Futago

Futago
Saudara yang Buruk.



Setelah mendengar permintaan Mizutani, Yuki dan Suzune pun berangkat ke tochigi yang sebelumnya mereka mampir ke rumah Yuki untuk mengambil baju ganti gadis itu dan meninggalkan tas sekolahnya.


"Kamu tidak marah, Hachibara san?." Tanya Suzune.


"Tidak."


"Syukurlah aku kira kamu akan marah." Ucap Suzune.


"Mi chan terlihat sangat sibuk, dia pasti kesulitan membagi waktu. Aku meragukan dia istirahat dengan cukup." Ujar Yuki membuat Suzune terkejut.


"Padahal kalian jarang berkomunikasi tapi kamu bisa mengerti pelatih dengan baik." Kata Suzune.


"Tidak. Hanya mengalir begitu saja." Sanggah Yuki.


Ddrrrtt.


Pintu kereta terbuka.


"Kita sudah tiba di Tochigi." Suzune melirik Yuki untuk kesekian kalinya.


"Pelatih memintamu pergi bersamaku agar kamu bisa belajar naik kereta dan menunjukanmu tempat lain diluar tokyo." Yuki mengangguk sekilas.


"Ini kedua kalinya aku naik kereta." Jawab Yuki.


"Waah .., imutnya."


"Siapa dia?."


"Sepertinya bukan dari sekolah disekitar sini."


"Dia seperti boneka hidup."


"Lihat matanya besar, cantik sekali."


Celotehan-celotehan terus berlanjut di stasiun itu.


"Aku jadi gerogi berjalan bersama gadis secantik Hachibara san." Celetuk Suzune tersenyum simpul.


"Tapi sepertinya, banyak juga yang melihat Suzune san." Sahut Yuki yang melihat tidak sedikit laki-laki terpesona dengan bentuk tubuh wanita dewasa disampingnya itu.


"Ahaha, tidak juga. Ayo kita segera pergi." Suzune memimpin perjalanan.


Didalam taksi Suzune membuka obrolan.


"Hachibara san, disekolah juga banyak laki-laki yang mengagumimu, bahkan ada kelompok yang menamai mereka sebagai pengagum sang dewi." Yuki tidak tertarik dengan obrolan itu.


"Anggotanya tidak hanya laki-laki, banyak juga siswi yang bergabung dengan kelompok itu." Yuki tidak tertarik dengan topik itu, ia lebih menikmati pemandangan di luar kaca mobil.


"Mereka terlalu banyak memiliki waktu luang." Ucap Yuki. Suzune tersenyum mendengar jawaban gadis itu.


"Seperti apa tipe laki-laki yang kamu sukai?." Pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan oleh Yuki.


"Tidak ada." Jawab Yuki.


"Eeh ..?." Suzune terkejut.


***


Suzune dan Yuki menonton sebuah latih tanding anak-anak smp, Yuki tidak terlalu paham kriteria seperti apa yang di inginkan Suzune masuk ke dalam sekolah mereka namun, yang jelas Suzune terlihat sangat bersemangat dan menikmati kegiatannya itu.


Disana terlihat tidak terlalu ramai seperti di tokyo. Bangunan-bangunannya juga tidak terlalu tinggi-tinggi, tadi Yuki juga sempat melewati persawahan meskipun tidak terlalu luas.


Pertandingan selesai, Suzune menghampiri seorang anak dan mengajaknya bicara. Suzune sangat lihai dalam promosi mendorong seseorang untuk mau mengikuti ajakannya.


Yuki merasa ada yang menatapnya dengan intens, ia memutuskan mengalihkan pandangannya dari kumpulan gagak yang bertengger diatas tiang listrik menoleh kepada si pelaku.


Entah apa yang dikatakan Suzune kepada murid smp itu sehingga mereka berdua menatapnya dengan tatapan seperti itu, Yuki sedikit memiringkan kepalanya lalu mengangkat satu alis keatas, kebiasaan gadis itu saat meminta sebuah penjelasan.


Sontak anak smp itu menundukan kepalanya kembali berbicara dengan Suzune dan pergi.


"Apa yang kalian bicarakan tadi, kenapa melihatku seperti itu?." Tanya Yuki yang merasa sedikit terganggu.


"Bukan apa-apa kami hanya bicara tentang baseball." Jawab Natsume.


"Ayo kita pulang." Ucap Suzune berjalan lebih dulu.


Apa?, batin Yuki.


"Kita sudah langsung pulang?." Tanya Yuki.


"Tujuan kita kesini sudah selesai jadi harus segera pulang. Tochigi tokyo membutuhkan waktu tidak sebentar loh." Kata Suzune. Yuki tentu tahu itu tapi mereka datang jauh-jauh dari tokyo hanya untuk berbicara dengan satu siswa smp dan pulang.


"Apa anak itu mau bergabung dengan tim sekolah kita?." Tanya Yuki dari belakang Suzune.


"Ya, dia pasti akan masuk ke tim sekolah kita." Ucap Suzune bersemangat.


"Dia pasti sangat penting sampai Suzune san begitu bersemangat." Celetuk Yuki.


***


Singapura.


"Apa yang kamu maksud dengan tidak bisa menolong Eva?." Ulang Ega, kekhawatiran menjalari tubuhnya, rasa takut menyelubungi hati Ega.


Tetesan demi tetesan jatuh dari manik Fathur diiringi tetesan darah yang sesekali jatuh dari tangannya. Keheningan menjalari kedua sahabat itu. Ega mengalihkan pandangannya dari Fathur menatap lurus tembok didepannya.


"Apa sangat buruk?." Tanya Ega lirih memecah keheningan. Ia yakin pasti kembarannya selamat dari kecelakaan itu bukan! tapi setelah saat itu ...


"Sangat, apa kamu tidak merasakannya?." Jawab Fathur.


"Hum, sampai aku pikir jantungku akan meledak dan aku tidak akan bisa bernafas lagi." Jawab Ega.


"Setelah kau pergi Eva berubah menjadi mayat hidup." Ega diam-diam mengepalkan tangannya.


"Wajahnya tanpa ekspresi, selalu mengunci mulutnya rapat-rapat, tatapan mata yang kosong, dia seakan selalu menahan agar tidak menangis, namun sesekali air matanya jatuh juga." Ingatan Fathur kembali di saat ia pertama kali menjenguk Eva, mengawasi gadis itu dari ambang pintu kamarnya.


"Tubuhnya sangat kurus, wajahnya pucat. Dia selalu menuruti apa pun perintah yang ia dengar, apa pun, dan .., perintah dari siapa pun itu. Bahkan dia akan terus duduk tanpa bergerak ditempat yang sama jika tidak ada orang yang menyuruhnya untuk melakukan sesuatu." Air mata Fathur mulai turun perlahan. Ega merasakan sesak di dadanya mendengar kenyataan pahit itu, tapi ia ingin mendengar semuanya.


"Sekurus apa dia?." Tanya Ega lirih.


"Sangat ... Kurus ." Jawab Fathur mengkerut dibawah sana, tubuhnya bergetar. Ega tanpa sadar sudah menjatuhkan air matanya.


"Melihat dia seperti itu hatiku ikut hancur, aku tidak berani untuk menjenguknya lagi. Betapa pengecutnya aku." Lanjut Fathur.


Hening.


"Tapi rasa rindu dan khawatir membawaku kembali ke sana, dan hari itu aku melihat sesuatu yang sangat buruk." Fathur menutup sebelah wajahnya dengan satu tangan.


"Kepalaku sempat kosong, tubuhku tidak mau bergerak." Air mata mulai deras jatuh ke pipi Fathur. Ega sabar menunggu semua cerita penting yang ia cari.


"Eva mengamuk." Ega melebarkan matanya terkejut.


"Gadis yang selalu diam tiba-tiba mengamuk liar. Dia terlihat sangat haus untuk meghancurkan piano putih diruang tengah. Matanya sangat tajam tanpa lepas dari piano itu. Dia menyeret tongkat bisbol besi berdiam diri cukup lama, menangis disamping piano sebelum ia menghancurkannya dengan benda itu."


Ega paham apa yang dipikirkan adiknya. Yuki membenciku, batin Ega.


"Hanya kak Arga dan mbok Is yang berani mendekati Eva yang mengamuk liar menghancurkan piano bahkan setelah tongkat bisbol berhasil direbut oleh kak Arga tidak menghentikan Eva untuk terus menghancurkannya."


"Seperti seseorang yang sedang dirasuki, matanya bergerak-gerak cepat mengambil guci-guci besar yang ada diruangan itu melemparnya sekuat tenaga ke arah piano."


"Bahkan ketika piano sudah hancur ia tetap mengambil guci dan melemparnya lagi, kak Arga sebagai pengawal muda saja tidak bisa menghentikan Eva, mbok Is berusaha membantu kak Arga namun Eva tetap tidak bisa dihentikan."


"Dan setelah itu aku tersadar, dan segera mendekatinya, menampar Eva." Fathur menatap tangan kanannya mengingat kejadian masa lalu, mengepalkan tangannya erat.


"Aku tidak ingin melukainya tapi hanya itu satu-satunya cara agar dia mau mendengarkan suara orang lain dan, berhasil."


"Dia tidak pernah menatap mata orang lain, itu yang aku dengar dari mbok Is tapi saat itu ia menatap mata-ku." Badan Fathur bergetar cepat. Suara isakan kecil terdengar sesekali.


"Matanya .., matanya, aku tidak bisa mengatakan seperti apa mata yang aku lihat itu. Ga .., dia .., Eva .., seperti berteriak meminta tolong. Marah, terhianati, sakit, rindu, dia kebingungan."


Hening.


Dan saat itu Ega teringat saat ia kesakitan di dalam kamarnya, terus berguling menahan rasa sakit. Ayumi, Ronggo, bahkan dokter Karessa sampai tidak bisa menahan dirinya.


"Dia menangis keras dan pingsan, aku kira itu hal yang baik. Eva bisa melepaskan semuanya tapi ternyata sesuatu yang buruk terjadi." Fathur mendongak menatap Ega yang balas menatapnya. Sahabatnya itu entah sejak kapan menangis dalam kesunyian.


"Apa?." Lirih Ega.


"Eva mengerang kesakitan, menarik-narik rambutnya." Masih menatap manik Ega, bola mata Fathur kembali meneteskan air mata susul menyusul.


"Eva terbatuk mengeluarkan darah." Bola mata Ega bergetar tubuhnya membeku.


"Tidak hanya dari mulutnya, tapi dari hidung juga. Setiap dia terbatuk darah cukup banyak ikut keluar, darah dari hidungnya juga tidak mau berhenti."


Ega menekuk lututnya mencengkeram kedua pundak Fathur, mencari kebohongan dari mata sahabatnya.


"Apa yang terjadi?, kenapa bisa seperti itu!." Tanya Ega dengan suara rendah dan berat.


Fathur menggertakan giginya mencengkeram kuat jaket Ega mendorong sahabatnya hingga tersungkur, mengepalkan satu tangannya dan tanpa pikir panjang melayangkan tinjunya ke wajah Ega namun sepersekian detik ia merubah arah pukulannya dan berakhir memukul tanah disamping wajah Ega.


Hening.


Bibir Fathur bergerak-gerak menahan isakan, ia menutup matanya erat-erat. Ega bisa merasakan betapa sangat marahnya Fathur kepada dirinya.


"Om Daren memintaku keluar dari kamarnya saat itu, aku menunggu didepan pintu kamar. Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar, untuk sesaat aku mendengar Eva terus terbatuk. Bau amis menguar sampai ke luar kamar kemudian, para pelayan masuk ke dalam kamar membawa banyak kain lalu meninggalkan kamar Eva dengan kain-kain yang terdapat banyak bercak darah."


Hening.


"Dan aku sempat menguping. Kepala Eva akan terasa sakit jika ia mengingat kejadian dimana kamu meninggalkannya." Fathur membuka matanya.


"Penyakit apa itu, trauma?. Apakah trauma bisa membuatmu mengeluarkan darah seperti itu?. Apa karena kebanyakan menangis dia melukai tenggorokannya?." Fathur menatap dalam manik coklat terang sahabatnya.


"Tidak. Meskipun dia ingin tidak mengingat kejadian itu tapi ingatannya terus berputar." Fathur melepas cengkeramannya dan duduk diatas perut Ega.


"Yang lebih menyakitkan dari itu adalah, Eva yang sadar akan keadaan dirinya tapi tetap tersenyum dan menerimanya. Ia berhenti menangis, ia mulai berpikir lagi dengan keadaan tubuh yang lemah dan kurus."


"Bahkan dia sempat membuatku tidak bergerak, entah rahasia apa yang dia sembunyikan didalam kamarnya. Aku rasa kamu tahu apa itu." Fathur beralih duduk disamping Ega mendongak menatap langit.


"Eva memberikanku tiga bola aneh untuk melindungiku, kak Dani, dan ibu. Di saat seperti itu pun dia masih mengkhawatirkan orang lain." Ega mengangkat tangannya lalu meletakan tangannya diatas dahi. Menyembunyikan air matanya yang tidak mau berhenti.


"Om Daren langsung membawanya pergi jauh, hari itu hari terakhir aku melihatnya. Sesekali aku melewati rumahmu. Sepi seperti biasa, hanya ada pengawal yang berjaga."


"Ga, aku sangat buruk. Aku ingin melindunginya tapi kekuatanku tidak cukup, memendam terus memendam kejadian itu membuatku sangat frustasi." Ucap Fathur hatinya lebih tenang berbanding terbalik dengan sahabatnya.


"Thanks ga, mungkin sejak dulu aku ingin menangis." Kata Fathur.


"Hum." Gumam Ega, Fathur menoleh menatap sahabatnya yang kini menangis tanpa suara.


"Jujur aku marah padamu tapi aku juga yakin kamu memiliki alasan kuat dengan ini."


"Hm."


Hening untuk beberapa saat.


"Thank thur sudah menjaga Yuki." Ega menghapus air matanya lalu merentangkan kedua tangannya diatas tanah.


"Huuufftt." Ega menghembuskan nafas panjang dan tertawa meremehkan.


"Hahaha, aku benar-benar saudara yang buruk." Ejek Ega kepada diri sendiri.


"Tidak juga, kamu terlalu dewasa. Mungkin selama ini kamu memikirkan semuanya sendirian." Sahut Fathur. Ega mengangkat kedua alisnya ke atas.


"Entahlah."


"Jadi, kenapa kamu mencarinya sekarang?." Tanya Fathur.


"Seperti yang kamu ceritakan, aku kehilangan radar keberadaan Yuki. Itu membuatku tidak tenang." Jawab Ega.


"Eva juga pernah mengatakan kalau dia tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh om Daren, dia sudah pasrah dengan apa pun yang akan terjadi kepadanya."


"Ayah ya." Gumam Ega.


"Bukankah lebih baik kamu menemui om Daren dan langsung bertanya kepadanya?." Ujar Fathur, Ega menekuk satu kakinya beranjak duduk.


"Itu ide buruk, ayah dan ibu memiliki pemikiran yang berbeda."


Plak.


Ega menaruh tangannya diatas pundak Fathur cukup keras.


"Terima kasih banyak thur, kamu sudah banyak membantuku. Aku bersyukur Yuki punya laki-laki yang sangat tulus mencintainya." Kata Ega melirik sahabatnya.


"Yang sampai akhir tetap ditolak. Apa kamu sedang menyindirku." Balas Fathur menatap kesal Ega.


"Ahaha .., sahabatku ini benar-benar pria sejati." Ega tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Fathur.


"Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu." Ucap Fathur.


"Hm?, apa itu?." Tanya Ega.


"Kenapa kalian tidak meminta bantuan polisi, kenapa kalian berusaha menyelesaikan semuanya sendiri?." Ega berhenti tertawa beralih menatap awan yang bergerak dilangit.


"Masalah kami tidak akan selesai hanya karena kami meminta pertolongan kepada polisi." Jawab Ega.


"Bagaimana kalau meminta bantuan orang lain?." Fathur masih ingin tahu tentang sahabatnya dan orang yang ia cintai.


"Thur, banyak orang yang sudah membantu kami."


Hening.


"Kamu tidak perlu khawatir berlebihan, aku dan Yuki memang dilahirkan untuk ini. Aku juga belajar darinya." Ega tersenyum mengingat kenangannya dikamar Eva, dia yang marah dan merasa adiknya sangat dirugikan.


"Bagaimana dengan kata-katamu dulu." Lirih Fathur.


"Hah? yang mana?." Tanya Ega.


"Eva sudah memiliki kekasih hati, kamu pernah mengatakan itu dulu." Fathur mengingatkan.


"Hmm ..?, ah! kamu benar, aku pernah mengatakannya." Ega baru ingat.


"Siapa orang itu?, aku yakin bukan aku orang yang kamu maksud." Ega terkejut dengan pertanyaan Fathur.


"Ahahaha, sorry thur, tapi tebakanmu benar." Jawab Ega.


"Aku sudah menduganya." Jawab Fathur tabah.


"Dia orang yang sangat jauh, sebenarnya aku juga meragukan kalau Yuki masih mengingat orang itu. Dia sama sekali tidak pernah membahasnya." Jelas Ega.


"Seperti apa orang itu?." Fathur sangat penasaran.


"Aku juga tidak tahu seperti apa dia sekarang, yang jelas dia adalah orang yang mampu menggantikan kakek, ayah, dan aku untuk berada disisi Yuki." Ega menerawang jauh.


"Waahh, sepertinya aku tidak memiliki kesempatan jika kembarannya sudah berkata seperti itu." Celetuk Fathur.


"Eh?!." Ega kaget dengan apa yang dikatakan Fathur barusan.


"Ahahaha, sorry bro bukan maksudku ingin memperburuk lukamu. Jodoh tidak ada yang tahu kan haha."


"Berhenti mencoba membuatku lebih baik, itu terasa menyakitkan." Sahut Fathur.


"Hahaha."


"Kamu merindukannya?." Pertanyaan tiba-tiba dari Fathur membuat Ega terdiam.


"Sangat. Aku sangat merindukannya." Ega menunduk.


"Aku ingin memeluknya, aku ingin mengusap kepalanya, aku ingin mencubit pipinya. Dia adalah separuh dari diriku." Ega diam sebentar.


"Bagi anak kembar seperti kami berada jauh satu sama lain tanpa kabar maupun bertemu adalah peyiksaan yang tidak berujung." Ega mencengkeram dadanya.


"Aku mencintainya. Karena itu, aku harus melakukan semua ini."


"Aku berharap masalah kalian cepat selesai."


"Thanks thur."