
Dan melirik anak buahnya lalu kembali melirik Yuki. Terbersit keraguan di dalam dirinya.
"Aku tidak menyangka kamu melakukan ini kepada penduduk biasa Dan." Lirih Yuki berjalan meninggalkan Dan menghampiri anak buah Dan yang hendak menyentuh bagian depan Tiara.
Grep!.
Krek!.
"Aaarrgghhh!." Jerit melengking, Yuki menghempaskan kasar tangan itu hingga anak buah Dan terlempar.
BRUK!.
Anak buah yang memegang Tiara melepaskan cekalannya pada gadis itu menerjang Yuki. Yuki menghindar lalu menarik lengan anak buah Dan ke belakang dan menendang belakang lutut sangat keras hingga bunyi tulang patah menggema sampai ke sebrang, mengunci pergerakan orang itu.
Yuki membalas tatapan anak-anak buah Dan yang terkejut menatap tajam ke arahnya, Yuki beralih menatap Dan.
"Sebentar lagi mereka datang, pergilah Dan." Ucap Yuki. Tepat setelah mengatakan itu suara sirene ambulance menggema membuat Dan langsung membawa anak-anak buahnya pergi.
"Aome san!." Seru Dan yang masih enggan pergi, ia merasa sangat buruk karena orang yang merebut hatinya telah melihat keburukan yang sedang ia lakukan.
"Pergilah!." Kata Yuki dingin.
Mereka semua kabur entah kemana, Yuki menyentuh pundak Tiara yang terus menunduk dan menangis ketakutan.
"Tiara." Panggil Yuki lirih.
Tiara mengenal suara itu, ia langsung mendongak menatap sepasang manik biru yang sudah sejak lama tidak ia lihat.
"EVA!!!."
Grep!.
Tiara menarik Yuki ke dalam pelukkannya, menangis sejadi-jadinya. Yuki ikut sedih, ia menahan hatinya agar tidak ikut terseret lebih dalam emosi sedih dari Tiara. Tangannya mengusap pelan punggung yang kini berubah sedikit lebar dari terakhir ia ingat.
"Kamu hutang penjelasan kepadaku." Ucap Tiara berbicara menggunakan bahasa indonesia.
"Ya."
"Ya ampun!. FATHUR!." Teriak Tiara selanjutnya, ia berlari dan bersimpuh di samping tubuh yang tergeletak tak berdaya.
"Thur, bangun. Fathur, maaf karena aku kamu seperti ini." Tiara semakin menangis, jarinya bergetar melayang di atas wajah laki-laki itu.
Yuki yang baru sampai hanya berdiri menatap keadaan mengenaskan teman yang tidak pernah ia pikirkan berada di negeri sakura. Ambulance sudah sampai, Yuki menemui pihak rumah sakit dan menjelaskan sedikit kronologisnya yang sudah ia rubah sedikit untuk melindungi Tiara dan Fathur dari kelompok Dan.
Fathur segera di cek keadaannya dan langsung dibawa ke dalam ambulance, Yuki menemani Tiara ikut ke rumah sakit. Sesekali Yuki menenangkan teman perempuan satu-satunya itu di indonesia, Tiara terlihat sangat khawatir dengan keadaan Fathur.
Laki-laki itu langsung di bawa ke dalam ruang icu setelah sampai di rumah sakit. Yuki mencari minuman dan makanan untuk Tiara.
"Kamu dimana?." Suara Masamune di sebrang sana.
"Rumah sakit." Jawab Yuki, Masamune kira Yuki sedang di rumah sakit untuk cek rutinnya dengan Dazai.
"Mau di jemput?."
"Apa tidak merepotkan?."
"Tidak masalah, mau pulang jam berapa?."
"Satu jam lagi, bisa bawakan aku baju ganti juga?." Pinta Yuki.
"Tentu, sampai jumpa di rumah sakit."
"Terima kasih Masa san."
Yuki kembali dengan minuman dan makanan, memberikannya kepada Tiara. Ia memberitahukan kepada gadis itu untuk tetap tenang, Fathur akan baik-baik saja, Yuki akan mengurus kamar dan biaya rumah sakit ke meja administrasi, meminta Tiara tetap menunggu dan mengisi perutnya. Gadis itu tidak memiliki luka hanya bekas tangan anak buah Dan yang tertinggal.
Dazai sedang sift pagi minggu ini, jadilah pria itu tidak ada di rumah sakit. Saat Yuki kembali Fathur sudah di pindahkan dari ruang icu ke kamar inapnya. Yuki langsung ditagih Tiara sebrondong penjelasan kenapa ia pergi tiba-tiba setelah kejadian di lapangan basket depan sekolah. Gadis bermanik biru itu pun menjelaskan keadaannya saat itu, dan sampai ia pindah ke korea untuk berobat lalu menjadi seorang trainee, dan sampai ia kembali ke kampung halamannya, bersekolah di sana.
"Kamu jahat va, setidaknya kamu memberikan kabar padaku. Apa kamu sudah tidak menganggapku teman lagi?." Lirih Tiara di sela tangisnya.
"Udah jangan nangis lagi nanti Fathur terganggu." Tiara melirik Fathur di atas ranjang, mulai menghapus air matanya.
"Maaf ya ra, ayah membawaku pergi mendadak, aku tidak bisa berbuat banyak dengan penyakitku. Di sini, aku baru memulai semuanya dari awal." Jelas Yuki.
"Yaaahh, kita tidak bisa lulus bareng. Kita berempat masuk ke universitas yang sama va." Yuki ikut senang mendengar itu.
Ia tertinggal dari temannya, seharusnya ia pun sudah lulus dan menjadi seorang mahasiswa seperti mereka. Tapi di jepang banyak siswa yang lulus sma dengan usia delapan belas tahun atau pun sembilan belas tahun. Yuki sedikit merasa lucu mengingat bahwa ia masih kelas dua sma.
"Berempat?." Ulang Yuki.
"Ya, aku, Fathur, Heru, sama Dody. Mereka bertiga mendapatkan beasiswa sedangkan aku karena pekerjaan ayah yang pindah ke sini lagi." Yuki tersenyum.
"Kalian tidak bisa di pisahkan ya." Ledek Yuki.
"Tapi va." Tiara meraih satu tangan Yuki meremasnya pelan.
"Ada dua tempat yang kosong di hati kami karena tidak adanya kalian. Apa kamu di sini dengan Ega?." Yuki menepuk-nepuk pelan punggung tangan Tiara yang memegang tangannya.
"Tidak, aku tidak tahu iblis itu membawanya ke mana." Jawab Yuki, Tiara langsung memeluk Yuki erat, meneteskan air matanya di pundak gadis bermanik biru itu.
"Ega pasti kembali, aku tahu dia sangat menyayangimu lebih dari apa pun." Yuki tertawa lirih mendengarnya.
"Terima kasih ra." Ucap Yuki melepas pelukan mereka.
"Aku mau keluar sebentar kamu tunggu di sini." Pinta Yuki.
"Jangan lama-lama." Pinta Tiara cepat.
"Sejak kapan kamu manja seperti ini?."
"Sejak kamu suka menghilang." Gerutu Tiara.
Yuki menuju loby untuk menemui Masamune berbicara dengannya sebentar lalu kembali ke kamar Fathur dengan tote bag di tangannya.
"Ra, ganti baju dulu sana, setelah itu aku antar kamu pulang." Ucap Yuki memberikan tote bag ke Tiara.
"Rumah sakit jepang memang sedikit aneh, kenapa juga pasien tidak boleh di tunggui, kan kasihan kalau pasien butuh apa-apa." Rutuk Tiara.
"Kan ada perawat ra, itu juga buat kenyamanan dan ketenangan para pasien. Biar pasien bisa istirahat penuh tanpa ada gangguan dari orang lain." Jelas Yuki.
"Va." Tiara menoleh sebentar sebelum pergi ke toilet.
"Hm?."
"Kamu terlihat berbeda, kamu secantik awal kita bertemu." Celetuk Tiara.
"Dulu kita masih bocah ra. Udah sana cepat, sebelum kita diusir sama dokter."
"Agh benar, bocah yang suka main pasir. Hehe." Yuki tersenyum lebar menatap pintu toilet yang sudah tertutup.
Maniknya bergulir menatap tubuh yang tergeletak di atas ranjang.
Dasar bodoh!. Bodoh kok nggak sembuh-sembuh, batin Yuki.
Garis wajah Fathur terlihat berubah, kelopak mata yang tertutup dan di beberapa titik juga berubah, mungkin karena mereka sudah lama tidak bertemu.
Ceklek.
Yuki melirik ke arah pintu toilet dan membatin.
Yah, sepertinya bukan si bodoh itu saja yang berubah. Lihat, siapa yang memberikan pengembang kepada Tiara, batin Yuki.
"Va, kok bajumu sesak sih?. Ngepres banget. Roknya juga sempit ih." Yuki menahan tawanya.
Tinggi badan yang tidak berubah, bagian depan yang semakin berisi, pipi menggembung hampir menutup mata sipitnya, pinggang yang melebar, dan paha putih dengan daging empuk penuh di sana, itulah yang di incar anak-anak buah Dan tadi. Yuki melepas hoodynya membuat Tiara terkesiap namun ia langsung bernafas lega melihat Yuki memakai kaos biasa di balik hoody kebesarannya.
"Pakai ini buat menutupinya."
Tiara memakai hoody Yuki yang langsung menutupi kedua tangannya hingga seluruh pahanya. Yuki tersenyum gemas kepada teman satunya ini. Tiara terlihat imut, dia seperti anak kecil yang berisi. Tangan Yuki mencubit kedua pipi gadis itu.
"Va sakit ih. Kok hoodymu besar banget sih, padahal di pakai kamu bagus-bagus aja tuh. Waw!, punyamu juga berisi, tapi kenapa bajumu sesak ya dipakai aku?." Manik Tiara mengarah tepat ke bagian depan Yuki. Yuki semakin mencubit pipi Tiara.
"Agh!, va lepas." Jerit lirih Tiara.
"Punyamu berkembang terlalu pesat ra, aku tuh tumbuh ke atas tidak stuck sepertimu." Tiara cemberut.
"Aku sudah tidak bisa tumbuh tinggi lagi Eva sayaaanngg." Ucap Tiara kesal.
"Nggak apa-apa, imut kok. Yuk pulang."
Tiara menghampiri Fathur sebelum pulang mengusap pucuk kepala laki-laki itu sambil menyunggingkan senyum imut dengan bibir penuhnya.
"Ayo va kita pulang." Tiara berbalik berjalan ke arah Yuki.
Mereka keluar meninggalkan Fathur sendiri di kamarnya.
"Va, ayo tukeran nomor biar aku bisa menghubungimu. Awas kalau kamu tidak memberiku kabar lagi." Ancam Tiara, mereka saling menuliskan nomor masing-masing.
"Kamu tinggal dengan orang tuamu di sini?." Tanya Yuki.
"Ya, kalau mereka bertiga baru mendapatkan apartemen di dekat kampus hari ini."
"Beasiswanya tidak penuh?." Tiara mengangguk.
"Mereka tidak perlu membayar biaya sekolah, free. Hanya tempat tinggal dan kebutuhan bulanan pribadi yang harus pakai uang sendiri." Yuki paham.
Tiara bertemu dengan Masamune, mereka saling memperkenalkan diri dan langsung akrab dalam sekejap. Di dalam mobil Masamune bingung tidak mengerti apa yang kedua gadis itu obrolkan, Masamune sangat asing dengan bahasa yang mereka gunakan ia hendak bertanya tapi urung karena Yuki terlihat sangat asik dan menikmati obrolannya, ia tidak ingin mengganggu. Masamune tersenyum senang melihat Yuki yang terlihat bahagia bertemu kembali dengan teman lamanya.
***
Latihan ketat seperti biasanya, bulan depan yang kurang dari satu minggu lagi pelatihan musim dingin yang menyakitkan akan dimulai. Yuki mendekati Mizutani meminta izin untuk pulang lebih cepat dan meminjam kunci mobil pria itu. Mizutani awalnya menolak namun dengan ancaman Yuki yang tidak akan ikut dalam pelatihan musim dingin membuat Mizutani kalah telak. Pria itu membutuhkan Yuki untuk membantu menyokong tim, hasilnya sudah terlihat di pertandingan musim gugur lalu, mereka mengalahkan musuh bebuyutan sekolah.
Dengan riang Yuki berjalan ke ruang ganti setelah membalas kalimat pedas Kudo yang sempat berpapasan dengannya.
Zzzz Zzz.
"Halo ra?." Yuki sudah selesai mengganti kaos olah raganya dengan seragam sekolah.
"Aku mungkin tidak akan lama di rumah sakit ketika kamu datang. Ayah dan ibu mengajakku pergi dengan rekan kerja ayah." Jelas Tiara.
"Aku mengerti, sebentar lagi aku ke sana." Yuki pergi meninggalkan ruang ganti.
"Cepat va, jam jenguk sore tinggal satu jam lagi." Yuki membuka pintu mobil.
"Iya ra, sabar." Ucap Yuki menahan senyumnya karena tingkah manja Tiara.
"Hm."
Yuki membawa mobilnya ke sebuah minimarket untuk membeli buah dan beberapa makanan sebelum ke rumah sakit.
Gadis itu berjalan ke lantai tiga, mengetuk pintu sebentar sebelum menggesernya.
"Ya ampuun, kenapa baru datang sih." Suara Tiara membuat ketiga laki-laki yang sibuk memperdebatkan sesuatu terdiam seketika menatap sosok yang berdiri di depan pintu.
Srek. Yuki menutup kembali pintu kamar berjalan menaruh barang bawaannya di atas nakas dekat ranjang.
"Mampir dulu sebentar ra." Jawab Yuki, ia menoleh menatap kedua laki-laki yang melebarkan matanya sambil membuka mulut lebar-lebar.
"Lama tidak bertemu, bagaimana kabar kalian?." Sapa Yuki tersenyum kecil.
"Astaga, Eva?!." Jerit Dody yang di geplak langsung oleh Tiara.
"Do, ini rumah sakit jangan keras-keras." Yuki terkekeh pelan.
"Ini bener lo va?." Heru melihat Yuki yang masih memakai seragam sekolah dari atas sampai ke bawah.
"Menurutmu?." Yuki balik bertanya.
"Lo sangat imut memakai seragam sma jepang. Aduh!, bukan itu maksud gue. Tapi ini beneran lo?, gue masih nggak percaya." Heru mengucek matanya lalu melirik tubuh yang terbaring di sana sebentar.
"Jawab gue, lo belum punya pacar kan?. Lo masih jomblo kan?." Srobot Dody. Yuki mengangkat satu alisnya.
"Aagh .., alis lo yang kayak gitu selalu membuat gue deg-deg seerr va." Yuki langsung menutup mulutnya tertawa pelan. Hal itu ternyata menimbulkan keheningan panjang hingga Yuki kembali bicara.
"Masih kok. Kenapa?." Dody langsung berdiri menatap Yuki.
"Pacaran yok!."
Buk!.
Heru meninju lengan Dody dari samping.
"Gila lo!, yang waras dikit. Sama gue aja va." Celetuk Heru.
Plak!.
Tiara memukul lengan Heru cukup keras.
"Enak aja kalian. Jangan mau va, mereka nggak ada yang bener." Yuki kembali tertawa, kini cukup keras sampai ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Ra, kamu sudah sukses ketularan virus mereka berdua." Ucap Yuki melirik teman-teman lamanya kecuali yang masih terbaring di atas ranjang.
"Aku belum pernah melihatmu tertawa seperti itu." Lirih Tiara langsung memeluk Yuki. Yuki membalas pelukan Tiara.
"Bukankah dulu kamu sering melihat tawaku yang lebih dari ini?." Ujar Yuki menepuk-nepuk pelan kepala Tiara.
"Hm, waktu masih bocah." Yuki tersenyum lembut yang sukses membuat ketiga laki-laki itu semakin membeku.
"Lihat, sekarang kamu sampai berjinjit untuk memelukku." Ledek Yuki. Tiara melepaskan pelukkannya cemberut kepada Yuki.
"Berhenti meledek tinggi badanku." Gerutu Tiara. Yuki membungkuk untuk mencubit pipi Tiara dan untuk melihat lebih jelas ekspresi temannya itu.
"Uluh-uluh, ngambek nih." Suara ponsel Tiara membuat Yuki menjauhkan tangannya.
"Halo bu." Tiara sedikit menjauh untuk berbicara dengan ibunya. Yuki beralih menatap kedua temannya yang lain.
"Pasti sangat aneh melihatku yang seperti ini bukan. Mahluk super dingin ternyata bisa tersenyum dan tertawa." Kata Yuki menyadarkan mereka.
"Tidak, kami sangat bersyukur bisa melihat senyum lo yang langka." Jawab Dody cepat.
"Kalau begitu, berarti lo orang yang dimaksud Tiara yang sudah menolong mereka tadi malam?." Tanya Heru, Yuki mengangguk pelan.
"Thanks va." Yuki menggelengkan kepalanya.
"Aku kebetulan lewat jalan itu tadi malam, aku juga tidak menyangka kalau korbannya adalah Tiara dan teman kalian ini." Untuk pertama kalinya Yuki menoleh ke arah Fathur.
Mata biru itu masih sama namun terlihat lebih misterius dari sebelumnya, wajahnya semakin cantik bak bidadari dari khayangan, seragam sma nya membuat Fathur menyadari bahwa gadis itu masih dibangku sekolah menengah atas.
Mata hitam legam itu terlihat lebih tegas, wajahnya juga terlihat lebih dewasa, ditambah poin-poin lain yang menambah kadar ketampanan yang dulu sangat di gilai para siswi-siswi di sekolah.
"Va, aku harus pergi sekarang. Maaf ya aku tinggal." Suara Tiara mengalihkan perhatian Yuki.
"Mau aku antar?." Tawar Yuki.
"Tidak terima kasih, kamu baru datang temani mereka sebentar." Tolak Tiara mengambil tasnya.
"Aku pergi dulu." Pamit Tiara meninggalkan mereka.
"Kalian sibuk apa sekarang?, penerimaan mahasiswa baru bulan april tahun depan bukan." Tanya Yuki mengambil kursi yang di duduki Tiara tadi meletakan kursi agak jauh dari mereka.
"Kami sedang mencari pekerjaan part time buat tambah-tambah tabungan sebelum masuk kuliah." Jawab Heru.
"Kampus kalian dimana?."
"Tidak jauh dari sini, melewati tiga stasiun." Yuki membuka ponselnya.
"Tidak terlalu jauh, mau bekerja di restoran?. Tapi aku tidak bisa menjamin jabatan tinggi, mungkin sebagai waters (pelayan)." Tawar Yuki.
"Mau. Beneran nih?, lo ngak bercanda kan?." Srobot Dody.
"Hm, mau membicarakannya dirumah?. Sekalian makan malam di rumahku." Ajak Yuki.
"Apa yang terjadi sama lo?. Lo beneran Eva yang kita kenalkan?. Yang nggak suka ada tamu dirumahnya?." Dody dan Heru masih tidak percaya dengan sosok di depannya yang banyak berubah.
"Hm. Seaneh itu ya." Dody menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Srek!.
"Pengecekan sebentar ya, maaf mengganggu waktuny, ojou chan?!." Yuki menoleh ke belakang, tersenyum simpul kepada Dazai.
"Kamu yang menanganinya Dai chan?." Dazai dan satu perawat masuk ke dalam kamar mulai memeriksa Fathur.
"Ya, anda kenal dengan pasien?. Sepertinya mereka orang asing." Jawab Dazai.
"Ung, mereka temanku dan Hotaru di indonesia." Dazai terkejut hingga berpaling dari pasien.
"Apa semuanya baik-baik saja?." Yuki mengangguk singkat.
"Lukanya cukup parah kan, apa ada tulang yang patah?." Yuki memperhatikan tangan Dazai.
"Anda ingin melihat hasil pemeriksaan?." Yuki mendekati Dazai menerima kertas hasil pemeriksaan Fathur.
"Bahasa jepang Eva sangat lancar." Lirih Dody kepada Heru, mereka sejak tadi memperhatikan interaksi Yuki dengan dokter, keduanya terlihat akrab.
"Gue agak minder." Sambung Heru.
Gue cuman tahu sedikit maksud pembicaraan mereka. Suara Eva terdengar lebih manis saat berbicara dengan bahasa jepang, batin Heru.
"Mereka ngomongnya cepet banget." Keluh Dody.
"Boleh pinjam lab?." Tanya Yuki.
"Tidak, dengan penampilan anda yang seperti itu." Dazai menerima kertas hasil pemeriksaan yang diulurkan Yuki.
"Besok." Bujuk gadis itu.
"Tidak ojou chan, biarkan para dokter yang menangani." Yuki kembali duduk.
"Satu jam lagi dokter jaga malam yang akan memeriksa anda, tetap semangat dan semoga cepat sembuh." Ucap Dazai kepada Fathur.
"Terima kasih." Suara pertama yang laki-laki itu keluarkan.
Dazai beralih menghampiri Yuki.
"Setelah ini makan malam bersama?." Yuki berpikir sebentar.
"Siapa yang memegang restoran?." Dazai terkejut.
"Kenapa tiba-tiba?." Yuki hanya diam menatap Dazai.
"Ada apa?." Lirih Dazai lalu memberikan kode kepada suster untuk pergi lebih dulu.
"Aku ingin memberikan pekerjaan kepada mereka di sana." Jawab Yuki tak kalah lirih.
"Saya mengerti, ajak mereka makan malam bersama kita nanti." Yuki mengangguk paham.
"Baik, saya bekerja dulu." Pamit Dazai.
"Va, lo kenal sama dokter itu?." Tanya Dody setelah Dazai menutup pintu.
"Hm."
Tiba-tiba Heru menarik tangan Dody untuk berdiri membuat yang di tarik kebingungan.
"Kita keluar sebentar, lo temani Fathur ya, kita tidak lama kok." Kata Heru langsung menarik Dody keluar.
"Lo kenapa sih ru?." Protes Dody berusaha melepaskan tangan Heru dari lengannya.
"Mau beli kopi, ayok." Heru semakin menggeret Dody keluar dari kamar.
Yuki menaikan satu alisnya melihat tingkah absurd mereka. Tiba-tiba suara khas itu menginterupsi Yuki.
"Jadi, kamu selama ini di sini." Yuki diam sebentar, lalu menoleh menatap datar Fathur.
"Bodoh." Ucap Yuki menyilangkan tangannya di depan dada.
"Dimana bola yang aku berikan?."
"Di rumah." Jawab Fathur.
"Ambil." Titah Yuki.
"Jangan bercanda, aku baru sampai dua hari yang lalu." Protes Fathur.
"Seharusnya kamu sadar saat memutuskan pergi ke sini. Kamu masuk ke kandang para predator." Kata Yuki kesal.
"Apa maksudmu?." Yuki mendengus kecil mengejek Fathur.
"Kamu sudah bertemu dengan mereka tadi malam, para mafia. Preman-preman kecil itu sebagian kecil dari calon anak buah mereka di masa depan."