Futago

Futago
Fumio Isamu.



Keluar dari mobil Yuki di sambut oleh banyak orang. Maniknya mengedarkan pandangan. Beberapa mobil terparkir rapi. Dengan langkah khasnya Yuki memasuki kediaman utama.


"Ah, Yuki. Kamu sudah pulang." Suara Lusi menginterupsi gadis itu.


"Ojou sama anda sudah di tunggu." Pelayan Lusi membungkuk di depan gadis itu.


Ada apa sekarang, batin Yuki. Ia berjalan ke salah satu ruangan menghampiri panggilan Lusi. Yuki melihat ayahnya duduk di salah satu kursi, ada Hotaru dan beberapa pasangan suami istri.


"Kemarilah nak, duduk di samping nenek." Yuki dengan patuh duduk di sebelah Lusi.


"Waah, anda tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik ojou chan." Yuki langsung memasang wajahnya seramah mungkin, pelajaran yang selalu di tekankan oleh Daren saat bertemu dengan klien perusahaan.


"Anda terlalu berlebihan nyonya. Nyonya juga sangat cantik." Balas Yuki.


Hotaru terkejut dengan balasan saudari kembarnya. Ia yakin saat masuk tadi Yuki dalam mood yang buruk dan sekarang tiba-tiba berubah sangat cepat.


Daren di kursinya tetap kalem. Lusi mengambil alih pembicaraan.


"Karena kamu sudah ada di sini, mereka adalah salah satu keluarga terhormat di klan. Morioka san dan Watabe san." Yuki membungkuk sopan memberikan salam.


"Mereka mewakili keluarga terhormat yang lain datang kemari untuk mendengarkan keputusanmu. Nenek menerima pemilihan ulang calon tunanganmu. Berhubung kamu baru kembali, pemilihannya akan di lakukan di musim gugur nanti." Jelas Lusi.


Yuki memperhatikan wajah-wajah di hadapannya yang terlihat sangat berharap kepada dirinya.


"Nenek, maaf. Tapi janji antara kakek dan Fumio san tidak bisa di rusak begitu saja. Saya keberatan dengan keputusan ini." Ketegasan Hotaru membuat ruangan pertemuan menjadi tegang.


Daren memecah keheningan dengan suaranya.


"Saya paham, para keluarga terhormat merasakan keanehan yang terjadi antara Yuki dan Eiji, dan menginginkan yang terbaik untuk putri saya. Saya merasa tersentuh karena itu." Kedua keluarga tersenyum mendengar jawaban Daren. Mereka mendapat lampu hijau.


"Tapi kita coba dengarkan pendapat putri saya." Hotaru langsung melirik Yuki. Begitu juga yang lainnya.


Gadis itu memasang senyum manis yang di buat sedemikian rupa.


"Terima kasih untuk perhatian semua orang kepada saya. Boleh saya bertanya?." Ucap Yuki.


"Silahkan ojou chan." Balas kepala keluarga Morioka.


"Apakah kalian juga mengetahui situasi dan kondisi klan saat ini?." Semua orang di buat terkejut kecuali Daren dan Lusi yang sudah menebak penolakan halus dari gadis itu.


"Ya, klan sedang menghadapi musuh yang sebenarnya." Jawab kepala keluarga Watabe.


"Benar sekali. Menurut saya hal yang terpenting kita pikirkan untuk saat ini adalah, bagaimana menghadapi mereka. Saya ingin fokus dengan masalah yang sudah jelas berada di depan mata. Terima kasih." Yuki mengakhirinya dengan senyuman menawan.


"Kalian sudah mendapatkan jawabannya, kita lanjutkan di pertemuan selanjutnya." Lusi menutup pertemuan itu.


"Baik kami mengerti, mari kita bicarakan di pertemuan selanjutnya."


Mereka beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Raut wajah Yuki kembali datar, ia dengan kesal berlalu pergi begitu saja.


"Yuki!." Teriak Hotaru berlari mengejar kembarannya.


Calon tunangan?, keluarga terhormat?, pemilihan?. Kenapa hidupku serunyam ini?, kenapa mereka tidak bisa membiarkanku tenang?. Sial!, aku tahu percuma saja menggerutu tapi perasaan menyebalkan ini memaksaku, in. Gerutuan Yuki dalam hati terhenti karena Hotaru.


Wooosshh ...


Grep!.


Yuki diam, ia lengah karena terlalu sibuk bertengkar dengan pikirannya.


Hotaru memeluk erat Yuki dari belakang. Hotaru tahu kebingungan yang kembarannya rasakan.


"Jangan di pikirkan." Ucap Hotaru. Untuk beberapa detik Yuki terlena dengan perasaannya sendiri yang merasa nyaman di dalam pelukkan Hotaru.


Dengan gerakkan halus Yuki menepis kedua lengan besar saudara kembarnya. Ia berbalik seraya mengeluarkan pisau bolpoinnya.


Sret.


Hotaru menatap Yuki, mengabaikan benda tajam di lehernya.


"Jangan seperti ini hm?." Hotaru menatap dalam manik biru itu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf, aku tahu aku salah." Hotaru perlahan mengangkat tangannya.


"Aku sangat merindukanmu. Tidak bisakah kita baikan?." Yuki menepis dengan cepat tangan Hotaru yang mendekati wajahnya.


Perlakuan Yuki kepadanya sangat mengiris hati Hotaru, ia tidak tahan, rasanya sangat sakit. Saudara kembarmu sendiri bersikap sangat dingin seperti ini. Setetes air mata lolos membasahi pipinya di susul oleh air mata yang lain.


Sret.


Tap. Tap. Tap. Tap.


Yuki menarik tangannya dengan cepat dan berlari menjauh.


Maaf Hotaru, maaf, batin Yuki. Ia mencengkeram dadanya, tersengal-sengal meraup udara sebanyak mungkin.


Di ujung lorong Yuki melihat dua pelayannya. Yuki berhenti mendadak, ia menepuk-nepuk pelan dadanya seraya menghembuskan nafas perlahan. Kakinya melangkah mendekati mereka.


"Apa di sini ada kolam renang?." Tanya Yuki.


"Ojou sama?!. Selamat datang kembali." Kata mereka membungkuk terkejut.


"Tidak perlu melakukannya. Apa di sini ada kolam renang?." Ulang Yuki.


"Mungkin bukan kolam renang, tapi mirip dengan itu." Jawab salah satu pelayan.


"Tolong antarkan aku ke sana."


Cukup jauh mereka berjalan sampai kepada sebuah kolam besar berbentuk bulat dengan patung putri duyung memegang kerang yang mengeluarkan air.


"Tetua cukup sering berenang atau hanya berendam di kolam ini dulu." Jelas pelayan.


"Tolong simpan barang-barangku." Ucap Yuki memberikan ponsel, dompet, dan barang-barang yang ada di dalam saku atau pun yang melekat di tubuhnya.


"Anda mau berenang ojou sama?. Langit terlihat mendung." Yuki mendongak sebentar.


"Waktu yang pas." Ujar Yuki berjalan mendekati kolam.


"Ojou sama baju anda."


BYUUURRR.


Pelayan di buat bungkam oleh aksi Yuki. Biasanya anak-anak orang kaya suka sekali memamerkan kulit mereka sebanyak mungkin tapi nona muda mereka sepertinya pengecualian. Bahkan saat berenang pun masih memakai pakaian lengkap tanpa melepas satu helai pun.


Guntur membelah langit, rintikan hujan semakin deras jatuh ke bumi. Yuki dengan tenang menyelam ke dalam kolam yang cukup dalam ketimbang kolam pada umumnya. Ia mendinginkan kepalanya, menata kembali mana yang penting dan mana yang dapat ia pikirkan nanti. Menenangkan hati dan perasaannya yang kacau tanpa ia tahu alasannya.


Apa aku dulu menyukai orang itu?, kami hanya anak-anak. Perasaan anak-anak tidak bisa dianggap serius bukan?, apa aku salah?. Perasaanku kepada kak Dimas masih sama, benarkan?. Apa ada yang bisa memberitahuku apa yang sedang terjadi kepadaku sekarang?, pikir Yuki.


Ia bersemedi di dalam kolam yang di guyur hujan.


***


Banyak yang terjadi setelah Yuki kembali ke kediaman utama. Gadis itu juga diam-diam menggunakan lab dan ruang penelitian kakeknya yang jauh lebih lengkap dan canggih dari ruang rahasianya. Diam-diam Yuki juga sering menyelinap pergi ke markas rahasia bayangan lewat jalan rahasia di kamarnya di pandora untuk berlatih dengan kakek Ryuu.


Dazai dan Mizutani setelah malam penobatan kembali ke tokyo. Tidak terasa sudah lima bulan Yuki tinggal di kediaman utama. Rumahnya yang terasa asing baginya.


Selain itu di sekolah barunya Yuki sadar banyak yang membencinya. Seperti sekarang, sekolompok tikus sedang menggosipkannya dengan mencaci makinya. Yuki dengan santai berjalan di depan kelompok itu. Teman?, Yuki tidak memiliki satu pun. Ia tidak berniat membuang waktu untuk mencari teman.


"Aa aarggh, suara lalat di sini berisik sekali." Gaho sengaja mengeraskan volume bicaranya lalu berjalan menyusul Yuki.


"Kenapa diam saja?. Aku bisa membuat mereka diam." Celetuk Gaho.


"Cukup buang sampah sendiri, jangan mengurusi sampah orang lain." Balasan Yuki selalu di luar dugaan Gaho. Pemuda itu tertawa terbahak-bahak.


"Maaf mengecewakanmu tapi aku tidak memiliki sampah seperti mereka." Jawab Gaho.


"Syukurlah, tidak akan ada yang berteriak bahagia saat kamu berhasil bunuh diri." Gaho terdiam, melirik Yuki di sampingnya.


"Benarkah." Yuki menghentikan langkahnya.


"Sebentar lagi bel istirahat selesai mau sampai kapan kamu mengikutiku?." Manik birunya melirik Gaho.


"Sampai kamu masuk ke dalam kelas." Jawab Gaho.


"Sekarang pergilah." Usir Yuki memasuki kelasnya. Gaho tersenyum dengan sikap Yuki. Ia berjalan menuju kelasnya yang berlawanan arah.


Yuki berhenti di samping mejanya. Maniknya membaca coretan-coretan yang memenuhi meja. Ia tersenyum miring lalu mengedarkan pandangan ke seisi kelas.


"Hahaha, kita berhasil melaju ke tingkat nasional. Atsushi senpai sampai mengumpat padaku." Hotaru membuang kardus minumannya ke tempat sampah.


"Kamp pelatihan minggu depan. Kita akan bertemu dengan anak-anak kota." Dua sahabat itu berjalan seraya membicarakan klub voli.


"Beberapa sudah kita kalahkan bukan, di latih tanding bulan lalu." Hotaru mengingat nama sekolah-sekolah itu.


"Ya. Dan aku dengar tuan rumah kamp pelatihan nanti memiliki spiker nomor satu di seluruh jepang." Ujar Fumio.


"Heee ... Apa kamu takut Eiji." Goda Hotaru.


Srek. Fumio membuka pintu.


"Jangan bercanda." Balasnya dengan senyuman meremehkan.


"Hahaha kau ini." Sret. Hotaru melingkarkan lengannya di leher Fumio menarik sahabatnya mendekat. Dan saat itu.


BRAK!.


Hotaru, Fumio, dan seluruh kelas terdiam. Hotaru melihat Yuki membelah mejanya dengan satu kaki. Lalu adiknya itu memasukkan kakinya ke dalam kaki kursi menatap salah satu siswa yang duduk di barisan samping agak ke belakang.


Perasaan Hotaru tidak enak, ia melepas rengkuhannya pada leher Fumio. Yuki menunjuk siswa itu lalu menekuk telunjuknya menyuruh siswa itu menunduk. Seperti terkena sihir, siswa itu mengikuti gerakkan tangan Yuki.


"Eiji." Lirih Hotaru.


"Aku tahu." Mereka mencari siapa sasaran Yuki.


Yuki dengan entengnya mengangkat satu kakinya hingga meja yang tinggal separuh itu melayang di udara. Dan.


Wooosshh.


Wooosshh.


"Yuki!."


SRUUUAAAKKK!.


BRRAAAKKK!.


Hotaru mengerem kakinya di belakang Yuki. Menatap Fumio yang melindungi seorang siswi dengan punggungnya, menerima lemparan meja Yuki. Seragamnya bahkan sampai robek. Sebelum sempat Hotaru menghentikan kembarannya Yuki sudah lebih dulu melangkah mendekati siswi itu.


Tap!. Tap!. Tap!.


"Kamu tidak apa-apa?, Hana?." Tanya Fumio sedikit mundur untuk melihat wajah teman satu kelasnya.


Hana yang sejak tadi sudah ketakutan melihat Yuki membelah bangku dengan kakinya menatap Fumio memelas dan terharu pemuda itu melindungi dirinya dengan tubuh kekarnya.


"Ung, terima kasih kamu sudah menolongku." Ucap Hana dengan suara sok manisnya.


"Fumio kun, Hachibara san berniat membunuhku. Uhuk!." Hana terkejut sebuah tas berat yang sangat kotor di lempar mengenai tubuhnya. Ia menatap nyalang si pelaku yang melempar.


"Ada masalah?. Aku sedang mengumpulkan sampah-sampahku bersama sampah kelas ini." Ucap Yuki tajam.


Hana menyingkirkan tas Yuki dengan kasar ke lantai membuat isi tas berhamburan. Fumio melebarkan matanya melihat isi tas yang tidak manusiawi. Sampah-sampah kelas semuanya di masukkan ke dalam tas Yuki.


Hotaru mendekati Yuki dari belakang.


Brak.


Hana menggebrak mejanya berdiri menantang di depan gadis bermanik biru itu.


"Jangan menuduh sembarangan!." Geram Hana melayangkan tamparannya ke pipi Yuki.


Pak!.


Yuki menampar pergelangan bagian dalam Hana dengan punggung tangannya.


"Aku sudah berjanji tidak membiarkan orang lain menamparku lagi." Hana tertawa sarkas setelah meringis kesakitan memegang pergelangannya.


"Perempuan sombong sepertimu sebaiknya mati saja!." Jerit Hana.


Hotaru melebarkan matanya tidak terima. Ia hendak ikut campur namun aksi Yuki membuatnya bengong.


Yuki dengan santainya meraih dasi Fumio membuat pemuda itu membeku, dan menariknya mendekat. Hidung Fumio sangat dekat dengan pipi Yuki.


"Kamu mengotori mejaku dengan kalimat menjijikan karena orang ini?, kamu mengotori tasku karena orang ini?, kamu juga yang memasukkan paku-paku di loker sepatuku karena orang ini, kamu membullyku karena orang ini." Ucap Yuki tidak melepaskan pandangannya dari Hana.


Hana panas dingin melihat jarak wajah Fumio yang sangat dekat dengan wajah Yuki.


"Jauhkan wajahmu dari Fumio kun. Kau tidak pantas dekat dengannya!." Hana mencoba meraih lengan Fumio untuk menariknya menjauh.


Sret!.


Yuki menarik dasi Fumio lagi membuat laki-laki itu semakin dekat dengannya. Yuki menoleh menatap Fumio. Hotaru menahan senyum melihat wajah adik dan sahabatnya yang sangat dekat.


Fumio diam tapi tidak dengan jantungnya. Nafas panas Yuki sangat jelas terasa di permukaan kulitnya. Bahkan jika ia menggerakkan sedikit saja wajahnya bibir mereka dapat bersentuhan.


"Selesaikan masalah kalian." Lirih Yuki lalu melepaskan dasi Fumio begitu saja.


"Aku tunggu di ruangan kepala sekolah." Ucap Yuki tajam menatap lurus manik Hana.


Yuki keluar dari pintu belakang melewati Gaho yang tersenyum kepadanya. Yuki tidak menyadari bahwa aksinya di lihat oleh anak-anak kelas lain.


***


"Senpai." Yuki melirik Sayuri.


"Ada apa?." Yuki melanjutkan melipat handuk bersih yang akan di gunakan oleh para pemain.


"Aku melihat nama senpai dan waka (tuan muda) berada di urutan pertama." Celoteh Sayuri.


"Itu hanya angka." Balas Yuki.


"Tidak senpai, berarti nilai-nilai ujian kalian tidak ada yang salah."


"Bagaimana dengan nilaimu?." Yuki mengangkat handuk-handuk itu membawanya ke lapangan.


"Tidak buruk." Jawab Sayuri membawa separuh handuk di tangannya.


Yuki berhenti membuat Sayuri hampir menabraknya. Sayuri menjulurkan kepala mengintip apa yang membuat Yuki berhenti.


Aoki menatap Yuki dengan wajah di tekuk.


"Ada yang ingin kamu katakan?." Tanya Yuki.


"Tidak, maaf sudah menghalangi jalan senpai." Jawab Aoki.


"Hm." Yuki melewati gadis itu melanjutkan tugasnya. Dari belakang Yuki mendengar suara Fumio.


"Aoki chan, bisa lambungkan bola untuk kami?."


"Baik senpai."


Sayuri melirik Yuki yang terlihat tidak terganggu.


"Apa kamu juga menyukainya?." Tiba-tiba Yuki bertanya.


"Eh!?, siapa?."


"Kamu tahu siapa yang aku maksud." Jelas Yuki.


"Tidak ojo, senpai. Aku hanya menyukai senpai." Pernyataan tiba-tiba yang aneh membuat Yuki menghentikan kegiatannya dan menatap Sayuri.


"Maksudku itu. Suka bukan tertarik lawan jenis atau cinta terlarang. Aku normal kok, maksudnya." Yuki tertawa geli melihat tingkah Sayuri yang mirip Inuzuka jika sedang salah tingkah.


Puk.


Yuki mengacak-acak rambut Sayuri, gemas.


"Kamu mengingatkanku dengan seseorang. Kalian sangat mirip." Ujar Yuki.


"Eh?." Sayuri tersipu malu.


"Berkumpul!." Teriakan Hotaru menghentikan interaksi keduanya.


Semua orang berkumpul menghadap Yamazaki dan Hara. Yamazaki memberikan selembar kertas kepada Yuki.


"Seperti yang kalian ketahui. Mulai minggu depan kamp pelatihan di mulai. Besok pagi kita berkumpul di stasiun jam lima pagi. Perkiraan sampai di sana sabtu siang, kalian dapat istirahat di hari minggunya." Jelas Yamazaki.


"Liburan musim panas sudah di mulai bukan berarti kalian dapat bermain-main di tokyo. Ini bukan pertama kalinya kita pergi ke tokyo untuk kamp pelatihan. Tunjukan pada mereka kemampuan sekolah kita." Deklarasi Hara membakar semangat anak asuhnya.


"Siap!. Pelatih!." Seru mereka.


Yuki melirik daftar nama sekolah yang ikut bergabung ke dalam kamp musim panas. Ia juga melihat sekolah tuan rumah yang akan menampung mereka selama dua minggu.


"Ayo tingkatkan skill kita selama pelatihan musim panas ini!." Seru Yuto sang libero.


***


Sebelum Yuki meninggalkan kediaman utama selama dua minggu ini ia sudah mengirimkan hasil penelitiannya kepada bayangan yang bertugas untuk membantu mereka.


Ame selalu memberikan laporan yang bagus, wanita itu sukses melakukan tugasnya. Jojo dan Chibi juga berhasil membunuh pria botak meski membutuhkan waktu selama dua bulan, kini klan naga putih sudah mulai kepanasan karena kehilangan algojo andalan mereka. Hiza sedikit kesusahan menyekap wanita itu sendiri, sudah beberapa kali Yuki memberikan intruksi dan mengirimkan alat bantuannya untuk menyembunyikan keberadaan mereka. Sedangkan Akashi mengintai dengan baik pergerakan Ayumi.


"Ojou sama, apa anda ingin membawa bekal untuk besok?." Yuki mengiyakan.


Gadis itu sedang duduk di teras samping kamarnya membaca daftar nama-nama keluarga terhormat beserta keturunannya di temani pemandangan danau dan suara bising serangga musim panas.


Sungguh Yuki kira hanya keluarganya saja yang masih menganut adat dan ajaran leluhurnya ternyata keturunan-keturunan bangsawan jaman dahulu pun melakukan hal yang sama. Mereka mengganti julukan mereka sebagai keluarga terhormat. Yuki tidak tahu ia hidup di jaman dahulu di waktu sekarang.


Seseorang masuk ke dalam kamar Yuki. Lusi duduk di samping gadis itu menatap wajah cucunya.


"Nenek dengar dari Takeru kamu habis bertengkar." Yuki menutup bukunya membalas tatapan Lusi. Sikap menghormati.


"Aku hanya memberikan pelajaran untuk mereka yang suka membully." Jawab Yuki.


"Nenek ingin menanyakan sesuatu maukah kamu menjawabnya dengan jujur?." Yuki tersenyum tipis sebagai jawaban.


"Bagaimana perasaanmu kepada Eiji?." Tanya Lusi.


"Tidak tahu."


"Nenek bertemu dengan orang tua Dimas dua bulan yang lalu." Yuki terkejut namun tidak ia tunjukan.


"Kami bercerita tentang Dimas putra pertama mereka. Nenek juga sempat menonton video kebersamaan kalian yang berhasil pengawal dapatkan."


Hebat sekali nenekku satu ini, batin Yuki yang tidak mengira masih ada kamera yang tidak ia sadari.


"Dimas memang laki-laki yang baik. Pintar, hangat, lembut, dan sedikit gila." Refleks tawa Yuki pecah mendengar kalimat terakhir.


Lusi ikut tertawa melihat cucunya tertawa lepas untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dua tahun lebih yang tidak Lusi lihat.


"Nenek juga berpikir seperti itu?." Celetuk Yuki di sela-sela tawanya.


"Ya, Dimas pemuda yang berani malu demi kamu." Yuki menghentikan tawanya, mengingat sedikit kenangan yang mereka buat.


Lusi memperhatikan raut wajah cucunya. Tangan keriputnya meraih dan meremas tangan lembut Yuki.


"Kamu masih menyukainya karena, kamu masih mengingat kenangan kalian dengan jelas." Yuki menatap manik hitam Lusi. Wanita tua itu tersenyum lembut.


"Bagaimana dengan Eiji?. Dia menunggumu selama hampir lima belas tahun ini." Lusi mengusap punggung tangan cucunya dengan tangan yang lain.


"Apa kamu tidak pernah terpikirkan. Eiji sangat tersiksa menunggumu?, menahan rindu yang begitu berat, menyimpan sendiri kenangan-kenangan berharga kalian yang terus berputar di dalam kepalanya." Yuki diam seribu bahasa.


"Jika kamu masih belum bisa mengingat kenangan kalian atau kamu masih belum bisa menyukainya lagi. Bisakah kamu menghargainya sebagai seorang laki-laki yang setia melindungi dan menjaga perasaannya kepadamu?." Otak Yuki memutar kembali apa yang telah Yuki perbuat kepada pemuda itu.


"Yuki." Panggilan Lusi menyadarkan gadis itu.


"Nenek tidak minta yang muluk-muluk padamu. Hanya, tolong jangan lakukan lagi sikapmu tadi siang kepada Fumio. Dia bukanlah pemuda sembarangan." Lusi menarik nafas sejenak.


"Dia menyandang beban sebagai kepala keluarga Fumio semenjak usianya lima tahun. Dia mewakili semua pertemuan-pertemuan yang di lakukan kepala keluarga terhormat. Menjalankan bisnis ayahnya sejak usia sembilan tahun." Lusi berhenti sejenak menahan gejolak di hatinya yang perlahan naik.


"Belajar di dojo mempersiapkan dirinya sebagai pelindung agar ketika kamu kembali dia bisa berada di garis depan seperti ayahnya." Lusi ternyata tidak kuat menahannya, ia menghapus cairan bening di sudut mata.


"Eiji menjadi calon tunanganmu bukan karena sekedar perjanjian kakekmu dan ayahnya." Lusi menatap Yuki sangat lembut, jarinya menyisir rambut Yuki di samping poninya.


"Keluarga Fumio menduduki nomor tiga di garis keluarga terhormat. Ayahnya adalah pelindung terkuat saat itu. Kamu tahu bukan para keluarga terhormat memiliki kediaman masing-masing. Mereka bisa saja melepaskan diri dari klan. Namum satu dua alasan mereka lebih memilih bersama kita."


"Saat itu, kakek buyutmu mengidap penyakit gagal ginjal yang di haruskan diangkat keduanya. Ayah Eiji, Fumio san masih tidak rela membiarkan kakek buyutmu pergi sebelum melihat putranya menikah. Niat yang mulia dari seorang anak muda." Yuki mendengarkan dengan sangat khidmat.


"Fumio san memberikan satu ginjalnya kepada kakek buyutmu. Kebetulan ginjalnya cocok. Setelah Fumio san selesai operasi dan sehat dia mencari kakekmu yang masih bersitegang dengan kakek buyut dan masih bergabung dengan yakuza." Yuki menghapus air mata Lusi yang jatuh ke pipi, wanita itu tersenyum sebagai ucapan terima kasih.


"Entah rayuan apa yang dilakukan Fumio san sehingga kakekmu mengingat nenek yang berada di indonesia dan mengingat klan kembali. Fumio san menikah di usia tiga puluh enam tahun, sedangkan Daren menikahi putri nenek yang baru berusia dua puluh tiga tahu. Mereka melahirkan anak di tahun yang sama." Lusi menghindari menyebut nama Ayumi di depan cucunya yang satu ini.


"Bukankah di luar akal sehat, Fumio san memberikan satu ginjalnya yang baru berusia belasan tahun, menjadi pelindung terkuat, menjadi kepercayaan kakek buyutmu. Dia seorang legenda di masanya." Lusi menarik tangannya meraih tangan Yuki yang lain.


"Perjanjian itu terjadi saat kalian berusia tiga tahun. Tapi bukan karena kehebatan Fumio san yang menjadikan Eiji sebagai calon tunanganmu."


"Nenek Yuri yang menguji Eiji secara pribadi. Balita berusia tiga tahun yang memiliki ingatan kuat, sopan, dia membuat nenek Yuri terpukau dengan sikap kedermawanannya, dia pantas menjadi seorang pemimpin. Pilihan nenek Yuri benar, Eiji tumbuh menjadi pria yang patut di banggakan." Yuki menghela nafas kecil.


"Kenapa seorang balita sudah di jodohkan seperti itu nek?." Tanya Yuki. Lusi tertawa lirih.


"Nenek buyutmu tidak serta merta langsung menjodohkan kalian. Kami membiarkan kalian bertemu, seperti air mengalir. Takdir mengikat kalian. Bukankah ada yang pernah berkata seperti ini." Lusi berdeham sebentar.


"Perasaan dan omongan orang tua jaman dahulu banyak benarnya." Yuki menaikan satu alis baru mendengar kalimat seperti itu.


"Selain itu, Yuki. Karena tidak menyangka klan akan mendapatkan dua penerus, kami berpikir. Anak terakhir harus di carikan pendamping yang tidak kalah kuatnya dengan sang pewaris kelak. Agar kedudukannya berada di atas sama rata, tidak ada kecemburuan kedudukan." Alasan itu sedikit ganjil menurut Yuki.


"Hahaha, tentu saja jika cucu nenek kembar laki-laki, tapi ternyata kami lebih beruntung mendapatkan kembar laki-laki dan perempuan. Itu membuat kakek buyut dan nenek buyut tambah bersemangat mencarikanmu calon. Karena sang pewaris sudah jelas jatuh kepada anak laki-laki dan anak perempuan harus ada yang melindungi. Jiwa maupun raga, hati maupun jiwa. Karena anak perempuan sangat istimewa dan anak laki-laki adalah kebanggaan. Itulah kalian, permata-permata klan. Kebanggaan tidak akan bersinar tanpa keistimewaan, begitu juga sebaliknya. Seperti kanan dan kiri, depan dan belakang. Apa cucu nenek paham?."


"Maafkan Yuki nek." Lusi menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak apa-apa jika kamu sudah paham. Kamu tidak salah."


Yuki diam-diam tersenyum kecut mendengar kalimat terakhir Lusi.


"Fumio san gugur di penyerangan pertama. Di rumah ini, karena melindungi saudara kembarmu dan kakekmu dari musuh." Yuki melebarkan matanya.