
Hajime menatap gadis dibawah sana yang juga menatapnya. Gadis itu terlihat keren dengan gitar yang menggantung didepan tubuhnya, mata biru gadis itu bersinar terang sama persis dengan warna langit cerah diatas sana. Hajime membeku sebentar, gadis itu tersenyum kepadanya.
Kichida melakukan aba-aba dengan ketukan stik drumnya, Yuki menutup mata bersiap. Aba-aba berakhir disusul serbuan melodi dari semua alat musik secara bersamaan, memberikan gebrakan luar biasa. Yuki membiarkan dirinya menyelam kedalam melodi, menjelajahi setiap lirik.
"Sugoi (Keren)." Ucap Kichida tersenyum menatap punggung Yuki.
Ini luar biasa, aku terbawa olehnya. Mari kita mengamuk Hachibara chan, ucap Natsume dalam hati melirik Yuki.
Aku belum pernah bertemu dengan orang yang sekali membaca bisa menghafal setiap melodi, kunci, dan lirik sekaligus. Aku masih tidak percaya ada manusia sepertimu. Natsume chan juga sulit dipercaya, bisa membuat lagu yang sangat hebat hanya dalam waktu semalam, kalian seperti anak panah dan busurnya, batin Abe.*
Yu chan, arigatou*, batin Natsume terharu, hatinya sangat tersentuh. Ia merasakan lagunya seakan-akan hidup saat dinyanyikan oleh temannya itu.
Permainan musik mereka benar-benar mengguncang seluruh sekolah hingga dinding gedung ikut bergetar, tidak sedikit para guru meninggalkan kantor untuk melihat pertunjukan legendaris muridnya.
Suara Yuki bagai candu ditelinga para pendengar. Lagu berdurasi empat menit dua belas detik itu terasa sangat cepat, para penonton bersorak meminta mereka untuk melakukannya lagi.
"Mou ikkai! mou ikkai. (Sekali lagi! sekali lagi!)." Seru penonton kompak.
"Hachibara san ...!. Suki da!! ( Hachibara ...!. Aku menyukaimu!!)." Teriak salah satu penonton yang entah berasal dari mana.
"Watashi mo, Hachibara san ga suki desu! (Aku juga, menyukai Hacibara!)." Entah teriakan dari manalagi membuat Yuki ingin segera kabur dari sana.
"Natsume chan ..,kawaii! (Natsume ..,imut!)."
"Kichida ku-n!!."
"Kichida senpaai ..!!."
"Buchou kakkoi! (Ketua kamu keren!)."
"Nakamura san ... Luar biasa!."
Teriakan demi teriakan terus bersahutan.
"Terima kasih semuanya, kami harus undur diri. Sekali lagi terima kasih." Kata Abe mendapatkan protes keras.
"Iya da! mou ikkai! ( Tidak! sekali lagi!)." Protes penonton.
"Maaf, tapi jika kita semua bolos pelajaran, klub band yang akan mendapatkan masalah besar." Jawaban logis Abe menghentikan protesan-protesan yang penonton lemparkan kepadanya. Yuki melirik Abe, ia mengangguk sekilas.
"Terima kasih banyak!." Ucap Abe menunduk diikuti oleh yang lainnya.
Penonton mulai berpencar kembali ke kelas masing-masing bersiap-siap untuk pelajaran berikutnya.
Yuki membalikan badan membantu Kichida dan Nakamura membereskan peralatan.
"Hachibara chan tidak apa-apa, kamu sudah boleh pergi." Yuki menoleh menatap Kichida sekilas.
"Kita melakukannya bersama tidak baik jika aku saja yang pergi." Jawab Yuki.
"Ternyata kamu tidak seburuk yang digosipkan." Celetuk Nakamura.
"Hm?." Kichida menatap Nakamura meminta penjelasan.
"Kamu tidak mendengarnya Kichida?." Tanya Nakamura.
"Tidak." Jawab singkat laki-laki itu.
"Siswi pindahan sekaligus anak blasteran. Memiliki sikap yang sombong dan sangat arogan, gadis itu juga tidak mempunyai sopan santun karena itu, dia dikucilkan dikelasnya." Jelas Nakamura. Yuki mengangkat salah satu alisnya.
Tidak punya sopan santun ya .., batin Yuki.
"Siapa yang mengatakan hal seperti itu! senpai?." Srobot Natsume dari belakang mereka.
"Kamu juga tidak tahu Natsume chan?." Tanya Nakamura.
"Tidak, siapa yang berani-beraninya mengatakan hal buruk seperti itu." Geram Natsume.
"Aku mendengarnya dari siswi kelas sebelah, gosip itu lagi ramai-ramainya loh." Wajah Natsume berubah merah menahan emosi.
"Oh ya, ada satu lagi." Nakamura mengingat sesuatu.
"Hachibara Yuki sangat bangga dengan wajah cantiknya dia suka merayu anak laki-laki dan merendahkan siswi-siswi yang lain." Lanjut Nakamura.
"Itu tidak benar! semua itu tidak benar. Aku akan mencari biang kerok yang seenaknya menyebarkan gosip tidak jel ..." Kalimat Natsume dipotong oleh Yuki.
"Hazuki." Tegur Yuki membuat temannya itu diam.
"Jangan membuang waktu dan energimu untuk mengurusi hal yang tidak penting." Kata Yuki. Natsume memajukan wajahnya menatap Yuki geram.
"Ini hal serius Yu chan, bag." Lagi-lagi Natsume tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena jari Yuki yang berada didahi Natsume mendorongnya pelan.
"Jangan dekat-dekat. Biarkan mereka membuat karakter sesuai keinginan mereka, lagi pula cantik? mungkin mereka salah lihat orang." Potong Yuki.
Eeh ..? dia berpikir seperti itu, batin Kichida dan Abe.
"Yu chan apa aku tidak salah dengar?." Natsume menatap Yuki tidak percaya.
"Kamu tidak salah dengar." Tangan Yuki kembali bergerak membereskan peralatan.
"Banyak perempuan cantik didunia ini. Jika kecantikan hanya diukur dengan fisik dan standar tertentu, saat kamu tidak sengaja merusak wajahmu apakah itu artinya kamu sudah tidak cantik lagi? bukankah pikiran seperti itu sangat kejam." Lanjut Yuki berhenti sejenak.
"Fisik hanya semetara." Imbuhnya.
Merasa tidak mendapatkan respon Yuki menoleh menatap Natsume dan ketiga seniornya yang masih berdiri diam di posisi masing-masing.
"Apa kamu tidak akan menggerakan tanganmu, Hazuki. Sebentar lagi jam pelajaran berikutnya akan segera dimulai." Suara Yuki membuyarkan lamunan ke empat orang itu, mereka bergerak canggung mencari pekerjaan yang belum selesai.
Tanpa Yuki ketahui Natsume dan yang lainnya menarik sudut bibir mereka, tersenyum. Ii hito da (Dia orang yang baik), omoshiroi (menarik), batin mereka.
Natsume dan Yuki beruntung mereka masih sempat masuk kelas sebelum guru datang. Sebelum itu, Yuki menyempatkan dirinya mengirim sebuah pesan kepada seseorang yang jauh disana.
Aku sudah mengerti keindahan musik yang selalu kamu katakan. Suatu hari nanti mari bertemu.
***
Yamanaka guru bahasa inggris sekaligus wali kelas mereka sejak tadi terus tersenyum kepada Natsume dan Yuki hingga jam pelajaran selesai.
"Natsume san Hachibara san terus lanjutkan, ibu suka musik kalian." Kata Yamanaka sebelum meninggalkan kelas.
Yuki mengeluarkan kotak bekalnya, Ueno yang berada didepan memutar kursinya menghadap Yuki, tidak ketinggalan Natsume juga memboyong kursinya ke samping bangku Yuki.
"Tadi kalian benar-benar sangat keren, aku seperti melayang, terbang diatas padang berbunga, sangat mendebarkan, musik kalian sangat indah." Ucap Ueno antusias.
"Kamu terlalu berlebihan, dan juga, lagu itu milik Hazuki dia yang membuatnya." Sahut Yuki.
"Tapi kamu yang menyanyikannya." Srobot Natsume.
"Aku tidak bisa melakukannya sendiri, kita bermain bersama." Sergah Yuki. Diam, mereka saling pandang lalu tiba-tiba kedua gadis itu tertawa mengingat saat mereka benar-benar mengamuk di halaman tengah tadi, sensasi itu masih sangat terasa oleh kedua gadis itu.
"Kamu benar-benar gila Yu chan, kamu membuat kami menggila hahaha." Ucap Natsume disela-sela tawanya.
"Kamu juga gila Hazuki, membuat lagu dengan nada super tinggi seperti itu, untung saja tenggorokanku tidak sobek, haha." Timpal Yuki.
Beberapa anak yang ingin mendekati kelompok itu, ingin bergabung dengan mereka bertiga mengurungkan niat karena merasa sungkan. Hanya bisa menatap mereka yang tertawa dari kejauhan.
Manis, cantik, kalian sangat bersinar. Beruntung sekali aku bisa berteman dengan kalian, batin Ueno.
"Kalian terlihat sangat menikmatinya." Celetuk Ueno menarik perhatian Yuki dan Natsume.
"Ung, kami sangat menikmatinya." Jawab Natsume yang diangguki oleh Yuki.
"Bagaimana kalau kamu masuk klub band saja Yu chan." Ajak Natsume penuh harap.
"Tidak." Tolak Yuki.
Jawaban yang sangat cepat tanpa keraguan, batin Natsume.
"Kamu tidak perlu menjawabnya langsung bukankah kamu juga menikmatinya tadi." Sergah Natsume, Ueno menatap Yuki mengangguk setuju.
"Tidak ya tidak." Jawab Yuki.
"Dame ka (Tidak ya)." Lirih Natsume cemberut.
"Jadi Hachibara san mau masuk klub mana?." Tanya Ueno.
"Belum tahu."
Mereka bertiga menikmati makan siang sambil bertukar cerita, dan lagi Yuki perlahan berubah terbuka dengan teman-temannya yang tidak gadis itu sadari.
"Diamana Hachibara san?." Yuki dan kedua temannya mendengar suara yang tidak bersahabat dari luar kelas.
"Siapa?." Tanya Ueno kepada Natsume yang dijawab gelengan kepala gadis itu.
Tiga perempuan masuk ke dalam kelas mengedarkan pandangan mereka menemukan orang yang dicari. Rambut berwarna, baju ketat, rok super pendek bahkan sangat pendek, berjalan layaknya idol, menghampiri Yuki.
Musuh hari ini sudah datang, aku harus cepat-cepat memberantas mereka, batin Yuki segera membereskan kotak bekal memasukannya ke dalam tas.
"Hachibara san kita perlu bicara." Kata perempuan ditengah.
"Kalian bisa bicara disini." Sergah Natsume cepat, ia merasakan ada yang tidak beres dengan ketiga orang itu, apa lagi setelah mendengar gosip menyebalkan tentang Yuki dari seniornya ditambah penampilan perempuan-perempuan itu.
"Hai (Ya)." Jawab Yuki langsung berdiri.
"Hah?, Yu chan!." Protes Natsume kaget.
"Daijyoubu (Tidak apa-apa)." Ucap Yuki menenangkan Natsume lalu tersenyum kepada Ueno yang terlihat khawatir.
Yuki mengikuti ketiga perempuan itu masuk ke dalam toilet perempuan. Tidak disangka, Yuki sudah disambut tiga orang lagi didalam toilet. Yuki dengan mudah menebak siapa yang berkuasa diantara mereka.
Gadis dengan rambut panjang bergelombang ditambah poni lurus dan jepit rambut berwarna merah muda tersemat dirambut indahnya, bersedekap menyandar ke wastafel menatap Yuki dari bawah sampai ke atas lalu berhenti tepat di manik biru cerahnya.
"Senpai kami sudah membawanya." Ucap salah satu perempuan yang membawa Yuki. Tatapan gadis itu berubah merendahkan.
"Oo .., siapa ini. Gadis belagu yang suka tebar pesona." Ucapnya mengejek.
"Aku tidak suka dengan orang yang suka mencari perhatian, anak pindahan sepertimu seharusnya diam dipojokan saja." Gadis itu mendekati Yuki, jari telunjuknya bergerak menelusuri pipi putih Yuki. Dari pipi kanan berganti ke pipi kiri menekan kuku panjangnya disana.
"Operasi plastik dimana heh." Suara tawa mengejek dari para dayang-dayang gadis itu menggema didalam toilet.
Sepertinya dia tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang palsu, batin Yuki, ia tidak bergerak sedikit pun, mengikuti permainan mereka.
"Aku ingin mencongkel mata birumu ini dan menggantikannya dengan mata kodok yang menjijikan." Geram gadis itu menunjuk mata Yuki dengan ujung kukunya, Yuki tidak berkedip sedikit pun.
Ara ..!? sepertinya aku sedang dibully, batin Yuki.
"Sepertinya aku berbicara dengan orang bisu." Gadis itu mundur menjauh dari Yuki.
"Aku tidak ingin basa-basi lagi, masukan dia." Titahnya. Para dayang-dayang tersenyum senang.
"Aku sudah menunggu ini sejak tadi." Ucap salah satu dari mereka menyeret Yuki masuk ke dalam bilik toilet pertama.
Yuki didorong dengan kasar masuk ke dalam bilik. Padahal kalau kalian memintanya dengan baik-baik aku akan masuk dengan senang hati, batin Yuki.
BAM!.
Pintu bilik ditutup dengan keras. Terdengar suara gaduh dari luar, sepertinya mereka sedang menyiapkan sesuatu untukku, batin Yuki tangannya langsung meraih ujung pembatas bilik kakinya naik ke atas closet, melakukan lompatan indah. Cepat dan tanpa suara.
Yuki kembali melompat ke bilik satunya untuk berjaga-jaga, tepat saat Yuki sampai dibilik ke tiga suara air jatuh yang cukup keras dari bilik pertama tertangkap oleh telinganya. Yuki mengeluarkan ponsel dari dalam saku seragam, merekam aksi mereka dari celah di bilik ke tiga secara sembunyi-sembunyi.
"Ini peringatan untukmu Hachibara san agar kamu sadar diri!, dasar p*l*cur." Seru gadis rambut panjang bergelombang.
"Kalian cepat lakukan." Lanjutnya memberi perintah.
Mereka memasukan apa pun dari atas pintu ke dalam bilik pertama. Air keruh, tepung, tanah, menumpahkan semua isi tong sampah ditoilet, dan bahkan sisa makanan basi membuat Yuki bergidik jijik.
Mereka niat sekali, batin Yuki menutup hidungnya dengan satu tangan.
Seperti yang tertulis dibuku yang pernah Yuki baca saat usianya tujuh tahun. Setiap bos kejahatan pasti tidak akan turun tangan langsung dalam aksi kejahatan kelompoknya. Gadis pemimpin hanya berdiri mengamati pekerjaan dayang-dayangnya.
"Kalian sudah selesai, ayo kita pergi." Gadis itu berjalan ke pintu keluar.
DAK.
"Rasakan ini, jangan sok kecantikan kamu!." Para dayang-dayang itu menyempatkan diri menendang pintu bilik secara bergantian seraya meinggalkan pesan untuk orang didalamnya.
"Ich baumu seperti sampah." Dak.
"Dasar rendahan." Dak.
"Kasihan, pasti mukamu sangat jelek sekarang dan kamu, pantas mendapatkannya!." DAK.
"Shine. (Mati saja kamu)." Dak.
Cetak.
Pintu tertutup. Yuki mengakhiri videonya lalu keluar dari dalam bilik ke tiga.
"Pesan terakhir tadi sangat menyakiti hatiku."Ucap Yuki melirik kedalam bilik kedua.
"Kalau aku tadi tetap disana pasti kena juga." Yuki beralih melirik lantai bilik pertama, ia langsung membuang wajahnya dan menutup mulut dan hidungnya.
"Mengerikan, mereka sudah sangat kelewatan." Yuki berjalan cepat melewati bilik pertama keluar dari sana.
Bodoh, seharusnya mereka membuka pintu bilik pertama memastikan korban tidak selamat. Mereka berenam tapi tidak becus juga, rutuk Yuki mengomentari seraya berjalan kembali ke kelas.
Tunggu, apa anak sma sukanya keroyokan, tidak juga. Banyak preman juga suka keroyokan, batin Yuki berperang dengan pikirannya.
Apa jika di indonesia dulu tidak ada pengawal yang mengawasiku aku juga bisa bernasib seperti ini?, lanjut Yuki kakinya mengerem mendadak menghindari tabrakan dengan seseorang dihadapannya.
Hampir saja, aku terlalu sibuk mengomentari mereka sampai tidak fokus, batinnya.
"Gomenasai. (Maaf)." Yuki mendongak mendapati Kichida berdiri dihadapannya.
"Senpai?." Kichida berkacak pinggang mengatur nafas.
"Kamu tidak," kalimat Kichida terhenti oleh teriakan keras dari belakangnya.
"Yu chaan!." Teriak Natsume berlari memeluk Yuki erat.
"Apa yang mereka lakukan kepadamu?." Sergah Natsume cepat, gadis itu mengelilingi Yuki mengecek dengan teliti jika ada perubahan ditubuh temannya. Natsume mencengkeram pundak Yuki menatap khawatir gadis itu.
"Kamu tidak apa-apa?." Yuki mengangkat tangannya menyentil pelan dahi Natsume.
Cetak.
"Tenangkan dirimu." Natsume melangkah mundur seraya memegang dahinya, cemberut. Kichida tertawa melihat adegan lucu didepannya.
"Watashi heiki da yo. (Aku baik-baik saja). Mereka masih harus banyak belajar." Jawab Yuki.
"Belajar apa?." Tanya Natsume tidak paham.
"Senpai, apakah Hazuki yang memanggilmu?." Yuki mengacuhkan Natsume membuat gadis itu semakin jengkel.
"Ung, dia ke kelas mencari Abe tapi Abe sedang tidak ada jadi aku yang menemuinya." Jawab Kichida.
"Aku sangat terkejut melihat wajah Natsume chan tadi, wajahnya sangat pucat meminta bantuan untuk mencarimu." Jelas Kichida.
"Apa mereka melakukan sesuatu yang buruk kepadamu?." Lanjut Kichida.
"Hampir." Jawab Yuki jujur.
"Maaf sudah merepotkanmu senpai." Yuki menunduk sekilas.
"Kamu tidak perlu minta maaf, malah kami yang seharusnya meminta maaf kepadamu karena membantu kami mungkin membuat seseorang tidak suka denganmu." Sergah cepat Kichida.
"Bukan, mereka memang orang yang seperti itu. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan klub band." Sanggah Yuki menoleh kepada Natsume seraya mengangkat satu alisnya.
"Wakatta (Aku mengerti), sudah jangan mengangkat alismu terus." Kata Natsume sewot berjalan meninggalkan mereka.
"Kenapa alisku yang kamu protes." Ucap Yuki tidak terima, ia berjalan dibelakang Natsume.
"Kalau kamu melakukannya aku jadi ingin mencubit pipimu." Jawab Natsume.
"Dasar aneh, sekarang kenapa pipiku yang kamu salahkan." Sahut Yuki, Kichida menyimak dua juniornya yang sedang beradu mulut.
Yang satu sangat peka dan satunya lagi tidak peka sama sekali.
"Hachibara chan." Panggil Kichida menghentikan perang mulut Yuki.
"Hai?(Ya?)."
"Terima kasih, berkat kamu banyak anggota baru yang bergabung dengan klub. Abe dan Oki chan sampai dibuat sibuk mengurusnya." Kichida melirik ke bawah menatap gadis yang jauh lebih pendek darinya. Tinggi seratus delapan puluh sembilan membuat dirinya seperti tiang berjalan.