Futago

Futago
Apa ini langit yang sama?.



Pulang sekolah disaat murid lain sibuk dengan ekskul mereka Yuki malah tertahan oleh ketiga laki-laki kelas tiga yang ia temui tadi pagi.


"Senpai ada apa ini?." Tanya Yuki yang dipojokan dibelakang gudang.


Tiga orang itu tidak menjawab pertanyaan Yuki mereka malah semakin memojokan gadis itu. Kalian membuatku kesal, batin Yuki yang terkurung oleh tiga orang didepannya.


"Apa mau kalian?." Suara Yuki berubah datar.


Dua orang diantara mereka tiba-tiba mencekal masing-masing tangan Yuki.


"Kamu." Jawab laki-laki yang berdiri tepat didepan Yuki menatap lurus manik birunya.


Berani-beraninya kalian menyentuhku!, geram Yuki. Laki-laki didepan Yuki semakin mendekatkan wajahnya mencoba untuk mencium gadis itu.


Kedua tangan Yuki berputar dengan cepat membalikan keadaan. Jari telunjuk dan ibu jarinya mencengkeram kuat jari telunjuk kedua orang itu membuat mereka jatuh terduduk.


"Argh!." Jerit mereka membuat sang pemimpin menghentikan gerakannya.


Wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Yuki.


Dengan tatapan datar dan wajah tanpa ekspresi Yuki membalas tatapan laki-laki itu. Jeritan dari kedua temannya tidak menghentikan niat si pemimpin, laki-laki itu kembali mendekatkan wajahnya dengan wajah Yuki.


Krek.


Suara dari kedua tulang jari disusul jeritan mengerikan.


"Aaaarrgghh ..! ittai! (sakit!)." Si pemimpin diam membeku, Yuki menggeser wajahnya menghindar.


"Jika aku jadi kamu, aku tidak akan melakukannya." Lirih Yuki dengan suara dinginnya. Kedua orang yang menjerit kesakitan itu ikut membeku, nyali mereka menciut, perasaan ngeri menjalari mereka.


Brak.


Yuki menendang tulang kering si pemimpin membuatnya mundur kesakitan. Yuki melepaskan jari telunjuk dan ibu jarinya dengan kasar.


"Jangan lakukan hal seperti ini lagi kepada perempuan mana pun." Aura Yuki berubah, kata-katanya terdengar mutlak tidak bisa dibantah.


Laki-laki disamping kanan dan kiri Yuki segera bersimpuh menundukan kepala mereka begitu juga dengan si pemimpin meskipun sangat kesakitan ia berusaha untuk bersimpuh didepan Yuki.


"Baik!. Maafkan kami." Seru mereka membungkuk serentak, Yuki melangkahkan kakinya dengan anggun bak bangsawan meningalkan mereka.


***


8:10 p.m. Yuki berjalan pulang dari minimarket dekat rumahnya. Ia tidak bisa tidur, ditambah suasana hatinya juga sedang buruk karena itu Yuki memutuskan untuk keluar mencari makanan yang manis-manis terutama es krim rasa coklat kesukaannya.


Kantong plastik yang cukup besar menggantung dijemari lentik Yuki. Gadis itu melihat dua bersaudara sedang mengayunkan pemukul / batt di depan rumah.


"Keiji kun ...!." Suara Yuki menghentikan kegiatan mereka, gadis itu melambaikan tangannya dengan semangat menghampiri kakak beradik itu.


"Konbanwa senpai (Selamat malam)." Sapa Yuki menatap Hajime sekilas.


"Kalian sedang latihan bersama?." Tanya Yuki.


"Ung." Jawab Keiji.


"Mau istirahat sebentar?." Tanya Yuki membuka kantong plastik ditangannya, Keiji dan Hajime mengangguk sekilas. Yuki beranjak duduk didepan teras rumah keluarga Yuuki itu, ia menepuk samping kanannya menyuruh mereka untuk duduk.


"Lain kali kalau keluar malam-malam minta Keiji atau aku untuk menemani, tidak baik perempuan keluar sendirian di malam hari." Ucap Hajime duduk disebelah kanan Yuki.


"Berikan ponselmu." Pinta Keiji, Yuki merogoh saku jaketnya mengeluarkan benda pipih itu memberikannya kepada Keiji. Keiji mengetik sesuatu diponsel Yuki seraya duduk disebelah kiri gadis itu.


Yuki mengeluarkan minuman dan beberapa cemilan memberikannya kepada Hajime yang diterima oleh laki-laki itu. Yuki membuka es krim coklat miliknya yang langsung ia masukan kedalam mulut.


"Aku sudah memasukan nomorku dan nomor kakak." Keiji mengembalikan ponsel Yuki kembali kepada pemiliknya.


"Arigatou." Ucap Yuki menerima ponselnya.


"Kamu suka yang mana?." Tanya Yuki membuka lebar-lebar kantong plastik, Keiji mengambil es krim lalu memakannya.


"Aku dengar kamu mendapat beberapa masalah disekolah." Celetuk Hajime.


"Ung." Keiji melirik Yuki sekilas.


Gosipnya cepat sekali menyebar, batin Yuki.


"Aku tidak tahu harus bagaimana, mereka selalu datang mencariku." Lanjut Yuki.


"Kamu tidak bisa terus menghindar. Hadapi, itu satu-satunya cara. Tapi kalau ada yang menjahilimu katakan padaku." Yuki menghabiskan es krimnya dalam satu gigitan.


"Hai', aku mengandalkanmu senpai." Jawab Yuki tangannya membuka bungkus cemilan.


"Kalian sedang membicarakan apa?." Tanya Keiji yang penasaran.


"Ah ... Gomen (Maaf)." Yuki menoleh kepada Keiji.


"Tadi siang aku sempat dilabrak kakak kelas karena menolak perasaan orang yang dia suka." Jelas Yuki singkat, merahasiakan perbuatan tiga berandal sekolah kepadanya.


"Menolak?." Ulang Keiji.


"Ung, beberapa anak menyatakan perasaan mereka, ada juga yang diam-diam menaruh surat diloker sepatu." Geram Yuki, cemberut, seraya mengunyah cemilannya sambil menjelaskan mengeluarkan kekesalannya.


"Keiji kun itu loker sepatu bukan kotak pos kenapa mereka menaruhnya disana." Yuki memasukan lagi cemilan kedalam mulutnya.


"Aku tidak pantas mendapatkan itu semua, seharusnya mereka mencari perempuan yang lebih baik, benarkan." Yuki menatap Keiji meminta pembelaan.


"Jangan tanyaka padaku, aku tidak pernah mendapatkan surat." Jawab Keiji menghabiskan es krimnya.


"Hah? kamu bercanda ya. Senpai, kamu juga mendapatkannya kan?." Yuki beralih menatap Hajime.


"Hm." Sahut Hajime.


"Kamu dengar Keiji kun senpai juga mendapatkan surat." Protes Yuki yang merasa aneh, gadis itu mengira setiap anak pasti mendapatkan surat cinta seperti dirinya. Keiji, anak itu membuang wajahnya dengan kasar.


"Ara. Ara ra ra, sepertinya ada yang ngambek." Ledek Yuki.


"Siapa?." Sahut Keiji, Yuki mencubit gemas sebelah pipi Keiji.


"Heh? tidak mengaku hm ..." Yuki tersenyum meledek.


"Hachibara san lepaskan tanganmu, kotor." Protes Keiji.


"Sayang sekali, aku makan dengan tangan kanan tadi." Yuki melambaikan tangan kanannya yang bebas sedangkan tangan kirinya semakin gencar bermain di pipi Keiji.


"Hachibara san." Keiji berhenti protes, anak itu sudah pasrah dengan takdirnya.


"Lucunya kalau lagi ngambek." Ucap Yuki moodnya berubah baik. Hajime tersenyum menonton sambil menikmati cemilan.


Beberapa menit sudah berlalu tapi Yuki masih betah bermain dengan pipi gembul Keiji.


"Keiji ayo latihan lagi." Ajak Hajime.


"Yosh .., yosh (Cup .., cup), semangat." Yuki menepuk lembut pucuk kepala Keiji menyemangati namun, respon Keiji semakin cemberut membuat Yuki tertawa. Wajah bulat Keiji ditambah ekspresi cemberutnya terlihat sangat lucu.


Pada akhirnya Yuki menemani kedua bersaudara itu latihan sambil menikmati cemilannya. Hal yang tidak gadis itu sadari, ia mulai berubah karena orang-orang disekitarnya.


***


Pagi itu seperti pagi sebelumnya, Yuki berada di perpustakaan menghindari orang-orang yang mencarinya. Tujuh menit sebelum jam pelajaran dimulai Yuki kembali ke kelas, ditangga lantai dua ia bertemu dengan ketiga berandalan kemarin. Ketiga orang itu tiba-tiba membungkuk kepada Yuki.


"Ohayou gozaimasu! (Selamat pagi!)." Sapa mereka.


"Oha-you gozaimasu." Balas Yuki sedikit ragu-ragu, mereka bertiga tetap membungkuk sampai Yuki berjalan melewati mereka.


Aneh, batin Yuki.


Jam istirahat pertama, Natsume tiba-tiba menarik tangan Yuki berlari keluar kelas menuruni anak tangga dengan cepat.


"Hazuki tunggu." Ucap Yuki yang tidak dihiraukan oleh gadis manis itu.


"Jelaskan dulu ada apa ini?." Tanya Yuki disela-sela larinya.


"Aku jelaskan nanti." Jawab Natsume.


"Tunggu, bagaimana dengan kakimu?." Natsume menoleh ke belakang tersenyum lebar.


"Ini sudah sembuh berkatmu." Jawab Natsume.


Mereka akhirnya berhenti dihalaman tengah tepatnya didekat lapangan sepak bola dan jalur lari estafet.


"Senpai aku berhasil membawanya." Seru Natsume.


Yuki melihat dua orang laki-laki dan seorang perempuan cantik sedang sibuk mempersiapkan peralatan mereka. Perasaan Yuki berubah tidak enak, instingnya mulai bekerja. Ketiganya berjalan mendekati Yuki dan Natsume.


"Maaf ya memaksamu kemari." Kata perempuan cantik yang pernah datang ke kelas Yuki untuk bertemu Natsume.


"Aku ketua klub band, kami ingin meminta tolong kepadamu." Kata salah satu laki-laki disana langsung kepada intinya.


"Klub kami terancam dibubarkan kalau hari ini tidak ada anggota baru yang bergabung." Yuki menaikan satu alisnya.


"Kami meminta tolong kepadamu untuk menjadi vokalis kedua." Lanjut sang ketua.


"Aku tidak bisa." Srobot Yuki.


"Hanya satu lagu kumohon." Ucap perempuan cantik itu menyatukan kedua telapak tangannya, Yuki menghiraukannya ia membalikan badan melangkah pergi.


"Menyingkir." Kata Yuki menatap manik Natsume, gadis itu menghalangi jalannya.


"Ne Yu chan, onegai (Hei Yu, tolong), aku tahu kamu bisa. Nada dan kunci dasar lagu yang kamu lihat kemarin sangat rumit dan susah tapi, kamu memahaminya. Yu chan untuk kali ini saja tolong bantu kami." Pinta Natsume membungkukan badan.


"Onegaishimasu! (Mohon bantuannya!)." Ketiga orang dibelakang Yuki juga menunduk dalam membuat gadis itu merasa tidak nyaman.


"Baiklah." Jawab Yuki, Natsume yang merasa sangat senang melompat memeluk Yuki.


"Arigatou, aku akan membuatkanmu mochi strawberry lagi." Kata Natsume girang.


"Hai' wakatta, hanashite (Ya aku mengerti, lepaskan)." Natsume melepas pelukannya.


"Ano, Hachibara san. Perkenalkan." Kata perempuan cantik, menarik perhatian Yuki.


"Aku Nakamura Oki." Ucap perempuan cantik itu.


"Kichida, salam kenal." Ucap laki-laki dengan tinggi kira-kira seratus tujuh puluh delapan.


"Abe Satoru, salam kenal ya." Laki-laki lebih pendek, tingginya lima senti diatas Yuki, dia adalah ketua klub band.


"Yo. Natsume chan kita, sudah bekerja keras." Puji Kichida.


"Sangat susah menculiknya senpai." Balas Natsume.


"Baiklah ayo latihan dulu sebelum kita mulai." Ajak Abe.


"Kita hanya boleh menggunakan jam istirahat pertama saja." Imbuh Nakamura.


"Kita juga perlu mengecek suara Hachibara chan." Lanjut Kichida.


"Bukankah lagunya sama dengan yang kemarin?." Tanya Yuki menatap Natsume.


"Ung, sama." Jawab Natsume.


"Kita langsung mulai saja aku ingin cepat selesai." Kata Yuki membuat para anggota klub saling melempar tatap.


"Nadanya tinggi sekali loh Hachibara san." Kata Nakamura ragu-ragu.


"Ya, aku tahu." Jawab Yuki singkat.


Nakamura menatap Natsume meminta penjelasan yang dijawab senyuman lebar oleh sang empu.


"Baiklah kita mulai saja." Seru Abe selaku ketua klub seraya tersenyum lembut.


Dihalaman tengah yang bisa dilihat dari mana saja itu, terdapat peralatan band yang tertata rapih. Kichida mengambil stik drumnya memposisikan diri, Nakamura mengalungkan tali gitar listrik dilehernya, Natsume berdiri dibelakang piano, dan Abe mengalungkan tali bass lalu ia membenarkan letak mikrofonnya.


"Hachibara san sini aku bantu." Kata Abe tangannya bergerak dengan cekatan membenarkan letak mikrofon Yuki menyesuaikan dengan tinggi gadis itu.


"Terima kasih." Ucap Yuki yang dibalas senyum hangat sang ketua.


"Oki, sudah nyala?." Tanya Abe.


"Ok, sudah siap." Jawab Nakamura.


"Selamat siang, kami dari klub band akan mempersembahkan sebuah lagu yang energic sekaligus menyentuh, dimohon untuk para siswa berhenti dari kegiatan kalian dan mendengarkan lagu kami." Suara sound yang sangat keras mengirim pembukaan ketua ke penjuru sekolah.


Yuki masih ingat lirik dan setiap nada di lagu itu. Lagu up beat yang cepat dengan nada tinggi ciri khas j-pop.


Beberapa anak yang berada disekitar halaman tengah melirik kelompok kecil yang sedang bersiap-siap melakukan sesuatu, tidak sedikit juga yang mengabaikan kelompok itu merasa tidak tertarik.


Ketua memberi hitungan mundur untuk memulai. Diawali dari Natsume dengan intro melodi piano yang pelan dan tiba-tiba disusul oleh hentakan drum yang keras lalu petikan gitar dan bass yang cepat secara bersamaan menyentak melawan udara.


Jantung Yuki ikut berdetak keras mengikuti dentuman drum, bulu kuduknya merinding karena suara petikan gitar yang sangat cepat. Gebrakan dari anggota band mengumpulkan para penonton yang kini berkerumun disekitar mereka.


Abe sebagai vokalis utama membuka suaranya diiringi oleh Kachida sebagai backing vokal. Yuki sedikit terkejut dengan suara Abe yang terdengar pas sekali ditelinganya.


Bagian Yuki sebentar lagi datang ia mendekatkan bibirnya ke mikrofon. Ke empat anggota klub melirik Yuki harap-harap cemas pasalnya mereka belum pernah latihan bersama gadis bermata biru itu apa lagi gadis itu juga belum pernah mendengar melodi lagunya.


Bagaimana dengan suaranya?, apa dia bisa melakukannya?, bagaimana jika tidak, selesai sudah. Batin Kichida, Nakamura, dan Abe.


Yu chan aku percaya keputusanku tidak akan salah, kamu pasti bisa!, seru Natsume dalam hati.


Melodi bagian Yuki dimainkan, nada lumayan tinggi keluar dari tenggorokan Yuki mengejutkan setiap pasang telinga dan yang paling dibuat terkejut adalah para anggota klub band itu sendiri.


Mereka tersenyum puas. Suara Yuki seperti sihir yang menyeret mereka masuk kedalam lagu membuat lagu itu hidup. Semangat para anggota klub meluap mereka semakin bersemangat memainkan alat musik masing-masing.


Tanpa kelima orang itu sadari banyak orang yang berkumpul di luar gedung maupun disetiap lorong lantai menonton dari kaca jendela ikut terhanyut masuk kedalam musik mereka.


Perasaan apa ini?, kulitku seakan bisa merasakan setiap melodi yang keluar dari masing-masing alat musik, suara Abe san juga terdengar jelas ditelinga, jantungku merespon berdegup kencang tidak seperti sebelum-sebelumnya. Aku bisa merasakan keindahan dari musik, batin Yuki tersenyum kecil.


Yuki mengambil nada sangat tinggi membuat para penonton bersorak riuh, merasakan merinding di sekujur tubuh mereka. Nakamura melakukan solo gitarnya, gadis itu sangat lihai bak gitaris rock & roll.


Musik terus berlanjut menggetarkan oukami koukou (sma srigala) sampai dentuman keras dari drum mengakhiri lagu. Tepuk tangan terdengar dimana-mana, jeritan penonton memanggil nama-nama para pemain band menjadikan mereka artis dadakan.


"Ekhem!." Dehaman Abe mengintrupsi para penonton. Mereka berhenti berteriak dan fokus kepadanya.


"Terima kasih atas perhatiannya. Apa kalian menikmati pertunjukan kami?!." Seru Abe dengan semangat yang dijawab gemuruh sorakan penonton.


"Masih banyak lagu yang kami miliki, maukah kalian menjadi salah satu yang memainkanya?." Abe mulai melakukan promosi klubnya.


Yuki memanfaatkan kesempatan itu untuk menjauh dari sana!.


"Eits, mau kemana Hachibara san?." Tanya Nakamura yang menangkap lengan Yuki.


"Lagi! Lagi! Lagi!." Teriakan penonton menggema.


"Ayolah jangan buru-buru, kamu dengar teriakan mereka?." Nakamura melirik ke arah penonton, menunjukan senyum cerahnya. Yuki mulai berpikir.


"Yu chan lihat." Tiba-tiba Natsume sudah berdiri didepan Yuki meunjukan kertas berisi not-not balok yang lain.


"Aku membuatnya semalam. Yu chan." Natsume menatap dalam manik biru Yuki.


"Aku ingin kamu yang menyanyikannya." Yuki membalas tatapan Natsume yang sangat berharap kepadanya, Yuki teringat kata-kata Natsume kemarin.


Aku tidak bisa bernyanyi lagi.


"Ini yang terakhir." Ucap Yuki yang luluh oleh Natsume. Natsume dan yang lainnya tersenyum lebar.


"Ung, yang terakhir." Yuki meminta kertas lagu itu mulai membacanya.


Otak Yuki dengan cepat bekerja menghafal lirik dan not-not lagu.


"Lagu ini lebih cepat dari yang tadi." Ujar Yuki.


"Tepat sekali, kamu memang hebat Hachibara san. Pagi tadi kami juga terkejut saat berlatih dengan lagu itu." Celetuk Nakamura.


"Bukankah dia jenius." Sahut Natsume dengan bangga.


"Tidak." Srobot Yuki.


"Yu chan hanya perlu sekali melihatnya." Lajut Natsume tersenyum dengan satu tangan ia letakan di pinggang.


"Kenapa kamu yang sombong Natsume chan." Nakamura menimpali.


"Yu chan dakara ( Karena dia Yu chan)." Jawab Natsume menepuk pelan pundak Yuki sedangkan sang empu memutar bola matanya.


"Mari kita buat penutupan yang spektakuler." Natsume dan Nakamura terkejut dengan apa yang dikatakan gadis bermata biru itu, mereka menatapnya tidak percaya. Abe yang mendengarkan percakapan para gadis tersenyum lembut.


"Ekhem! sebagai penutupan kami akan memberikan lagu yang luar biasa untuk kalian semua!." Kata Abe yang mendapatkan respon sangat heboh.


Mereka sudah bersiap diposisi masing-masing. Lagu kedua hanya dinyanyikan oleh satu vokalis dengan banyak nada tinggi dan lirik super cepat, melodi yang keras, cepat dan epik, sangat cocok untuk membakar semangat.


Aneh, apa aku sedang bersemangat sekarang? lagu Hazuki membuatku merinding saat membacanya. Akan aku buat lagumu menggema sampai ke penjuru sekolah dan menghancurkan telinga mereka yang mendengarnya karena keindahan lagumu, Hazuki, batin Yuki.


Yuki, gadis itu mengambil gitar yang tergeletak didekat piano, mengalungkannya.


"Yu chan?." Lirih Natsume tertegun.


"Kita hancurkan sekolah ini dengan lagumu, Hazuki." Ucap Yuki tersenyum tulus.


"Arigatou." Ucap Natsume sangat lirih sampai tidak ada yang bisa mendengarnya.


Yuki mengecek gitar listrik yang menggantung di tubuhnya.


Heeh ..?, dia juga bisa bermain gitar, batin Kichida, Nakamura, dan Abe. Yuki mengangguk kepada Abe pertanda gadis itu sudah siap.


"Minna san (Semuanya). Are you ready ...!." Seru Abe disusul sorekan para penonton.


Yuki mendongak untuk melihat langit biru diatas mereka. Langitnya tidak mendung lagi, berbeda dengan langit yang dulu selalu aku lihat, apakah ini langit yang sama?, batin Yuki matanya turun perlahan dan bertabrakan dengan sepasang mata dilantai empat.