiarkan tangannya jatuh begitu saja.


"Ung, senpai mau mencari Hachibara san kan. Maaf sudah merebut waktu senpai." Ujar Ueno.


"Maaf." Hajime pergi meninggalkan seorang gadis yang menangis di belakang tubuhnya.


Masih mengedarkan pandangan ke seluruh sudut-sudut tempat yang mungkin Yuki berada. Ia akhirnya pasrah mencari di dalam lapangan, Hajime mendongak ke undakan di luar lapangan dan di sanalah ia melihat siluet dua orang yang ia yakini Yuki dan Dazai. Hajime menerobos beberapa anak untuk menghampiri Yuki namun lagi-lagi ada yang mencegahnya.


Sakai kapten cheerleaders menarik manja lengannya, membawa dirinya keluar lapangan menjauh dari anak-anak, namun di tempat mereka berada sekarang sangatlah jelas terlihat oleh dua orang yang berada di atas mereka.


"Hajime kun otsukaresama (terima kasih atas kerja kerasmu hari ini)." Ucap Sakai, perempuan cantik, manis, imut, idaman banyak laki-laki.


"Ung, apa ada yang ingin kamu bicarakan?." Tanya Hajime yang tidak ingin berlama-lama di sana.


"Ya, aku ingin melihat kembang api bersamamu. Apa tidak masalah?." Hajime menatap kalem gadis yang sudah dua tahun ini mendekatinya.


"Maaf, aku sudah ada janji dengan seseorang." Tolak Hajime. Sakai menahan tangan pemuda itu.


"Wah wah wah, ojou chan lihat anak muda itu. Dia sangat populer ya." Ucap Dazai menikmati adegan romantis anak muda.


"Hm, seharusnya aku menemui Ueno san sekarang, dia menangis tadi." Ujar Yuki yang juga melihat Hajime dan Ueno dari jauh, terlihat dengan jelas Ueno yang terus menghapus air matanya menatap kepergian Hajime. Dan Yuki menyimpulkan bahwa gadis itu sudah menyatakan perasaannya.


"Kamu mau menemuinya kan. Tidak bisakah lain kali saja?." Pinta Sakai melirik ke atas tepat ke arah Yuki yang membalas tatapannya dengan datar.


"Aku sudah ada janji dengannya lebih dulu, maaf Sakai san." Ujar Hajime hendak meninggalkan Sakai namun lagi-lagi tangannya di tarik ke belakang membuat tubuhnya terhuyung dan sebuah tangan menarik kaos bagian depannya. Saat itu Hajime tidak bisa berpikir jernih. Benda asing tiba-tiba menempel di bibirnya.


"Wow!. Gadis itu sangat berani. Itulah yang dinamakan jiwa muda." Komentar Dazai melirik Yuki yang terlihat biasa saja.


"Sepertinya anda tidak tertarik, ojou chan?."


"Hm?, kenapa aku harus tertarik?." Jawab Yuki enteng.


"Hahaha, anak muda itu sepertinya menaruh perasaan kepada anda." Dazai melirik ke bawah melihat Hajime yang mendorong pelan pundak perempuan yang menciumnya.


"Tidak ada yang boleh menyukaiku Dai chan, tidak akan aku biarkan mereka melakukannya." Dazai sontak menoleh menatap Yuki. Apa nona mudanya ini belum ingat tentang orang itu?, pikir Dazai.


"Apa yang kamu lakukan Sakai san?." Tanya Hajime, wajahnya tetap kalem-kalem saja meski ia sangat kaget dengan tindakan ekstrim teman satu angkatannya.


"Aku tidak suka melihatmu bersamanya. Apa masih kurang jelas!." Teriak Sakai.


"Mereka bertengkar." Ujar Yuki menyadarkan Dazai dari pikirannya.


"Hm, dan lihat. Anak muda itu masih bisa tenang menghadapi gadis agresif itu." Komentar Dazai.


"Tidak ada hubungan spesial diantara kita yang membuatmu bisa melarangku untuk berteman dengan siapa saja." Ucap Hajime tegas. Berlalu pergi.


"Hajime kun ..." Lirih Sakai di belakang.


Hajime menghela nafas pelan melanjutkan langkahnya menghampiri Yuki dan Dazai.


"Yo!, anak muda. Bagaimana kamu bisa setenang itu menghadapi perempuan cantik?." Ledek Dazai. Yuki memberikan senyuman kepada Hajime saat pemuda itu sudah berada di hadapan mereka.


"Maaf kalian melihat hal yang tidak seharusnya." Ucap Hajime duduk di samping Yuki.


"Tidak masalah anak muda. Ngomong-ngomong ojou chan." Dazai menoleh ke arah Yuki.


"Hm?." Gadis itu masih fokus melihat api unggun dan anak-anak yang menari mengelilinginya.


"Kapan anda melakukan ciuman pertama?." Yuki menaikan satu alis ke atas menoleh menatap Dazai.


"Apa yang kamu bicarakan?." Dazai tersenyum kecil.


"Saya hanya penasaran ojou chan."


"Hm???. Kamu sudah bosan hidup Dai chan?." Ucap Yuki menarik sudut bibirnya memberikan senyum menyeramkan seraya mengangkat kedua tangan berpura-pura hendak mencekik Dazai.


"Ampun Ojou chan ampuun. Anak muda tolong aku." Dazai ikut berekting ketakutan. Melihat itu Hajime tersenyum tipis. Ia merasa tidak enak karena semua yang terjadi di bawah sana dilihat oleh mereka berdua.


"Yuki." Panggil Hajime.


"Hm?." Yuki menoleh ke samping, Dazai dengan lembut membenarkan posisi duduk Yuki yang sempat condong ke arahnya.


"Mau menari denganku?." Ajak Hajime kalem. Yuki tersenyum kecil menolak ajakan pemuda itu.


"Maaf senpai, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku dengan leluasa. Mungkin lain kali." Hajime terdiam sebentar.


"Ya." Jawabnya.


Ini adalah musim panas terakhirku di sma, tidak ada lain kali, lanjut Hajime dalam hati.