
Hongkong, 10 : 00 p.m, pasar malam.
Akashi tidak melepas pandangannya dari wanita yang selama ini ia ikuti. Di dalam keramaian pasar malam, wanita bertopi hitam itu sedang berjalan santai, tapi tidak dengan tangannya.
Kedua tangan itu terus melayangkan pukulan, menarik kepala menyeretnya dan membenturkan ke dinding sangat keras. Darah, tubuh, bergeletakan di sepanjang gang-gang pasar. Jeritan melengking pengunjung tertelan kebisingan pasar.
Wanita itu berdiri santai di depan kios kecil dengan kain merah sebaga penutup yang tergantung di depan pintu. Dua orang berwajah seram keluar dari dalam kios mencoba menghajar si wanita.
Sbuaaakkk!.
Tangannya bagaikan pisau yang menyayat leher kedua orang itu dalam sekali gerakkan, menghancurkan tenggorokan mereka. Akashi menyipitkan mata kala si wanita masuk ke dalam kios. Ia tidak bisa gegabah mencoba ikut masuk meski ia sangat penasaran apa yang terjadi di dalam sana.
Tak berlangsung lama seorang pria bersama seorang wanita berpenampilan seksi dan berambut merah keluar dari dalam kios. Mereka berpegangan tangan, bahkan si wanita menggelayut manja. Sepasang kekasih yang di mabuk cinta, pikir Akashi sebelumnya namun dengan cepat ia tersadar dan langsung bergerak mengikuti kedua orang itu.
Baru empat langkah Akashi pergi meninggalkan tempat persembunyiannya sebuah sirine polisi terdengar di ujung gang.
"Wah wah wah, cerdas sekali. Dan pemilihan waktu yang tepat." Lirih Akashi kembali bergerak.
Dugaannya benar. Setelah keluar dari pasar malam pasangan itu memilih pergi ke tempat sepi. Si wanita dengan cepat melumpuhkan si pria. Terlihat wanita itu menyentuh dahi dan dada si pria, bibirnya bergerak cepat lalu teriakan mengerikan yang sangat Akashi hafal memecah keheningan malam.
"Ayumi dono?." Gumam Akashi.
Betapa terkejutnya Akashi, wanita yang selama beberapa bulan ini ia ikuti adalah pemimpin klan sekarang. Iblis yang di maksudkan nona mudanya adalah Ayumi dono, ibu si kembar?!.
Akashi segera menyembunyikan diri kala Ayumi merasakan kehadirannya.
Gawat!, untuk sementara aku harus pergi sekarang!, batin Akashi bergerak sangat cepat menjauh dari tempat itu.
Pilihan yang bagus! karena tanpa Akashi ketahui tiga detik setelah ia pergi Ayumi sudah berdiri di tempat persembunyiannya tadi.
"Hah, hah, hah. Apa yang terjadi?. Tadi terlalu dekat. Aku harus pergi lebih jauh." Akashi kembali bergerak setelah berhenti untuk menarik nafas.
Ia tidak boleh berada di kota yang sama dengan Ayumi atau wanita itu akan menemukannya. Kemampuan pewaris klan tidak bisa di anggap enteng, Akashi sangat paham itu. Itu sebabnya Akashi membeli sepeda motor dari anak muda yang sedang menongkrong di pinggir jalan dengan harga mahal agar dapat pergi dari sana secepat mungkin.
Kabur dari pewaris klan adalah hal yang gila!. Alasan itu juga yang membuat bayangan menjaga jarak dengan Ayumi sampai mereka tidak bisa berbuat apa-apa saat nona muda mereka mendapatkan serangan dan di eksekusi hukuman.
Seperti orang gila, Akashi membawa sepeda motor dengan kecepatan tinggi, memilih jalan memutar yang sepi, menghindari perhatian orang-orang.
***
Tokyo, 08 : 00 p.m.
Hotaru berjalan mengekori Yuki tanpa sepatah kata yang keluar dari mulut mereka. Saudari kembarnya membawa Hotaru ke taman tengah yang di kelilingi gedung sekolah. Yuki duduk di salah satu bangku panjang di samping pohon sakura. Dalam keramaian suara serangga di musim panas Hotaru berjalan menghampiri kembarannya dan duduk di kursi yang sama, memberikan jarak. Mungkin Yuki masih tidak ingin berada dekat-dekat dengannya.
"Bagaimana kabarmu?."
Ini bukan pertanyaan basa-basi atau, Hotaru yang tidak memiliki pertanyaan lain. Itu adalah pertanyaan yang sangat ingin Hotaru tanyakan kepada Yuki, mereka memang satu rumah, jarak kamar mereka juga tidak jauh, tapi seperti ada lubang besar yang memisahkan keduanya sampai Hotaru tidak pernah tahu apakah kembarannya baik-baik saja.
"Hm." Terdengar gumaman dari Yuki.
"Kamu lebih terlihat bersemangat berada di sini." Hotaru mencoba tenang meski perasaannya campur aduk.
"Hm."
"Kamu juga memiliki banyak teman."
"Hm."
"Bagaimana dengan penyakitmu?." Tanya Hotaru.
"Baik-baik saja." Walaupun jawaban Yuki seperti itu Hotaru tidak bisa tenang.
"Apa latihan bersama Mai san dan Eiji sangat sulit?." Hotaru diam-diam sering menonton latihan Yuki dari jauh.
"Tidak." Hotaru tersenyum lega mendengar jawaban Yuki.
"Syukurlah. Yuki, aku punya sesuatu untukmu. Aku membuatnya," suara Hotaru tercekat kala merasakan beban tubuh Yuki di pundak dan lengan kirinya.
Hening.
Hotaru meneteskan cairan bening dari matanya. Secara perlahan kepalanya tertunduk ke bawah, menatap tangannya yang gemetar pelan.
Perasaan yang menumpuk-numpuk hingga sulit untuk di tahan membuat tangannya akhir-akhir ini bergetar saat berada di dekat saudari kembarnya. Ingin merengkuh tubuh Yuki, memeluknya erat, memberitahukan kepada kembarannya betapa ia sangat menyesal.
Hening.
Hotaru sibuk menenangkan diri. Ia lemah, ia lemah jika berurusan dengan Yuki yang sedang marah. Adiknya yang banyak nurut kepadanya, adiknya yang jarang sekali marah kepadanya, adiknya yang selalu menghargainya, adiknya yang. Hotaru menghentikan jeritan di dalam pikirannya dan melirik ke arah lengan kirinya.
Tangan Yuki menelusup masuk mencari tangan Hotaru dan mengaitkan jari-jari mereka.
Hotaru tidak bisa menyakiti Yuki lebih dari ini. Karena ia juga lah yang membuat hukuman Yuki aktif. Jika saja Hotaru tahu ada hukuman di dalam tubuh kembarannya ia tidak akan pernah meninggalkan Yuki. Dan memilih meminum penawar adiknya, menghadapi semua musuh bersama.
Hotaru menutup sebelah wajahnya dengan tangan. Merasakan rasa kecewa kepada diri sendiri.
"Aku merindukanmu. Sangat." Lirih Hotaru.
Hotaru merasakan tangannya di remas oleh Yuki. Kenapa dia sangat lemah?, semua yang ia yakini telah benar ia lakukan, ternyata tidak. Rencana kakeknya tidak berjalan lancar, yang ia pikir sedang melindungi Yuki, nyatanya saudari kembarnya itu mengalami penyerangan yang lebih mengerikan. Yang ia pikir harus menjaga jarak dengan adiknya untuk kebaikan sang adik, ternyata musuh sudah mengetahuinya.
Pengorbanan yang menguras darah, keringat, air mata itu berakhir sia-sia. Ia terlalu lemah, sangat lemah. Jika saja ia bisa menerobos pertahanan ibunya mungkin ia bisa mengorek sedikit informasi. Jika saja ia tahu bahwa semua rahasia ada pada ibunya mungkin Hotaru akan berusaha lebih keras melakukan yang terbaik untuk melindungi kembarannya. Jika saja.
"Hotaru."
Menyesal. Menyesal. Menyesal. Menyesal. Menyesal. Menyesal. Menyesal. Menyesal.
Satu kata itu terus berputar di dalam pikiran dan hati Hotaru.
"Hotaru!." Yuki meninggikan suaranya barulah mendapatkan atensi saudara kembarnya.
Mata mereka bertemu. Jika saja Yuki tidak ingat air matanya bisa melukai Hotaru ia sudah menangis lebih kencang dari saudara kembarnya. Air mata mereka adalah kelemahan masing-masing. Yuki sebenarnya tidak sanggup melihat Hotaru menangis, tidak pernah sanggup.
Saudara yang lebih tua dua menit darinya itu tidak pernah menangis bahkan di saat Hotaru kecil kesakitan karena melindunginya dari ledakan eksperimen yang Yuki kecil lakukan. Dari tuntutan kakek buyut, dari tekanan para keluarga terhormat, Yuki mengingatnya. Sedikit memori itu. Tapi jika mereka bertemu kembali setelah berpisah lama, Hotaru akan menangis.
Yuki melingkarkan tangannya yang lain ke leher Hotaru menariknya ke dalam pelukkan. Isakkan mulai terdengar di samping telinga Yuki. Gadis itu memutuskan akan menghadapi Hotaru, dan merahasiakan yang perlu di rahasiakan sampai waktunya tiba.
"Maafkan aku." Ucap Hotaru melepas tautan tangan mereka dan menarik tubuh Yuki ke dalam pelukkan yang lebih erat.
"Maafkan aku. Yuki maafkan aku." Yuki menelan salivanya kasar yang terasa sangat pahit.
"Maafkan aku. Aku menyesal. Maafkan aku. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Tidak akan pernah." Suara Hotaru bergetar hebat menyayat, mencabik-cabik hati Yuki.
"Sungguh Yuki. Jangan menghindariku lagi. Aku tidak sanggup. Aku tidak bisa lebih lama lagi menahan ini." Yuki menelan salivanya untuk yang ke sekian kali.
"Maafkan aku. Tolong maafkan aku." Pinta Hotaru.
Seperti ada yang menyumbat tenggorokan Yuki. Gadis itu ingin membalas ucapan Hotaru namun tak mampu, alhasil Yuki menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Hotaru.
Mereka cukup lama dalam posisi itu. Sangat lama seakan tidak ingin terpisah lagi. Hal itu mengingatkan keduanya akan kenangan di ruang tengah, di kursi piano setelah pertunjukan mereka.
"Yuki." Suara serak Hotaru karena terlalu banyak menangis menginterupsi Yuki.
"Maafkan aku." Lirihnya.
Yuki melepas pelukkan mereka menangkup wajah Hotaru dengan kedua tangannya. Terlihat jelas mata bengkak, wajah kusut, rambut berantakan. Ingatan Yuki melayang di saat ia baru bertemu Hotaru di markas Burhan.
Kamu tidak salah, Yuki menjawab Hotaru dalam hati. Mulutnya terkatup sangat rapat hingga sulit untuk di gerakkan.
Yuki mendekatkan wajahnya mencium pipi kiri Hotaru.
Aku lah yang seharusnya meminta maaf. Karena aku kamu menjalani penderitaan yang menyakitkan, lanjut Yuki mencium pipi kanan Hotaru.
Manik coklat terang itu bergetar, meneteskan kembali butiran bening dari matanya.
Semuanya berawal karena kesalahanku, maafkan aku Hotaru.
Yuki membalas tatapan manik coklat terang itu. Hotaru mendekatkan wajahnya, mengecup kening Yuki. Yuki menutup matanya. Mereka saling menumpahkan perasaan masing-masing.
Hotaru kembali memeluk Yuki.
"Ekhem!. Maaf mengganggu kalian." Hotaru menoleh tanpa melepaskan Yuki.
"Bukankah anda yang bersama Yuki malam itu?. Mizutani Tsubaki, pelindung yang keluar dari kediaman utama?." Ujar Hotaru baru mengingat tentang laki-laki yang dulu sering mengunjungi pandora menemui kakeknya, dan yang suka sekali memisahkan diri dari pelindung-pelindung yang lain.
"Anda benar waka (tuan muda)." Hotaru mengeratkan pelukkannya menatap Mizutani menyelidik.
Yuki terkejut. Sikap posesif Hotaru tiba-tiba muncul.
"Anda yang memberikan Yuki pil bunuh diri itu. Aku hampir saja kehilangannya." Mizutani membungkuk dalam.
"Jauhi Yuki. Jangan pernah berpikir membawanya pergi dariku." Ancam Hotaru, suaranya sangat rendah dan dalam, mengintimidasi Mizutani.
"Hotaru pil itu aku yang membuatnya." Kata Yuki. Hotaru semakin mengeratkan pelukkannya.
"Kenapa belum pergi?." Tanya Hotaru tajam. Mizutani masih setia dengan posisinya.
"Hotaru, Tsuttsun lah yang menjagaku selama tinggal di tokyo. Dia waliku di sini." Yuki berusaha melepas pelukkan kembarannya.
"Aku tidak lupa dia mau membawamu pergi dariku." Balas Hotaru tidak terganggu dengan Yuki yang menggeliat di dalam lengannya.
"Itu karena Tsuttsun berusaha menolongku dari hukuman sialan ini." Hotaru sontak menatap ke bawah, mencari manik biru kembarannya lalu.
Tuk.
Hotaru menyentil hidung Yuki.
"Masih suka mengumpat." Ucap Hotaru. Yuki tanpa sadar tersenyum kecil meski ada rasa sedih di sana.
"Jangan meminta maaf lagi. Bukan salahmu." Akhirnya Yuki dapat mengatakan itu dengan benar.
"Bukan, ini tetap salahku yang terlalu lemah." Ujar Hotaru.
"Kita bicara lagi nanti. Aku mau menemui Tsuttsun dulu, dia tidak akan menculikku tenang saja." Yuki melepas lembut pelukkan Hotaru.
"Aku ikut." Yuki menarik nafas pelan.
"Jangan mulai." Tegur Yuki membuat Hotaru tersenyum kaku.
Sret.
Hotaru menarik Yuki cepat ke dalam pelukkannya lagi. Hanya sekilas lalu melepasnya.
"Aku mengerti. Dan jangan menghindariku lagi." Hotaru berdiri menggenggam tangan Yuki tanpa mendengar jawaban gadis itu.
Hotaru berjalan menghampiri Mizutani, menatap pria yang masih membungkuk itu.
"Jangan macam-macam denganku. Aku agh." Hotaru melirik Yuki yang mendaratkan cubitan keras di lengannya.
"Jangan menyakiti dirimu." Sergah cepat Hotaru mengusap lengan Yuki tepat di tempat yang sama di mana gadis itu mendaratkan cubitan.
"Tsuttsun yang menjagaku. Nenek yang meminta kepadanya." Hotaru terdiam.
"Nenek?." Ulang Hotaru.
"Hm. Tsuttsun tolong berdiri." Ucap Yuki. Pria itu mengangkat tubuhnya.
"Nenek marah besar kepada ayah karena menyembunyikan fakta tentang penyakitmu. Tapi kenapa bisa nenek yang meminta Mizutani san menjagamu di sini?. Sedangkan aku di larang memasuki kediaman utama?. Apa lagi yang tidak aku ketahui?." Hotaru meremas tangan Yuki menatap dalam manik biru itu.
"Agh maaf. Tidak seharusnya aku mengatakan ini di depan orang lain." Hotaru tersadar bahwa Mizutani sudah lama keluar dari kediaman utama. Tanpa menyadari fakta yang sebenarnya.
Cup.
Hotaru mengecup pucuk kepala Yuki. Mengusapnya lembut.
"Sudah sangat malam. Langsung kembali ke asrama kalau sudah selesai." Ucap Hotaru. Yuki mengangguk pelan memeluk sekilas Hotaru.
Ya ampuunn!, batin Yuki baru tersadar setelah berdiri memeluk Hotaru.
Tingginya satu senti lebih tinggi dari pundak Hotaru padahal dulu tinggi Yuki sejajar dengan telinga kembarannya.
"Aku pergi dulu." Pamit Yuki melepas pelukkannya.
"Ung. Jang agh." Hotaru memutuskan tatapan tajamnya yang baru satu detik ia lemparkan kepada Mizutani.
"Yuki, jangan melukai dirimu." Hotaru mengusap pinggangnya.
"Bodo." Balas Yuki menggunakan bahasa indonesia.
"Tsuttsun ayo." Yuki berjalan meninggalkan Hotaru.
Syukurlah, batin Hotaru menatap punggung adiknya.
***
Akashi menghentikan sepeda motornya di pinggir jalan kosong yang penuh dengan pepohonan besar. Ia memasuki mobil jeep yang sudah menunggunya.
"Xiānshēng nǐ yào qù nǎlǐ? (Mau kemana tuan?)."
"Take me to the hotel (Antarkan aku ke hotel)."
Akashi melirik sepeda motor di belakangnya dari kaca spion mobil. Setelah mobil berjalan cukup jauh suara ledakan keras terdengar mengagetkan supir dadakan Akashi.
Dengan begini seharusnya sudah cukup untuk menghilangkan jejak, batin Akashi.
Sedangkan di negeri matahari terbit, Mizutani membawa Yuki meninggalkan sekolah. Mereka mendatangi markas cabang bayangan di tokyo.
"Ada apa Tsuttsun?." Tanya Yuki yang merasakan ada sesuatu yang terjadi.
"Kalau di sini tidak ada yang bisa menguping kita. Tunggu Dazai dan Ogura datang." Jawab Mizutani menarik kursi untuk Yuki. Kursi yang biasanya Mizutani tempati.
Tidak lama setelah itu Dazai dan Ogura datang bersamaan.
"Maaf membuat anda menunggu." Ucap Ogura.
"Tidak masalah kami juga baru sampai." Balas Yuki.
Dazai memberikan minuman kaleng rasa lemon kepada Yuki dan beberapa minuman lain kepada Mizutani dan Ogura.
"Apa kita mau makan bersama?." Yuki melirik tangan Ogura yang mengeluarkan beberapa buah dan makanan dari dalam plastik.
"Kita akan begadang di sini." Jawab Mizutani.
"Dai chan, cepat lakukan dan segera jelaskan padaku." Titah Yuki yang tidak sabar mendengar apa yang sedang terjadi. Dazai dan Ogura segera membereskan barang bawaan mereka dan segera duduk di kursi masing-masing.
"Baik jadi?." Yuki melirik Mizutani.
"Akashi ketahuan, ia sedang di kejar oleh Ayumi dono." Yuki membuka kaleng minumannya.
"Lalu?."
"Kemungkinannya sangat kecil Akashi bisa lolos, kemungkinan terburuknya kita kehilangan Akashi." Yuki yang hendak meminum minuman favoritnya itu berhenti mendadak.
"Apa maksudmu kehilangan Akashi?." Suara Yuki berubah dingin.
"Sangat kecil kemungkinan Akashi masih hidup dan lolos dari kejaran pewaris klan ojou chan." Dazai menjawab pertanyaan Yuki.
"Omong kosong." Ucap Yuki.
"Ojou sama," Yuki memotong Ogura.
"Bagaimana kamu bisa tahu?." Yuki melirik Mizutani.
"Akashi sempat memberikan sinyal darurat kepada kami. Sinyal yang hanya bisa dilakukan jika nyawa kami terancam. Untuk berjaga-jaga jika kami gugur saat bertugas." Jelas Mizutani melepas cincin di jari kelingkingnya.
Yuki menerima cincin itu mengamatinya dengan seksama. Warna hitam, polos terlihat biasa tanpa ukiran atau permata. Yuki akan mencari lebih lanjut nanti, yang terpenting sekarang adalah Akashi.
"Kami adalah sembilan warna. Cincin akan menyala sesuai warna orang yang mengirimkan sinyal." Jelas Mizutani.
"Je." Panggil Yuki mengembalikan cincin itu kepada Mizutani.
"Yuki, ada pergerakan pada BIN." Je juga melaporkan situasi yang tertangkap sinyalnya.
"Simpan itu Je, sekarang tunjukan keberadaan iblis." Perintah Yuki.
"Di konfirmasi."
Je menampilkan layar hologram seorang wanita berambut merah berjalan cepat di dalam kerumunan orang seraya melepas pakaian dan rambut palsu miliknya tanpa ada satu orang pun yang menyadarinya.
"Je, kamu bisa memutus sambungan listrik dan internet daerah sekitar?." Tanya Yuki.
"Tentu."
Yuki langsung mengeluarkan jam tangan dan melakukan sesuatu dengan jam tangan itu sampai membuat para bayangan terkejut.
Je langsung terkoneksi dengan jam tangan Yuki, layar hologram lain muncul dari jam tangan. Yuki membuat serangkaian sandi dengan simbol-simbol yang muncul dari jam tangan.
Tercipta tiga baris sandi di layar hologram jam lalu layar hologram Je berubah gelap.
Yuki langsung menempelkan ponselnya di telinga.
"Akashi san." Ketiga bayangan mendengarkan dengan khusyu.
"Keluar dari hotel di sana sekarang." Yuki melakukan sesuatu dengan ponselnya selama beberapa detik lalu menempelkannya lagi ke telinga.
"Pergi ke arah jam dua. Tunggu di tempat terbuka, aku sudah mengirimkan helikopter ke sana. Iblis itu sedang kehilangan jejakmu. Jangan lupa bakar ponselmu setelah ini." Yuki melakukan sesuatu dengan jam tangannya.
"Pergi ke kanada untuk sementara waktu sampai aku memberikan perintah selanjutnya." Yuki membuat garis dengan jarinya pada layar jam.
"Ung, hati-hati. Terima kasih sudah mengirimkan sinyal." Ujar Yuki lalu memutuskan hubungan.
"Yuki, BND jerman menyadari jaringan kita." Lapor Je.
"Pasang keamanan, tahan tiga puluh detik lagi." Titah Yuki.
"Di konfirmasi."
Gadis itu langsung berjalan menuju bengkel. Di sana ada komputer besar. Yuki segera tenggelam ke dalam tumpukan kode, ia memasukkan kode ciptaannya menyambungkan dengan jam tangan dan Je sekaligus. Je tidak akan kuat menahannya sendiri. Untunglah Yuki pernah mengotak-atik komputer di markas itu, jadi ia mudah melakukannya lagi.
"Yuki!. BIN berada di atas kita." Laporan Je membuat semua orang terkejut.
"Biarkan Je. Fokus dengan BND." Titah Yuki.
"Ojou sama." Yuki sangat fokus dengan pekerjaannya ia mengabaikan Ogura.
"Ojou chan." Yuki yang merasa terganggu mengerutkan keningnya.
"Hm?."
"Yuki. Chibi mengirimkan sinyal." Lapor Mizutani.
"Dia bersama Ame san bagaimana bisa?." Srobot Yuki, sepuluh jarinya masih sibuk.
"Mereka berada di atas kita, kemungkinan besar sedang melawan BIN. Kami menunggu perintah." Jawab Dazai lalu berlutut.
"Sial!, apa yang dilakukan BIN?. Dai chan siapkan ruang operasi di rumah sakit terdekat." Titah Yuki wajahnya mengeras.
Tidak akan aku biarkan ada yang gugur lagi, batin Yuki.