Futago

Futago
Ibuku Menikah Lagi.



Dimulai dari pertemuan dua sahabat kecil yang lama berpisah, kini keduanya selalu bersama entah kapan dan dimana, mereka secara alamiah tidak membahas memori buruk di masa kecil. Mereka ingin menikmati kebahagiaan itu.


Bel pulang berbunyi sejak lima menit yang lalu Hotaru dipanggil untuk menghadap Yamazaki wali kelasnya.


"Saya di panggil?, ada apa sensei?." Tanya Hotaru sopan, ia melirik kantor yang masih ramai oleh para guru.


"Hotaru kun, apa kamu berminat masuk ekskul?, di sekolah ini kelas dua memang tidak diwajibkan mengikuti ekskul tapi kalau kamu berminat. Ini formulirnya." Jelas Yamazaki seraya menyodorkan selembar kertas kepada Hotaru.


"Eiji, dia masuk klub mana?." Sergah Hotaru cepat, Yamazaki tersenyum lebar menatap pemuda di depannya.


"Klub voli, kau mau melihatnya?." Tawar Yamazaki.


"Tentu." Jawab Hotaru mantap.


"Baiklah, ayo ikut aku." Yamazaki beranjak dari kursinya melangkah keluar kantor.


"Tak disangka anda cepat juga mengenali sahabat karib anda, tuan muda." Ucap lirih Yamazaki ditengah jalan, hanya ada mereka berdua di lorong itu.


"Hahahaaa mana mungkin aku bisa lupa dengan orang yang setiap harinya kuingat." Balas Hotaru melangkah disamping Yamazaki.


"Hm ..., setiap hari, bagaimana dengan ojou chan?." Pertanyaan Yamazaki membuat bibir Hotaru mengukir senyum sedih.


"Setiap jam, tak ada yang terlewat." Yamazaki mengangguk-anggukan kepalanya.


"Kau tidak penasaran, apakah aku bersama Yuki sekarang?." Keanehan yang dirasakan Hotaru sejak pagi tadi terucap sudah.


"Tentu saja tidak, ojou chan tidak bersamamu." Jawab enteng Yamazaki.


"Apa kau tahu dimana dia sekarang?!." Hotaru tanpa sadar meninggikan intonasi suaranya, menatap lekat wajah Yamazaki dari samping.


"Tidak ada yang tahu, tuan muda. Hanya nyonya besar dan Daren dono yang tahu. Kami selalu mendapat informasi dalam garis besarnya saja, tidak mendetail." Jelas Yamazaki, Hotaru membuang nafasnya yang tertahan secara perlahan.


"Nenek yang memberikan informasi kepada kalian." Tebak Hotaru.


"Ya."


"Apa Rin juga menghubungi kalian?." Tanya Hotaru.


"Hanya beberapa pelindung (pengawal) tingkat bawah yang diperbolehkan berkomunikasi dengan Rin." Hotaru menatap bingung Yamazaki.


"Apa dia tidak memberitahumu?." Yamazaki mendongakkan kepalanya untuk bisa menatap manik Hotaru.


"Tidak."


"Rin sudah ditandai, dia tidak bisa dengan bebas berkomunikasi dengan kelompok atau pun masuk ke kediaman utama lagi." Informasi itu membuat Hotaru sangat terkejut.


Bagaimana bisa?, dia kan yang menolong mereka semua di malam pembantaian, batin Hotaru.


Puk. Puk. Puk.


Yamazaki menepuk pundak Hotaru beberapa kali.


"Jangan terlalu di pikirkan, sekarang anda hanya harus fokus belajar dengannya. Kita berburu waktu. Bukankah Rin sudah menjelaskan rencananya?." Hotaru mengangguk mengiyakan.


"Kalau begitu nikmati latihan anda, dan bersenang-senanglah dengan sekolah dan klub baru yang pastinya anda akan tertarik." Ucap Yamazaki tersenyum lebar.


Hotaru melangkah lebar menyusul Yamazaki yang sudah berjalan lebih dulu.


Berburu waktu, siapa yang akan lebih dulu menyadari permainan ini, anda? atau ojou chan. Aaarrggh sudah saatnya pembalasan, batin Yamazaki sudut bibirnya tertarik kecil.


"Gor." Gumam Hotaru melihat bangunan besar di depannya.


Suara decitan sepatu dan pantulan bola menggema sampai ke luar, sesekali Hotaru mendengar teriakan-teriakan dari dalam, adrenalinnya terbangun.


"Ayo masuk." Yamazaki menggeser pintu besar didepannya menimbulkan suara decitan keras.


Yamazaki melangkah memasuki gor di ikuti Hotaru di belakangnya.


"Berkumpuuulll !." Teriak seseorang. Mereka bergerak gesit berbaris di depan Yamazaki.


"Hmmm, aku hanya ingin melihat kalian berlatih." Ucap Yamazaki.


"Sensei, apakah kita mendapat anggota baru?." Tanya salah satu anggota.


"Ah, Hotaru kun .., dia hanya akan melihat-lihat untuk hari ini." Jawab Yamazaki.


Semua mata tertuju kepada Hotaru, entah apa yang mereka pikirkan tentangnya. Manik Hotaru bertemu dengan manik Fumio, Fumio tersenyum seakan mengatakan 'selamat bergabung' dan Hotaru membalas senyumannya seakan menjawab 'sabar bro'.


"Silahkan kalian kembali berlatih." Ujar Yamazaki.


"Baik!." Seru mereka serempak membungkuk sekilas lalu berlari kembali ke tengah lapangan.


"Hotaru kun ini Hara san pelatih tim voli." Hotaru membungkuk sopan.


"Kau memiliki tubuh yang bagus, tim akan semakin kuat jika kamu mau bergabung dengan kami." Ucap Hara selaku pelatih tim voli. Hotaru tersenyum simpul.


"Terima kasih."


Hotaru naik ke lantai dua gor menikmati latihan para pemain di bawah sana. Ada salah satu pemain yang menarik perhatiannya.


Laki-laki dengan mata sedikit sipit, kulit putih, tinggi seratus tujuh puluhan. Bergerak pelan seperti seekor siput, melakukan toss tinggi, dan akurat.


Setter (juga disebut sebagai set-upper/tosser/pengumpan, salah satu posisi penting di permainan bola voli yang bertugas mengatur strategi permainan tim dari dalam lapangan), batin Hotaru.


Hotaru tertegun dengan libero (pemain bertahan yang menempati barisan belakang) itu, entah sudah berapa kali ia jungkir balik menyelamatkan bola.


Buk!.


Bahkan spike yang sangat keras dengan mulus ia kembalikan ke setter.


"Ssshhuuuu..." Bibir Hotaru mengeluarkan siulan kecil, ia menikmati menonton keahlian para pemain dilapangan.


Libero itu bukannya junior Fumio tadi siang, batin Hotaru yang mengingat wajah laki-laki yang sempat memarahinya.


Ooo .., siapa ini?, ucap Hotaru dalam hati melihat lompatan tinggi Fumio yang berusaha memblock spike lawan.


BRAK!.


Suara keras menggema di dalam gor, lagi-lagi Hotaru bersiul kecil melihat teman karibnya berhasil menggagalkan spike lawan.


Fumio melirik Hotaru diatas sana seraya melemparkan senyum kecil, sorot matanya mengatakan 'apa kau melihatnya, Hotaru' yang di jawab acungan jempol oleh sang empu.


Hotaru seharian menonton klub voli latihan. Pukul enam sore ia dan Fumio berjalan ke parkiran untuk mengambil sepeda mereka.


"Apa kau akan bergabung?." Tanya Fumio seraya menuntun sepeda meninggalkan parkiran.


"Klub voli sepertinya menarik." Ujar Hotaru.


"Mau kemana?." Fumio mengerutkan dahinya melihat Hotaru yang mengarahkan sepedanya ke jalan yang berlawanan dengan dirinya.


"Rumah kita arahnya sama." Lanjut Fumio seraya menunjuk jalan di depannya.


"Sorry, rumahku sekarang ke arah sana." Jawaban Hotaru semakin membuat Fumio bingung.


"Untuk sementara aku tinggal di rumah yang lain." Hotaru menggaruk sebelah pipinya yang tidak gatal.


"Apa ad." Pertanyaan Fumio dihentikan oleh kehadiran seorang siswi imut nan manis yang berdiri di belakang mereka.


"Fumio senpai." Panggil siswi itu.


Hotaru dan Fumio beralih menatap gadis mungil yang menundukan kepalanya.


"Ada apa Aoki chan?." Tanya Fumio.


Ao-ki .., chan?!, batin Hotaru kaget.


"Aku lupa memberikan kunci gor kepada senpai." Ucap gadis bernama Aoki menjulurkan tangannya ke depan.


"Gomen, aku sampai lupa. Besok jadwalku piket klub." Balas Fumio ikut mengulurkan tangannya menerima kunci.


"Arigatou." Kata Fumio.


"Hai. Aku pulang dulu, sampai besok senpai." Pamit gadis itu membungkuk sekilas lalu melangkah pergi.


"Aoki .., chan?." Ulang Hotaru menyadarkan Fumio.


"Dia manajer klub, kelas satu." Jelas Fumio setelah melihat raut wajah Hotaru. Hotaru menarik sudut bibirnya menatap manik Fumio.


"Sudah aku bilang dia manajer klub." Hotaru bergeming ditempatnya.


"Kami memiliki dua manajer, apa kamu tidak melihatnya tadi?." Hotaru masih diam.


"Dia lebih manis dari Yuki." Pernyataan Hotaru membuat Fumio menatap tepat ke manik coklat terang itu, yang di tatap menaikan kedua alisnya dengan cepat dan berlalu pergi mengendarai sepeda miliknya.


"Sampai ketemu besok SEN-PAI!." Seru Hotaru mengayuh kuat pedalnya seraya melambaikan tangan kepada Fumio. Hotaru kabur, ia takut teman karibnya mengamuk karena ia dengan sengaja meledek laki-laki itu.


***


GEDEBUG!


TANG!


PYAAAK!


Masing-masing tangan Hotaru mengelus ****** dan kepalanya. Ia terjatuh dari atas benda bulat sebesar ban mobil dengan papan diatasnya.


Hotaru yang sejak satu jam lalu di perintah Takehara untuk berdiri diatas sana seraya mengangkat satu kaki, sedangkan kedua telapak tangannya harus menjaga keseimbangan tongkat dengan mangkok berisikan air penuh.


Entah sudah berapa ratus kali Hotaru terjatuh dan bolak-balik jalan jongkok ke halaman belakang untuk mengisi mangkok dengan air. Bajunya sudah sangat kotor, ditambah p*nt*tnya terasa nyeri karena terus menerus mencium tanah, bahkan kepala dan pundaknya juga jadi sasaran tongkat panjang itu, tidak ketinggalan beberapa puluh kali mangkok mendarat di kepalanya.


"Tidak ada makan malam untukmu, sampai kamu bisa menyeimbangkan tubuh selama satu menit." Ucap Takehara menatap Hotaru datar seraya menyeruput teh hangatnya.


Hotaru mengerutkan alisnya mendengar pernyataan dari wanita yang sedang duduk santai menikmati cemilan sekaligus mengawasinya.


"Bukannya ini terlalu berlebihan untuk latihan di hari pertama?, aku juga sudah menjelaskan kenapa aku pulang terlambat, tidak perlu menghukumku seperti ini." Balas Hotaru berusaha bersabar.


Tidak ada jawaban dari Takehara, wanita itu seratus persen mengabaikan Hotaru. Hotaru hanya bisa menarik nafas pelan mengambil kedua mangkok yang tergeletak di tanah, kembali berjalan jongkok dengan mangkok di tangannya.


Dia ingin menyiksaku, batin Hotaru mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangan.


"Airnya kurang penuh. Isi kembali."


Haahh ..?!, seru Hotaru dalam hati. Ia mengeraskan rahangnya mencoba untuk menahan emosi.


Mau tidak mau Hotaru putar balik dan kembali jalan jongkok ke halaman belakang rumah, padahal ia baru sampai tadi.


Dan Hotaru benar-benar tidak mendapatkan makan malam tepat waktu, Takehara menghentikan Hotaru setelah laki-laki itu berhasil menyeimbangkan tubuhnya selama tiga puluh detik.


Tok tok tok.


Hotaru melirik pintu kamar lalu mempersilahkan orang diluar sana untuk masuk tanpa beranjak dari tepat tidurnya.


"Formulirnya sudah aku tanda tangani." Ucap Takehara meletakan selembar kertas diatas meja belajar Hotaru.


"Meskipun kamu mengikuti klub, jam latihan tidak berkurang, besok jam lima pagi aku tunggu di halaman samping rumah." Jelas Takehara beranjak keluar pintu.


"Apa Yuki juga mendapat pelatihan ketat seperti ini?." Tanya Hotaru, pandangannya lurus ke langit-langit kamar.


"Ya, hanya di malam hari. Kita sedang berburu waktu jika kamu lupa." Takehara mengingatkan.


"Ya."


Setelah Takehara meninggalkan kamarnya Hotaru berguling ke ujung ranjang, beranjak duduk menatap meja belajarnya.


Kretek!. Kretek!. Kretek!.


Suara nyaring dari persendian Hotaru menggema di telinganya. Pemuda itu berjalan kaku, menarik kursi secara perlahan meletakan p*nt*tnya disana. Tangannya membuka sebuah buku, menggambar sebuah garis, otaknya berpikir keras menyambungkan fakta-fakta baru yang ia dapat.


Dia dan Yuki bukan sebuah bidak, ada perasaan aneh yang selama ini mengganggunya, bukan sekedar teka-teki kakeknya, ada sesuatu yang lain. Hotaru tidak sepintar Yuki dalam hal kode tapi, Hotaru sangat jenius dalam hal, garis.


Garis yang terlihat biasa, seperti sebuah coretan balita sepuluh bulan, namun tidak bagi pemuda itu. Garis-garis itu berbeda satu sama lain, dengan arti yang mendalam dan rinci, hanya ia yang tahu.


Penjaga, peneliti, pengawal. Kakek, nenek, ayah. Ibu ... Aku dan Yuki. Rumah, penyerangan, penelitian .., racun, obat. Ibu bergerak sendiri?, apa alasannya?, dendam kepada kakek?, BUKAN!, sesuatu yang berjalan seperti jarum jam yang tidak berhenti memaksa ibu untuk terus bergerak, tapi apa ..?, Hotaru menatap garis-garis yang ia gambar.


Jadi .., siapa yang memegang komando sekarang??, batin Hotaru memainkan bolpoin ditangan.


"Huuufftt ... Yuki, bagaimana kabarmu?." Lirih Hotaru.


Sudah satu tahun lebih aku meninggalkannya, batin Hotaru.


***


"Apa ada angin ribut tadi malam?." Hotaru mengangkat kepalanya dari atas meja menatap manik Fumio. Fumio menunjuk rambut Hotaru lalu memeragakan rambut singa dengan kedua tangannya.


Hotaru terkekeh kecil.


"Kamu ingat dengan Rin?." Tanya Hotaru.


"Apakah Takehara Rin yang kamu maksud?." Hotaru mengangguk mantap.


"Tentu saja aku ingat, kenapa?." Hotaru menunjuk kepalanya, memasang wajah datar.


"Dia yang membuat rambutku jadi seperti ini, pelatihannya membuatku jungkir balik." Ucap Hotaru ingatannya kembali ke pagi subuh tadi.


"Wajahmu sudah cukup menggambarkan betapa menderitanya dirimu." Balas Fumio.


"Aku tidak habis pikir bagaimana Yuki bisa bertahan berlatih bertahun-tahun dengan Rin." Celetuk Hotaru.


"Padahal dulu Yuki selalu bolos latihan, dia selalu kabur, lebih memilih bermain bersamamu." Lanjut Hotaru datar, manik coklatnya menangkap keanehan diraut wajah sahabat karibnya itu.


"Kau tahu sesuatu tentang Rin? atau Yuki?, Eiji?." Tanya Hotaru.


Fumio membalas tatapan Hotaru, wajahnya berubah tenang.


"Hm, hanya sedikit." Jawab Fumio.


"Siapa?." Tiba-tiba pembicaraan berubah serius.


"Rin san." Ada sedikit rasa kecewa dihati Hotaru, ia berharap mendengar sesuatu tentang saudari kembarnya.


"Rin san dilarang masuk ke rumahmu." Hotaru mengangguk kecil.


"Aku sudah dengar dari Takkecchan. Apa kesalahannya?, kenapa Rin diperlakukan seperti itu, bukankah dia sudah menolong kami?." Hotaru mengeluarkan isi pikirannya.


"Kamu tidak bertanya ke Takeru san?." Tanya Fumio.


"Belum, aku belum sempat bertanya kepadanya." Hotaru menelisik ekspresi Fumio.


"Eiji beritahu aku." Pinta Hotaru.


Fumio bungkam.


"Eiji?." Panggil Hotaru pelan. Sahabatnya seperti sedang berpikir.


"Eiji!." Tegur Hotaru menarik perhatian Fumio.


"Aku sudah merasa ada yang aneh dengan keluargaku satu tahun terakhir. Aku tidak bodoh Eiji, kau tahu itu." Ucap Hotaru.


Fumio tentu saja masih ingat, sikap Hotaru yang tenang saat menghadapi masalah, nada suara pelan namun tegas itu. Hotaru sedang sangat serius sekarang, batin Fumio.


"Ung, dan kau juga tahu kalau sampai kapan pun aku ada di pihakmu." Balas Fumio tidak kalah seriusnya.


Hotaru tersenyum lebar mendengar kalimat yang pernah sahabat kecilnya ucapkan sebelum ia meninggalkan jepang dua belas tahun silam.


"Aku tidak pernah meragukan itu. Jadi ..?." Ulang Hotaru.


"Kakak Rin san yang melarang adiknya masuk ke rumahmu." Hotaru terkejut dengan fakta baru yang ia dengar.


"Kenapa?."


"Aku tidak tahu, mereka bertemu satu tahun yang lalu di depan gerbang rumahmu." Jelas Fumio.


"Eiji sepertinya kita perlu bicara." Hotaru memutuskan. Fumio mengangguk mantap.


"Dan jelaskan juga padaku apa yang terjadi diantara kalian berdua." Hotaru paham apa yang dimaksud Fumio.


"Tentu, nanti malam jam sepuluh di ...?" Hotaru bingung, dimana dia bisa berbicara dengan tenang tanpa ada orang lain yang tahu.


"Tidak usah terburu-buru." Fumio menepuk pundak Hotaru menenangkan sahabatnya yang gelisah itu.


"Tapi aku sangat membutuhkan informasi lebih." Fumio mengangguk setuju.


"Tidak harus terburu-buru Hotaru, waktu masih bersama kita. Apa kau juga tidak ingin bertemu adikku?." Fumio tersenyum melihat perubahan ekspresi sahabatnya.


"Kau .., punya adik?!." Seru Hotaru.


"Hahahaha, aku menjadi seorang kakak sekarang." Fumio tertawa bangga.


"Bagaimana bisa?, maksudku .., Fumio san sudah." Hotaru tidak menyelesaikan kalimatnya. Fumio san sudah lama meninggal, batin Hotaru.


"Ibuku menikah lagi."