
Setelah kejadian pagi tadi beberapa anak memberikan semangat kepada Yuki, entah apa yang mereka pikirkan tentang penyakit Yuki, gadis itu tidak akan mati dalam waktu dekat.
"Hazuki aku tidak bawa bekal." Kata Yuki, ia tidak sempat pulang ke rumah untuk meminta bekal kepada Masamune.
"Makan punyaku." Natsume menyodorkan kotak bekalnya.
"Punyaku saja." Ueno juga melakukan hal yang sama. Yuki menggelengkan kepalanya pelan.
"Arah kantin ke mana ya?." Natsume merapihkan bekalnya lagi diikuti oleh Ueno.
"Ayo." Ajak Natsume.
"Kalian tidak makan?." Tanya Yuki melihat Natsume sudah berdiri.
"Di luar saja, sekalian ke kantin." Ueno yang menjawab.
"Ayo." Ajak Natsume lagi.
Mereka bertiga berjalan ke lantai pertama melewati lorong terbuka menuju kantin di gedung samping.
Banyak siswa-siswi menatap mereka, jarang sekali ketiga gadis itu meninggalkan kelas dan kini sedang berjalan masuk ke kantin.
"Siapa mereka?, kok aku nggak pernah liat?." Natsume mendengar celotehan siswi yang mereka lewati.
"Kakak kelas, masa kamu nggak tahu sih mereka itu loh yang suka bikin patah hati anak cowo."
"Ppffftt, hahaha." Natsume tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.
"Wah kita penjahatnya." Sambung Natsume.
"Kalian, bukan aku." Elak Yuki.
"Kamu juga Yu chan."
"Tidak."
"Hmmm, padahal situ yang banyak patahin hati orang." Ledek Natsume melirik Yuki lalu ikut tertawa dengan Ueno.
"Siapa?." Kini suara laki-laki menelusup telinga Natsume.
"Kakak kelas."
"Gila, cantik banget."
"Hm, aku pernah di tolak. Susah banget buat move on."
"Widiihh, sama yang mana?."
"Yang matanya biru."
"Buset!, enaknya pernah ditolak."
Lah gila tuh anak, batin Natsume.
"Aku juga pernah."
"Wow, sama yang mana?."
"Yang wajahnya cerah itu, yang senyumnya nggak mahal."
"Pfftt." Kali ini Ueno berhasil menahan keinginannya untuk tertawa.
"Gila, cantik manis lagi."
"Ck, kamu nggak pernah lihat senyumnya kakak yang matanya biru sih. Beh, senyumnya membuat melayang, badan kita seakan seringan kapas." Celoteh mereka.
"Kalo aku tipenya yang pipi chubby, kalau aku tembak di terima nggak ya?."
Natsume yang mendengar itu pun menyenggol pelan pundak Ueno menggoda gadis itu.
"Yuki." Mereka bertiga berhenti mendongak menatap pemilik suara.
"Bagaimana kabarmu?."
"Sudah sehat." Jawab Yuki.
"Nanti pulang?." Suara Hajime khas seperti biasanya.
"Ung, dokter sudah memperbolehkanku pulang. Senpai baru mau makan?." Yuki melirik kotak bekal yang Hajime bawa.
"Ya."
"Sendiri?." Yuki memastikan.
"Tidak, Nana sedang membeli sesuatu."
Natsume melirik Ueno, gadis itu terlihat baik-baik saja tapi tidak dengan hatinya.
"Boleh gabung?." Tanya Yuki.
Natsume tersenyum kecil sedangkan Ueno melirik Yuki terkejut.
"Ung."
"Senpai mau menunggu dimana?."
"Meja dekat jendela." Yuki ikut melirik tempat yang dilihat Hajime.
"Hm, aku dan Hazuki beli makanan dulu, senpai dan Ueno san tunggu kita di sana." Hajime mengangguk paham.
"Ayo Hazuki." Natsume menepuk punggung Ueno memberi semangat.
"Kita pergi dulu." Pamit Natsume.
Yuki dan Natsume berjalan menuju stan membiarkan teman mereka berduaan dengan gebetannya.
"Yu chan tadi keren." Natsume mulai berkomentar.
"Aku tidak menyangka perempuan tidak peka sepertimu bisa melakukan hal seperti tadi." Yuki memutar bola matanya.
"Antriannya panjang." Gumam Yuki berdiri di belakang siswi tak di kenal.
"Cari siapa?." Tanya Natsume.
"Nana senpai, semoga dia juga lama." Jawab Yuki.
"Uluuuhh ... Baik banget temanku satu ini. Semoga saja Ueno san langsung bergerak." Yuki tidak membalas ucapan Natsume membiarkan gadis itu terus berceloteh.
Setelah antrian yang panjang akhirnya Yuki berhasil membeli dua bungkus roti dan satu botol lemon tea.
Yuki dan Natsume berjalan menghampiri meja Hajime dan Ueno, mereka melihat sudah ada orang ketiga diantara dua sejoli itu.
Pak.
Natsume menepuk keras dahinya.
"Ya ampun Ueno san, kenapa dia duduknya jauh sekali." Lirih Natsume.
Benar, bukannya duduk di sebelah Hajime gadis itu malah duduk agak jauh dari laki-laki itu, menyisakan satu kursi kosong diantara mereka sedangkan Nana dengan nyaman duduk di samping Hajime.
"Malu mungkin." Balas Yuki.
"Kemana semangat deklarasi berperangnya waktu itu?." Natsume berubah kesal karena gemas.
"Redup kali." Sahut Yuki tersenyum kecil.
"Ayo Yu chan, kita tuangkan bensin." Geram Natsume langsung menarik tangan Yuki agar mempercepat langkahnya.
Penunggu meja melirik pendatang baru, mereka menyambut dengan senyuman bahkan Hajime mengulas senyum tipis mengejutkan Natsume yang baru melihat senyum laki-laki itu.
Yuki menangkap wajah Ueno yang bersemu merah setelah melihat senyum Hajime.
Sepertinya dulu aku pernah merasakan itu di cafe, batin Yuki teringat makan malam terakhirnya dengan Dimas.
"Lama tidak bertemu Hachibara san." Sapa Nana lalu beralih ke Natsume.
"Natsume Hazuki, salam kenal." Nana menganggukkan kepalanya.
"Moriyama Nana panggil saja Nana."
Natsume hendak duduk namun melirik Yuki sesaat.
"Ueno san maaf boleh geser?, Hazuki mau membagikan bekalnya denganku. Apa tidak apa-apa?." Tanya Yuki halus, hanya alasan Yuki saja agar Ueno bergeser lebih dekat dengan Hajime.
Mantap Yu chan!, seru Natsume dalam hati.
Nana dan Hajime merasa aneh sesaat tapi mereka melirik Yuki yang hanya membawa dua roti kecil lalu memakluminya.
"A ah hah?." Ueno yang terkejut blank seketika.
"Iya Ueno san aku mau menyuapi Yu chan." Srobot Natsume dan mendapatkan tatapan laser dari Yuki.
"Terima kasih." Imbuh Yuki semakin mendesak gadis itu.
Dengan kaku Ueno pun perlahan pindah duduk di samping Hajime.
Terlalu dekat, apa ini nyata?, batin Ueno menahan debaran jantungnya.
Yuki segera duduk di kursi Ueno tanpa yang lain ketahui Yuki dan Natsume melakukan tos di bawah meja merayakan keberhasilan mereka.
"Kamu datang ke klub nanti Hachibara san?." Tanya Nana.
"Ya, maaf sudah banyak bolos Nana senpai."
"Jangan minta maaf kamu kan sedang sakit." Yuki menaikan satu alisnya.
Kenapa dia tahu?, batin Yuki melirik Hajime.
"Yu chan, aaa ..." Ucap Natsume segera setelah menyadari Yuki mengangkat alisnya.
"Apa?." Tanya Yuki menoleh kepada Natsume.
"Buka mulutmu." Yuki memutar bola matanya.
"Ayo buka Yu chan." Sergah Natsume tidak sabar. Yuki menangkap tangan Natsume membelokkan sumpitnya masuk ke dalam mulut gadis itu.
Hap.
Natsume dengan mulut penuh tersenyum menatap jail kepada Yuki. Gadis bermata biru itu membuang wajahnya dengan malas.
"Kalian lucu." Komentar Nana tersenyum manis.
"Sebentar lagi ujian, apa kamu sudah siap Yuki?." Nana terkejut. Hajime yang sulit di dekati perempuan memanggil nama depan seorang perempuan?!. Kalau Nana itu sudah biasa karena mereka satu kelas selama tiga tahun, tapi ini?.
"Aku akan meminjamkan catatanku Hachibara san." Kata Ueno cepat, dari wajahnya terlihat tulus dan ada rasa khawatir.
"Terima kasih, tapi tidak perlu." Jawab Yuki.
"Apanya yang tidak perlu. Aku pinjamkan punyaku." Hazuki mulai lagi, batin Yuki malas.
"Tidak."
"Senpai, bisa bicara sebentar?." Natsume yang menyadari itu membawa Ueno menjauh.
"Nana, aku ada urusan sebentar." Ucap Hajime.
"Ung, aku ke kelas dulu."
Setelah tinggal mereka berdua Yuki berjalan ke sembarang tempat ia tidak pernah berkeliaran di sekitar sana. Merasa jauh dari jangkauan pendengaran orang lain Yuki berhenti, menggeser tubuhnya ke samping memberikan ruang untuk Hajime.
Hajime dengan kalem berdiri di samping Yuki.
"Jika aku tidak berangkat bukan berarti karena aku sakit. Senpai memberitahu Nana senpai?." Tanya Yuki tanpa basa-basi.
"Hm. Apa kamu tidak suka?." Hajime menunduk ia hanya bisa melihat pucuk kepala Yuki dan sedikit melihat wajah gadis itu.
"Maaf." Imbuh Hajime.
Yuki menarik nafas panjang.
"Aku tidak sengaja melihat mobil pelatih masuk ke rumah sakit bersama Nana, aku sedang membantunya berbelanja untuk keperluan klub saat itu." Hajime mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Nana memaksaku mengikuti pelatih karena rasa penasarannya yang besar. Sudah satu minggu pelatih sering meninggalkan latihan yang tidak pernah pelatih lakukan."
"Kami tidak mengikuti sampai kamar pasien hanya mengunjungi meja resepsionis menanyakan siapa orang yang dikunjungi pelatih."
"Maaf aku tidak bisa mencegah Nana, aku membiarkannya tahu."
Hening.
Yuki tidak memberikan tanggapan apa pun.
"Mau main nanti malam?." Tanya Yuki masih tidak melirik Hajime.
"Hm, Keiji sangat khawatir, dia datang kerumahmu setiap hari hanya untuk bertanya apa kamu sudah pulang."
"Ung." Gumam Yuki.
"Aku juga ingin memberikan sesuatu kepadamu." Yuki bergerak menghadap Hajime tanpa melihat wajah laki-laki itu.
"Kalian terlalu baik kepada orang asing." Kata Yuki yang tidak di indahkan oleh Hajime.
"Boleh aku bertanya?."
"Tentu."
"Apa kamu sedang mencoba membuatku dekat dengan salah satu temanmu?." Akhirnya Yuki menarik sudut bibirnya.
"Apa terlihat jelas?." Yuki balik bertanya.
"Bisakah kamu tidak melakukannya lagi?." Pinta Hajime.
"Tidak, tolong berikan temanku kesempatan." Hajime tidak habis pikir.
"Dia hanya akan tersakiti olehku. Maniak baseball ini tidak bisa membagi waktunya untuk berkencan."
Yuki tertawa ringan mendengar jawaban Hajime, tanpa terasa tangannya terangkat hendak mencubit pipi laki-laki itu namun tertahan di udara.
"Ahahahaa ..." Tawa Yuki menular kepada Hajime,laki-laki itu tersenyum lebar sambil menatap Yuki.
"Alasan yang menarik." Kata Yuki setelah berhenti tertawa dan menurunkan tangannya.
"Aku tidak akan ikut campur dengan urusan hati kalian, aku hanya membantu dan mulai sekarang aku akan berhenti, bagaimana?." Yuki mendongak menatap tepat manik hitam Hajime.
"Ung." Jawab Hajime tersenyum yang di balas senyum indah Yuki.
"Jangan sedih lagi," lirih Hajime membuat Yuki mengerjapkan matanya.
"Jangan sakit lagi."
"Aku dan Keiji selalu siap mendengarkanmu." Mereka tidak mengalihkan pandangan beberapa saat.
"Tentu."
***
"Yu chan maaf aku lupa memberi tahumu kalau hari ini prakteknya." Bisik Natsume di samping Yuki.
Mereka semua sudah memakai celemek berwarna coklat terang dengan garis merah, berdiri di belakang kompor dan meja panjang.
Yuki menatap horor semua bahan dan peralatan di depannya.
"Waktu kalian dua jam, silahkan dimulai." Kata sensei berdiri di tengah lorong jalan.
"Aku akan menyiapkan dagingnya." Natsume langsung mengambil daging ayam membawanya ke wastafel untuk di cuci.
"Aku menyiapkan sayurnya." Kudo mengambil semua sayuran di meja.
"Aku akan mengupas bawang bombay dan menyiapkan bumbunya." Kini Hirogane mengambil semua sisa bahan di meja. Yuki termenung tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Hazuki, ada yang bisa aku bantu?." Yuki memutuskan untuk bertanya.
"Tidak Yu chan, terima kasih." Yuki beralih ke Hirogane.
"Perlu bantuan?." Hirogane melirik Yuki.
"Ung, tolong cuci ini." Hirogane memberikan baskom berisi bawang bombay, bawang putih, dll kepada Yuki.
Yuki mengangguk mantap membawa baskom ke wastafel.
Lucu, batin Hirogane.
Baik, dimana detergennya?, batin Yuki.
Maniknya mencari benda yang mirip dengan detergen di ruang cuci klub.
Ia memegang botol berisi cairan kental berwarna hijau. Yuki menimbang-nimbang mungkin cairan itu bisa digunakannya untuk mencuci sayuran, berapa banyak yang harus Yuki gunakan?.
"Tuan putri, itu tidak bisa digunakan untuk mencuci makanan." Yuki tidak menghiraukan Kudo yang berdiri di belakangnya.
"Apa hanya perlu merendamnya?, itu tidak akan bersih." Gumam Yuki berpikir lagi.
Kudo membenarkan letak kacamatanya seraya menarik nafas panjang.
"Geser sedikit." Yuki menurut ia memberikan ruang untuk Kudo.
Yuki memperhatikan tangan Kudo mencuci semua bahan, ia juga ingin melakukannya.
"Mau coba?." Kudo menatap manik Yuki yang penasaran. Seperti anak kecil yang penasaran dengan mainan barunya.
"Hm."
Kudo sedikit bergeser agar Yuki mendapat ruang.
Pertama yang Yuki lakukan mendorong kentang di dalam baskom penuh air, seperti ia mendorong Je si burung hantu.
Sungguh Kudo ingin tertawa terbahak-bahak tapi ia menahannya setengah mati. Melihat wajah gadis datar dan dingin itu berubah polos penuh rasa penasaran.
Perlahan Yuki mengambil satu kentang meniru gerakan Kudo menggosoknya memutar.
Pop.
Yuki terperanjat kaget ketika kentang itu melompat dari tangannya.
Licin, batin Yuki.
Hup.
Kudo menangkapnya dengan mudah.
"Nich catch (Tangkapan bagus)." Ucap Yuki kembali mengambil kentang yang lain.
Baru lima detik kentang di tangan Yuki kembali melompat tinggi. Kudo segera menangkapnya dan melirik sensei.
Syukurlah tidak ada yang melihat mereka.
Kudo melirik ke bawah menatap Yuki dari balik kaca matanya.
"Nice catch." Lirih Yuki lagi.
"Kita tidak sedang bermain baseball, tuan putri." Kudo menekan setiap katanya lalu mengambil alih semua bahan dan segera mencucinya.
Jitak kepalanya boleh nggak sih, batin Yuki kesal.
"Ini punyamu." Kudo menyodorkan baskom milik Yuki lalu bergegas pergi. Sudah lama Yuki tidak sekesal sekarang, ia kembali menghampiri Hirogane.
"Ada lagi?." Tanya Yuki, Hirogane menggelengkan kepalanya, laki-laki itu mulai memotong kentang dengan cepat. Yuki beralih ke Natsume melihat gadis itu sibuk dengan ayamnya.
"Ueno san dimana?, kita satu kelompok kan?." Yuki sejak tadi tidak melihat gadis chubby itu.
"Dia dipanggil sama pembina eskulnya, ada rapat dadakan katanya." Jawab Natsume hendak memotong ayam.
"Mau aku bantu?." Sontak Natsume menatap horor Yuki.
"Jangan aneh-aneh." Yuki mengedikkan bahunya lalu pergi menghampiri Kudo.
"Buat apa pancinya?." Yuki melihat panci berisi air diatas kompor.
"Mau aku bantu?." Kudo yang sibuk dengan sayurannya tidak melirik Yuki sama sekali.
"Hm, tolong nyalakan kompornya." Yuki tersenyum, ia dapat pekerjaan.
Yuki mulai berpikir keras menatap tajam benda itu. Setelah menemukan alat untuk menyalakan kompor ia menekannya hingga.
Hap.
Kudo menarik tangan Yuki, gadis itu mengerjapkan matanya menatap Kudo yang menarik nafas berat.
"Tidak bisa diharapkan." Keluh laki-laki itu membuat Yuki berubah jengkel.
Menjengkelkan, batin Yuki menarik tangannya kasar lalu pergi menghampiri Hirogane.
Hirogane melirik Yuki yang menekuk wajahnya kesal.
Kenapa nih anak, batin Hirogane.
Yuki melirik pekerjaan Hirogane lalu menatap laki-laki itu. Ia ingin sekali membantu tapi takut mengacaukan, Yuki membuang wajahnya kasar menatap meja lain yang sudah mulai sibuk dengan kompor masing-masing.
"Aku mau memblender, apa kamu bisa memotong bawang bombaynya?." Hirogane menunjuk bawang yang tergeletak di atas talenan.
"Aku tidak bisa, talenannya bisa hancur." Hirogane ingin tertawa tapi tidak enak melihat wajah kesal dan serius Yuki.
"Aku ajari." Yuki menoleh cepat lalu menganggukkan kepalanya.
Lucu, batin Hirogane.