
Hotaru menuruni jalan yang cukup tinggi, kakinya berhenti mengayuh membiarkan sepedanya meluncur ke bawah. Angin kencang menerpa wajahnya ia menikmati sensasi sederhana itu.
Hotaru melirik sungai besar di sampingnya, suara air bergemericik menelusup memasuki gendang telinga, air yang jernih membuatnya bisa melihat dasar sungai dengan jelas, dua ekor kura-kura terlihat sedang bersantai di atas bebatuan. Hotaru kembali mengayuh sepedanya, atap rumahnya sudah terlihat.
Setelah melewati tiga rumah yang berdiri berdekatan lalu sebuah ladang cukup besar kemungkinan milik ke tiga keluarga itu dan yang terakhir Hotaru melewati persawahan cukup panjang pula barulah ia sampai di rumah barunya.
Tak!.
Hotaru menstandarkan sepedanya ia melangkah memasuki rumah.
"Tadaima!." Ucapnya seraya melepas sepatu.
"Okaeri!." Seru Takehara dari arah dapur.
Hotaru masuk ke dalam kamar meletakan tas mengambil handuk dan baju lalu berjalan ke kamar mandi.
Hotaru menatap pantulan wajahnya di cermin, rambut bagian depannya yang basah setelah mencuci muka, jakun yang terlihat menonjol dari sebelumnya. Hotaru memiringkan tubuhnya ke kiri, melihat tato kecil di pangkal lengan kanannya yang agak ke belakang itu, mengingat saat-saat tato itu di ukir, bola mata Hotaru beralih melirik belakang tubuhnya yang terpantul di cermin.
Setelah puas dengan cermin Hotaru berjalan mendekati shower membiarkan seluruh tubuhnya di guyur air hangat.
"Kamu belum mengeringkan rambutmu?" Tanya Takehara mendapati Hotaru duduk di kursi dengan rambut yang masih terlihat agak basah.
"Nanti juga kering sendiri." Jawab Hotaru menunggu makanan selesai di siapkan.
"Bagaimana dengan klub voli, apa menyenangkan?." Takehara meletakan mangkok nasi di depan Hotaru.
"Ya."
Jawaban singkat Hotaru membuat wanita berusia dua puluh satu tahun itu melirik Hotaru dari tempat duduknya. Hotaru menangkupkan kedua tangan menunduk sejenak lalu meraih sumpitnya bersiap untuk makan.
"Rin." Takehara dibuat terkejut oleh Hotaru.
"Aku mengerti kita sedang dalam sandiwara tapi aku tidak ingin merubah apa pun." Hotaru memasukan nasi ke dalam mulutnya.
"Kamu tetaplah Rin yang dulu, aku akan memanggilmu seperti itu, tidak ada yang berubah." Lanjut Hotaru, senyum kecil tergaris di bibir Takehara.
"Jangan terlalu kaku dengan keadaan yang sedang kita hadapi."
Takehara kembali menikmati makan malamnya. Keheningan menjalari meja makan sederhana itu.
Itu seperti anda sedang mengingatkan kepada saya kembali akan posisi saya sebagai salah satu penjaga, menegur sikap saya agar tidak melewati batas, batin Takehara.
"Malam ini ada tempat yang ingin aku kunjungi, kamu bisa berlatih sendiri." Takehara menyelesaikan makan malamnya begitu pun dengan Hotaru.
"Apa ada masalah?." Tanya Hotaru.
"Tidak, hanya ada sesuatu yang ingin aku pastikan." Jawab Takehara.
"Ung, biar aku yang mencuci piring." Ujar Hotaru berdiri seraya merapihkan piring-piring kotor mereka.
"Tidak, ini pekerjaan saya."
Takehara mengambil alih piring dan benda-benda lainnya dari Hotaru, membawa semua piring kotor ke wastafel mencucinya.
Hotaru berjalan menghampiri Takehara dengan handuk kecil di tangannya, ia berdiri di samping wanita itu tangannya mulai mengelap piring yang sudah di cuci.
"Apa kamu membenci Ayumi dono sekarang." Ucap Takehara tanpa mengalihkan perhatiannya dari piring-piring kotor.
"Aku tidak bisa membenci wanita yang sudah berjuang melahirkanku." Hotaru menata piring dan mangkok yang ia keringkan dengan rapih.
"Bagaimana dengan takdirmu?."
"Tidak ada gunanya menyalahkan takdir, aku harus tetap berjalan ke depan." Takehara memberikan sumpit yang ia cuci kepada Hotaru yang di terima oleh pemuda itu.
"Yuki yang mengajariku." Imbuh Hotaru.
"Apa yang kamu pikirkan tentang perubahan ojou chan?." Takehara menyinggung tentang Yuki yang baru setelah mereka berpisah sangat lama.
"Takut." Takehara terdiam. Hotaru yang melihat itu melanjutkan kalimatnya.
"Dia adalah saudari kembarku tapi seperti bukan saudari yang aku kenal, banyak yang tidak aku ketahui tentangnya. Tapi beberapa sifatnya masih adiku yang aku kenal. Aku sangat takut, terkadang dia terasa jauh. Aku benci ketika aku tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan." Hotaru melipat handuk di tangannya.
"Sifat Yuki yang dulu selalu mengandalkanku, dia akan mengeluarkan semua isi pikirannya dan menungguku untuk memberi keputusan, dia akan berlari kepadaku jika ada sesuatu yang membuatnya sedih, dia akan meminta perlindunganku jika kakek atau ayah menyuruhnya memakan sayuran." Hotaru menarik nafas perlahan.
"Yukiku yang manja, dengan banyak ide menarik di kepalanya, Yukiku yang selalu tersenyum dan mudah menangis, Yukiku yang selalu ceria. Sudah tidak ada." Hotaru menekankan kalimat terakhirnya seraya menoleh ke samping. Takehara tetap bergeming di tempatnya.
"Meskipun ibu dan ayah yang membuatnya menjadi seperti itu tapi aku yakin, ada sesuatu yang tidak aku ketahui telah terjadi jauh sebelum semua ini menjadi rumit." Setelah mengatakan semua yang ingin ia keluarkan Hotaru membalikan badannya berjalan kembali ke kamar.
Ceklek.
Terdengar suara pintu yang terbuka lalu tertutup kembali. Rin sudah pergi, kenapa Eiji belum juga menghubungiku?, batin Hotaru berjalan ke ruang tengah dengan ponsel di tangannya.
Hotaru membuka jendela besar itu, berjalan ke halaman samping rumah melakukan pemanasan.
Hotaru perlahan menutup kedua matanya mengingat kembali semua yang pernah kakeknya ajarkan, perlahan tangan dan kaki Hotaru bergerak melakukan gerakan dasar, lalu beralih ke pukulan, tendangan, mengulang satu demi satu tanpa ada yang tertinggal.
Dan terakhir gerakan berpedang, tangan dan jarinya bergerak seakan sedang memutar pedang lalu mengayunkannya ke depan dengan cepat.
"Sshhuuu ... "
Prok. Prok. Prok.
Suara siulan dan tepuk tangan membuat Hotaru menghentikan kegiatannya. Ia mendapati Fumio dan Yamazaki sedang menatapnya penuh kagum dengan senyum yang terlukis di wajah mereka.
"Bahkan sudah puluhan tahun berlalu, kemampuan anda tidak berkurang sama sekali tuan muda." Ucap Yamazaki mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali.
"Apa kamu selalu berlatih sendiri seperti ini?." Hotaru mengelap keringatnya dengan punggung tangan.
"Siapa yang bisa aku ajak berlatih kalau bukan dengan angin kosong." Hotaru memutar jarinya di udara.
"Hahaha, aku bisa saja menemanimu tapi ada yang lebih penting lagi." Yamazaki dan Fumio berjalan masuk ke dalam rumah, melewati jendela besar ruang tengah yang terbuka.
"Kita akan bicara di rumahku?, kalau nanti Rin pulang bagaimana?." Tanya Hotaru segera mengikuti mereka.
"Ooh .., ini rumah baru anda. Lumayan." Komentar Yamazaki.
"Kalian tinggal berdua di rumah besar ini, tidak terjadi apa-apa bukan?." Hotaru mengerutkan dahinya mendengar ucapan Fumio.
"Apa yang kamu harapkan dari tuan muda." Sahut Yamazaki membuat Hotaru bertambah kesal.
"Kamu benar Takeru san, Hotaru terlalu sibuk dengan adiknya mana mungkin dia punya waktu untuk perempuan lain." Balas Fumio.
BRAK!.
Hotaru yang kesal menutup jendela dengan kasar, tangannya mengunci jendela dan beralih menatap kedua tamunya.
"Jadi .., sudah selesai meledekku tuan-tuan?." Yamazaki dan Fumio mengacuhkan Hotaru begitu saja.
"Aaa .. rgh, padahal lagi asik-asiknya." Celetuk Yamazaki berjalan ke arah dapur.
"Aku masih ragu kalau tidak ada hantu yang menghasut penghuni rumah ini." Ucap Fumio seraya berjalan ke pintu depan.
Jika Yamazaki dengan Fumio sudah bekerja sama untuk menggodanya tidak ada yang bisa menghentikan mereka kecuali Yuki, lebih parahnya lagi kalau Yuki pun ikut bergabung dengan mereka untuk menyerangnya.
Hotaru melihat Fumio yang sedang mengunci pintu ia juga melihat Yamazaki keluar dari dalam kamar kosong. Fumio menunjuk kamar Hotaru menatap pemilik kamar yang bingung namun menganggukkan kepalanya itu. Fumio segera masuk ke dalam.
Hotaru terkejut karena tiba-tiba Yamazaki masuk ke dalam kamar Takehara.
"Apa ini sidak dadakan tuan-tuan?." Tanya Hotaru sedikit meninggikan suaranya.
"Ya, kita harus berhati-hati." Jawab Fumio yang baru keluar dari kamar Hotaru.
"Kalau Rin pulang bisa mati aku, dia pasti menghukumku tanpa ampun." Protes Hotaru.
"Dia tidak akan pulang sampai tengah malam nanti." Ucap Fumio menyusul Yamazaki memasuki kamar Takehara.
"Apa kalian juga harus masuk ke sana?." Hotaru mengikuti Fumio dari belakang.
Hotaru mendapati Yamazaki sedang memeriksa semua barang-barang yang ada di dalam kamar itu, bahkan Fumio ikut bergabung meneliti setiap inci dinding. Hotaru hanya diam memperhatikan mereka.
"Baiklah aku paham sekarang." Ucap Hotaru bersandar ke pinggir pintu kamar.
"Kalian mengalihkan perhatian Rin untuk meninggalkan rumah, dan menyelidikinya secara diam-diam." Tebak Hotaru yang seratus persen tepat.
"Bahkan aku jamin Rin tidak akan sadar kita berada di kamarnya saat ini." Yamazaki menarik sudut bibirnya tersenyum sinis.
"Kamu terlihat seperti seorang penjahat Takeru san." Ucap Fumio yang melihat raut wajah Yamazaki.
"Seharusnya Rin tidak lupa siapa yang mengajarinya bermain dengan pikiran dan emosi." Celetuk Yamazaki berdiri tegak, sepertinya laki-laki itu sudah selesai dengan kegiatannya.
"Kalau tidak salah yang mengajarinya Hiro san?." Sergah Fumio mengingat fakta itu.
"Benar, karena itu. Aku meminta Fumihiro untuk melakukan sesuatu dengan Rin malam ini." Fumio dan Hotaru sontak menatap tidak percaya dengan apa yang dikatakan pria paruh baya itu.
"Bukannya Rin sedang tidak akur dengan kakaknya." Fumio mengangguk setuju dengan pernyataan Hotaru.
"Kita bicara di dapur, Eiji kun apa kamu sudah mengunci semua jendela dan pintu depan?." Yamazaki menatap Fumio yang berdiri tidak jauh darinya.
"Sudah."
"Mari kita uraikan semua benang kusut ini." Ucap Yamazaki berjalan melewati Hotaru dengan senyum sumringah.
Di dapur Yamazaki duduk di ujung meja, Fumio duduk di sebelah kanan, sedangkan Hotaru di sebelah kiri. Hotaru membawa bolpoin dan kertas berisi garis-garis acak miliknya.
"Kita mulai dari mana?." Tanya Yamazaki.
"Banyak di antara kita yang tidak mengetahui informasi penting masing-masing." Sambung Hotaru.
"Benar, karena tuan besar yang melarang anda dan ojou chan untuk menghubungi kami semua yang berada di sini." Fumio mengangguk setuju dengan Yamazaki.
"Baiklah, apa yang kalian ketahui setelah aku dan kakek, nenek, pergi dari sini?." Tanya Hotaru.
"Semuanya, tentangmu yang di bawa oleh mereka, sampai kamu yang berhasil melarikan diri." Hotaru menggerakan tangannya di atas kertas.
"Kamu sudah mengunjungi makam tuan besar?." Tanya Fumio lirih. Hotaru menggeleng pelan.
"Aku belum pantas bertemu dengannya." Jawab Hotaru, Fumio dan Yamazaki mengerti akan keputusan Hotaru yang belum mengunjungi makam kakeknya.
"Apa kalian juga tahu semua dokumen tentangku dan Yuki di hilangkan?." Tanya Hotaru.
"Tentu saja, mereka tidak hilang. Semuanya ada di rumahku." Hotaru menatap dalam manik sahabatnya.
"Semuanya Hotaru." Tandas Fumio menegaskan, Hotaru tersenyum kecil.
"Lalu apa lagi?."
"Tidak ada, bahkan kami tidak tahu apa yang mereka lakukan terhadapmu selama penculikan itu." Jawab Fumio.
"Begini, pengalihan kakek sangat sukses. Mereka benar-benar mengira aku yang memecahkan kegunaan benda temuan kakek, mereka memaksaku untuk membuat racun seperti yang mereka inginkan." Hotaru melihat raut wajah Fumio.
"Ya, aku menolak mereka. Tapi sebagai gantinya mereka memukuliku bahkan tidak segan-segan untuk mencambuk punggungku seperti se ekor kuda." Fumio dan Yamazaki membeku di kursi mereka.
Tangan Fumio mengepal keras, tidak di sangka bahkan Yamazaki yang berusia tidak muda lagi menitihkan air matanya.
"Aku tahu apa yang kalian pikirkan, untuk mengurangi lukaku aku menuruti mereka. Berusaha mengelabui dengan banyak membuat racun-racun gagal, selang dua tahun mereka mulai marah kepadaku karena tidak pernah berhasil. Mereka mulai menyiksaku dengan pisau." Yamazaki memijat kepalanya dengan masih meneteskan air mata.
"Ojou chan." Lirih Yamazaki yang terdengar oleh Fumio dan Hotaru.
"Aku tahu, karena itu aku mulai membuatnya terlihat berhasil namun masih belum siap di gunakan agar mereka berhenti menyiksaku." Imbuh Hotaru. Fumio menggeleng pelan.
"Informasi dari nyonya besar tidak ada yang menceritakan keadaanmu saat itu." Fumio angkat bicara.
"Karena aku tidak menceritakan kepadanya."
"Aku mengkhawatirkan ojou chan, semenjak anda di bawa oleh mereka nyonya besar memberitahukan kepada kami bahwa beliau menjaga jarak dengan ojou chan, khawatir jika masih ada yang mengintai rumahnya. Hanya dua kali ojou chan bertemu dengan nyonya, saat usianya sepuluh tahun dan saat ojou chan mencari kebenaran tentang anda." Yamazaki menghapus air matanya menatap Hotaru lembut.
"Daren dono sangat sibuk mengurus perusahaan bahkan tidak jarang setahun sekali beliau baru pulang, Ayumi dono yang masih terpukul sering pergi ke luar negeri. Yang membuatku sangat sedih adalah, Daren dono dan Ayumi dono tidak ada di samping ojou chan saat merasakan sakit yang anda terima tuan muda." Hotaru tercekat.
Benar, kenapa aku tidak pernah terpikirkan akan hal itu, batin Hotaru.
Fumio merasa sangat khawatir dengan sahabatnya.
"Hotaru." Panggil Fumio menarik perhatian pemuda yang duduk di depannya.
"Aku juga sangat sedih mengetahui fakta Yuki tapi kamu juga tidak bisa menyalahkan diri sendiri. Keadaanmu saat itu tidak lebih baik darinya." Kalimat Fumio telak menghantam hati Hotaru.
"Benar, maafkan aku tuan muda, aku terlalu fokus dengan ojou chan. Gadis kecil itu akan sangat ketakutan jika anda terluka." Tambah Yamazaki menunduk hormat.
"Tidak apa-apa Takkecchan, jangan seperti ini, angkat kepalamu." Yamazaki menurut ia mengangkat kepalanya perlahan.
"Kejadian itu terus berulang, semakin lama mereka membuat tubuhku menjadi kelinci percobaan untuk menguji racun yang aku buat." Lanjut Hotaru.
"Biad*b!." Geram Yamazaki. Fumio sudah siap dengan semua cerita mengerikan yang akan dia dengar ia berusaha mengolah emosinya.
"Sampai Yuki menyelinap masuk untuk mencariku dan membawaku keluar dari sana." Yamazaki tertegun begitu juga dengan Fumio.
"Ojou chan?!." Ucap Yamazaki tidak percaya.
"Dia melakukannya?." Tanya Fumio tidak kalah terkejutnya.
"Ung, adikku yang manja dan tidak suka berlatih di dojo itu mempermainkan mereka dengan mudahnya." Hotaru tersenyum geli mengingat kejadian di malam Yuki memasuki kamarnya tanpa permisi.
"Apa anda tidak salah orang?." Tanya Yamazaki masih tidak percaya.
"Gadis imut, lucu, menggemaskan, yang sangat suka belajar dan bermain itu benar-benar menyelamatkan anda?." Hotaru mengangguk mantap.
"Tidak dapat di percaya." Ucap Yamazaki mengingat betapa lembutnya nona mudanya, selalu tersenyum setiap bertemu dengan pengawal, pelayan, dan orang yang ia temui. Akan kabur jika tuan besar mengajaknya berlatih bela diri, selalu mengusik dirinya di laboratorium melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya penasaran, selalu meniru sikap nyonya tetua, menghabiskan waktu untuk bermain dengan Eiji dan tuan muda, ingatan itu terus berputar-putar di dalam kepala Yamazaki.
"Yuki sudah berubah, kalian tidak akan menemukan Yuki yang dulu pada Yuki yang sekarang." Suara Hotaru memecah keheningan yang tiba-tiba terjadi.